"Kak, hari ini jadikan pulang bareng?"
"Nggak bisa, Viona lagi sakit Gue harus segera bawah dia pulang."
"Kak, boleh nggak kerumah, Aku takut Kak."
"Imlie bisa nggak, nggak usah manja Gue lagi jagain Viona di rumah sakit. Lo sendiri dulu aja ya. Kan ada pembantu Sayang. Ingat! Jangan begadang ya."
"Hiks.. Aku juga sakit Kak. Tapi mengapa dia yang selalu menjadi prioritasmu."
Anak pembawa sial, Saya nyesal udah lahirin Kamu. Kenapa bukan Kamu saja yang mati hah?"
"Ck, anak sialan. Saya muak lihat Kamu."
"Mati aja sana Li, nggak guna juga. Papa sama Mama aja udah nggak anggap Lo anak."
"Mimpi apa Gue. Punya Adik berhati busuk kayak Lo."
"Aku memang gadis pembawa sial. Aku tidak pantas hidup. Tapi, tidak pantaskah Aku mendapatkan pelukan kasih sayang itu? Hahaha siapa juga yang akan memeluk gadis pembawa sial seperti Aku."
kisah ini tentang seorang gadis yang dengan ikhlas menerima segalah kebencian yang di berikan kepadanya. ingin tahu kelanjutannya yang penasaran bisa langsung baca🤭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Happy reading<<<<<<<<<
<
"Oke, tapi ingat! Jangan terlalu dekat." ujar Aryan.
"Kalau Aku minta Kakak sama Viona jangan terlalu dekat. Boleh nggak?" tanya Imlie.
"Nggak, Gue nggak boleh jauh dari dia." jawab Aryan santai
membuat tangan Imlie mengepal.
"Yasudah, kalau gitu Aku ke kelas dulu." ujar Imlie kesel dan berdiri dari tempat duduknya.
"Oke, hati hati ya.." jawab Aryan tapi Imlie tidak membalasnya.
"Ck, nggik bili jiuh diri dii.. Alay banget sih. Emang kalau ngejauh Si Viona bakal isdet?" batin Imlie.
....
....
....
....
Sepulang sekolah Imlie sudah
di antar para sahabatnya ke tempat kerja-nya.
"Makasih ya Bestiee... Besok besok nggak usah deh anter Gue ke sini.. Maaf, ya bukan bermaksud apa apa ya. Cuman biar kalian nggak capek aja. Nanti biar Gue naik angkot." ujar Imlie.
"Dih, sok asik Lo, siapa juga yang pengen nganterin, Lo Kita ke sini karena mau numpang makan aja di restoran ini." ucap Warda bercandaa.
"Yaudah deh, kalian pulang aja. Gue jadi eneg lihat muka kalian." jawab Imlie meladeni candaan Wardah.
"Hahhhahaha." mereka pun tertawa bersama.
Setelah para sahabatnya pergi Imlie pun masuk dan mulai di antar oleh seorang pelayan wanita untuk mengganti pakaiannya Imlie jadi pakaian kerja.
"Terimakasih ya." ujar Imlie setelah sudah rapi dengan pakaiannya kerja nya.
"Sama sama." jawabnya.
"Eh, kenalin.. Nama Gue Imlie. Kalau Kk?" tanya Imlie pada gadis yg sepertinya 2 tahun lebih tua dari Imlie.
"Nama Gue Wace." jawab gadis
yang bernama Wace itu.
"Cantik namanya. Kaya orangnya." jawab Imlie.
"Makasih." jawab Wace yang orangnya agak tomboy dikit.
"Tapi, nanati Lo manggil Gue Wace aja nggak usah pake ambel embel Kakak. Berasa Tua Gue." jawab Wace.
"Siap Wac." jawab Imlie kemudian mereka menuju dapur untuk mengambil makanan dan mengantarkan pesanan para pelanggan.
"Bawah ini ke meja nomor 120 ya Li." ujar Wace.
"Siap." jawab Imlie dan dengan semangat membawa pesanan. Di hari pertama kerja Imlie sangat bersemangat. Wajah cantiknya terus memasang senyuman ceria sehingga menambah kesan kecantikannya dari wajahnya yang manis dan Imut.
"Permisi Pak, Buk." ujar Imlie pada pelanggan suami istri tersebut.
"Silahkan di nikmati Pak, Buk, semoga suka dengan hidangan Kami." ujar Imlie sopan..
