Karline sengaja bersembunyi di balik masker dan jaket gembel demi ketenangan. Namun, sebuah insiden di kolam renang membongkar segalanya. Di balik penampilan kumuhnya, ternyata ada kecantikan luar biasa yang membuat seisi sekolah lupa cara bernapas.
Dean, sang kapten voli yang populer dan arogan, tidak tinggal diam. Sejak napas buatan itu diberikan, Dean mengklaim Karline sebagai miliknya. Kini, Karline harus menghadapi dunia yang memujanya, sekaligus menghadapi obsesi posesif sang kapten yang tidak sudi berbagi tatapan Karline dengan pria mana pun.
"Lepaskan maskermu. Mulai sekarang, kamu aman di bawah kuasaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Rahasia Sarah dan Amarah yang Meluap
Suasana kelas XI-IPA 2 terasa sedikit sepi siang ini. Karline melirik ke bangku di sebelahnya yang biasanya diisi oleh ocehan riang Sarah. Kursi itu kosong. Tas yang biasanya tersampir di sana pun tidak ada. Karline merasa ada sesuatu yang hilang, bagaimanapun, Sarah adalah orang pertama yang mendekatinya saat semua orang menganggapnya aneh.
"Andi," panggil Karline kepada sang Ketua Kelas yang sedang merapikan absensi di meja guru. "Sarah kenapa nggak datang? Apa dia sakit?"
Andi menoleh, lalu mengangguk pelan. "Iya, Karl. Sarah demam. Dia izin tadi malam lewat pesan singkat ke gue. Katanya badannya panas tinggi."
Karline hanya ber-oh ria, namun hatinya merasa tidak tenang. Ia berniat menjenguk Sarah nanti setelah pulang sekolah. Namun, sebelum guru mata pelajaran masuk, Frans salah satu teman sekelas yang dikenal memiliki jaringan informasi paling luas mendekat ke meja Karline dengan wajah serius. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang luar yang mendengar.
"Karl, lo tahu nggak rahasia soal Sarah?" bisik Frans penuh teka-teki.
Karline mengernyitkan dahi. "Rahasia apa? Jangan gosip yang nggak bener, Frans."
"Ini beneran. Gue dapet info dari anak kelas dua belas. Ternyata Sarah itu adiknya Rio, temennya Dean," ungkap Frans yang seketika membuat Karline terbelalak.
"Hah? Nggak mungkin!" seru Karline tertahan. "Sarah nggak pernah cerita. Lagian, marga mereka beda, kan?"
Widia, yang duduk di bangku depan, ikut memutar kursinya ke arah mereka. Rupanya berita ini sudah mulai menyebar di kalangan internal kelas. "Emang nggak banyak yang tahu, Karl. Marganya beda karena Sarah ikut marga mamanya, sedangkan Rio ikut papanya. Tapi mereka beneran kakak beradik kandung."
"Tapi kenapa mereka kayak orang asing?" tanya Karline heran.
"Itu masalahnya," Widia mendesah prihatin. "Gue denger, Rio itu nggak pernah nganggep Sarah sebagai adiknya. Alasannya sepele tapi jahat, Sarah dianggap nggak pintar dalam belajar, nggak kayak Rio yang atletis dan populer. Bahkan, setiap berangkat dan pulang sekolah pun, Rio nggak mau bareng sama dia. Rio pernah pesen ke Sarah, katanya, 'Pura-pura nggak kenal gue aja kalau di sekolah, apalagi kalau gue lagi sama anak-anak kelas dua belas'."
Karline tertegun. Jantungnya terasa sesak mendengar cerita itu. Ia teringat betapa seringnya ia melihat Sarah duduk termenung sendirian di pojok kantin jika Karline sedang sibuk, atau bagaimana Sarah selalu tampak gugup jika rombongan Dean lewat.
"Pantas saja dia sering melamun," gumam Karline sedih.
"Dan yang lebih parahnya lagi, Karl," Frans menambahkan dengan nada geram, "Dean dan Raka itu sebenarnya tahu soal hubungan mereka. Tapi mereka malah nggak peduli. Bukannya menasehati Rio supaya jadi abang yang baik, mereka malah ikut-ikutan cuek dan seolah membenarkan sikap Rio yang membuang adiknya sendiri."
Mendengar hal itu, kemarahan Karline mulai menyulut. Ia teringat pada kakaknya sendiri, Andhika Dharmawijaya. Meskipun ia dan Dhika sering beradu mulut soal hal-hal kecil, tapi Dhika selalu menjadi pelindung nomor satu baginya. Dhika selalu memanjakannya, memastikan ia aman, dan tidak pernah sekalipun membiarkannya merasa sendirian.
"Ini benar-benar keterlaluan," desis Karline, tangannya mengepal di bawah meja. "Laki-laki macam apa yang malu punya adik sendiri hanya karena nilai pelajaran?"
