NovelToon NovelToon
Wanita Tangguh

Wanita Tangguh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:433
Nilai: 5
Nama Author: Elvandem Putra

Di balik sosok wanita seksi yang selalu mencuri perhatian di setiap ruangan, Sasha Wijaya menyimpan rahasia besar—ia adalah agen intelijen yang telah menyamar selama tiga tahun untuk menggali kebenaran di balik jaringan kontrabanda terbesar di Asia Tenggara. Gaun malam yang menempel pada lekukan tubuhnya bukan hanya untuk menarik pandangan, melainkan sebagai selubung untuk menyembunyikan alat-alat khusus yang ia butuhkan dalam setiap misi.

Ketika jaringan itu mulai merencanakan transaksi besar yang mengancam keamanan negara, Sasha diberi tugas untuk mendekati Marcus Vogel—bos tersembunyi dari organisasi tersebut yang baru saja tiba dari luar negeri. Dengan pesona yang tak tertahankan dan kecerdasan yang tajam, ia berhasil meraih kepercayaan sang bos dan masuk ke dalam lingkaran paling dalam jaringan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akar yang Tidak Terbakar

Hujan London tidak pernah benar-benar lebat.

Ia hanya ada — tipis, persisten, dan tidak peduli pada jadwal siapapun. Berbeda dari hujan tropis yang datang dengan dramaturgi penuh, mengguyur keras lalu pergi bersih, hujan di kota ini memiliki cara yang lebih sabar dan lebih melelahkan: ia meresap, perlahan, ke dalam mantel dan sepatu dan tulang, sampai kamu tidak lagi ingat kapan terakhir kali kamu merasa benar-benar kering.

Sasha tidak membuka payung yang Rafi sodorkan.

Ia berdiri di depan gedung Global Resource Equity, membiarkan gerimis itu menyentuh wajahnya, menatap kerumunan yang terus bertambah di seberang garis pengaman yang terburu-buru dipasang oleh pihak keamanan gedung. Di antara wajah-wajah itu ada yang membawa spanduk, ada yang hanya berdiri dengan ponsel terangkat merekam, ada yang bernyanyi dalam bahasa yang berbeda-beda. Semuanya ada karena Rafi menekan satu tombol tiga puluh menit yang lalu dan kebenaran yang selama ini tersimpan dalam hard drive dan memori saksi mata akhirnya menemukan layarnya yang paling besar.

"Ibu tidak sakit?" tanya Rafi, payungnya masih terentang di atas kepala ibunya meskipun Sasha tidak bergerak ke arahnya.

"Tidak." Sasha akhirnya berpaling dari kerumunan, menerima payung itu bukan karena peduli pada hujannya melainkan karena melihat ekspresi di wajah anaknya yang mengandung kekhawatiran yang tidak perlu ia biarkan bertumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar. "Aku hanya perlu satu menit untuk merasakan ini sepenuhnya sebelum pikiran mulai bergerak lagi."

Rafi mengangguk. Ia sudah cukup mengenal ibunya untuk tahu bahwa kalimat itu bukan permintaan untuk direspon — melainkan penjelasan dari seseorang yang sudah lama belajar bahwa kemenangan yang tidak dirasakan sepenuhnya pada momennya akan menjadi sesuatu yang lebih sulit dijangkau kemudian.

Di dalam gedung di belakang mereka, Alistair Vance masih duduk di lantai paling atas dengan dokumen tawaran Sasha di tangannya dan dua orang pengacara yang sudah dihubungi via telepon dalam kepanikan yang tidak ia izinkan terlihat di depan stafnya tapi yang terbaca jelas dari cara ia menggenggam handset-nya terlalu erat.

Di seluruh dunia, dalam waktu tiga puluh menit sejak siaran langsung Rafi dimulai, harga saham Global Resource Equity turun sebelas persen.

Mobil yang membawa mereka dari The City ke penginapan kecil di Hackney — dipilih Rafi bukan karena lokasi atau fasilitasnya melainkan karena pemiliknya adalah diaspora Indonesia yang tidak akan menanyakan terlalu banyak dan tidak akan terkejut dengan jam kedatangan yang tidak wajar — melewati London yang basah dalam keheningan yang nyaman.

Rafi mengetik di laptopnya. Sasha melihat ke jendela.

