Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Suasana di ruang makan yang mewah itu mendadak terasa hangat, bukan karena pemanas ruangan, melainkan karena aroma pindang kecap yang sederhana.
Jati menyuap nasi dengan potongan ikan pindang itu perlahan.
Rasanya gurih, manis, dan ada jejak pedas yang pas di lidah—jauh lebih jujur daripada semua hidangan restoran berbintang yang selama ini ia santap bersama Mila.
Mila selalu menuntut makan di tempat terbaik, namun setiap suapan selalu dibumbui dengan sindiran atau tuntutan materi.
Sementara di depan Lintang, Jati merasa tidak perlu menjadi "Tuan Muda" yang sempurna.
"Enak, Lintang. Sangat enak," gumam Jati.
Ia menatap kotak bekal hijau pudar itu seolah itu adalah harta karun.
"Aku baru sadar, kebahagiaan itu ternyata sesederhana ini. Bukan soal seberapa mahal piringnya, tapi siapa yang menyiapkannya dengan tulus."
Lintang yang sedang mencoba memotong steak wagyu di hadapannya hanya tersenyum malu.
"Itu cuma masakan sederhana, Mas. Saya senang kalau Mas suka."
Jati meletakkan sendoknya, menatap Lintang dengan tatapan yang lebih dalam.
Ada sebuah keputusan yang mendadak muncul di benaknya.
Ia tidak ingin rasa ini hilang begitu saja saat Lintang keluar dari pintu apartemennya.
"Besok, tolong masakkan ini lagi ya," ucap Jati pelan namun sungguh-sungguh.
"Kamu kirim ke apartemen ini sore hari. Tidak perlu memijat kalau kamu lelah, cukup antarkan makanan ini."
Lintang tertegun sejenak. Ia melihat ada secercah binar harapan di mata Jati yang tadinya redup.
Ia menyadari bahwa bagi pria ini, pindang kecap buatannya bukan sekadar pengganjal perut, melainkan sebuah "obat" untuk jiwanya yang sedang gersang.
Lintang menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Iya, Mas. Besok sore saya antarkan yang paling enak buat Mas Jati."
Jati tersenyum tipis dan pertama yang muncul di wajahnya sejak kecelakaan itu terjadi.
Di balik kemewahan apartemen yang sunyi, sebuah ikatan baru mulai terjalin lewat aroma masakan rumah dan janji sederhana di sore hari.
Jati meletakkan sendoknya, lalu merogoh laci meja makan dan mengeluarkan sebuah amplop putih yang tampak tebal.
Ia menyodorkannya ke hadapan Lintang dengan gerakan yang tenang namun penuh wibawa.
"Ini untuk jasa pijatmu hari ini, dan juga untuk pindang kecap yang luar biasa ini," ucap Jati.
Lintang menerima amplop itu, namun matanya membulat saat merasakan ketebalannya.
"Mas, ini terlalu banyak. Tarif saya tidak sebanyak ini."
"Terima kasih, Lintang. Bukan cuma untuk pijatnya, tapi untuk nasihat dan makanan ini. Kamu memberikan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang di restoran mana pun," Jati menjeda kalimatnya, menatap Lintang dengan intensitas yang berbeda.
"Besok aku tunggu ya. Dan mulai hari ini, kamu tidak usah memijat orang lain lagi. Cukup aku saja."
Lintang tersentak saat mendengar perkataan dari Jati.
Jantungnya berdegup kencang. Permintaan itu terdengar seperti sebuah perintah, namun ada nada memohon di baliknya.
"Tapi Mas, pelanggan saya yang lain bagaimana? Mereka sudah langganan, dan saya butuh pekerjaan tetap untuk..."
"Aku akan mencukupi semuanya," potong Jati cepat.
"Aku ingin kamu fokus memasak untukku dan membantuku pulih. Aku tidak ingin tangan yang menyembuhkanku ini kelelahan karena orang lain."
Lintang terdiam, menatap amplop di tangannya lalu beralih ke mata Jati yang seolah sedang tenggelam dalam kesepian yang amat dalam.
Ia tahu ini adalah tawaran yang bisa mengubah hidupnya, namun ada tanggung jawab moral yang ia rasakan. Tapi, melihat bagaimana Jati tampak begitu rapuh di balik kekayaannya, Lintang merasa pria ini memang lebih membutuhkannya daripada pelanggan lainnya.
Perlahan, Lintang menganggukkan kepalanya. "Baik, Mas. Kalau itu mau Mas Jati, saya akan turuti. Besok sore saya akan datang membawa masakan hangat."
