NovelToon NovelToon
Iman Yang Tak Terbeli

Iman Yang Tak Terbeli

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Malolo

seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14: Harga Sebuah Nyawa

Lampu merah di atas pintu ruang bedah itu masih menyala, seolah-olah menjadi satu-satunya sumber kehidupan di lorong rumah sakit yang dingin. Detak jam di dinding terasa seperti dentuman palu yang menghantam kesadaran Shafira. Di sampingnya, Bu Aminah tertidur karena kelelahan setelah berjam-jam menangis, kepalanya bersandar di bahu Arfan yang menatap kosong ke arah lantai.

Dave Mahesa berdiri agak jauh, bersandar pada pilar beton. Jas mahalnya sudah ia tanggalkan, menyisakan kemeja putih dengan lengan digulung hingga siku. Ia menatap telapak tangannya. Ada noda darah kering di sana—darah Pak Rahman. Untuk seorang pria yang biasa mengelola angka-angka triliunan, Dave merasa benar-benar tak berdaya menghadapi beberapa tetes cairan merah yang menentukan hidup seseorang.

Keheningan itu pecah saat langkah sepatu hak tinggi berdentum keras di lantai marmer. Dave mendongak, matanya menyipit saat melihat sosok ibunya, Bu Sarah, datang bersama seorang pria paruh baya yang membawa tas koper kulit—pengacara keluarga Mahesa.

"Mama sedang apa di sini?" suara Dave rendah, mengandung peringatan.

Bu Sarah tidak menjawab Dave. Matanya langsung tertuju pada Shafira yang duduk di kursi tunggu. Dengan wajah yang dipoles kosmetik mahal namun terasa dingin, Bu Sarah melangkah mendekati gadis itu.

"Nona Shafira," panggil Bu Sarah.

Shafira mendongak. Meski matanya sembab, ia tetap berusaha berdiri dengan sisa-sisa kekuatannya. "Ya, Bu Sarah?"

Bu Sarah memberi isyarat kepada pengacaranya untuk membuka tas koper tersebut. Di dalamnya, tumpukan dokumen dan sebuah buku cek sudah siap. "Kita bicara sebagai sesama wanita yang ingin segalanya cepat selesai. Apa yang terjadi pada ayahmu adalah sebuah musibah. Clara sangat terpukul, dia tidak sengaja. Namun, kita tahu bagaimana media bisa menggoreng berita ini jika sampai bocor bahwa calon menantu keluarga Mahesa terlibat insiden dengan seorang... karyawan taman."

Shafira terdiam. Ia menatap dokumen itu dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Mama, jangan sekarang!" Dave menghampiri, mencoba menghalangi ibunya. "Pak Rahman sedang dioperasi!"

"Justru karena itu, Dave," potong Bu Sarah tajam. "Biaya rumah sakit ini tidak murah. Operasi saraf, perawatan intensif, rehabilitasi... itu semua bisa menghabiskan miliaran rupiah. Keluarga Nona Shafira tentu akan kesulitan jika harus menanggungnya sendiri."

Bu Sarah kembali menatap Shafira. "Di dalam dokumen ini, sudah tertulis bahwa Pak Rahman mengakui kelalaiannya saat bekerja di area parkir sehingga terjadi gesekan dengan kendaraan Nona Clara. Sebagai kompensasi, kami akan memberikan uang santunan sebesar lima miliar rupiah tunai, menanggung seluruh biaya pengobatan hingga sembuh total, dan saya menjamin posisi Anda di Mahesa Group akan naik menjadi manajer keuangan tetap. Tanpa syarat."

"Satu syarat saja, Nona," sambung sang pengacara dengan suara datar. "Anda cukup menandatangani surat pernyataan bahwa ini adalah kecelakaan tunggal akibat kelalaian pejalan kaki, dan mencabut laporan polisi yang mungkin ingin Anda buat."

Suasana di lorong itu mendadak beku. Arfan, yang tadinya diam, berdiri dengan tangan mengepal. "Jadi Ibu ingin menyuap kami agar wanita itu bisa bebas setelah hampir membunuh Bapak?"

"Arfan, tenang," bisik Shafira, memegang lengan adiknya.

Shafira kemudian menatap Bu Sarah. Matanya yang tadinya layu kini memancarkan kilat yang membuat Bu Sarah sedikit tertegun. "Lima miliar rupiah?" tanya Shafira pelan.

"Ya. Dan perawatan terbaik di Singapura jika perlu," sahut Bu Sarah, mengira Shafira mulai tergoda.

Shafira tersenyum tipis—sebuah senyum yang penuh dengan kepedihan. "Ibu Sarah... bagi Ibu, mungkin segalanya punya label harga. Nyawa, keadilan, bahkan kejujuran. Tapi di dunia saya, harga diri ayah saya tidak bisa diukur dengan angka nol sebanyak apa pun."

"Jangan sombong, Shafira," desis Bu Sarah. "Ingat ibumu, ingat sekolah adikmu. Tanpa uang ini, ayahmu hanya akan menjadi beban yang membuat keluargamu jatuh miskin seumur hidup."

"Ibu salah," suara Shafira kini menguat, stabil, dan penuh wibawa. "Ayah saya tidak pernah menjadi beban. Dia adalah tulang punggung yang mengajarkan saya untuk tidak pernah sujud pada uang. Jika saya menandatangani surat ini, saya bukan sedang menyelamatkan Ayah, saya sedang membunuh martabat yang dia jaga sepanjang hidupnya."

