NovelToon NovelToon
Rian Sang Anomali Sihir

Rian Sang Anomali Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain
Popularitas:69
Nilai: 5
Nama Author: alghazalibms 19980223

Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Jiwa dalam Struktur

Kata-kata tentang hadiah fantastis itu masih bergema di telinga, menciptakan sensasi dingin di tulang belakang. Tapi aku menekannya. Tidak ada gunanya terpaku pada hal yang tidak bisa dikendalikan. Yang bisa kukendalikan adalah tindakanku saat ini, di tempat ini.

"Oke," ucapku, mengalihkan fokus sepenuhnya pada alat-alat di tanah. "Kita mulai. Tapi kita butuh cahaya."

Matahari memang belum sepenuhnya tenggelam, tapi cahaya senja yang jingga keemasan mulai memanjang, membayangi pepohonan di pinggir padang rumput. Bekerja dalam gelap adalah ide yang buruk, apalagi dengan perkakas tajam.

"Eveline," panggilku. "Bisa tolong nyalakan api unggun di tengah area ini? Yang cukup terang untuk kita bekerja."

Eveline mengangguk. Dengan gerakan sederhana, dia mengulurkan tangan ke arah tumpukan ranting kering dan daun yang sudah sempat kukumpulkan sebelumnya. Dari ujung jarinya, percikan api kecil menyala, lalu melesat ke tumpukan kayu. Whoosh! Api berkobar dengan sempurna, menghangatkan udara yang mulai dingin dan menerangi area kerja kami dengan cahaya jingga yang berkedip. Tidak ada mantra, tidak ada gerakan dramatis. Hanya efisiensi murni. Aku tersenyum. Memiliki "korek api hidup" dalam kelompok memang sangat membantu.

Sekarang, dengan cahaya yang cukup, saatnya membuat rencana nyata. Membangun rumah bukan sekadar menyusun kayu. Butuh fondasi.

"Pertama, kita butuh pondasi," ujarku, lebih kepada diri sendiri. Aku berjalan mengitari area yang kupilih, dekat dengan sungai kecil tapi cukup tinggi untuk menghindari banjir. "Tidak perlu basement, tapi kita butuh batu fondasi untuk menahan kayu dari kelembaban tanah."

Aku mengambil kapak dan sekop. "Aku akan gali parit kecil untuk fondasi. Ratri," panggilku, menunjuk ke arah hutan di pinggir padang rumput. "Kau bisa tolong kumpulkan batu-batu datar berukuran sedang dari sekitar sini? Yang cukup kuat untuk dijadikan alas."

Ratri mengangguk antusias. "Tentu!" Dia tidak berjalan, tapi tangannya terulur, dan dengan kekuatan yang hampir tak terdengar, batu-batu datar dari berbagai sudut padang rumput dan pinggiran hutan seolah terguling sendiri, mengumpul menjadi tumpukan rapi di dekatku. Aku menghela napas. Kekuatan dewi memang sangat memudahkan, tapi aku memutuskan untuk tidak berkomentar. Waktu dan tenaga adalah kemewahan yang tidak kita punya.

Sementara Ratri mengumpulkan batu, aku mulai bekerja dengan sekop. Tanahnya padat tetapi tidak terlalu berbatu. Aku menggali parit persegi panjang sedalam sekitar satu jengkal, mengikuti bayangan denah rumah sederhana di kepalaku: satu ruang utama dengan dua kamar kecil terpisah. Keringat mulai membasahi keningku. Pekerjaan fisik ini melelahkan, tapi terasa... memuaskan. Setiap sekop tanah yang kuangkat adalah langkah nyata menuju rumah.

Setelah parit fondasi selesai, aku dan Ratri bekerja sama menata batu-batu datar itu di dasar parit, menciptakan lapisan alas yang kokoh. Eveline berjaga di pinggir cahaya api unggun, matanya terus mengawasi kegelapan di sekeliling kami, memastikan tidak ada ancaman yang mendekat.