"Ya begitulah mereka, Karl. Geng motor, kapten voli, tapi hati nuraninya kosong," sindir Widia.
Karline tidak bisa tinggal diam. Sepanjang pelajaran berlangsung, pikirannya tidak fokus pada papan tulis. Ia terus membayangkan Sarah yang sedang demam di rumah, mungkin tanpa ada kakak yang peduli untuk sekadar menanyakan keadaannya. Karline memutuskan, ia harus melakukan sesuatu.
Lonceng pulang sekolah berdering nyaring. Karline tidak langsung menuju parkiran mobilnya. Ia berjalan dengan langkah cepat menuju area belakang sekolah, tempat yang biasa dijadikan markas kumpul oleh Dean dan gengnya sebelum mereka pulang.
Benar saja, di sana terlihat Dean, Rio, Raka, dan beberapa siswa kelas dua belas lainnya sedang duduk santai di atas motor masing-masing. Mereka sedang tertawa-tawa, menghisap rokok elektrik, dan tampak sangat tidak terbebani oleh apa pun.
Karline muncul di depan mereka dengan wajah yang sangat dingin. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat tawa mereka terhenti. Dean yang sedang menyandarkan punggungnya di tembok langsung menegakkan tubuh, matanya menatap Karline dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Wah, ada primadona sekolah. Mau ikut nongkrong, Karl?" goda Raka, mencoba mencairkan suasana meski hatinya agak ciut.
Karline tidak menanggapi godaan itu. Matanya terkunci pada Rio yang sedang asyik memainkan kunci motornya.
"Rio," panggil Karline tajam. "Dimana adikmu sekarang?"
Rio tersentak. Wajahnya berubah pucat sesaat, lalu ia mencoba tertawa hambar. "Adik? Adik siapa? Gue anak tunggal kali."
"Jangan bohong!" bentak Karline hingga beberapa orang di sana terlonjak. "Aku sudah tahu semuanya. Sarah, dia adikmu kan? Dia hari ini nggak masuk sekolah karena demam tinggi. Kamu tahu nggak?"
Rio mendengus, merasa terpojok di depan teman-temannya. "Oh, si bodoh itu? Ya paling cuma demam biasa. Nggak usah lebay deh, urusin aja urusan lo sendiri."
Plak!
Sebuah tamparan kata-kata keluar dari mulut Karline sebelum tangan fisiknya bergerak. "Jadi abang saja tidak becus! Kamu tidak peduli sama sekali pada adikmu sendiri? Dia sakit, Dia sendirian di rumah!"
"Ya terus kenapa? Dia udah gede, bisa minum obat sendiri," sahut Rio acuh tak acuh.
Kemarahan Karline meledak. Ia maju selangkah, menatap Rio dengan kebencian yang nyata. "Kalau saja abangku seperti kamu, aku akan meracuninya langsung saat dia tidur! Laki-laki seperti kamu tidak layak dipanggil abang. Kamu pengecut yang malu mengakui adik kandungmu sendiri hanya karena ego bodohmu itu!"
Suasana menjadi hening mencekam. Teman-teman Rio terdiam, kaget melihat keberanian Karline yang luar biasa. Dean hanya berdiri mematung, menatap Karline dengan pandangan yang dalam.
Karline kemudian menoleh ke arah Raka dan Dean. "Dan kalian berdua. Kalian tahu soal ini, kan? Kalian berteman dengan dia setiap hari, tapi tidak pernah sekalipun menasehati kawan kalian yang bajingan ini? Malah ikut diam dan membiarkan Sarah menderita?"
Karline menunjuk dada Dean dengan jarinya. "Kalian bertiga sama-sama tidak punya hati nurani. Pantas saja kalian berteman, kalian cocok karena sama-sama sampah dalam hal menghargai perasaan orang lain."
"Karl, denger dulu..." Dean mencoba membuka suara, suaranya terdengar parau.
"Nggak ada yang perlu didengar lagi," potong Karline dengan air mata amarah yang menggenang di sudut matanya. "Jangan pernah lagi sok jagoan di lapangan voli kalau di rumah kalian bahkan tidak bisa jadi pelindung untuk keluarga kalian sendiri."
Tanpa menunggu jawaban, Karline memutar tubuhnya dan berjalan pergi dengan langkah lebar. Ia tidak menoleh lagi ke belakang. Ia segera menuju mobilnya, menyuruh Pak Dirman untuk langsung menuju alamat rumah Sarah yang baru saja ia minta dari Andi.
Di belakang sana, Dean hanya bisa menatap punggung Karline yang menjauh. Ia melirik Rio yang tampak kesal sekaligus malu, dan Raka yang menunduk dalam. Ucapan Karline barusan bukan hanya tamparan bagi Rio, tapi juga hantaman besar bagi harga diri Dean. Ia baru sadar, di mata Karline, ia bukan hanya pria bajingan yang sombong, tapi juga pria yang gagal memiliki empati.