"Terimakasih Mbak." jawab mereka.
"Eh, maaf.. Kamu kelihatan
masih muda banget, masih sekolah ya Nak?" tanya Wanita paru baya itu dengan senyuman teduhnya.
"Iya Buk.. Kalau gitu Saya permisi dulu ya Buk, Pak." jawab Imlie berusaha memberikan senyuman terbaiknya.
"Iya Nak, semangat ya kerjanya. Kamu gadis hebat." ujar Wanita paru baya itu dan Imlie hanya tersenyum dan mengangguk.
"Harus senyum, karena senyuman bisa membawa hal yang positif." batin Imlie saat berjalan kembali ke food pikcup area atau di sebut dengan area pengambilan makanan atau pesanan yang sudah
di siapkan oleh staf dapur.
"Semangat banget ya hari ini kerjanya." ujar Wace yang juga baru membersihkan sebuah meja.
"Iya dong, kan baru hari pertama. Jadi, harus semangat dong." ujar Imlie dengan tersenyum.
"Gila, ini cewek cantik amat. Manis, imut, lucu, anggun, semuanya di borong. Gue yang cewek aja betah liat wajahnya apalagi cowok. Dua gigi gingsulnya, dua lesung pipit nya, alis mata tebal nan rapi, bulu matanya itu loh lentik amat woy, matanya juga lebih indah, besar terang dan
berwarna coklat terang, tak lupa pipi chubby, hisung mancung dan bibir ranumnya.. Astaga ini sebenarnya manusia atau bidadari sih. Mana putih lagi nih anak." batin Wace menatap Imlie lama. Imlie yang di tatap seperti itu di buat bingung.
"Jangan natap Gue lama lama nanti cinta Lo." canda Imlie.
Plak
"Gue masih normal ya. Walaupun Lo cantiknya kagak ada obat sih. Tapi, Gue tetap punya pasangan Cowok bukan Cewek ya." jawab Wace dan Imlie terkekeh. Baru kali ini Imlie senang atau cepat
akrab dengan orang baru sampai bercanda kaya gini.
"Heh, Anak baru.. Kalau masih baru jangan sok kecakepan ya. Baru aja kerja udah banyak ngobrol aja... Sana Lo kerja dan ingat ya jangan sok berkuasa di sini." Ujar seorang gadis seumuran Wace yang bernama Kiki.
"Heh, Kiki biasa aja dong. Kagak usah nyolot." balas Wace.
"Dih." ujar Kiki sinis sambil memutar bola matanya.
"Sok berkuasa banget jadi orang." balas Wace.
"Iya dong karena di sini Gue senior dari pada Lo berdua. Gue udah lama jadi Waitress udah lama banget dan pastinya pengalaman Gue udah bejibung ya. Jadi, kalau sombong biasa lah." jawab Kiki sambil mengibaskan rambutnya.
"Dan satu lagi Lo anak baru. Panggil Gue Kakak, Kakak Kiki, jangan nggak sopan ya dengan manggil Gue tanpa embel embel Kakak." peringat Kiki dan Imlie hanya mengangguk agar tidak terjadi problem.
"Oke, byee.. Semangat kerja gadis gadis baik." ujar Kiki dan langsung pergi dari hadapan kedua gadis itu.
"Dih, Sok asik banget Si Kiki. Mukanya pengen Gue jadiin seblak lama lama." geram Wace.
"Sabar Wac, jangan di ambil hati ucapannya Kak Kiki." ujar Imlie.
"Lo kagak usah dengerin si ondel ondel itu buat manggil dia Kakak. Panggil aja Kiki, biar kagak besar kepala tuh anak." ujar Wace dan Imlie hanya terkekeh.
Setelah lama bekerja Imlie tanpa sengaja melihat ke meja depan, di sana Aryan dan Viona sedang duduk sambil memesan makanan pada Wace. Imlie jadi kesal sendiri.
"Ck." decak Imlie kemudian ke
belakang dan memakai masker.
"Loh, kenapa Lo pakai masker Imlie?" tanya Wace yang baru selesai mengantarkan makanan.
"Oh ini mau pake aja Wac. Tapi, Gue mohon ya jangan panggil nama Gue. Panggil aja Gue Afin." ujar Imlie menyebut nama belakangnya yang juga sering kali di pakai Aryan juga. Tapi Aryan sesekalih juga memanggilnya dengan nama Krafina.
"Loh, kenapa Li? Terus itu kan nama cowok." tanya Wace.
