Seorang pemuda yang sejak lahir telah ditakdirkan menderita. Bakatnya dicuri, keluarganya dihancurkan, ia dijual sebagai budak. Namun dari abu kehancuran itu, ia bangkit sebagai api yang membakar segalanya.
Xu Hao bukan pahlawan biasa. Ia adalah pemberontak sejati, seseorang yang menolak takdir, menentang kehendak Langit, dan menempuh jalannya sendiri: Dao Pemberontakan. Dengan kekuatan ini, ia mampu melampaui batas-batas kultivasi konvensional, menghancurkan hukum alam, dan bahkan melukai makhluk yang dianggap dewa.
Namun di balik keganasannya, tersimpan luka yang tak pernah sembuh. Cintanya pada Lianxue, gadis yang setia menanti ribuan tahun, menjadi satu-satunya cahaya dalam kegelapan. Dan saat cahaya itu padam, Xu Hao kehilangan segalanya. Enam ribu tahun ia terpuruk dalam kegilaan, hanya mampu menyebut satu nama: Xue'er.
"Ayah ibuku dibunuh. Cintaku mati di pelukanku. Takdir telah mempermainkanku! Kini giliranku mempermainkan takdir."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota Xinjian Dan Daftar Buronan
Setelah tiga jam perjalanan, mereka tiba di sebuah kota yang terlihat sangat ramai. Bangunan-bangunan baru berdiri di mana-mana, beberapa masih dalam proses pembangunan. Jalan-jalan lebar dipenuhi pedagang dan pembeli. Suara tawar-menawar bercampur dengan hiruk-pikuk aktivitas sehari-hari.
Di gerbang kota, sebuah papan besar bertuliskan "XINJIAN" dalam aksara emas.
Mereka mendarat pelan di depan gerbang. Xu Hao memimpin, diikuti Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji. Dua penjaga gerbang berdiri di sisi pintu masuk, keduanya Dewa Langit bintang sepuluh. Seragam mereka rapi, dengan lambang kota di dada.
"Berhenti. Tunjukkan identitas kalian," kata salah satu penjaga, seorang pria dengan kumis tebal.
Xu Hao mengeluarkan lempengan identitasnya. Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji juga melakukan hal yang sama. Penjaga itu mengambilnya, memeriksa satu per satu.
Matanya bergetar sesaat saat membaca nama Xu Hao. Tapi dengan cepat ia mengendalikan diri. Wajahnya kembali biasa, tidak menunjukkan apa pun.
"Seratus kristal ilahi tingkat rendah per orang untuk masuk kota."
Xu Hao mengibaskan lengannya. Seratus kristal melayang dari cincin penyimpanannya. Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji juga melakukan hal yang sama. Empat tumpuk kristal ilahi melayang di hadapan penjaga itu.
Penjaga itu menghitung cepat, lalu mengangguk. "Masuk."
Xu Hao dan yang lainnya berjalan melewati gerbang. Langkah mereka santai, tidak terburu-buru. Setelah mereka cukup jauh dan tidak terlihat dari gerbang, penjaga itu berbisik pada rekannya.
"Kabarkan ini pada penjaga kota. Sampaikan padanya jika empat orang sesat masuk ke kota. Dan salah satu buronan termahal ada di antaranya. Xu Hao, yang hadiahnya satu juta kristal."
Rekannya, seorang pria lebih muda, matanya membelalak. "Kau yakin?"
"Yakin. Aku lihat sendiri namanya di identitas. Cepat pergi!"
Pemuda itu mengangguk semangat. Hanya dengan melaporkan saja, jika penangkapan atau pembunuhan berhasil, mereka akan mendapat upah besar. Ia segera berlari meninggalkan gerbang, menuju markas penjaga kota.
Sementara itu, Xu Hao dan yang lainnya berjalan santai di jalan utama Kota Xinjian. Toko-toko berjejer di kanan kiri. Pedagang kaki lima memanggil-manggil pembeli. Aroma makanan bercampur dengan wewangian dupa dari toko-toko spiritual.
Orang-orang di sekitar mulai menatap mereka. Tatapan mata melebar, lalu segera berpaling. Beberapa pura-pura sibuk dengan dagangan mereka. Yang lain cepat-cepat masuk ke toko terdekat.
Xu Hao mengamati sekeliling dengan saksama. Warga di sini bahkan yang paling rendah adalah Leluhur Abadi. Umumnya mereka Dewa Bumi dengan berbagai tingkatan. Jauh lebih kuat daripada Alam Satu atau Alam Dua.
Tapi fokusnya bukan pada kekuatan mereka. Ia menangkap keanehan dari sikap orang-orang. Tatapan-tatapan itu, bisik-bisik itu, gerakan menghindar itu. Semua menandakan sesuatu.
Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji juga menyadarinya. Mereka berusaha tenang, tidak menunjukkan kepanikan. Panik tidak akan mengubah apa pun. Tapi santai juga bukan berarti lengah. Kewaspadaan mereka tetap tinggi.
Mei Mei menunjuk ke sebuah lorong di samping. "Di sana, senior. Kita akan bertanya di toko dalam lorong itu."
Xu Hao mengangguk. Mereka berbelok ke lorong itu. Lorongnya sempit, hanya cukup untuk tiga orang berjalan berdampingan. Dinding-dindingnya kotor, penuh lumut. Bau apek tercium di udara.
