NovelToon NovelToon
Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Romansa
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.

Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.

Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.

Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Aku melangkah keluar dari kamar rawat Arlan dengan aura yang seketika berubah. Di dalam kamar tadi, aku adalah Rania yang rapuh, namun begitu pintu itu tertutup, aku kembali menjadi wanita yang ditakuti di ruang rapat. Kali ini, ketegasanku bukan untuk membentengi diri, melainkan untuk menyerang balik siapapun yang berani mengusik ketenangan Arlan.

"Abang sudah panggil pengacara perusahaan?" tanyaku pada Bang Haris sambil berjalan cepat menuju lobi.

"Sudah, dia sedang menuju ke sini. Tapi Ran, pengacara Harva bukan orang sembarangan. Dia ahli memutarbalikkan fakta. Dia akan menyerangmu dengan dalih bahwa siaran langsung itu merugikan saham perusahaan Harva secara sepihak sebelum ada putusan pengadilan," jelas Bang Haris.

Aku tersenyum miring. "Dia mau main hukum formal? Mari kita layani. Tapi Siska... dia adalah kunci fisik yang kita butuhkan. Dia tidak mungkin lari jauh tanpa uang."

Begitu sampai di lobi, pemandangan kacau menyambutku. Beberapa wartawan mulai mencium aroma skandal besar, dan seorang pria paruh baya dengan tas kerja kulit mahal—pengacara Harva—tengah berdebat keras dengan petugas polisi.

"Klien saya dikriminalisasi! Siaran langsung itu adalah pembunuhan karakter!" teriak pria itu.

Aku melangkah maju, memecah kerumunan. Suara sepatu hak tinggiku membungkam perdebatan mereka. "Pembunuhan karakter, Pak Pengacara? Bagaimana dengan percobaan pembunuhan nyawa manusia yang dilakukan klien Anda?"

Pria itu menoleh, menatapku tajam. "Nona Rania, Anda harus bertanggung jawab atas kerugian miliaran rupiah akibat aksi gegabah Anda."

"Miliaran rupiah?" aku tertawa getir. "Silakan hitung kerugian itu dan kirimkan tagihannya ke neraka. Karena saya punya rekaman suara asli Harva yang mengancam akan 'menghilangkan' nyawa pasien di ICU ini. Apakah itu juga bagian dari strategi bisnis yang legal?"

Pria itu terdiam sejenak, namun ia segera membalas, "Tanpa saksi kunci seperti Siska, rekaman suara bisa dimanipulasi di pengadilan."

Tepat saat itu, ponsel Bang Haris bergetar. Ia mengangkatnya sejenak, lalu membisikkan sesuatu di telingaku yang membuat jantungku berdesir puas.

"Arunika menemukan Siska. Dia mencoba kabur lewat pelabuhan tikus menuju luar pulau, tapi Doni ternyata memasang pelacak di tas yang ia berikan pada Siska sebagai jaminan keamanan."

Aku kembali menatap pengacara Harva dengan tatapan paling mematikan yang pernah kumiliki. "Saksi kunci Anda sedang dalam perjalanan ke kantor polisi sekarang, Pak. Dan dia tidak datang untuk membela Harva. Dia datang untuk menyelamatkan lehernya sendiri."

Wajah pengacara itu pucat pasi. Ia tahu permainannya berakhir di sini.

Tiga jam kemudian, suasana lobi mulai tenang. Harva resmi ditahan dengan tuduhan berlapis, termasuk pemerasan dan konspirasi kriminal. Saham perusahaan ayahku pun sedang dalam proses pemulihan status hukum.

Aku kembali ke lantai atas dengan tubuh yang lelah, namun hati yang ringan. Di depan kamar Arlan, aku melihat Rendra berdiri mematung. Pria yang dulu ingin menjadi masa depanku itu kini hanya menunduk saat melihatku.

"Rania... aku sudah dengar semuanya. Aku minta maaf karena sempat memaksa masuk ke hidupmu," ucap Rendra tulus. "Ayahmu benar, kamu tidak butuh penjaga. Kamu adalah pelindung untuk dirimu sendiri."

"Terima kasih, Rendra. Dan tolong, sampaikan pada ayahku agar berhenti mengirim siapapun. Karena pintu hatiku sudah lama terkunci, dan pemilik kuncinya baru saja bangun," jawabku tenang.

Rendra mengangguk paham dan melangkah pergi, memberiku ruang untuk kembali ke pelukan pria yang selama ini kusebut 'pengkhianat'.

Aku membuka pintu kamar Arlan lagi. Kali ini, ia tidak sedang memejamkan mata. Ia sedang menungguku dengan tangan terbuka.

"Sudah selesai?" tanyanya lembut.

"Benar-benar selesai, Lan. Tidak akan ada lagi Siska, tidak ada lagi Harva, dan tidak ada lagi 'Ratu Es'."

Aku merebahkan kepalaku di bahunya, menghirup aroma tubuhnya yang bercampur bau antiseptik, namun terasa seperti rumah. Tiga tahun pengembaraan dalam kebencian akhirnya berlabuh pada kebenaran.

Takdir mungkin membawa kami kembali bertemu di satu perusahaan, tapi cinta yang membawa kami kembali bersatu di satu rasa yang lebih kuat dari sebelumnya.

1
Ayudya
rania kalau kamu terus sendiri dan harus terpuruk dengan masa lalu ga bagus juga si menurut aku yga ada Mala kamu di anggap belum bisa menghilangkan bayangan masa lalu kamu🤣🤣🤣🤣
Ayudya
aku suka dengan karakter Rania tegas dan ga menye menye🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Dinar David Nayandra
si harga kok tau smpe datail gtu ya ada mata mata dia kayanya
Nur Atika Hendarto
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!