Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
Sabtu pagi di London sudah terbiasa ditutupi kabut yang turun begitu rendah hingga menyentuh atap-atap rumah, menciptakan suasana stagnan yang sangat disukai Kenzie. Baginya, hari libur adalah momen paling krusial untuk memoles penyamarannya.
Kenzie melangkah keluar dari apartemennya dengan tas belanja kanvas yang tersampir di bahu. Ia sengaja akan pergi ke toko kelontong di sudut jalan, membeli beberapa butir apel, seikat bayam yang mulai layu dan sekantong jeruk. Kenzie sebenarnya tidak terlalu butuh makanan itu untuk bertahan hidup karena sel-selnya mendapatkan energi dari cara yang jauh lebih efisien, namun tetangganya, Ny. Gable, adalah wanita tua yang sangat teliti.
"Ingin belanja sehat lagi, Kenzie?" tanya Ny. Gable saat mereka berpapasan di tangga.
"Iya, Nyonya. Ibu bilang sayuran hijau bagus untuk konsentrasi belajar." jawab Kenzie dengan senyum sopan yang sudah ia latih di depan cermin selama puluhan tahun.
Kalimat itu bohong. Ibunya sudah lama tiada dan konsentrasinya tidak akan terganggu oleh apa pun selain ancaman terhadap rahasianya. Namun, Ny. Gable tersenyum puas dan itulah yang terpenting. Terlihat normal adalah pertahanan pertama.
Namun, alam punya rencana lain hari ini. Baru saja Kenzie akan sampai beberapa blok di supermarket besar, langit yang tadinya kelabu pucat mendadak berubah menjadi gelap gulita. Tanpa peringatan melalui guntur, hujan tumpah ruah seperti air terjun yang jatuh dari langit. Dalam hitungan detik, hoodie yang Kenzie kenakan basah kuyup.
"Sial." umpatnya pelan.
Kenzie mencoba menepi ke bawah atap toko buku yang tutup, namun sebuah mobil SUV hitam melaju kencang melewati genangan air di sampingnya.
Byurr!
Gelombang air kotor menghantam sisi tubuh Kenzie, mengotori tas belanjanya dan membuat pakaiannya menempel dingin di kulitnya.
Kenzie berdiri mematung. Air hujan mengalir turun dari ujung rambutnya, membasahi plester di keningnya hingga terlepas dan jatuh ke trotoar. Ia menatap plester itu, selembar kain yang kini tak berguna, memperlihatkan kulit mulusnya yang sama sekali tidak memiliki bekas luka. Jika ada yang melihatnya sekarang, sandiwaranya akan berakhir.
Di seberang jalan, di depan apotek kecil yang lampu neonnya berkedip-kedip, Julian baru saja keluar dengan sekantong obat-obatan di tangannya. Matanya yang tajam segera menangkap sosok kecil yang berdiri sendirian di tengah hujan deras.
Julian menghentikan langkahnya. Ia melihat Kenzie yang tampak begitu rapuh namun sekaligus begitu asing di bawah guyuran air. Julian melihat plester yang hilang dan melihat bahu gadis itu gemetar bukan karena dingin yang merusak selnya, tapi karena rasa frustrasi yang mendalam.
Julian menimang cukup lama. Logikanya berkata, Biarkan dia. Jangan bawa anomali itu ke tempat perlindunganmu. Namun, nuraninya yang sudah terkubur di bawah ribuan tahun memori tiba-tiba berdenyut. Julian tahu apartemen Kenzie berada di sisi lain kota dan dengan badai seperti ini, bus umum tidak akan beroperasi.
Julian melintasi jalan, payung hitam besarnya membelah tirai hujan.
"Kau akan terkena hipotermia jika terus berdiri di sini." suara rendah Julian terdengar di balik gemuruh air.
Kenzie mendongak. Air hujan masuk ke matanya, membuatnya berkedip cepat. "Julian? Sedang apa kau disini?"