Jati mengembuskan napas lega, seolah satu beban berat baru saja terangkat dari pundaknya.
Untuk pertama kalinya, ia merasa memiliki sesuatu yang eksklusif, sesuatu yang tidak bisa dicuri oleh Andre ataupun dirusak oleh Mila.
Lintang merapikan tas selempangnya, memastikan tidak ada peralatan pijat yang tertinggal.
Ia berdiri dengan sikap santun yang alami, seolah kemewahan apartemen itu tidak sedikit pun mengubah kerendahan hatinya.
"Saya pamit dulu, Mas Jati. Terima kasih untuk makan siangnya," ucap Lintang lembut.
Sebelum melangkah pergi, Lintang meraih tangan kanan Jati.
Dengan gerakan yang halus dan penuh takzim, ia membungkukkan tubuhnya sedikit lalu mencium punggung tangan Jati—sebuah bentuk penghormatan yang tulus dari seorang wanita kepada pria yang ia hargai.
Jati terpaku. Jantungnya seolah berhenti berdetak selama beberapa detik.
Ada sensasi hangat yang menjalar dari punggung tangannya menuju dadanya, menyentuh bagian terdalam jiwanya yang selama ini beku.
Ia menatap Lintang yang kini sudah berdiri tegak kembali dengan senyum tipis di bibirnya.
Jati terkejut bukan karena tindakan itu asing baginya, tapi karena ia menyadari satu kenyataan pahit: Mila, wanita yang berstatus istrinya selama bertahun-tahun, tidak pernah melakukan hal sesederhana itu.
Mila selalu menuntut untuk dimuliakan, namun ia lupa cara memuliakan suaminya.
Bagi Mila, Jati hanyalah mesin uang yang wajib memenuhi gengsinya.
Jangankan mencium tangan, menatap Jati dengan rasa hormat saja sudah lama hilang dari sorot mata istrinya itu, apalagi setelah kecelakaan menimpanya.
"Hati-hati di jalan, Lintang," suara Jati terdengar agak serak, menahan haru yang mendadak menyerang.
"Iya, Mas. Sampai bertemu besok sore."
Pintu apartemen tertutup perlahan, meninggalkan Jati sendirian dalam kesunyian yang kini tidak lagi terasa mencekam.
Ia mengangkat tangan kanannya, menatap punggung tangan yang baru saja disentuh bibir Lintang.
Di sana, ia tidak hanya merasakan bekas ciuman, tapi juga sisa harga diri yang perlahan mulai tumbuh kembali.
Ternyata, kesetiaan dan kehormatan tidak butuh kemewahan untuk ditunjukkan; mereka hanya butuh hati yang tulus, seperti milik Lintang.
Jati menarik napas panjang setelah kepergian Lintang.
Kehangatan dari ciuman tangan wanita itu seolah memberinya kekuatan baru yang selama ini hilang.
Ia merapikan kemejanya, mengancingkannya satu per satu dengan tangan yang tidak lagi gemetar.
Ia tahu, ia tidak bisa terus bersembunyi di apartemen ini.
Ada sebuah nanah yang harus segera ia pecahkan di rumah utamanya.
Dengan langkah mantap, Jati mengendarai mobilnya menuju rumah yang kini terasa seperti neraka itu.
Ceklek!
Pintu rumah terbuka. Pemandangan di ruang tamu langsung menusuk matanya.
Mila sedang duduk di sofa, memeluk Andre dengan mesra seolah-olah rumah itu milik mereka berdua.
Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa bersalah.
Mila menoleh, lalu mendengus kesal saat melihat suaminya berdiri di ambang pintu.
Ia melepaskan pelukannya dari Andre, namun tetap duduk dengan angkuh.
"Baguslah kamu pulang. Kita harus bicara sekarang!!" ucap Mila dengan nada memerintah yang sangat tajam.
Jati tidak bergeming. Ia menatap Andre yang hanya tersenyum mengejek di samping istrinya.
"Baiklah, ayo kita bicara sekarang. Tapi sebelumnya..." Jati menunjuk ke arah pintu keluar dengan jarinya yang kokoh.
"Kamu, lelaki murahan, pergi dari rumahku sekarang juga!"
Andre baru saja hendak membuka mulut untuk membalas, namun Mila lebih dulu berdiri dan berteriak histeris.
"Jangan berani-berani kamu usir Andre! Kalau kamu berani usir dia, kita bercerai sekarang juga!" ancam Mila.
Ia yakin Jati tidak akan berani, karena ia tahu Jati sangat memuja kesetiaan dan takut kehilangan dirinya. Namun, Mila salah besar. Pria yang berdiri di depannya sekarang bukanlah Jati yang lemah seperti beberapa hari lalu.
Kata-kata Lintang tentang "baju kotor yang harus dilepas" terngiang jelas di kepalanya.
Jati menatap Mila dengan tatapan paling dingin yang pernah ia tunjukkan.
Kesedihan di matanya telah berganti menjadi ketegasan yang mutlak.
"Baiklah. Kalau itu yang kamu mau," ucap Jati dengan suara yang sangat tenang namun menggelegar di seluruh ruangan.
"Kita bercerai mulai detik ini. Mila Resanti, hari ini, di depan selingkuhanmu ini, aku jatuhkan talak tiga kepadamu!"
Suasana seketika hening. Senyum di wajah Andre menghilang, sementara wajah Mila memucat seketika.
Ia tidak menyangka Jati akan mengambil keputusan seekstrim itu. Talak tiga berarti tidak ada jalan kembali.
"Mas, kamu gila?!" suara Mila mulai bergetar.
"Aku baru saja sadar, Mila," sahut Jati sambil berjalan menuju kamarnya untuk mengemasi barang yang tersisa.
"Aku tidak butuh wanita cantik yang hanya bisa menyakiti. Keluar dari rumah ini sebelum aku panggil keamanan untuk menyeret kalian berdua."
Mila terpaku di tempatnya berdiri. Kakinya terasa lemas, seolah lantai yang ia pijak baru saja amblas.
Selama ini, ia merasa di atas angin karena menganggap Jati terlalu mencintainya dan tidak akan pernah berani meninggalkannya, apalagi dengan kondisi fisiknya yang cacat.
Ia yakin Jati akan selalu tunduk padanya demi sebuah status pernikahan. Namun, kenyataan pahit menghantamnya seketika.
Ia teringat perjanjian pranikah dan fakta bahwa rumah mewah ini, apartemen, serta seluruh aset perusahaan adalah harta bawaan Jati.
Tanpa Jati, Mila hanyalah wanita yang tidak memiliki apa-apa.
"Mas pasti bercanda, kan?" suara Mila bergetar, kini nada angkuhnya hilang berganti ketakutan.
"Aku, tidak bermaksud begitu. Aku hanya emosi tadi..."
Jati menatapnya tanpa ekspresi. Tidak ada lagi binar cinta, yang tersisa hanyalah kekosongan.
"Aku sedang tidak bercanda, Mila. Kesabaranku sudah habis di titik di mana kamu membawa lelaki ini ke dalam rumahku."
Jati beralih menatap Andre yang kini tampak gelisah karena menyadari "ladang emasnya" akan segera hilang.
"Sekarang keluar dari rumahku! Bawa semua barang-barangmu. Setelah rumah ini laku terjual, separuh dari hasil penjualannya akan aku berikan kepadamu sebagai bentuk tanggung jawab terakhirku. Tapi setelah itu, jangan pernah muncul lagi di hadapanku," tegas Jati.
"Tapi Mas, ini rumah kita! Aku mau tinggal di mana?!" teriak Mila histeris, air mata mulai mengalir di pipinya.
Jati tidak menjawab. Ia berbalik badan, melangkah masuk ke dalam kamar utama dan menutup pintu dengan bantingan keras.
KLIK!
Suara kunci yang diputar dari dalam menjadi penegas bahwa pintu hati Jati pun telah tertutup rapat untuk Mila.
Di dalam kamar, Jati menyandarkan punggungnya di balik pintu.
Napasnya memburu. Ada rasa perih yang luar biasa, namun di saat yang sama, ia merasakan kelegaan yang tak terlukiskan.
Di luar, ia masih mendengar teriakan Mila yang menggedor pintu dan makiannya kepada Andre yang mulai menyalahkannya.
Jati tidak peduli lagi. Ia merogoh saku kemejanya, mengambil kartu nama Lintang yang sudah agak lusuh.
"Hanya kamu yang menghormatiku sebagai lelaki, Lintang..." bisik Jati lirih.
Ia kini menanti hari esok. Hari di mana ia tidak lagi menjadi suami yang dikhianati, melainkan seorang pria yang siap memulai hidup baru dengan pindang kecap dan kesederhanaan seorang wanita bernama Lintang.