Selama empat tahun pernikahan, Laras menjadi mesin ATM bagi keluarga suaminya. Sebagai wanita karier dengan posisi mapan dan gaji besar, ia tidak hanya menafkahi rumah tangganya sendiri, tetapi juga menanggung gaya hidup mewah ibu mertua dan adik iparnya, sementara suaminya, Arga, lepas tangan dengan alasan gajinya yang kecil.
Puncak kesabaran Laras habis ketika ia menyadari bahwa kebaikannya tidak pernah dihargai dan justru dianggap sebagai kewajiban mutlak. Laras memutuskan untuk melakukan "pemogokan finansial". Ia memotong uang bulanan secara drastis, berhenti membayar cicilan mobil sang adik ipar, dan mulai menikmati hasil jerih payahnya untuk dirinya sendiri.
Keputusan Laras memicu "perang" dalam keluarga besar. Arga yang manipulatif, serta ibu mertua dan adik ipar yang parasit, mulai melakukan berbagai cara untuk menekan Laras, mulai dari intimidasi, adu domba dengan keluarga besar, hingga ancaman perceraian. Namun, Laras yang kini lebih berdaya tidak lagi bisa ditindas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku dimadu???
"Siapa dia, Mas?" tanya Laras, berpura-pura tidak tahu soal sosok Angel yang kini berdiri di hadapannya.
Sekitar jam lima sore, setibanya Laras dari kantor, Arga dan Angel sudah berada di rumah. Mereka duduk bersantai bersama Bu Ajeng dan Tiara. Angel tampak tertunduk malu-malu, sementara Arga duduk protektif di sampingnya.
" Apa Mas Arga berniat membawa pelakor ini tinggal satu atap denganku di rumah ini? Heem... sepertinya iya." batin Laras sinis. " Baguslah. Meski hatiku perih, aku harus tetap memberi mereka pelajaran. Sabar, Laras. Kamu kuat. Jangan biarkan air mata jatuh untuk pria tidak tahu diuntung seperti Arga ini."
Arga tampak gugup. Lidahnya kelu untuk menjelaskan siapa wanita yang ia bawa pulang.
"Siapa dia, Mas?" ulang Laras, kali ini dengan nada yang lebih menuntut.
"Sudahlah, Ga. Jujur saja pada Laras supaya semuanya jelas." timpal Bu Ajeng dengan nada tak acuh.
"Duduklah, aku akan jelaskan semuanya." ucap Arga pelan.
Laras pun duduk di samping Tiara. Suasana mendadak senyap, mencekam sampai akhirnya Arga memecah keheningan itu.
"Ras, sebelumnya aku minta maaf karena tidak meminta izin padamu. Wanita di sampingku ini namanya Angel. Dia adalah cinta pertamaku yang sekarang... sudah menjadi istriku." aku Arga tanpa dosa.
"APAAAAA????? ISTRIIIII???? " Laras memasang wajah syok yang dramatis, agar mereka tidak curiga bahwa ia sudah mengetahui sandiwara ini lebih awal.
"Kamu tidak bercandakan, Mas?"
"Tidak, Ras. Aku dan Angel sudah menikah kemarin. Saat ini Angel sedang hamil. Aku harap kamu jangan marah dan bisa menerima Angel dengan baik di sini." lanjut Arga.
"Tega kamu, Mas. Selama empat tahun pernikahan kita, apa kurangku sampai kamu menghianatiku seperti ini? Kamu anggap aku apa? Menikah lagi saat aku masih menjadi istrimu yang sah? Kamu keterlaluan." Laras berteriak dengan nada pedih yang dibuat-buat, meski di sudut hatinya ada rasa sesak yang nyata.
Suami yang selama empat tahun ini ia biarkan merasa hebat dengan mengakui rumah hadiah ayahnya sebagai miliknya sendiri, ternyata tega membawa pulang madu. Terlebih lagi, wanita itu sedang hamil dan seisi keluarga Arga tampak memberikan dukungan penuh.
"Maaf, Mas. Aku mau ke kamar. Tolong jangan ganggu aku." ucap Laras sambil memalingkan wajah, berpura-pura menahan tangis agar tidak terlihat hancur total.
Laras bangkit dan melangkah tegas menuju kamarnya. Di belakangnya, Bu Ajeng dan Tiara saling melempar senyum kemenangan melihat penderitaan Laras.
"Bu, untuk sementara Tiara tidur bersama Ibu dulu ya." pinta Arga.
"Loh, kok gitu, Mas? Aku malas tidur sama Ibu. Ibu kalau tidur berisik sekali, aku jadi susah istirahat." tolak Tiara mentah-mentah.
"Terus Mas sama Angel mau tidur di mana? Kamar di rumah ini cuma ada tiga, Tiara. Tidak mungkin satu kamar dengan Laras, dia pasti belum siap. Tolonglah, tidak lama kok." bujuk Arga.
" Mas Arga ini bagaimana sih? Kenapa malah memilih kamar Tiara? Kamarnya kecil dan sempit, tidak seperti kamar Laras yang luas. Menyebalkan sekali." gerutu Angel dalam hati.
Arga pun menuntun Angel menuju kamar Tiara, membawa dua koper besar milik istri barunya itu. Begitu masuk, Angel langsung cemberut. Kamar itu terasa pengap, sempit, dan yang paling penting, tidak ada AC.
"Tidak ada AC-nya? Mana bisa aku tidur, