NovelToon NovelToon
Masih Tentangmu Di Setiap Detikku

Masih Tentangmu Di Setiap Detikku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Veline ll

Bagi Liana, mencintai Justin dimulai dari sebuah sore di lobi kampus. Hanya karena melihat Justin bermain basket di bawah hujan, Liana nekat mengejar pria dingin itu hingga mereka bersatu di tengah lapangan basket yang basah.

Namun, janji itu hancur saat Justin memutusnya secara sepihak di hari kelulusan Justin dan menghilang tanpa jejak.

Tiga tahun kemudian.
Liana terkejut saat harus berhadapan dengan CEO baru di kantor tempatnya melamar kerja. Justin kembali, namun ia kini asing, dingin, dan terjebak dalam pusaran perjodohan.

Meski waktu berlalu, Liana menyadari: "There was something about you that I can't forget." Hidupnya tetap terjebak pada melodi yang sama Lagu kesukaannya "About You" milik The 1975. Karena baginya, ini masih tentang Justin di setiap detiknya.

Apakah takdir memberi mereka kesempatan kedua, ataukah hujan kali ini benar-benar menghapus jejak mereka selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Area Debat Justin dan Kaila

Langit di atas kampus Universitas Cakrawala perlahan berubah menjadi kanvas hitam pekat dengan semburat ungu di ufuk barat. Latihan perdana yang menguras tenaga itu akhirnya resmi dibubarkan. Satu per satu mahasiswa baru berjalan gontai meninggalkan lapangan terbuka, wajah-wajah mereka tampak kusam namun ada binar kepuasan karena berhasil melewati hari pertama "neraka" milik Justin.

Liana menyandarkan tubuhnya di pilar halte bus depan kampus. Napasnya sudah kembali teratur, meski otot pahanya terasa berdenyut-denyut setiap kali ia bergeser. Di sampingnya, Dhea sudah dijemput oleh mobil sedannya.

"Li, beneran nggak mau bareng? Udah gelap banget lho," tawar Dhea sekali lagi dari balik jendela mobil.

Liana tersenyum lelah sambil melambaikan tangan. "Enggak, Dhe. Bus arah rumah gue bentar lagi lewat kok. Lo duluan aja, istirahat ya!"

"Oke! Jangan lupa kompres kaki pake air anget ya, biar besok nggak jalan kayak pinguin! Bye, Li!"

Mobil Dhea meluncur menjauh, meninggalkan Liana sendirian di keheningan halte. Liana menengadah, menatap langit malam yang mulai dihiasi satu dua bintang. Pikirannya melayang pada momen latihan tadi. Bagaimana Justin berdiri di tengah lapangan, bagaimana suaranya yang tegas memberikan instruksi, dan bagaimana tatapan pria itu seolah selalu tahu jika ada yang mulai kendor semangatnya.

"Gila ya, seharian ini hidup gue beneran cuma tentang dia," gumam Liana pelan. Ia merogoh ponselnya, melihat profil Instagram Justin sebentar sebelum akhirnya sebuah bus kota berwarna biru tua berhenti di depannya. Liana melangkah masuk, mencari posisi di dekat jendela, dan membiarkan mesin bus membawanya pulang ke rumah yang hangat.

Berbeda dengan ketenangan yang dirasakan Liana, suasana di lantai dua gedung olahraga, tepatnya di ruang sekretariat UKM Basket, justru terasa mencekam. Ruangan berukuran lima kali enam meter itu dipenuhi aroma kopi instan yang mulai dingin dan tumpukan berkas proposal.

Lampu neon di langit-langit berkedip sesekali, menambah kesan tegang di antara orang-orang yang duduk melingkari meja kayu panjang.

"Gue nggak setuju, Tin. Lo nggak bisa potong anggaran tim putri cuma buat nambahin jatah suplemen tim putra!" suara Kaila meninggi, memecah keheningan. Ia membanting pulpennya ke atas meja, matanya menatap tajam ke arah Justin yang duduk di ujung meja dengan posisi tangan bersedekap.

Justin tidak bergeming. Wajahnya tetap sedingin es. "Ini bukan soal pilih kasih, Kai. Tim putra punya jadwal tanding dua kali lebih banyak bulan depan. Risiko cedera mereka lebih tinggi, kebutuhan fisik mereka lebih besar. Gue cuma realistis berdasarkan data tahun lalu."

"Realistis atau egois?" balas Kaila sengit. "Tim putri juga punya target juara liga regional. Gimana kita mau maksimal kalau fasilitas kita dipangkas terus? Lo kapten UKM, bukan cuma kapten tim putra!"

Raka, yang duduk di antara mereka sebagai Wakil Ketua, mengusap wajahnya kasar. Ia sudah melihat perdebatan ini sejak satu jam yang lalu dan belum ada tanda-tanda akan mereda.

"Oke, oke, guys. Tahan dulu," Raka mencoba masuk ke tengah percakapan. "Gini, gimana kalau kita cari jalan tengah? Kita coba ajuin dana tambahan ke pihak Rektorat pake poin prestasi semester lalu. Jadi anggaran tim putri tetep utuh, dan tim putra dapet tambahan yang mereka butuhin. Gimana?"

