NovelToon NovelToon
Istri Kesayangan Mafia

Istri Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Karir / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Alya tak pernah menyangka hidupnya akan terikat pada haruka— pria dingin, tenang dan berbahaya, seseorang dari kalangan atas yang lebih tertarik dengan hidup di dunia mafia.
hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak tanpa perasaan, namun jarak itu perlahan runtuh oleh kebiasaan kecil dan perlindungan tanpa kata.

Saat alya mulai masuk ke dunia haruka—kekuasaan, kekayaan dan rahasia kelam.
ia sadar bahwa mencintai seorang mafia berarti hidup di antara kelembutan dan bahaya.

Karena di dunia haruka, menjadi istri kesayangan bukan hanya soal cinta..
tapi juga bertahan hidup.

Thx udah mampir🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. masalalu haruka sakura.

Wajah yang Tidak Pernah Diselamatkan

Nama itu masih terpampang di layar ponselku.

Haruka Sakura.

Aku sudah mengetiknya berulang kali, memastikan tidak salah huruf. Jantungku berdegup lebih cepat dari seharusnya, seolah ada sesuatu yang melarangku mengetahui lebih jauh—namun rasa penasaranku jauh lebih keras daripada rasa takutku.

Hasil pencarian muncul perlahan.

Artikel lama.

Dokumen arsip.

Tautan berita yang sebagian sudah ditarik dari publik.

Wajah yang sama.

Wajah yang siang tadi duduk di hadapanku, berkata dingin seolah dunia tidak pernah menyakitinya.

Namun judul-judulnya membuat tenggorokanku tercekat.

-Berita*

Pewaris yang Selamat dari Tragedi Terbesar Abad Ini

Satu-satunya Korban yang Hidup

Anak Ajaib atau Kutukan Keluarga Sakura?

Tanganku gemetar saat menggulir layar.

Aku membuka salah satu artikel paling tua.

Dan di situlah aku mulai mengerti.

-berita**

Haruka Sakura lahir dengan kondisi paru-paru yang lemah. Dokter sempat menyatakan kemungkinan hidupnya sangat kecil. Tahun pertama hidupnya dihabiskan di antara rumah sakit dan perawatan intensif..

Dadaku terasa mengencang.

Sejak lahir… dunia sudah ingin menyingkirkannya.

Aku melanjutkan membaca.

-Berita***

Saat Haruka berusia satu tahun, ayah kandungnya meninggal dunia. Penyebab kematian tidak pernah diumumkan secara resmi..

Satu tahun.

Aku bahkan tidak bisa membayangkan kehilangan pada usia itu. Bahkan tidak cukup dewasa untuk mengingat wajah ayah sendiri—namun sudah harus tumbuh tanpa kehadirannya.

Jariku berhenti sejenak, lalu kembali menggulir.

-Berita****

Tragedi terbesar terjadi ketika Haruka Sakura berusia tujuh tahun. Sebuah insiden besar yang menewaskan seluruh keluarga inti dan kerabat jauh keluarga Sakura. Total korban mencapai lebih dari tiga ratus delapan puluh orang..

Aku menutup mulutku sendiri.

Tujuh tahun.

Tiga ratus delapan orang.

-Berita*****

Haruka Sakura ditemukan hidup di lokasi kejadian. Ia menjadi satu-satunya korban yang selamat.

Satu-satunya.

Aku menatap layar lama sekali.

Tujuh tahun… dan sendirian keluar dari neraka.

Aku akhirnya mengerti kenapa foto-fotonya selalu sama.

Tegak.

Tenang.

Kosong.

Itu bukan gaya.

Itu pertahanan.

Aku terus membaca, meski dadaku terasa sakit.

-Berita******

Setelah tragedi tersebut, Haruka dirawat oleh seorang wali pribadi. Identitas wali tersebut tidak pernah dipublikasikan demi keamanan..

Lalu kalimat terakhir itu muncul.

-Berita*******

Wali yang merawat Haruka Sakura meninggal dunia ketika Haruka berusia empat belas tahun.

Aku menjatuhkan ponsel ke atas kasur.

Empat belas tahun.

Orang terakhir.

Orang yang tersisa.

Juga direnggut.

Aku tidak menemukan skandal.

Tidak ada gosip murahan.