Mereka berjalan sekitar lima puluh meter. Di ujung lorong, sebuah toko kecil berdiri. Papannya bertuliskan "Toko Penjahit Abadi" dengan huruf pudar.
"Tunggu sebentar. Biar aku tanyakan pada penjaga toko," kata Mei Mei.
Xu Hao mengangguk. Mei Mei masuk ke toko, meninggalkan mereka bertiga di luar.
Jin Bao bersandar di dinding, matanya mengamati lorong. Jin Yuji duduk di atas batu besar, mengeluarkan patung gioknya dan mulai mengamati bagian belakangnya dengan serius. Xu Hao hanya berdiri, matanya terpejam, indra jiwanya menyebar luas.
Sepuluh menit kemudian, Mei Mei keluar dari toko. Tanpa bicara, ia memberikan anggukan berarti pada Xu Hao. Lalu ia berjalan melewati mereka, memimpin jalan masuk ke lorong yang lebih dalam.
Mereka berbelok kiri, lalu kanan, lalu kiri lagi. Lorong-lorong semakin sempit, semakin kotor. Bangunan-bangunan di sekitarnya terlihat kumuh, tidak terawat. Ini pasti daerah kumuh di pinggir kota.
Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah kecil. Rumah itu terbuat dari kayu lapuk, atapnya berlubang di beberapa tempat. Mei Mei mendorong pintu, masuk. Yang lain mengikuti.
Begitu pintu tertutup, suasana hening. Hanya suara napas mereka yang terdengar.
Xu Hao berbicara pelan, "Ceritakan."
Mei Mei menarik napas. Ia mengeluarkan selembar kertas hitam dari cincin penyimpanannya. Kertas itu dilapisi formasi pelindung, tidak rusak meskipun sudah dilipat.
Ia membentangkannya di atas meja kayu reyot.
Daftar Hitam.
Di atas kertas itu, terpampang lukisan-lukisan wajah. Xu Hao melihat wajahnya sendiri di bagian atas, dengan hadiah satu juta kristal ilahi tingkat tinggi. Di sampingnya, ada dua pria tampan. Satu berpakaian hijau dengan peti mati di punggung. Satu lagi berpakaian hitam-merah, juga dengan peti mati.
Shanmu dan Lumo.
Di bawahnya, ada puluhan wajah lain. Nenek Yi dengan hadiah lima ratus ribu. Dan di antara mereka, Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji terpampang jelas. Hadiah mereka masing-masing seratus ribu kristal.
Jin Bao menatap lukisannya. Matanya menyipit. Lalu ia mengerutkan kening kecewa.
"Seratus ribu? Hanya seratus ribu? Dan lihat ini! Ototku digambar tidak proporsional! Ini penghinaan!" ia mengeluh, menunjuk lukisan lengannya yang menurutnya terlalu kecil.
Jin Yuji juga kecewa. "Patung kesayanganku tidak dilukiskan. Padahal itu bagian penting dari diriku."
Xu Hao hanya diam menatap daftar itu. Wajahnya tidak menunjukkan rasa takut atau terkejut. Sebenarnya ia sudah melihat daftar ini sebelumnya di salah satu toko yang mereka lewati. Ia tahu mereka sudah menjadi buronan.
Yang membuatnya sedikit terkejut adalah dua nama di sampingnya. Shanmu dan Lumo. Keduanya memiliki hadiah yang sama dengannya. Berarti mereka juga target utama Alam Surgawi.
Mei Mei memecahkan lamunan Xu Hao. "Senior, Senior Lumo juga seorang buronan. Dan informasi dari pemilik toko tadi, sebulan yang lalu Senior Lumo sempat beberapa hari di kota ini. Tapi dia pergi karena mengetahui penjaga kota di sini, Raja Dewa bintang sepuluh berniat memburunya. Karena itu dia pergi."
Ia berhenti, lalu melanjutkan, "Dia pergi ke Rawa Kematian untuk bermeditasi."
Xu Hao diam. Rawa Kematian. Nama itu terdengar berbahaya. Tapi jika Lumo memilih tempat itu, pasti ada alasan.
Beberapa saat kemudian, Xu Hao berbicara. Suaranya tenang, pasti.
"Kita cari dia."
Mei Mei mengangguk. Jin Bao dan Jin Yuji juga mengangguk, wajah mereka bersemangat. Petualangan di Alam Tiga baru saja dimulai, dan mereka sudah memiliki tujuan.
Tanpa buang waktu, mereka keluar dari rumah kumuh itu. Lorong-lorong gelap mereka lewati dengan cepat. Kali ini mereka tidak perlu bersembunyi. Yang mereka butuhkan adalah informasi lebih lanjut tentang Rawa Kematian.
Saat keluar dari daerah kumuh, Xu Hao mengangkat tangannya. Mereka berhenti.
"Ada yang mengikuti kita," bisiknya pelan.
Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji langsung siaga. Mereka merasakan kehadiran itu juga. Samar, tapi ada.
Xu Hao tersenyum tipis. "Biarkan. Mungkin mereka bisa memberi kita informasi."
Ia melanjutkan berjalan, pura-pura tidak tahu. Di belakang mereka, beberapa bayangan bergerak diam-diam, mengikuti setiap langkah mereka.
dan Tahta tertinggi untuk Cinta adalah Cinta kpd Tuhan
"...sepertinya pertarungan kita setahun yang lalu tidak memberikan efek jera padamu"