Di luar, kota ini bergerak dengan kecepatan dan dinginnya yang khas — orang-orang bertudung jas hujan yang berjalan cepat tanpa melihat ke kiri atau ke kanan, taksi hitam yang meliuk di antara bus bertingkat, jendela-jendela apartemen yang menyala kuning di atas pertokoan yang sudah tutup. Kehidupan yang sama sekali tidak tahu dan tidak perlu tahu bahwa beberapa jam yang lalu, di sebuah aula di jantung distrik finansialnya, ada seorang perempuan dari Kalimantan Barat yang berdiri di depan para pemegang modal dunia dan berbicara tentang tanah yang namanya tidak ada dalam satu pun grafik keuntungan mereka.

"Respons medianya sudah mulai masuk," kata Rafi tanpa mengangkat matanya dari layar. "Reuters mengambil klipnya. BBC meminta wawancara. Ada tiga outlet dari Brasil yang sudah menghubungi langsung." Ia berhenti sebentar. "Dan ada email dari kantor Komisioner Tinggi HAM PBB. Mereka ingin jadwal bicara."

"Berapa lama kita punya waktu sebelum Vance merespons secara publik?"

"Tim PR-nya pasti sudah bekerja sekarang. Kemungkinan akan ada pernyataan resmi sebelum bursa London tutup besok — framing-nya pasti akan mencoba memisahkan firma dari aktivitas di lapangan, menyebut subkontraktor, mengklaim due diligence yang tidak pernah benar-benar dilakukan." Rafi akhirnya melihat ke ibunya. "Tapi ini berbeda dari sebelumnya, Bu. Siaran langsung tadi bukan hanya viral — ia sudah diarsipkan oleh setidaknya dua organisasi fact-checking independen sebelum pihak Vance sempat mengajukan permintaan takedown. Narasi tidak bisa dikontrol lagi dari sisi mereka."

Sasha mempertimbangkan ini.

Ada sesuatu yang perlu ia sampaikan kepada Rafi tentang momen seperti ini — tentang bahaya spesifik yang datang bukan dari kekalahan melainkan dari kemenangan awal yang terasa terlalu bersih. Ia sudah cukup lama bekerja di lapangan untuk tahu bahwa Alistair Vance bukan seseorang yang akan menerima dokumen tawaran itu dan menganggukkan kepalanya dengan patuh. Yang akan terjadi lebih kompleks dari itu, dan rentang waktunya lebih panjang dari satu hari.

"Rafi," katanya, "berapa harga saham GRE sebelum rapat tadi?"

"Empat ratus dua belas pounds per saham."

"Dan sekarang?"

"Tiga ratus enam puluh lima. Turun sebelas persen."

"Artinya masih tiga ratus enam puluh lima pounds." Sasha berpaling dari jendela, menatap anaknya langsung. "Mereka belum bangkrut. Mereka hanya terluka. Dan Vance sudah terlalu lama dalam posisinya untuk tidak tahu cara beroperasi dari posisi yang terluka."

Rafi meletakkan laptopnya. "Kamu pikir dia tidak akan menerima tawaran itu."

"Aku pikir dia akan mempertimbangkannya dengan sangat serius sambil secara bersamaan mencari cara untuk mengubah kondisi di lapangan cukup cepat sehingga tawaran itu tidak lagi relevan." Sasha menyilangkan tangannya. "Dokumen yang kita letakkan di mejanya bukan akhir dari negosiasi. Ia adalah pembukaan dari negosiasi yang sesungguhnya."

Penginapan di Hackney menyambut mereka dengan kehangatan yang tidak mahal dan tidak dibuat-buat — ruang tamu kecil dengan dua sofa yang sudah kehilangan kekakuan barunya, bau masakan yang tidak bisa diidentifikasi dengan tepat tapi yang mengandung sesuatu yang familiar, dan pemiliknya, seorang perempuan bernama Lastri yang sudah di London dua puluh tahun dan sudah lama berhenti terkejut oleh hal apapun, menyodorkan dua cangkir teh jahe tanpa ditanya.

"Sudah lihat beritanya," kata Lastri sambil meletakkan cangkir-cangkir itu di meja. "Anak-anak saya yang di Jakarta sudah kirim linknya tadi sore. Mereka tidak tahu bahwa yang ada di video itu menginap di kamar atas saya."

"Tolong jangan beritahu mereka dulu," kata Sasha.

Lastri mengangkat kedua tangannya. "Bukan urusan saya." Ia beranjak kembali ke dapurnya, kemudian berhenti di ambang pintu. "Tapi kalau perlu sesuatu, ketuk saja. Saya tidak tidur nyenyak kalau ada tamu yang belum makan."

