NovelToon NovelToon
Cinta Kontrak Seorang CEO

Cinta Kontrak Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Sutiana

Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.

bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12. Saat perasaan mulai menuntut

Hujan turun tanpa aba-aba sore itu.

Langit yang sejak siang terlihat muram akhirnya menumpahkan seluruh bebannya, seolah mencerminkan perasaan Sakira yang tak kunjung tenang sejak pertemuannya dengan Alya.

Ia berdiri di balik jendela kamar, memandangi tetesan air yang berlomba turun di kaca. Kepalanya penuh. Kata-kata Alya terus terngiang, bercampur dengan sikap Rafael yang semakin sulit ia pahami.

Dia selalu pergi ketika perasaan mulai terasa nyata.

Sakira memeluk lengannya sendiri.

“Apa aku hanya pengulangan dari masa lalunya?” bisiknya.

Di lantai bawah, suara pintu terbuka terdengar. Rafael pulang lebih cepat dari biasanya. Sakira bisa mengenali langkah itu—tegas, cepat, namun kali ini sedikit tergesa.

Rafael berdiri di ruang keluarga, melepas jasnya dengan kasar. Wajahnya gelap, rahangnya mengeras.

“Kamu bertemu Alya lagi?” tanyanya tanpa basa-basi ketika melihat Sakira turun.

Sakira berhenti di anak tangga terakhir. “Tidak.”

“Dia menghubungimu,” lanjut Rafael, suaranya menekan.

“Sekali. Itu pun karena dia yang mencariku.”

Rafael menghela napas panjang, lalu berjalan mondar-mandir. “Kamu seharusnya tidak menemuinya.”

“Kenapa?” Sakira menatapnya lurus. “Karena dia masa lalumu? Atau karena kamu takut aku tahu sesuatu?”

Rafael berhenti.

“Kamu tidak tahu apa pun tentang dunia itu,” katanya dingin. “Tentang Alya.Tentang keluargaku.”

“Justru karena itu aku ingin tahu,” balas Sakira. “Aku istrimu, Rafael. Meski hanya di atas kertas.”

Kata-kata itu menghantam Rafael lebih keras dari yang ia duga.

Ia mendekat, jarak mereka tinggal beberapa langkah. “Itulah masalahnya,” ucapnya pelan namun tajam. “Ini hanya di atas kertas.”

Sakira tersenyum pahit. “Kalau begitu berhentilah bersikap seolah kamu peduli.”

Mata Rafael menggelap.

“Aku peduli,” katanya cepat, terlalu cepat. “Justru karena itu aku marah.”

Sakira terdiam.

Rafael juga terdiam, seolah baru menyadari apa yang keluar dari mulutnya sendiri.

Keheningan menyesakkan.

Malam itu, Sakira menerima panggilan yang ia harapkan sekaligus takuti.

“Ibu Ratna ingin bertemu,” suara di seberang terdengar formal. “Besok sore.”

Jantung Sakira berdegup keras.

“Baik,” jawabnya akhirnya.

Ia menutup panggilan dan menatap ponselnya lama. Ia tahu pertemuan itu tidak akan ramah. Namun kali ini, ia tidak ingin lari.

Keesokan harinya, Sakira datang sendiri ke sebuah restoran eksklusif. Ibu Ratna sudah menunggu, duduk tegak dengan aura wibawa yang tak terbantahkan.

“Kamu datang,” ujar Ratna tanpa senyum.

“Terima kasih sudah mengundang saya,” jawab Sakira sopan.

Ratna langsung ke inti. “Aku tidak akan berputar-putar. Pernikahanmu dengan Rafael adalah kesalahan.”

Sakira menahan napas. “Kenapa Ibu berpikir begitu?”

“Karena kamu tidak berasal dari dunia kami,” jawab Ratna tegas. “Dan kamu tidak akan pernah benar-benar diterima.”

Sakira mengangguk pelan. “Saya tidak pernah meminta diterima.”

Ratna menyipitkan mata. “Lalu apa yang kamu inginkan?”

Sakira menatapnya dengan berani. “Saya hanya ingin Rafael bahagia.”

Ratna tertawa kecil, tanpa kehangatan.

Kamu pikir kamu bisa memberinya itu? Dunia Rafael menuntut pasangan yang setara. Bukan perempuan yang hidup dari belas kasihan kontrak.”

Kata-kata itu menusuk, namun Sakira tetap tenang.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “mengapa Ibu begitu takut?”

