NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Paksa Sang Dewa Kegelapan

Reinkarnasi Paksa Sang Dewa Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Kultivasi Modern
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Upaya bunuh diri Onad Nevalion berakhir dengan kegagalan. Alih-alih menemukan kematian, ia justru dibangkitkan oleh Dewa Kegelapan dan dikirim ke Solmara, sebuah dunia asing yang hancur oleh konflik antar entitas ilahi.

Onad terpilih sebagai wakil sang dewa untuk menghadapi Dewa Iblis di dunia Solmara. Dewa Kegelapan tidak dapat turun langsung karena campur tangannya akan melanggar hukum keseimbangan antar dunia.

Satu-satunya hal yang diinginkan Onad hanyalah menghilang dari kesialan hidupnya di dunia. Namun, mengapa kesialan itu justru mengejarnya hingga ke dunia lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dewa Kegelapan

Di ruang hampa tanpa batas, tempat waktu tidak lagi mengalir dan tak ada secercah cahaya pun, tidak ada surga atau neraka. Hanya ruang tak berujung yang kosong, konsep hidup dan mati pun tak berlaku di sana.

Tiba-tiba, sebuah retakan muncul di ruang kosong itu. Retakan itu memanjang dengan kecepatan luar biasa hingga membentang sekitar sepuluh kilometer.

Dari celah tersebut, muncul sosok raksasa yang duduk di atas takhta batu hitam sebesar gunung.

Tubuhnya setinggi pegunungan, mengenakan jubah hitam megah dengan tudung menutupi kepala.

Penampilannya menyerupai tokoh tentang dewa kematian, seperti Grim Reaper. Wajahnya tak terlihat, mungkin memang tidak ada.

Ia menoleh sejenak, lalu mengibaskan tangan kanannya. Seketika, ruang di sekitarnya melebar puluhan kilometer dan membentuk semacam batas raksasa.

Suara yang dalam, cukup kuat untuk mengguncang ribuan kilometer dan meratakan kota menjadi debu, suara memenuhi ruang itu.

“Siapa yang akan kupilih kali ini?” gumamnya.

Beberapa saat kemudian, terdengar langkah kaki dari retakan di belakang takhta. Sosok lain muncul, mengenakan zirah kuno merah dan hitam.

Dua pedang hitam raksasa tergantung di punggungnya, cukup besar untuk membelah gedung lima lantai menjadi dua.

Kepalanya tertutup helm bertanduk dan berduri, mustahil menebak apakah ia makhluk hidup, mayat hidup, atau sesuatu yang lain. Ukurannya setengah dari sosok yang duduk di takhta.

Ia maju dan berlutut di hadapan makhluk raksasa itu dengan satu lutut, seperti kesatria di hadapan rajanya. Suaranya parau namun tegas.

“Yang Mulia, waktunya telah tiba. Namun hamba mohon agar keputusan ini dipertimbangkan kembali. Kita tidak boleh melakukan kesalahan lagi.”

“Khelgar, aku tahu apa yang membuatmu khawatir. Kita tak bisa lagi memanggil manusia seperti yang kita lakukan berabad-abad lalu. Namun tenanglah. Aku sudah memilih orang yang tepat untuk tugas ini.”

“Namun, Yang Mulia, orang yang Anda pilih tidak memiliki kualitas yang kita butuhkan untuk menyelesaikan misi ini. Mereka yang dipanggil dari dunia lain sebelumnya memiliki bakat kepemimpinan luar biasa, kemauan yang tak tergoyahkan, serta kebijaksanaan untuk mengatasi segala rintangan. Dan tetap saja mereka gagal. Lalu apa yang bisa dilakukan orang seperti ini? Ia mungkin akan mati bahkan sebelum mencapai setengah tujuan.”

Khelgar tetap menunduk, tetapi makhluk di takhta tampak tidak terusik.

“Aku mengerti kekhawatiranmu. Justru karena itulah aku memilih seseorang yang sama sekali berbeda dari para pendahulunya.”