Setelah ia menghilang ke dalam, Sasha dan Rafi duduk berhadapan di sofa dengan teh masing-masing dan laptop yang masih menyala di antara mereka.

"Laporan dari Yara masuk tadi siang," kata Rafi, membuka email yang tertunda. "Sementara kita di sini, ada pergerakan baru di lapangan."

Sasha menunggu.

"Tim pengawas di perbatasan area konsesi melaporkan bahwa aktivitas di blok utara sudah berhenti dua hari terakhir. Mesin-mesin besar yang biasanya beroperasi dari subuh tidak bergerak." Rafi membaca lebih lanjut. "Tapi Yara mencatat bahwa pemberhentian ini tidak terlihat seperti penarikan operasional biasa. Lebih seperti jeda — peralatan tetap di tempat, personel tetap ada, tapi tidak ada aktivitas."

"Mereka sedang menunggu," kata Sasha.

"Menunggu apa?"

"Melihat seberapa besar dampak dari hari ini sebelum memutuskan langkah berikutnya." Sasha memegang cangkirnya dengan kedua tangan — kehangatan yang sederhana dan nyata setelah seharian dalam ruangan-ruangan yang dikondisikan dengan suhu yang tidak memihak siapapun. "Ini bukan berita buruk. Ini berarti mereka sudah mendengar. Tapi jeda bukan penghentian, dan kita perlu menggunakan waktu ini dengan tepat."

Rafi mengetuk bibir laptopnya — kebiasaan ketika sedang menimbang sesuatu. "Ada tiga hal yang perlu bergerak bersamaan sekarang. Pertama, respons media harus dikelola dengan cara yang tidak membiarkan narasi Vance mengisi kekosongan. Kedua, tawaran pembelian kembali lahan perlu mendapat konfirmasi dari dana filantropi yang sudah kita libatkan — Kirra di Melbourne bilang dua yayasan besar sudah menyatakan minat prinsip, tapi belum ada komitmen tertulis." Ia mengangkat matanya. "Dan ketiga — yang ini yang paling mendesak — komunitas di lapangan perlu tahu apa yang terjadi hari ini sebelum mereka mendengarnya dari sumber yang mungkin memutarbalikkannya."

"Sebelum Vance mengirim orang-orangnya untuk berbicara lebih dulu," kata Sasha.

"Ya."

Sasha meletakkan cangkirnya. "Hubungi Yara malam ini. Minta dia kumpulkan tetua-tetua dan perwakilan komunitas besok pagi — bukan pengumuman besar, bukan perayaan. Hanya pertemuan untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi dan apa yang masih perlu terjadi." Ia menoleh ke Rafi. "Mereka bukan penonton dalam cerita ini. Mereka perlu tahu bahwa setiap langkah yang kita ambil di sini dimandatkan oleh kepercayaan yang mereka berikan, dan bahwa kepercayaan itu tidak kita anggap ringan."

Rafi mencatat ini.

"Dan untuk media," lanjut Sasha, "aku akan menerima satu wawancara — BBC, karena jangkauannya. Tapi bukan sebagai protagonis tunggal. Aku ingin Yara dan setidaknya satu tetua dari komunitas terdampak berbicara dari lapangan secara bersamaan, dihubungkan melalui video. Wajah yang dunia lihat bukan hanya wajah saya — wajah yang mereka lihat adalah wajah orang-orang yang tanahnya sedang kita bicarakan."

Rafi tidur pukul dua dini hari, laptopnya masih terbuka di sampingnya dengan dua belas tab yang belum ditutup.

Sasha tidak tidur.

Ia duduk di kursi dekat jendela kamarnya yang menghadap ke jalan Hackney yang sudah sepi — hanya sesekali ada langkah kaki yang tergesa-gesa atau suara kunci yang membuka pintu di ujung jalan. Di atas meja kecil di sampingnya, dokumen-dokumen yang sudah ia bawa dari Kalimantan Barat tersusun dalam urutan yang sudah ia hafalkan sepenuhnya — peta wilayah adat, catatan pertemuan komunitas, foto-foto yang tidak bisa ditampilkan di rapat umum pemegang saham manapun karena terlalu manusiawi untuk masuk dalam kategori bukti hukum.

Ia mengambil satu foto dari tumpukan itu.