Ratna terdiam sesaat.

“Takut?” ulangnya.

“Kalau saya memang tidak berarti apa-apa,” lanjut Sakira, “Ibu tidak perlu repot menyingkirkan saya.”

Tatapan Ratna menajam. “Kamu terlalu berani.”

“Saya hanya jujur,” balas Sakira.

Ratna bersandar. “Baik. Aku akan jujur juga. Alya adalah pasangan yang lebih pantas. Dan Rafael… perlahan akan kembali ke jalur yang benar.”

Sakira menelan ludah.

“Jika kamu benar-benar peduli pada Rafael,” lanjut Ratna, “kamu akan pergi sebelum dia terlalu jauh.”

Sore itu, Rafael mengetahui pertemuan tersebut dari Alya.

“Aku bertemu Sakira,” kata Alya di telepon.

“Dan ibumu juga menemuinya.”

Rafael membeku. “Apa yang kamu lakukan?”

“Apa yang seharusnya,” jawab Alya tenang. “Mengingatkan dia bahwa dunia ini bukan tempatnya.”

Rafael mengepalkan tinju. “Jangan pernah campuri urusanku lagi.”

“Apa kamu yakin itu urusanmu?” tanya Alya lembut namun menusuk. “Atau kamu hanya takut mengulang kesalahan yang sama?”

Rafael menutup panggilan dengan kasar.

Dadanya sesak. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar takut—bukan kehilangan reputasi, bukan kehilangan kekuasaan, tapi kehilangan Sakira.

Ia memacu mobilnya pulang.

Sakira sedang membereskan barang-barang kecil di kamar ketika Rafael masuk tanpa mengetuk.

“Kamu bertemu ibuku,” katanya.

“Ya.”

“Apa yang dia katakan?”

Sakira terdiam sejenak. “Dia menyuruhku pergi.”

Rafael memejamkan mata. “Aku minta maaf.”

“Jangan,” Sakira menggeleng. “Aku tidak ingin belas kasihanmu.”

Rafael menatapnya penuh emosi. “Lalu apa yang kamu inginkan?”

Sakira mengangkat wajahnya. Matanya jernih, namun penuh luka. “Kejujuran.”

Rafael tercekat.

“Jika kontrak ini berakhir,” lanjut Sakira pelan, “apa kamu akan menahanku?”

Pertanyaan itu membuat waktu seolah berhenti.

Rafael ingin berkata ya. Ingin menarik Sakira ke dalam pelukannya dan dan menghancurkan semua batas yang ia bangun sendiri.

Namun ketakutannya lebih besar.

“Aku tidak ingin kamu hancur karena dunia ini,” ucapnya akhirnya.

Air mata Sakira jatuh perlahan. “Berarti jawabannya tidak.”

Rafael terdiam, dan itu sudah cukup sebagai jawaban.

Malam itu, Sakira membuat keputusan.

Ia membuka koper kecil di lemari, memasukkan beberapa pakaian sederhana. Tangannya gemetar, namun wajahnya tenang.

“Aku tidak akan menunggu sampai mereka mengusirku,” bisiknya.

Ketika Rafael masuk kamar dan melihat koper itu, dadanya seakan runtuh.

“Kamu mau ke mana?” tanyanya.

“Pergi,” jawab Sakira jujur. “Sebelum aku kehilangan diriku sendiri.”

Rafael melangkah mendekat. “Jangan.”

Sakira menatapnya, air mata menggenang. “Kalau kamu ingin aku tinggal… katakan.”

Rafael membuka mulut, namun kata-kata itu tak pernah keluar.

Dan saat itulah Sakira tahu—ia sudah memilih.

Ia mengangkat koper itu, melangkah pergi melewati Rafael yang berdiri kaku, terpenjara oleh ketakutannya sendiri.

Pintu tertutup pelan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Rafael Mahendra merasakan sesuatu yang tidak pernah bisa ia kendalikan—

Penyesalan.

Rumah itu terasa asing.

Rafael berdiri di tengah kamar, menatap pintu yang baru saja tertutup. Sunyi merambat cepat, menekan dadanya hingga napasnya terasa berat. Koper kecil Sakira tak lagi di sudut kamar. Rak pakaian yang biasanya berisi gaun-gaun sederhana kini menyisakan ruang kosong yang menyakitkan.