Julian tak menghiraukan pertanyaan Kenzie. "Kau bisa ikut aku, pakaianmu sudah basah kuyup dan kau tidak mungkin berjalan pulang dengan jarak sejauh itu di tengah badai." potong Julian telak. Matanya melirik ke arah tas belanjaan Kenzie yang kini dipenuhi air kotor.
Kenzie ragu sejenak. Berada dalam satu ruang tertutup dengan Julian di sekolah saja sudah cukup membuat jantung empat ratus tahunnya berdegup tidak karuan, apalagi harus mengikuti laki-laki itu ke tempat pribadinya. Namun, ia melihat ke arah jalanan. Genangan air semakin meninggi dan petir mulai menyambar di kejauhan. Keamanan rahasianya lebih penting daripada egonya.
"Baiklah. Hanya sampai hujan reda." gumam Kenzie akhirnya, suaranya hampir tertelan bunyi hujan.
Julian tidak menjawab. Ia hanya memiringkan payung hitamnya, memberi ruang bagi Kenzie untuk masuk ke bawah naungan kain kedap air itu. Keheningan di antara mereka terasa sangat kontras dengan keributan alam di sekitar. Julian membukakan pintu mobil-nya, menunggu Kenzie masuk sebelum ia sendiri memutari kemudi.
Perjalanan itu singkat, namun terasa sangat panjang bagi Kenzie. Aroma di dalam mobil Julian sangat menenangkan, perpaduan antara kayu cendana dan aroma obat-obatan yang tadi ia beli.
"Kau membeli obat?" tanya Kenzie memecah kesunyian, matanya tertuju pada kantong apotek di dasbor.
"Untuk Ibuku." jawab Julian pendek. Rahangnya mengeras sesaat, sebuah tanda emosi yang jarang ia perlihatkan.
Mobil hitam itu akhirnya membelah genangan air, melewati deretan pohon pinus yang merunduk diterjang badai, hingga akhirnya berbelok ke sebuah jalan setapak yang tertutup pagar tanaman tinggi. Di ujung jalan itu, berdirilah sebuah rumah tua bergaya Victoria yang tampak anggun namun terisolasi dari hiruk-pikuk kota London.
"Turunlah." perintah Julian lembut setelah memarkir mobil di bawah naungan carport.
Mereka berlari kecil menuju teras depan. Begitu pintu kayu besar itu terbuka, kehangatan dari dalam rumah menyapu wajah Kenzie, membawa aroma teh melati dan kayu bakar yang menenangkan. Kenzie berdiri di atas keset, merasa canggung dengan air yang menetes dari hoodie-nya ke lantai kayu yang mengkilap.
Julian masuk lebih dulu tanpa melepaskan jaketnya yang lembap. Ia berjalan cepat menuju ruang tengah yang luas, di mana seorang wanita duduk di kursi roda dekat perapian. Kenzie mengikuti dari belakang, matanya menyapu seisi rumah yang dipenuhi barang antik, benda-benda yang mungkin lebih muda daripada Julian, namun terlalu tua untuk keluarga manusia biasa.
"Julian? Kau sudah kembali?" suara wanita itu parau dan sangat lemah.
Julian berlutut di samping kursi roda itu, mengambil tangan kurus sang wanita dan menciumnya. Kenzie melihat Julian menatap wanita itu dengan cara yang sangat khusus. Ada kedipan halus dan sentuhan jari yang tampak seperti kode yang sudah mereka sepakati selama puluhan tahun. Elena langsung mengerti ada orang asing di antara mereka. Sandiwara harus dimulai.
"Iya, Bu. Hujan di luar sangat deras." ucap Julian, suaranya berubah menjadi lebih cerah, nada seorang anak yang berbakti kepada ibunya. "Aku membawa teman sekolah, namanya Kenzie. Dia terjebak hujan dan tidak bisa pulang ke apartemennya."
Elena tersenyum, wajahnya yang penuh keriput tampak bersinar. "Halo, Kenzie. Maafkan kondisi ibu, ya. Silakan duduk, Nak. Julian, ambilkan handuk kering."