Bukan foto kerusakan atau deforestasi — melainkan foto dari dua tahun lalu, diambil oleh seseorang dengan ponsel yang kameranya sudah mulai buram, memperlihatkan sebuah pertemuan malam di balai komunitas: dua puluh tiga orang duduk dalam lingkaran, beberapa di antaranya sudah tua, beberapa masih sangat muda, semua menatap ke arah yang sama. Di tengah lingkaran itu, peta besar dibentangkan di atas lantai.

Mereka sedang merencanakan.

Bukan menyerah — merencanakan.

Sasha meletakkan foto itu di atas sisa tumpukan dan menatap jendela yang gelap — bayangannya sendiri yang samar-samar terpantul di kaca dengan latar belakang jalan Hackney yang basah di belakangnya.

Ada satu hal yang tidak ia katakan kepada Rafi malam ini, bukan karena ia menyembunyikannya melainkan karena belum waktunya — masih terlalu awal, masih terlalu belum terbentuk untuk diucapkan keras-keras tanpa kehilangan ketepatan yang dibutuhkannya.

Vance bukan masalah utamanya.

Vance adalah simptom — orang yang tepat berada di posisi yang tepat di saat yang tepat untuk mengambil keuntungan dari sistem yang sudah ada sebelum ia lahir dan yang akan terus ada setelah ia pergi. Menghentikan Vance adalah hal yang penting dan perlu dilakukan dan sudah mereka mulai lakukan hari ini. Tapi menghentikan Vance tidak sama dengan mengubah sistem yang melahirkan Vance berikutnya.

Yang sedang ia pikirkan — yang sudah ia pikirkan sejak percakapan dengan jaringan globalnya dua bulan lalu — adalah sesuatu yang skalanya berbeda. Bukan lagi satu perusahaan, satu konsorsium, satu rapat umum pemegang saham. Melainkan pertanyaan tentang bagaimana modal dunia diarahkan sejak awal — siapa yang memutuskan instrumen investasi mana yang dianggap bertanggung jawab dan mana yang tidak, siapa yang menulis standarnya, dan siapa yang selama ini tidak ada di meja ketika standar-standar itu ditulis.

Dokumen tawaran yang ia letakkan di meja Vance tadi sore adalah solusi untuk satu kawasan, satu konsesi, satu jaringan pendanaan yang spesifik.

Yang sedang ia susun di kepalanya sekarang adalah sesuatu yang lebih fundamental dari itu — dan yang akan membutuhkan lebih dari sekadar satu perempuan bersyal batik berdiri di depan aula yang megah.

Akan membutuhkan banyak perempuan.

Di banyak aula.

Dalam banyak bahasa.

Pukul tiga pagi, ponsel Sasha bergetar.

Bukan Rafi — ia sudah tahu cara pesan dari anaknya terasa berbeda dari pesan dari arah yang tidak diantisipasi. Ini datang dari nomor yang ia kenali sebagai salah satu kontak jaringannya di Jenewa — seseorang yang posisinya di dalam satu lembaga internasional yang tidak perlu disebutkan namanya membuatnya mendengar hal-hal sebelum hal-hal itu menjadi berita.

Pesannya singkat:

Vance menghubungi dua anggota dewan direksi yang selama ini ia percaya tidak terjangkau oleh tekanan publik. Keduanya tidak mengangkat telepon. Ini bukan karena mereka tidak bisa — ini karena mereka memilih untuk tidak. Itu artinya lebih dari yang kamu pikirkan. Istirahat dulu, besok akan panjang.

Sasha membaca pesan itu dua kali.

Kemudian ia meletakkan ponselnya, bersandar ke kursinya, dan untuk pertama kali sejak pagi hari yang sangat panjang ini dimulai, mengizinkan sesuatu yang menyerupai kelegaan — bukan kepuasan penuh, bukan perayaan, melainkan pengakuan sederhana bahwa ada hal-hal yang bergerak ke arah yang benar meski tidak semua kecepatan dan bentuk gerakannya bisa dikendalikan.

Di luar jendela, hujan London masih turun dengan kesabarannya yang khas.

Di Kalimantan Barat, tujuh jam ke depan, matahari akan terbit atas hutan yang masih berdiri — sebagian besar masih berdiri — dengan suara burung dan aliran sungai dan kehidupan yang berlanjut bukan karena kekuatannya sendiri melainkan karena ada orang-orang yang memilih untuk tidak membiarkannya pergi diam-diam.

Sasha menutup matanya.

Besok akan panjang.

Tapi hari ini sudah dilakukan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!