Ia melangkah pelan, seolah berharap Sakira masih ada di suatu sudut rumah. Namun yang ia temukan hanya jejak—aroma samar sabun yang biasa dipakai Sakira, cangkir teh di meja yang belum sempat dicuci, dan keheningan yang terlalu jujur.

“Ini yang kamu mau,” gumamnya pahit pada diri sendiri.

Rafael duduk di tepi ranjang, menyandarkan siku di lutut. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan kepalanya tertunduk. Tidak ada rapat, tidak ada ponsel berdering, tidak ada topeng CEO yang harus ia kenakan.

Yang ada hanya rasa kehilangan.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari ibunya.

Ini yang terbaik. Kamu akan mengerti nanti.

Rafael menatap layar itu lama, lalu mematikan ponselnya. Dadanya terasa semakin sesak. Terbaik untuk siapa? pikirnya.

Ia teringat tatapan Sakira saat berkata, Kalau kamu ingin aku tinggal… katakan.

Dan ia diam.

Keheningan itulah yang mendorong Sakira pergi.

Di sisi lain kota, Sakira duduk di kursi belakang taksi, menatap jalanan yang berlalu cepat. Air mata mengalir tanpa suara, jatuh satu per satu di punggung tangannya.

Ia tidak menyesal pergi.

Yang ia sesali adalah berharap.

Setidaknya aku mencoba,” bisiknya, menenangkan diri.

Ia mematikan ponsel, menolak godaan untuk melihat apakah Rafael mencarinya. Ia tahu, jika ia membuka layar itu, hatinya akan runtuh.

Sakira memilih tempat yang sederhana—sebuah penginapan kecil yang bersih dan tenang. Ia duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya.

“Aku harus kuat,” katanya pada diri sendiri. “Tanpa kontrak. Tanpa dia.”

Namun malam itu terasa panjang.

Keesokan paginya, Rafael bangun dengan refleks menoleh ke sisi ranjang yang kosong.

“Sakira?” panggilnya lirih, lalu tersadar.

Ia berdiri cepat, mengenakan kemeja seadanya. Tanpa sarapan, tanpa memeriksa jadwal, ia keluar rumah. Hatinya hanya punya satu tujuan—menemukan Sakira.

Ia menghubungi asistennya, memerintahkan pencarian tanpa penjelasan. Namun jam demi jam berlalu tanpa hasil.

Rafael menghantam setir mobilnya dengan frustrasi.

Sejak kapan aku kehilangan kendali seperti ini?

Ia teringat bagaimana Sakira selalu tenang, selalu menahan diri, selalu berusaha memahami. Sementara ia—selalu memilih aman, memilih jarak, memilih ketakutan.

Rafael menutup mata.

“Aku salah,” ucapnya pelan.

Sore itu, Rafael berdiri di ruang kerja ibunya.

“Apa kamu puas?” tanyanya dingin.

Ratna menatapnya tenang. “Aku melakukan yang perlu.”

“Kamu memaksaku kehilangan seseorang,” suara Rafael bergetar, tertahan. “Dan kamu menyebutnya perlu?”

Ratna terdiam sejenak. “Kamu akan baik-baik saja.”

“Tidak,” potong Rafael. “Aku tidak baik-baik saja.”

Itu pertama kalinya ia mengakuinya.

Ratna menghela napas. “Perasaanmu akan berlalu.”

Rafael menatap ibunya tajam. “Kalau itu benar, kenapa rasanya seperti ini?”

Ia berbalik pergi tanpa menunggu jawaban.

Malam kembali turun.

Rafael duduk sendirian di ruang keluarga yang dulu sering mereka lewati bersama. Di meja, ia menemukan secarik kertas terlipat rapi.

Tulisan Sakira.

Terima kasih karena pernah melindungiku, meski caramu sering melukaiku. Aku pergi bukan karena kalah, tapi karena ingin menyelamatkan diriku sendiri.

Kertas itu bergetar di tangannya.

Rafael memejamkan mata, menarik napas panjang yang terasa perih.

“Jika aku tidak mengejarmu sekarang,” bisiknya, “aku akan kehilangamu selamanya.”

Dan untuk pertama kalinya, Rafael Mahendra membuat keputusan bukan sebagai CEO—melainkan sebagai laki-laki yang mencintai.

Ia meraih kunci mobilnya.

Bersambung...

1
Ana Sutiana
bagus dan menarik ceritanya untuk di baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!