NovelToon NovelToon
Legenda Manusia Dewa

Legenda Manusia Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.

Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.

Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.

Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Bayang-Bayang Majapatih

Ibu kota Majapatih tampak seperti lautan cahaya dari kejauhan, namun bagi Wira Wisanggeni, cahaya itu terasa dingin dan penuh duri.

Di balik kemegahan tembok-tembok tingginya, ia bisa merasakan pusaran energi hitam yang mulai mengakar, dibawa oleh lidah beracun Adipati Kalingga yang kini bersarang di jantung kekuasaan.

Wira berjalan dengan langkah yang lebih tenang. Ia tak lagi banyak berkelakar.

Sejak kembali dari Alam Dewa, ada beban tak kasat mata yang menggelayut di pundaknya, sebuah kesadaran bahwa ia bukan lagi sekadar pemuda yang mencari keadilan untuk dirinya sendiri, melainkan penyeimbang bagi semesta yang sedang tak seimbang.

"Wira, kau tampak sangat serius," ucap Sekar yang berjalan di sampingnya. Ia kini tak lagi menggunakan cadar, membiarkan wajahnya terpapar angin malam, seolah menunjukkan kepercayaan penuh pada pemuda di sisinya.

"Aku hanya berpikir, Sekar. Kekuatan sebesar apa pun tidak akan cukup untuk menghancurkan pikiran yang telah salah. Kalingga tidak menyerang dengan pedang, ia menyerang dengan ketakutan. Dan ketakutan adalah racun yang paling sulit dicari penawarnya," jawab Wira datar.

Tiba-tiba, tongkat kayu di tangannya bergetar. Getarannya berbeda dari biasanya, lebih halus, lebih berwibawa, seolah-olah kayu itu sedang bernapas selaras dengan detak jantung Wira.

Sebuah suara yang jauh lebih jernih dan berwibawa muncul di benak Wira, tak lagi terdengar seperti kakek-kakek yang suka mengeluh.

"Bocah, dengarkan aku baik-baik. Ikatan jiwa kita telah mencapai titik jenuh. Kau tidak lagi membutuhkan perantara untuk memanggil kekuatanku. Karena itu, berhentilah memanggilku dengan sebutan konyol itu," suara itu bergema tenang.

Wira tertegun sejenak. "Lalu, siapa namamu yang sebenarnya? Kau bilang kau adalah ruh Pohon Jagat."

"Panggil aku Siwa. Itulah nama yang diberikan para leluhur saat aku pertama kali tumbuh dari benih purba. Kita sekarang adalah satu entitas. Energiku adalah energimu, dan jiwaku adalah pelindungmu." jawab Siwa dengan serius.

"Siwa..." gumam Wira lirih. "Nama yang kuat. Baiklah, Siwa. Terima kasih telah memilihku."

"Waspadalah. Di depanmu, Tujuh Pendekar Langit Majapatih sudah mengepung. Mereka bukan prajurit perbatasan yang tadi kau temui. Mereka adalah praktisi yang telah meminum darah iblis demi kekuatan instan," Siwa memperingatkan.

Benar saja, dari balik pepohonan besar yang mengapit jalan utama, tujuh sosok muncul dengan jubah hitam yang memancarkan aroma belerang.

Mereka tidak bicara dan tanpa sebuah peringatan, tujuh pedang raksasa melesat ke arah Wira dan Sekar, menciptakan tekanan udara yang mampu meremukkan tulang manusia biasa.

Wira baru saja akan mengangkat Siwa untuk menangkis, ketika sebuah ledakan asap putih keperakan muncul di antara mereka dan para penyerang. Sesosok pria paruh baya dengan pakaian sederhana berwarna abu-abu muncul, memegang sebuah kipas bulu merak yang memancarkan cahaya pelindung yang sangat kuat.

"Gusti Wira, Gusti Sekar, mohon jangan kotori tangan Anda di tempat terbuka seperti ini," ucap pria itu dengan tenang.

"Siapa kau?" tanya Sekar sambil mencabut pedang pendeknya.

"Hamba adalah utusan dari Kerajaan Ayodya Pala. Raja kami, Gusti Prabu Yudhistira, telah mengamati pertempuran Gusti di Galuhwati dan pendakian Gusti ke langit. Beliau memerintahkan hamba untuk membawa Anda ke tempat yang aman sebelum Majapatih menjebak Anda dalam perang yang sia-sia," jawab utusan itu sambil membungkuk hormat.