"Selanjutnya, kerangka rumah," ucapku, mengusap keringat dengan lengan. Aku mengambil kapak dan menatap pepohonan di pinggir hutan. "Kita butuh kayu gelondongan untuk tiang dan balok. Yang lurus dan kuat."

Aku mendekati sebuah pohon yang tampaknya cocok, mengayunkan kapak. THOK! Getarannya menjalar hingga ke bahuku. Ini butuh tenaga dan teknik. Setelah beberapa kali ayunan, lekukan dalam mulai terbentuk di batang pohon. Ratri memperhatikanku dengan serius.

"Boleh aku bantu?" tanyanya. "Aku bisa... 'membujuk' pohon untuk tumbang ke arah yang kita inginkan. Atau mematahkan batangnya dengan lebih bersih."

Aku mempertimbangkannya. Menebang pohon dengan kapak butuh waktu lama dan berisiko jika pohonnya jatuh ke arah yang salah. "Oke," aku akhirnya setuju. "Tapi hati-hati. Jangan sampai merusak kayunya, dan pastikan jatuhnya ke area yang kosong."

Ratri mengangguk. Dia mendekati pohon yang sama, menempatkan tangannya di batangnya. Dia memejamkan mata, dan sebuah bisikan halus, seperti desiran angin melalui daun, keluar dari bibirnya. Aku tidak mendengar kata-katanya, tapi aku bisa merasakan getaran energi yang halus. Perlahan, dengan suara berderak yang dalam dan terkendali, pohon itu mulai miring, lalu tumbang persis di tempat lapang yang kutunggu. Potongannya di bagian pangkal terlihat rapi, hampir seperti dipotong dengan gergaji mesin.

"Luar biasa," gumamku. Kekuatannya benar-benar... praktis.

Kami terus bekerja. Aku yang memotong cabang-cabangnya dengan kapak dan menggergaji batang menjadi ukuran-ukuran yang dibutuhkan untuk tiang dan balok, sementara Ratri dengan kekuatannya mempercepat proses penebangan dan pengumpulan kayu. Eveline sesekali membantu mengangkat kayu gelondongan yang berat dengan mudahnya, menumpuknya di dekat fondasi.

Malam semakin larut. Api unggun adalah pusat kehidupan kami. Di bawah cahayanya, kami bekerja. Aku, dengan palu dan paku, mulai menyambung kerangka dasar rumah di atas fondasi batu. Bunyi tok... tok... tok... palu memukul paku adalah satu-satunya irama di tengah kesunyian malam, ditemani oleh crackling api unggun dan suara sungai kecil.

Rasa lelah mulai terasa, tapi ada kepuasan yang dalam. Melihat kerangka rumah sederhana mulai berdiri, batas-batas ruang yang mulai terbentuk dari tumpukan kayu—ini adalah pencapaian yang nyata. Berbeda dengan kekuatan sihir atau pertarungan, ini adalah penciptaan yang lambat dan fisik, dan aku adalah bagian di dalamnya.

"Kita berhenti di sini untuk malam ini," ucapku akhirnya, menyadari bahwa tanganku sudah mulai gemetar karena kelelahan. Kerangka dasar rumah sudah berdiri, sebuah bentuk persegi panjang yang menjanjikan di bawah bintang-bintang.

Kami duduk mengelilingi api unggun, menghangatkan tangan. Ratri mengeluarkan sisa roti dan air yang dibawanya dari pelabuhan. Makanan sederhana, tapi terasa seperti pesta.

Aku memandangi bayangan kerangka rumah yang diterangi api. Masih sangat jauh dari jadi, tapi ini adalah awal. Aku mungkin adalah orang yang paling dicari di kekaisaran, dengan harga kepala yang begitu fantastis. Tapi di malam ini, di pulau terpencil ini, aku hanya seorang pria yang sedang membangun rumahnya, ditemani oleh seorang dewi dan seorang revenant, ditemani oleh bunyi palu dan nyala api—sebuah permulaan yang sederhana dan penuh harapan di tengah segala ancaman yang mengintai.