"Iya Wac, tapi untuk nama samaran nggak papa lah, terus maaf ya Gue nggak bisa kasih tau
soalnya ada alasan yang tidak bisa Gue ceritain Wac. Nggak papankan?" tanya Imlie balik.
"Oke Afin. Tapi, berapa hari Gue manggil Lo dengan nama Afin.?" tanya Wace.
"Di waktu waktu tertentu aja Wac.. Dan nanti kalau teman teman yang lain nanya nama Gue. Bilang aja nama Gue Afin." ujar Imlie.
"Okelah, kalau gitu mulai sekarang Gue panggil Lo Afin aja deh. Biar mulut Gue ini nanti kagak salah panggil." ujar Wace.
"Makasih Wac." jawab Imlie.
"Masama Fin." jawab Wace. Kemudian mereka kembali bekerja sambil sesekalih Imlie melirik mejanya Aryan yang sedang menunggu pesanan. Tapi, naas dia malah di pergoki oleh Kiki.
"Eh, ngapain Lo lirik lirik meja itu? Pasti Lo naksir ya? Tapi, sayangnya tuh Cowok tampan udah punya Cewek. Gue juga suka ya sama dia. Tapi, kita sebagai Waitress haru sadar diri lah. Pria pria seperti itu bagaikan langitu untuk kita yang susah di gapai." jawab Kiki sok dramastis.
"Tapi, semua pasti bisa dengan kehendak Allah." jawab Imlie.
"Oke, tapi Lo bakal berdo'a buat di jodohin sama Pria itu? Minimal jadi ceweknya kek." ujar Kiki pelan pada Imlie.
"Nggak kok. Karena memang dia udah jadi pacar brengsek Gue." lanjut Imlie dalam hati.
"Bagus deh. Biar Lo sadar diri Afin." ujar Kiki dan Imlie menatapnya.
"Afin kan? Nama Lo? Kaya nama Cowok tau nggak." ujar Kiki sewot.
"Iya itu nama panggilan Gue Kak." jawab Imlie dan Imlie mengangguk.
"Yasudah, Lo bawah nih pesanan ke meja 80." ujar Kiki dan langsung pergi.
"80? Itu kan mejanya Kak Aryan dan Viona." batin Imlie.
"Ah yasudah deh... Kan Gue pake masker jadi bisalah menyamar dikit." ujar Imlie kemudian beralih meminjam topi hitam milik Wace dan mulai membawa pesanan itu.
"Ar, nanti pulang nginap di rumah Aku ya. Aku takut sendiri." pinta Viona.
"Di rumah Aku aja Vin, Mama dan Papa pasti juga senang kalau Kamu nginap." ujar Aryan.
"Horeee, makasih Arr.. Aku senang deh, sekalian nanti malam kita buat acara bakar bakar aja gimana? Sama Tante dan Om." usul Viona.
"Oke." jawab Aryan dan kembali melihat hpnya dan mengetik sesuatu.
Sedangkan Imlie yang sudah berada di dekat mereka di buat sakit hati dengan pembicaraanya Imlie dan Aryan.
"Ternyata Viona udah dekat banget sama orang tuanya Kak Aryan." batin Imlie dan bersikap biasa agar tidak di curigai.
"Permisi." ujar Imlie dengan
suara dalam yang di buat buat sehingga mampu mengoceh siapa saja yang mendengarnya.
"Silahkan Mbak." jawab Viona ramah. Dan Imlie pun langsung menghidangkan pesanan mereka sedangkan Aryan mengangkat kepalnya setelah mendengar sang Waitress itu.
Aryan hanya diam saja dengan pikirannya.
"Bau parfum ini? Ah, tidak mungkin kebetulan saja." batin Aryan dan kembali menunduk melihat hpnya.
"Eh, mbak kenapa lihatin Pacar Saya seperti itu.. Gante ya pacar
Saya." ujar Viona mengganggetkan Imlie yang menatap Aryan sekilas.
Imlie hanya menggeleng kemudian pamit untuk pergi.
"Pelayan aneh." gumam Viona.
Ting
Aryan>>>>>>
"Imlie."
Itulah pesan yang di kirimkan oleh Aryan tapi Imlie tidak membukanya dan menheningkan panggilan hpnya.
Dan setelah Imlie menaruh kembali hpnya ke dalam sakunya. Tanpa di ketahui banyak panggilan masuk dari Aryan.
"Ck, kemana gadis ini." batin Aryan.