Makhluk itu menopang kepalanya dengan tangan kanannya. Telapak tangannya tampak seperti logam hitam, tanpa daging maupun tulang.

“Kali ini kita membutuhkan seseorang yang berbeda. Seseorang yang … tidak biasa.”

“Namun, Yang Mulia, ini mungkin kesempatan terakhir kita. Kekuatan Anda tak akan cukup untuk melakukan pemanggilan lagi setidaknya selama seribu tahun. Pada saat itu, para dewa lain sudah akan menyelesaikan misi mereka dengan pilihan masing-masing. Kita tak mampu menanggung kekalahan itu,” ujar Khelgar dengan nada tegang.

“Keputusanku sudah final, Khelgar. Terkadang, ketidakpastian justru membawa hasil yang tak terduga. Kali ini, yang kupanggil akan melampaui mereka yang datang sebelumnya.”

Makhluk itu tidak membuang waktu lagi. Dewa itu mengibaskan tangannya, dan sebuah celah raksasa sepanjang satu kilometer terbuka di dalam batas ruang yang telah ia ciptakan.

Dari celah itu, jutaan bola cahaya putih dengan semburat biru melesat keluar.

Dewa kuno itu melirik sekilas ke arah bola-bola cahaya tersebut. Matanya berkilat. Gelombang cahaya kemerahan menyapu seluruh bola itu, lalu ia memejamkan mata.

Beberapa saat kemudian, ia membukanya kembali dan menggerakkan tangan kirinya.

“Sekarang, mari kita lihat yang paling menyedihkan, tapi punya cukup pengetahuan dan pengalaman untuk menjalankan perintah kita.”

Dalam sekejap, hanya sekitar lima ribu bola cahaya yang tersisa.

Matanya kembali berpendar, seakan membaca isi dari setiap bola tersebut. Ketika ia membuka mata lagi, jumlahnya tinggal sekitar seratus.

“Hmm … menyedihkan sekali. Tak satu pun dari mereka benar-benar mencapai sesuatu dalam hidupnya. Bagus untukku. Sekarang mari kita cari yang paling cocok.”

Ia menarik bola-bola yang tersisa ke telapak tangannya dan menatapnya, menganalisis dengan saksama. Belasan detik berlalu, lalu ekspresinya berubah.

“Aku menemukannya! Yang paling cocok!”

Khelgar yang masih berlutut hanya menghela napas dan menggeleng pelan.

“Ini akhir bagi kita,” gumamnya.

Dewa itu menatap satu bola cahaya kecil yang tampak seperti molekul dibandingkan dengan ukuran tubuhnya.

Ia kembali mengayunkan tangan. Bola-bola lainnya tersedot kembali ke dalam celah dengan kecepatan luar biasa. Dalam sepuluh detik, hanya satu bola yang tersisa.

“Semoga Anda tidak menyesal, Yang Mulia,” ujar Khelgar.

“Haha. Kau tak tahu apa-apa, Khelgar. Kita baru saja mendapatkan harta karun.”

Tiba-tiba, sebuah pentagram kuno muncul di bawah bola cahaya itu. Cahayanya semakin terang dan membesar hingga seukuran manusia. Lalu bentuknya menyusut memanjang. Empat anggota tubuh terbentuk, dua tangan, dua kaki, kepala, dan tubuh.

Wajah manusia mulai terlihat, tetapi garis-garisnya belum sepenuhnya jelas. Strukturnya agak berbeda dari wajah manusia biasa, lebih menyerupai manekin. Sosok itu perlahan membuka mata.

“Bangunlah, Onad. Aku adalah Dewa Kegelapan. Aku memberimu satu kesempatan lagi untuk hidup,” ujar makhluk raksasa itu.

Dialah Dewa Kegelapan, penguasa kematian.

Sosok manusia itu akhirnya sepenuhnya membuka mata. Ia adalah Onad, yang telah mengakhiri hidupnya setelah melewati berbagai luka, kekecewaan, dan satu pengkhianatan besar.