Shafira melangkah maju satu tindak, berdiri tepat di hadapan Bu Sarah. "Bawa kembali cek Ibu. Saya tidak akan menjual kebenaran demi kemudahan hidup. Jika hukum di dunia ini bisa Ibu beli, saya pastikan hukum Tuhan tidak akan pernah bisa Ibu tawar."

"Kau—!" Bu Sarah mengangkat tangannya, seolah ingin menampar Shafira, namun pergelangan tangannya dicengkeram kuat oleh Dave.

"Cukup, Ma!" bentak Dave. Wajahnya merah padam karena malu dan marah. "Keluar dari sini sekarang. Bawa pengacara ini pergi sebelum aku sendiri yang memanggil keamanan untuk mengusir ibuku sendiri."

"Dave! Kau membela gadis ini daripada keluargamu?"

"Gadis ini punya lebih banyak kehormatan di ujung kuku jilbabnya daripada seluruh keluarga kita, Ma!" Dave melepaskan tangan ibunya dengan kasar. "Pergi. Sekarang."

Bu Sarah menatap putranya dengan kebencian, lalu melirik Shafira. "Kau akan menyesal, Shafira. Aku pastikan kau tidak akan punya tempat di kota ini lagi."

Setelah Bu Sarah pergi, lorong itu kembali hening. Dave berbalik menghadap Shafira. Ia ingin meminta maaf, ia ingin bersimpuh di kaki gadis itu atas nama ibunya, namun lidahnya terasa kelu.

"Shafira... aku..."

"Jangan katakan apa-apa, Pak Dave," potong Shafira. Ia kembali duduk, memejamkan mata. "Bapak tidak bertanggung jawab atas tindakan Ibu Sarah. Tapi tolong... jangan biarkan mereka mendekati keluarga saya lagi."

Satu jam kemudian, lampu operasi akhirnya mati. Seorang dokter keluar dengan wajah yang sangat letih. Masker bedahnya sudah diturunkan.

"Keluarga Bapak Rahman?"

Shafira dan keluarganya berdiri dengan napas tertahan. Dave mendekat, jantungnya seolah berhenti berdetak.

"Operasi berjalan lancar untuk menghentikan pendarahan. Namun..." Dokter itu menghela napas panjang. "Pasien mengalami koma yang cukup dalam. Kami tidak bisa menjamin kapan beliau akan bangun. Saat ini, hanya mesin yang membantu pernapasannya."

Bu Aminah pingsan seketika. Arfan menangkapnya. Shafira merasa dunianya benar-benar runtuh. Ia menatap kaca ruang ICU, melihat ayahnya terbaring di balik tumpukan selang dan kabel.

Dave berdiri di belakang Shafira. Ia melihat gadis itu tidak lagi menangis dengan suara. Shafira hanya terdiam, bahunya sedikit berguncang. Dave merasakan dorongan yang sangat kuat untuk melindunginya, untuk menjadi dinding bagi badai yang sedang menerjang gadis itu.

"Shafira," panggil Dave lirih. "Apapun yang terjadi... aku tidak akan membiarkanmu menghadapi ini sendirian. Aku berjanji."

Shafira menoleh perlahan. "Bapak berjanji atas nama apa? Kasihan? Atau rasa bersalah?"

Dave menatap mata Shafira dalam-dalam. "Atas nama seorang pria yang baru menyadari bahwa selama ini dia telah buta. Aku akan mencari keadilan untuk ayahmu, meskipun itu artinya aku harus menghancurkan namaku sendiri."

Di kejauhan, di sudut lorong, seorang perawat diam-diam memperhatikan mereka sambil memegang ponsel yang sedang merekam pembicaraan itu. Ternyata, mata-mata Bu Sarah masih ada di sana, siap untuk memutarbalikkan fakta dan menyusun serangan baru yang akan mengancam keselamatan Shafira lebih dari sekadar kehilangan pekerjaan.

1
Novita Sari
saudara kembar bersatu....
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
semangat thor, tambah seru..
.
Meghawati: menegangkan
total 1 replies
Novita Sari
Alhamdulillah thor update banyak terimakasih thor n semangat 💪💪💪
Meghawati: selalu semangat
total 1 replies
Novita Sari
dave ada saudara, lanjut thor....
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
lanjut thor...
Meghawati: lanjuuut
total 1 replies
Novita Sari
astaghfirullah bu sarah udah mau mati gak sadar sadar..
Meghawati: hahaha belum dapat hidayah
total 1 replies
Novita Sari
jangan liat dari masa lalu safira 😭😭😭😭 Alhamdulillah update banyak terimakasih thor, semangat 💪💪💪💪
Meghawati: terimakasih supportnya
total 2 replies
Novita Sari
semangat dave safira
Meghawati: terimakasih
total 1 replies
Siti Naimah
keren Shafira 👍
Meghawati: matap
total 1 replies
Novita Sari
jangan jangan dave bukan anak kandung bu sarah
Meghawati: jahat banget
total 1 replies
Novita Sari
terus berjuang di jalan Allah Safira..
Meghawati: aamiin
total 1 replies
Novita Sari
tambah seru, ditunggu kebucinan dave sama safira thor
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
terus berkarya thor, cerita nya bagus..
Novita Sari
cerita bagus,..
Meghawati: makasih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!