Justin melirik Raka sebentar, lalu kembali menatap Kaila. "Rektorat nggak bakal cairin dana dalam dua minggu, Rak. Kita butuh kepastian sekarang."

"Tapi usulan Kaila juga bener, Tin," tambah Raka pelan, mencoba menenangkan Justin. "Kita nggak bisa bikin anak-anak putri ngerasa dianaktirikan. Itu bakal ngerusak mental mereka di lapangan."

Kaila menyandarkan punggungnya, melipat tangan di dada dengan ekspresi tak puas. "Tuh, dengerin Wakil lo. Jangan semua-semua pake logika lo yang kaku itu."

Suasana kembali sunyi. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar jelas. Justin menunduk, menatap catatan di depannya dengan dahi berkerut. Ketegangan di ruangan itu seolah bisa dirasakan oleh staf lain yang hanya berani diam sambil menunduk.

Justin kemudian melirik jam tangannya. Jarum pendek sudah hampir menyentuh angka sembilan malam. Ia mengembuskan napas panjang—sesuatu yang jarang ia lakukan di depan umum—menunjukkan bahwa ia juga mulai merasa lelah.

"Sudah malam," ucap Justin tiba-tiba, suaranya terdengar lebih berat. "Rapat hari ini nggak akan ketemu ujungnya kalau kita semua lagi emosi. Kita lanjut besok siang jam dua di sini. Pastiin semua data kebutuhan alat disiapin, Kai."

Kaila menghela napas, tampaknya sedikit lega karena debat panjang ini berakhir untuk sementara. "Oke. Gue bakal bawa data yang lebih lengkap besok. Jangan kaget kalau ternyata kebutuhan kita lebih banyak dari yang lo duga."

Kaila membereskan tasnya, memberikan anggukan singkat pada Raka, dan keluar dari ruangan tanpa melirik Justin lagi. Satu per satu staf lain juga pamit undur diri, menyisakan Justin dan Raka di dalam ruangan yang mulai terasa pengap.

"Lo oke, Tin?" tanya Raka sambil merapikan sisa-sisa gelas plastik di meja.

Justin tidak langsung menjawab. Ia memijat pangkal hidungnya. "Gue cuma mau yang terbaik buat UKM ini, Rak. Tapi kadang Kaila terlalu pake perasaan kalau bahas anggaran."

Raka terkekeh kecil. "Ya itulah gunanya dia di sini, buat ngimbangin lo yang terlalu 'robot'. Kalau nggak ada dia, UKM ini mungkin udah berubah jadi kamp militer."

Raka menepuk pundak Justin. "Yuk balik. Udah malem. Motor lo udah di parkiran kan?"

Justin mengangguk pelan. Keduanya mematikan lampu sekretariat dan berjalan menyusuri koridor kampus yang sudah sangat sepi. Hanya lampu-lampu taman yang memberikan penerangan remang-remang.

Di parkiran, Justin melihat motor sport-nya berdiri gagah di bawah lampu jalan. Ia menyalakan mesin, suaranya menggelegar memecah kesunyian malam.

"Gue duluan ya, Rak," ujar Justin sambil memakai helm full face-nya.

"Yo! Hati-hati, jangan ngebut! Inget, besok masih ada maba yang harus lo latih lagi di lapangan!" canda Raka sambil menyalakan motornya sendiri.

Justin hanya memberikan jempol, lalu memacu motornya keluar dari gerbang kampus. Angin malam yang dingin menusuk jaketnya, tapi itu justru membantunya menjernihkan pikiran dari angka-angka anggaran dan wajah kesal Kaila.

Namun, entah kenapa, saat melewati halte depan kampus yang kini kosong melompong, bayangan Liana yang duduk sendirian tadi pagi kembali melintas di benaknya. Justin menggelengkan kepalanya pelan di balik helm.

"Kenapa gue jadi kepikiran dia terus?" gumamnya pada diri sendiri di tengah deru angin.

Justin mempercepat laju motornya, membelah jalanan kota yang mulai lengang, menuju rumah besarnya yang sunyi, membawa sisa-sisa lelah dan sekelumit tanya yang mulai tumbuh di sudut hatinya.

1
nesha
🤭🤭
Yoyoh Rokayah
lanjut thor
Kostum Unik
Justin Timberlake jealous /Slight/
Kostum Unik
Justin Timberlake.. Jgn cemburu kan kamu yg minta putus. Apapun alasannya ttp kalian sudah putus. Biarkan Liana memulai hidup baru. Dan buat Liana move on jgn naif jgn baper
Azalea Qziela
mulai muncul saingan justin😄
Reni Anjarwani
cemburu justin
Elprasco
😍💪
Widya Ekaputri
semangatttt!!!😍
SarSari_
iyaa...aku pun juga sama penasarannya sama liana🫣 halo kakak ..aku mampir di novelnya kakak ..mampir juga ya di novel aku. mkasih....🤗
Celine
Keren Author, lanjut thor
MayAyunda
keren👍👍
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Azalea Qziela
bagus KK,, ditunggu crazy up nya👍
Azalea Qziela
semangat kak😍💪
Veline: Terimakasih udah Mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!