Kenangan dari kehidupan sebelumnya mengalir kembali ke dalam pikirannya. Ia tidak bergerak sedikit pun. Tubuh bercahayanya melayang di udara oleh kekuatan yang tak ia pahami. Ia masih ingat jelas rasa sakit luar biasa saat tubuhnya menghantam trotoar.

Ia menatap ke depan dan melihat sosok raksasa yang tak mampu ditangkap utuh oleh penglihatannya. Makhluk yang menyebut dirinya Dewa Kegelapan itu begitu besar hingga seratus kali tubuh Onad pun tak akan sebanding dengan satu kukunya.

Onad menyipitkan mata, berusaha melihat lebih jelas. “Eh … lo bisa enggak jadi lebih kecil sedikit? Gue bahkan enggak bisa lihat muka lo,” katanya.

Tiba tiba ledakan aura kematian muncul dari belakangnya.

Onad menoleh dan melihat sosok lain, ukurannya setengah dari makhluk yang berdiri di depannya, tapi tetap saja sangat besar dan tengah menatapnya.

Entitas raksasa berwujud prajurit itu memandang manusia di hadapannya, seakan ingin mencabiknya menjadi jutaan keping.

Iris merah menyala dari balik helm besarnya, dan tekanan mengerikan yang sulit dibayangkan menimpa tubuh Onad.

"Dasar manusia sialan! Berani sekali bicara seperti itu kepada dewa?!" bentak Khelgar geram.

"Sudahlah. Dia cuma belum paham apa yang sedang terjadi. Beberapa detik lalu dia masih mati," ujar God of Darkness dengan tenang, lalu dalam sekejap mengecilkan tubuhnya.

Ukuran barunya tetap setinggi gedung sepuluh lantai. Ia menoleh pada Khelgar dan memberi isyarat agar melakukan hal yang sama.

Khelgar masih menatap Onad dengan sorot membunuh, tetapi ia tetap mematuhi perintah tuannya dan menyusut hingga setengah dari ukuran semula. Itu batas kemampuannya.

Onad mengembuskan napas lega dan kembali menatap Dewa Kegelapan.

"Apa sih maunya lo?" tanya Onad.

"Onad, aku adalah Dewa Kegelapan di duniaku. Aku punya tugas untukmu. Aku ingin kau menjadi wakilku di dunia kami dan menyelesaikan sebuah misi. Sebagai gantinya, aku akan memberimu kesempatan untuk hidup kembali sebagai manusia. Awal yang baru, sepenuhnya bebas dari masa lalumu."

Nada suaranya terdengar agung dan murah hati, seakan ia tengah menganugerahkan kehormatan terbesar di dunia.

Onad terdiam di tempat selama satu menit. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya berteriak keras.

"TAI! MINGGIR LO!"

1
Amir Machmud
thor..ayo dilanjut..aku tambah penasaran...tak tunggu..
Amir Machmud
lanjut bab...beli coin atau lihat seponsor...
Amir Machmud
gimana kelanjutannya...
azizan zizan
sudah lah buang aja lah dari rak baca.... cerita tah apa2 tah ini...
azizan zizan
Thor kau bercerita apa kau menjelas...??????🤔🤔
DityaR: Oh, maksudnya Pacing cepat,
aku sengaja ga pakai itu. Feel-nya kurang dapet, lagian itu monolog dari persepsi Noah kok, biar konflik batin dia dapet. kan dia udah ga pingin hidup itu, sekalian jelasin latar belakang dia sama motif dia. itu di bab awal broo, kalau aku kasih sat set, gak dapat latar belakangnya si Noah itu karakternya gimana, soalnya ga cukup kalau cuma di tulis 1 paragraf buat jelasin Noah itu kek gimana, jadinya kek formulir pendaftaran ekskul wkwkwk.
jadi aku sampirin di monolog, di narasinya.

Iya paham novel online pembacanya suka yang sat set alias Pacing cepat kan?

Coba kita buat vibe yang beda ....

Jadi kalau lagi buru-buru, gpp skip aja.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!