Tidak ada cerita cinta.

Tidak ada tawa.

Tidak ada masa kecil yang bahagia.

Tidak ada keluarga yang bertahan.

Hanya fakta-fakta dingin, singkat, dan terlalu rapi—seolah seseorang sengaja membersihkan semua jejak emosi dari hidupnya.

Malam itu aku tidak bisa tidur.

Setiap kali memejamkan mata, wajahnya muncul.

Bukan wajah marah.

Bukan wajah kejam.

Justru itu yang membuatnya mengerikan.

Ia terlalu tenang.

Manusia normal akan menunjukkan sesuatu—lelah, marah, muak.

Tapi Haruka Sakura… seperti seseorang yang sudah melewati terlalu banyak rasa sampai tidak tersisa apa pun.

Aku teringat caranya memintaku duduk.

Nada suaranya saat berkata, “lepas.”

Grogi—ya.

Tapi bukan grogi biasa.

Seolah sentuhan manusia adalah sesuatu yang sudah lama tidak ia kenal.

Dan tanpa sadar, pertanyaan itu muncul lagi.

"Apa yang dunia lakukan padanya sampai ia menjadi seperti ini?"

Keesokan harinya, aku dibawa ke rumah yang kini resmi menjadi tempat tinggalku.

Bukan rumah.

Lebih tepatnya—benteng.

Gerbang tinggi. Dinding sunyi. Tidak ada tanaman hias berlebihan. Semua fungsional. Aman. Dingin.

Aku berjalan di sampingnya, menjaga jarak setengah langkah. Bukan karena ia memintanya—tapi karena naluriku berkata begitu.

“Rumah ini terlalu sepi,” ucapku tanpa sadar.

Ia berhenti berjalan.

Aku ikut berhenti, jantungku mencelos karena takut ucapanku melampaui batas.

“Sepi itu aman,” katanya tanpa menoleh.

“Keramaian hanya membawa kehilangan.”

Kalimat itu kini terdengar berbeda bagiku.

Bukan dingin.

Tapi terluka.

Aku menatap punggungnya. Tegap. Kokoh. Namun sekarang aku tahu—itu bukan karena ia kuat sejak awal.

Itu karena ia tidak pernah diberi pilihan selain bertahan.

“Haruka,” panggilku pelan.

Ia menoleh. Alisnya sedikit berkerut, bukan marah—lebih seperti heran.

“Kau jarang dipanggil begitu?” tanyaku.

Ia diam cukup lama sebelum menjawab.

“Hanya oleh orang yang sudah meninggal.”

Dadaku langsung sesak.

Untuk sesaat, aku lupa bahwa pernikahan ini kontrak.

Aku lupa bahwa aku hanya bagian dari kesepakatan.

Yang kulihat hanyalah seorang pria yang sejak lahir… terus kehilangan.

“Maaf,” ucapku lirih.

Ia menatapku sejenak. Tatapannya dalam, namun tidak menusuk.

“Kau tidak salah,” katanya.

“Dunia hanya selalu lebih cepat dariku.”

Saat itu aku mengerti.

Bukan wajahnya yang menakutkan.

Bukan sifat dinginnya.

Yang menakutkan adalah kenyataan bahwa

dunia berkali-kali mencoba menghancurkan hidupnya—

dan ia masih berdiri.

Dan entah kenapa, di saat itu juga, satu pikiran berbahaya muncul di kepalaku—

"Bagaimana jika dunia kali ini mengirimku… bukan untuk menghancurkannya, tapi untuk menjadi orang yang bertahan?"

1
Jingle☘️
kamu harus bisa meluluhkan agar kamu bisa punya benteng untuk hidupmu sendiri
Jingle☘️
tuh kan benar huh/Panic/
yanzzzdck: nikmatin aja nanti juga paham alurnya, dan trimakasih sudah mampir🙏
total 1 replies
Jingle☘️
punya masalah bau baunya mau menjual anaknya dalam konsfirasi pasti🤔
Salsabilla Kim
💪💜🌸
yanzzzdck
bagus
Tati Hartati
Makasih banget ya tadi jempolnya dan masyaallah kamu luar biasa lho bikin dua novel dan selalu konsisten. Semangat terus ya buat Kita sesama penulis baru ,salam kenal ya 🙏💪🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!