Bagi Azzalia Caesarea, mencintai Regas Adhitama adalah sebuah keberanian sekaligus kesalahan. Regas adalah sang "Pangeran Teknik" yang sempurna, sementara Lia hanyalah mahasiswi Sastra pemegang beasiswa yang hidup sebatang kara.
Saat restu orang tua Regas menjadi dinding tinggi yang tak mungkin dipanjat, Lia memilih mundur. Ia meletakkan tanda titik pada kisah mereka, menolak lamaran Regas, dan pergi mengejar mimpinya ke luar negeri demi harga diri yang sempat diinjak-injak.
Tahun-tahun berlalu, Lia kembali sebagai sosok wanita yang baru dan sukses. Namun, semesta memang senang bercanda. Di sekolah internasional tempatnya mengajar, ia kembali dipertemukan dengan mata tegas itu. Regas berdiri di sana, tetap mempesona, namun dengan satu kejutan yang menyesakkan napas: seorang putri kecil yang memanggilnya "Papa".
Siapkah Lia membuka kembali buku lama yang sudah ia tutup rapat?Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan Regas selama bertahun-tahun kepergian Lia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Matahari di pesisir Bali Utara baru saja mencapai puncaknya, namun angin laut membawa hawa dingin yang tak mampu diusir oleh teriknya siang. Di bawah atap rumbia sekolah kecilnya, Azzalia berdiri di depan papan tulis kayu, jemarinya yang luntur oleh kapur tulis sedikit gemetar saat menuliskan bait puisi tentang kejujuran.
"Ibu Lia, kenapa tulisannya miring?" celetuk Putu, membuyarkan lamunan Lia.
Lia tersentak, segera menghapus tulisan itu dan tersenyum tipis. "Maaf, Putu. Anginnya terlalu kencang, konsentrasi Ibu sedikit terbang."
Setiap kali ia menatap laut, bayangan Regas yang berdiri di dermaga kemarin kembali muncul. Ia segera menggelengkan kepala, mencoba membunuh setiap sisa rasa hangat dari kejadian semalam. Baginya, setiap detik yang ia habiskan untuk merindukan Regas adalah sebuah pengkhianatan terhadap prinsipnya sendiri, dan yang lebih menyakitkan, sebuah dosa tidak tertulis kepada Elena.
Dia sedang mengandung, Lia. Dia butuh suaminya, batin Lia, mencengkeram erat penghapus papan tulis.
Lia merasa sangat bersalah. Ia adalah sarjana sastra yang menjunjung tinggi moralitas dalam setiap sajak yang ia ajarkan, namun semalam ia justru membiarkan dirinya menjadi bagian dari kerumitan rumah tangga orang lain. Ia merasa rendah. Ia merasa menjadi sosok "wanita lain" yang dulu sangat ia benci dalam novel-novel tragedi.
"Anak-anak, hari ini kita belajar tentang arti 'Pulang'. Pulang tidak selalu berarti menuju rumah, tapi menuju tempat di mana hati kita seharusnya berada tanpa menyakiti siapa pun," ucap Lia dengan suara yang sedikit bergetar, lebih kepada dirinya sendiri daripada murid-muridnya.
Selesai mengajar, Lia duduk di pinggir pantai. Ia mengeluarkan ponselnya yang sengaja ia matikan sejak pagi. Layarnya hitam, kosong, persis seperti perasaannya. Ia berharap ada satu pesan singkat dari Regas yang mengatakan dia sudah sampai, namun di sisi lain, ia berdoa agar Regas tidak pernah menghubunginya lagi.
"Biarkan dia menjadi ayah yang baik di sana, dan biarkan aku tetap menjadi butiran pasir di sini," bisik Lia lirih.
Namun, ketenangan yang ia paksakan itu hancur saat Pak Wayan datang menghampirinya dengan wajah cemas, membawa sebuah koran nasional bekas yang baru saja ia beli dari kota.
"Ibu Lia, bukankah ini pria yang kemarin datang menjemput Ibu?" tanya Pak Wayan sambil menunjuk foto di halaman depan.
Di sana, di kolom berita bisnis dan gaya hidup, terpampang foto Regas Adhitama yang sedang menggandeng tangan Elena yang pucat saat memasuki rumah sakit, dengan judul besar: "Pewaris Adhitama Siaga Menjaga Sang Istri yang Kritis".
Lia merasa jantungnya seolah diremas. Realita menghantamnya telak: Regas sedang menjalankan perannya di dunia yang megah, sementara ia di sini hanya sekadar bab sampingan yang mungkin akan segera dilupakan.
Lia menatap foto itu cukup lama, hingga matanya terasa perih. Dalam gambar itu, Regas tampak begitu protektif, wajahnya tegang dan penuh tanggung jawab saat mendampingi Elena. Tidak ada jejak pria yang semalam berbisik manja di bahunya atau pria yang menangis di gubuk bambu miliknya.
"Iya, Pak Wayan. Dia... dia hanya orang dari masa lalu saya yang kebetulan lewat," suara Lia terdengar hampa, bahkan di telinganya sendiri.
Pak Wayan mengangguk pelan, meski matanya menyiratkan rasa kasihan. "Dunia mereka terlalu tinggi, Bu Lia. Orang seperti kita hanya akan lelah jika mencoba mendongak terlalu lama."
Setelah Pak Wayan pergi, Lia meremas koran itu hingga tak berbentuk. Kata-kata "Siaga Menjaga Sang Istri" seolah menjadi tamparan yang menyadarkannya dari mimpi buruk yang indah. Ia sadar, semalam ia hanyalah tempat pelarian bagi Regas, sementara tempat pria itu yang sebenarnya adalah di sisi wanita yang sedang bertaruh nyawa demi anaknya.
Rasa mual tiba-tiba naik ke tenggorokannya. Bukan karena penyakit, tapi karena rasa jijik pada dirinya sendiri.
Apa yang aku lakukan? Bagaimana bisa aku menyerahkan diri pada suami orang saat istrinya sedang berjuang di rumah sakit? tangis Lia pecah di bawah pohon ketapang yang rindang.
Lia segera bangkit, masuk ke dalam gubuknya dan mengambil ponselnya yang tadinya mati. Dengan tangan gemetar, ia membuka kontak nama 'Regas'. Ia sempat ragu sejenak, namun bayangan wajah Elena yang pucat di koran tadi memberinya keberanian pahit.
Ia mengetik pesan singkat:
"Regas, selamat atas perjuangan istrimu. Jangan pernah hubungi aku lagi. Kejadian semalam adalah sebuah kesalahan yang sangat aku sesali. Fokuslah pada keluargamu, dan biarkan aku mengubur semua ini di Bali. Jangan kembali."
Setelah menekan tombol kirim, Lia langsung memblokir nomor Regas. Tidak hanya itu, ia mencabut kartu SIM-nya dan mematahkannya menjadi dua lagi, Ia tidak ingin ada celah sedikit pun bagi Regas untuk menariknya kembali ke dalam lumpur dosa itu.
Lia berjalan ke arah dapur kecilnya, menyalakan tungku api, dan melemparkan koran tadi ke dalam kobaran api. Ia memperhatikan bagaimana wajah Regas di kertas itu perlahan menghitam dan berubah menjadi abu, sama seperti harapannya.
Namun, saat ia berbalik untuk merapikan tempat tidurnya, pandangannya tertuju pada bantal yang kemarin digunakan Regas. Di sana, masih tertinggal sehelai rambut pendek pria itu. Lia memejamkan mata, mencengkeram kain seprainya erat-erat.