Keesokan paginya, aku terbangun oleh sinar matahari yang hangat menyelinap melalui celah-celah dinding daun sementara yang kami buat sebagai tempat berlindung sementara. Aku mengusap mata, meregangkan badan yang masih pegal akibat kerja keras semalam. Lalu, aku mendengar suara—bukan suara alam, tapi suara yang sangat familiar: tok... tok... tok... suara palu memukul paku, dan desis halus seperti kayu yang digeser.

Dengan perasaan penasaran, aku membuka tirai daun dan melihat ke arah lokasi pembangunan rumah.

Aku terpana.

Aku menggosok matanya, tidak percaya dengan apa yang kulihat.

Kerangka rumah yang semalam baru sebatas fondasi dan tiang penyangga utama, kini telah bertransformasi hampir sempurna. Dinding-dinding papan kayu sudah terpasang rapat, atap dari anyaman daun dan ranting yang kokoh hampir selesai, bahkan sebuah pintu kayu sederhana sudah tergantung di tempatnya. Asap mengepul lembut dari sebuah cerobong darurat yang terbuat dari batu dan tanah liat.

Dan di tengah-tengah semua itu, Eveline dan Ratri sedang bekerja.

Eveline, dengan ekspresi datar yang biasa, dengan efisiensi mesin, memakukan papan terakhir di dinding dengan pukulan palu yang tepat dan konsisten. Tidak ada gerakan berlebihan, tidak ada jeda. Dia seperti robot pembangun yang sempurna.

Ratri, masih dalam wujud remajanya, tidak menggunakan tangannya. Dia berdiri dengan mata terpejam dan tangan terulur. Balok-balok kayu, papan, dan bahkan batu untuk perapian dalam rumah, bergerak sendiri di udara, melayang dan menempati posisinya dengan presisi sempurna, seolah-olah diatur oleh tangan tak kasat mata. Dia tidak terlihat lelah, hanya berkonsentrasi penuh.

Mereka bekerja dalam keselarasan yang sempurna, tanpa perlu banyak bicara. Sebuah sistem produksi yang terdiri dari dewi dan revenant.

Aku berdiri di sana, mulut mungkin sedikit menganga. Kapan mereka mulai? Kenapa mereka tidak membangunkanku?

Aku berjalan mendekat, rasa kagum dan sedikit kesal bercampur jadi satu. "Ratri? Eveline?"

Mereka berhenti. Ratri membuka matanya, dan senyum lebar muncul di wajahnya saat melihatku. Eveline hanya menoleh, lalu melanjutkan memakukan papan.

"Selamat pagi, Rian! Lihat! Hampir selesai!" seru Ratri bersemangat.

"Aku... lihat itu," jawabku, masih mencoba mencerna. "Tapi... kapan kalian mulai? Kenapa aku tidak diajak? Atau setidaknya dibangunkan?"

Ratri mendekat, wajahnya menunjukkan sedikit rasa bersalah. "Kami mulai saat fajar menyingsing. Eveline yang pertama bangun, lalu dia membangunkanku." Dia melirik Eveline yang masih sibuk. "Kami... memutuskan untuk membiarkanmu tidur."

"Tapi kenapa? Aku bisa membantu."

"Kami tahu kau bisa," jawab Ratri, lembut. "Tapi kau manusia, Rian. Tubuhmu butuh istirahat. Kerja keras semalam sudah membuatmu kelelahan. Lihat," dia menunjuk ke arahku, "badanmu masih pegal, bukan?"

Aku tidak bisa menyangkal. Otot-ototku memang masih berteriak.

"Eveline dan aku," lanjut Ratri, "kami tidak seperti itu. Eveline adalah mayat hidup. Dia tidak mengenal lelah, tidak butuh tidur, dan tubuhnya tidak menghasilkan asam laktat yang membuat otot pegal. Dan aku... aku adalah dewi. Kebutuhan fisikku sangat berbeda. Kami bisa bekerja terus menerus tanpa henti."