Sebelum Tujuh Pendekar Langit sempat merespons, utusan itu menghentakkan kipasnya ke tanah. Seketika sebuah segel ruang terbuka di bawah kaki mereka bertiga, membuat Wira dan Sekar saling berpandangan lalu mengangguk bersamaan.

Dalam sekejap, Wira, Sekar, dan sang utusan menghilang, meninggalkan para pendekar Majapatih yang menggeram marah karena kehilangan mangsanya.

Saat Wira membuka mata, ia tidak lagi berada di jalanan berdebu. Ia berada di sebuah taman yang sangat asri, penuh dengan tanaman obat dan suara gemericik air mancur yang menenangkan.

Tidak ada kemewahan emas yang menyilaukan mata, hanya lantunan merdu antara alam dan arsitektur kayu yang bersahaja.

Mereka dibawa menghadap ke sebuah pendopo kecil. Di sana, duduk seorang pria dengan pakaian putih bersih yang sedang menyiram tanaman dengan tangannya sendiri. Wajahnya sangat tenang, seolah-olah badai politik yang melanda benua ini tidak sedikit pun menyentuh jiwanya. Dialah Prabu Yudhistira, Raja Ayodya Pala yang dikenal sebagai Raja yang Diam namun sangat di hormati oleh rakyatnya.

"Selamat datang, Wira Wisanggeni. Dan kau, Sekar," ucap sang Raja tanpa menoleh, suaranya lembut namun penuh wibawa.

Wira membungkuk hormat, ia bisa merasakan kemurnian jiwa pria ini.

"Hamba berterima kasih atas bantuan Anda, Gusti Prabu. Mengapa Anda membantu kami, padahal seluruh benua sedang memburu kami sebagai buronan?" ucap Wira dengan penuh hormat yang di ikuti Sekar juga membungkuk hormat.

Prabu Yudhistira menaruh alat siramnya dan berbalik.

"Karena aku tidak melihat buronan di hadapanku. Aku melihat seorang pemuda yang sedang memikul nasib dunia. Kerajaanku kecil, Wira. Aku tidak peduli pada ekspansi wilayah atau aliansi politik. Fokusku hanyalah perut rakyatku yang kenyang dan hati mereka yang damai. Tapi kedamaian itu terancam jika dewa dan iblis mulai menjadikan bumi sebagai papan catur mereka." jawabnya dengan tenang, penuh wibawa namun memiliki tekanan yang kuat.

Wira merasa lega. Di tengah dunia yang gila akan kekuasaan, masih ada pemimpin yang memiliki nurani yang jernih.

"Bersembunyilah di sini untuk sementara," lanjut sang Raja.

"Majapatih tidak akan berani menyentuh wilayahku karena mereka tahu rakyatku akan membela tanah ini sampai tetes darah terakhir, bukan karena perintahku, tapi karena cinta mereka pada kedamaian ini, di samping itu, di sini juga terdapat ratusan pendekar baik yang memiliki tingkatan tinggi." lanjutnya kembali.

Wira pun tanpa berpikir panjang langsung menyetujuinya, bagaimanapun juga, yang ia lawan bukanlah satu kerajaan, melainkan aliansi para Dewa dan Iblis, jadi ia juga perlu memikirkan strategi yang baik.

Waktu berlalu tanpa terasa. Wira dan Sekar akhirnya menetap di Ayodya Pala. Selama hampir enam tahun, hingga Wira menginjak usia 18 tahun, ia tidak lagi muncul di panggung dunia. Wira memilih untuk menyembunyikan identitasnya, bekerja di ladang bersama rakyat dan sesekali melatih para prajurit kerajaan.

Ia tidak melatih mereka dengan jurus penghancur, melainkan dengan teknik pernapasan dan pertahanan yang diajarkan oleh Siwa dan Dewi Shinta sebelumnya.

Di bawah bimbingan Wira, prajurit Ayodya Pala menjadi satuan pertahanan yang paling efisien namun paling rendah hati di seluruh benua.

"Wira, kau tampak jauh lebih dewasa sekarang," ucap Sekar suatu sore di atas bukit yang menghadap ke lembah kerajaan.