Tiba-tiba, suara pintu kamar di lantai atas terbuka. Seorang gadis kecil berusia sekitar delapan tahun dengan rambut cokelat gelap sedikit ikal yang dikuncir dua berlari menuruni tangga dengan riang.
"Ayah! Kau beli biskuit kesukaanku—"
Langkah gadis itu terhenti seketika di anak tangga terakhir. Matanya yang bulat menatap Kenzie dengan penuh selidik. Julian menoleh cepat, memberikan tatapan tajam yang penuh peringatan.
Gadis kecil itu seketika bungkam. Ia menelan kembali kata 'Ayah' yang hampir meledak dari bibirnya. Sebagai bagian dari keluarga yang hidup dalam bayang-bayang, bocah itu sudah dilatih sejak bisa bicara untuk menghadapi situasi seperti ini. Aturan nomor satu, identitas adalah segalanya.
Clara berdehem kecil, mengubah raut wajahnya menjadi lebih sopan layaknya seorang adik kepada kakaknya.
"Aku kira Ayah yang datang. Ternyata Kak Julian!" Gadis kecil itu melanjutkan dengan nada yang sedikit dipaksakan, namun cukup meyakinkan bagi telinga manusia biasa. "Kakak sudah membeli obat untuk Ibu? Dan siapa kakak cantik ini?"
Julian mengembuskan napas lega yang nyaris tak terdengar. "Ini Kenzie, teman Kakak. Kenzie, ini adik bungsuku, Clara."
Kenzie terpaku. Ia menatap Clara, lalu beralih ke Julian dan terakhir ke Elena yang duduk di kursi roda. Pemandangan ini sungguh janggal di matanya.
Keheningan yang dingin sempat menggantung di antara mereka, hanya diinterupsi oleh gemeretak kayu bakar di perapian. Kenzie menatap Clara dengan intensitas yang nyaris membuatnya tidak nyaman. Wajah gadis kecil itu bukan hanya sekadar mirip dengan Julian, Clara adalah replika sempurna dari fitur-fitur wajah Julian dalam versi yang lebih polos dan rapuh. Garis rahangnya, bentuk matanya yang sedikit melengkung, bahkan cara dia berdiri semuanya meneriakkan hubungan darah yang jauh lebih dekat daripada sekadar kakak dan adik.
Kenzie yang telah melihat ribuan wajah selama empat abad, tahu persis apa yang ia saksikan. Julian bukan sedang berperan sebagai kakak. Di balik sandiwara ini, Julian adalah seorang ayah yang sedang menyembunyikan anak-anaknya di balik kedok saudara kandung agar dunia tidak mempertanyakan mengapa mereka tidak menua di samping 'Ibu' yang semakin renta.
"Halo, Clara." sapa Kenzie pelan. Suaranya tenang, namun matanya melirik Julian yang kini sedang menyerahkan handuk kering kepadanya.
"Kakak cantik sekali, tapi kenapa keningnya merah?" tanya Clara lugu, menunjuk tepat ke bekas plester yang tadi terlepas.
Julian segera bergerak, memposisikan dirinya di antara Clara dan Kenzie. "Clara, jangan tidak sopan. Kenzie sedang kedinginan. Masuk ke dapur dan bantu Kakak menyiapkan teh hangat untuk tamu kita."
"Sekarang, Clara." nada bicara Julian tidak keras, namun mengandung otoritas yang membuat gadis kecil itu langsung mengangguk patuh. Dengan satu lirikan terakhir ke arah Kenzie, Clara berlari menuju dapur.
Julian menarik napas panjang, lalu beralih pada Elena. "Ibu, aku akan menemani Kenzie mengganti pakaiannya dengan baju kering di kamar tamu. Setelah itu aku akan memberikan obatmu."
Elena hanya mengangguk lemah, matanya yang pudar menatap Kenzie dengan kehangatan yang terasa begitu tulus, sebuah kehangatan manusiawi yang jarang Kenzie rasakan. "Pergilah, Nak. Jangan sampai kau jatuh sakit. Julian, jaga temanmu dengan baik."
...•••...