Dia tersenyum. "Jadi, kami pikir, lebih baik kami yang menyelesaikan pekerjaan berat dan membiarkanmu beristirahat. Agar saat kau bangun, kau bisa melihat kemajuan yang signifikan, dan tubuhmu sudah pulih untuk tugas-tugas berikutnya yang mungkin lebih membutuhkan... sentuhan manusiawimu."

Aku terdiam, memandangi mereka berdua. Ratri, dengan kepeduliannya yang tulus, dan Eveline, dengan kesetiaan dan efisiensinya yang tanpa pamrih. Mereka tidak bermaksud merendahkan atau mengesampingkanku. Mereka hanya... memahamiku. Mereka memahami batas fisikku sebagai manusia, sesuatu yang bahkan kadang kulupakan sendiri.

Rasa kesal pun menghilang, digantikan oleh rasa haru yang dalam. Di dunia yang asing dan kejam ini, ada dua makhluk luar biasa yang tidak hanya melindungiku, tapi juga benar-benar memahami dan merawatku.

"Jadi... kalian sengaja membiarkanku tidur seperti bayi sementara kalian membangun seluruh rumah?" tanyaku, mencoba bercanda untuk menutupi perasaannya.

"Tepat sekali!" jawab Ratri riang. "Dan lihat! Hanya tinggal finishing saja! Kau bisa membantu memasang tempat tidur atau membuat perabotan nanti!"

Aku menghela napas, lalu tersenyum. Sungguh, kelompok yang aneh. Seorang dewi, seorang mayat hidup, dan seorang manusia biasa. Tapi dalam keanehan itu, ada sebuah ikatan dan pengertian yang tulus.

"Baiklah," kataku, menyerah. "Terima kasih. Tapi berikut kali, bangunkan aku. Aku ingin tetap terlibat, meski cuma untuk menyuplai kalian minum atau mengambilkan paku."

Ratri mengangguk senang. "Janji!"

Aku memandangi rumah yang hampir jadi itu. Rasanya seperti mimpi. Dalam semalam—atau lebih tepatnya, beberapa jam di pagi hari—mereka berdua hampir menyelesaikan apa yang seharusnya membutuhkan waktu berminggu-minggu bagi seorang manusia.

Mungkin, memiliki teman sekelas dewi dan revenant memang memiliki keuntungannya tersendiri. Dan mungkin, di tengah semua buruan dan ancaman itu, aku mulai menemukan sesuatu yang menyerupai... rumah.

Aku berdiri di depan struktur yang hampir menjadi rumah sempurna, perasaan campur aduk antara takjub, haru, dan sedikit frustrasi. Bagaimana tidak? Dalam waktu yang sangat singkat, dua orang—atau lebih tepatnya, satu dewi dan satu revenant—hampir menyelesaikan apa yang akan menjadi proyek berminggu-minggu bagiku.

"Jadi... apa yang masih tersisa untukku lakukan?" tanyaku, setengah bercanda setengah serius, sambil menatap bangunan kayu sederhana namun tampak kokoh itu.

Ratri, yang wajahnya sedikit berkeringat meski tidak terlihat lelah, mendekat dengan senyum bersemangat. "Banyak! Kami hanya menyelesaikan struktur utamanya. Bagian dalamnya masih kosong!"

Dia menunjuk ke bagian dalam rumah melalui pintu yang belum sepenuhnya dipasang engselnya. "Kami butuh ranjang, meja, kursi... perapian dalam juga perlu diselesaikannya agar kita bisa memasak dan menghangatkan diri saat hujan. Lalu, penyimpanan makanan, rak-rak..."

Eveline, yang baru saja turun dari atap setelah memasang ikatan terakhir anyaman daun, mengangguk pelan. "Benda untuk kenyamanan hidup. Itu bukan bidang kami."

Aku mengerti. Mereka adalah ahli dalam membangun "cangkang"—struktur yang melindungi dari elemen luar. Tapi mengisi cangkang itu dengan kehidupan, dengan kenyamanan, dengan "rumah" yang sebenarnya... itu adalah wilayahku. Wilayah manusia.