Sekar kini telah menjadi seorang wanita dewasa yang sangat anggun namun mematikan.

Selama beberapa tahun ini, ia diberi tugas khusus oleh Prabu Yudhistira untuk memimpin satuan intelijen rahasia bersama seorang teman baru yang mereka temui di sana, seorang pemuda cerdas bernama Guntur yang ahli dalam strategi dan pengintaian, Sekar pun mengamati setiap gerak-gerik kerajaan tetangga.

"Dan kau tampak semakin cantik, Sekar," balas Wira sambil tersenyum tulus. Hubungan mereka telah tumbuh lebih dalam dari sekadar rekan perjalanan. Tak ada lagi sebutan kakak, hanya ada dua jiwa yang saling menguatkan di tengah masa tenang yang semu.

"Laporan dari Guntur mengatakan bahwa Kalingga telah berhasil menguasai militer Majapatih sepenuhnya. Entitas-entitas asing yang kau lawan di langit mulai bermunculan di wilayah utara. Mereka menyamar sebagai penasihat raja," ucap Sekar kemudian dengan raut wajah serius.

"Aku tahu. Aku bisa merasakannya melalui Siwa. Frekuensi energi bumi mulai berubah," sahut Wira.

Siwa berbisik dalam benaknya.

"Wira, waktumu di sini hampir habis. Persiapanmu sudah cukup. Kau telah menyatu dengan energi alam Ayodya Pala yang murni. Sekarang, kau harus menjadi pedang yang memotong akar kejahatan itu."

Di saat yang sama, Wira merasakan sebuah getaran energi yang sangat kuat namun familiar dari arah cakrawala. Getaran itu berasal dari sosok yang selama ini membimbingnya.

"Dewi Shinta..." gumam Wira.

Ia menyadari bahwa gurunya telah kembali ke Alam Dewa. Dewi Shinta Aruna merasakan bahwa sosok kuno yang dulu menjadi sumber petaka dan penyebab ia harus turun ke bumi, sebuah entitas dewa kegelapan yang sangat kuno mulai bangkit dari tidur panjangnya di penjara langit.

Dewi Shinta harus berada di sana untuk menahan kebocoran energi tersebut sebelum terlambat.

Wira berdiri tegak, memegang Siwa yang kini nampak seperti tongkat kayu jati yang berkilau gelap.

"Sekar, kumpulkan semua informasi dari Guntur. Kita akan meninggalkan Ayodya Pala dalam beberapa hari kedepan." ucap Wira dengan tiba-tiba.

"Kita akan kemana?" tanya Sekar.

"Ke pusat badai. Kita akan mendatangi setiap kerajaan yang telah diracuni oleh Kalingga. Aku tidak akan membiarkan rakyat menderita hanya karena permainan para penguasa langit dan bumi. Sebelum aku benar-benar naik kembali ke Alam Dewa untuk mendamaikan segala kekacauan ini, aku akan memastikan bumi ini memiliki pondasi kedamaian yang tak tergoyahkan."

Wira menatap ke arah matahari terbenam dengan pandangan yang tajam. Ia bukan lagi bocah hutan yang hanya bisa melarikan diri. Di usianya yang ke-18, ia telah menjadi perwujudan sejati dari keseimbangan.

"Siwa, apakah kau siap?"

"Aku selalu siap sejak hari pertama kau bersamaku, bocah. Mari kita tunjukkan pada mereka apa artinya kekuatan yang lahir dari nurani." jawab Siwa juga dengan semangat yang membara.

Malam itu, di bawah perlindungan Prabu Yudhistira, Wira dan Sekar menyiapkan strategi terakhir. Perang besar yang sesungguhnya baru saja akan dimulai, dan kali ini, Wira tidak akan bertarung sendirian. Ia membawa harapan dari sebuah kerajaan kecil yang damai untuk menyapu kegelapan dari seluruh benua.

......................

1
anggita
nama jurus yg keren. lanjutkan Thor, moga novelnya sukses.
Jung Karya: terimakasih banyak atas komentar baik dan dukungannya kak 😍
total 1 replies
anggita
dukung like👍+2x iklan☝☝.
anggita
tongkat pemutus takdir💥👍👌💪
Jung Karya
Jangan lupa bintangnya 😁
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!