"Oke," ucapku, semangat mulai kembali. "Jadi, kalian adalah kontraktornya, dan aku adalah arsitek interiornya." Aku memutar bahu yang masih sedikit pegal. "Aku setuju. Membuat furnitur memang butuh sentuhan yang lebih... personal."

Aku memandang sekeliling padang rumput dan hutan di sekitarnya. "Pertama, kita butuh tempat tidur. Aku tidak mau tidur di atas tanah lagi." Mataku menangkap beberapa pohon muda yang lurus di pinggir hutan. "Kayu dari sana bisa untuk bingkai tempat tidur. Lalu, kita butuh mengisi kasurnya. Bisa dengan daun kering yang empuk atau... mungkin aku bisa mencoba menjalin rotan atau semacamnya."

Aku berjalan mendekati rumah, masuk ke dalamnya untuk pertama kali. Ruangannya terasa lapang, beraroma kayu segar. Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah-celah dinding, menciptakan pola cahaya dan bayangan yang hangat.

"Di sini," kataku, menunjuk sudut ruangan yang jauh dari pintu, "akan jadi kamarku. Dan di seberangnya, bisa untuk kalian berdua. Atau kita buat satu ruangan besar dulu?" Aku melihat Ratri dan Eveline. Mereka tidak memiliki kebutuhan privasi yang sama seperti manusia, tapi tetap saja... "Mungkin lebih baik ada sekat sederhana."

Ratri mengamati dengan mata berbinar. "Aku suka ide itu! Bisa kubahungi sekatnya dengan kain atau kulit binatang nanti."

"Dan perapian," lanjutku, menuju ke struktur batu di tengah ruangan yang belum selesai. "Ini bagus, tapi butuh saluran asap yang lebih baik. Dan kita butuh tungku untuk memasak." Aku membayangkan kehidupan sehari-hari di sini. Memasak, menghangatkan air, duduk bersama di malam hari...

"Kita juga butuh meja kerja. Tempat untuk merencanakan, untuk... ya, untuk apapun." Sebuah meja kayu sederhana. Itu akan menjadi pusat komando kami.

Ratri mendengarkan dengan saksama, lalu berkata, "Aku bisa membantu mencari bahan-bahan yang kau butuhkan. Daun yang paling empuk, rotan terkuat, atau bahkan bulu-bulu hewan yang lembut untuk bantal."

Eveline menambahkan dengan suara datar, "Aku bisa memotong dan membentuk kayu sesuai ukuran yang kau inginkan."

Aku tersenyum. Ini dia kolaborasi yang sebenarnya. Mereka dengan kekuatan supernya, aku dengan visi dan kebutuhan manusiawiku.

"Baik," ucapku, merasa sebuah tujuan baru yang jelas. "Mari kita bagi tugas. Ratri, kau cari bahan pengisi untuk kasur dan bantal. Eveline, tolong potong kayu untuk bingkai tempat tidur dan papan untuk meja. Aku akan mulai merancang dan memimpin proses perakitan."

Mereka berdua mengangguk, langsung memahami peran mereka.

Hari itu dihabiskan dengan aktivitas yang berbeda dari sebelumnya. Suara palu dan kapak masih terdengar, tapi kini disertai dengan suara kakiku melangkah mengukur ruangan, coretan-coretan sketsa sederhana di atas selembar kulit kayu, dan diskusi tentang ketinggian meja yang nyaman atau lebar tempat tidur yang pas.

Aku menyadari sesuatu. Rumah ini tidak lagi sekadar struktur kayu. Ia mulai bernyawa. Setiap keputusan—di mana meletakkan jendela agar dapat pemandangan terbaik, bagaimana mengatur ruang agar terasa hangat—adalah sebuah investasi emosional. Ini adalah rumah kami. Bukan hanya tempat berlindung, tapi sebuah pernyataan bahwa kami ada, bahwa kami bertahan, dan bahwa kami membangun sesuatu bersama.

Dan kali ini, aku tidak ditinggalkan. Aku adalah bagian intinya. Aku adalah "jiwa" yang mengisi "tubuh" rumah yang dibangun oleh kekuatan luar biasa kedua temanku. Rasanya... tepat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!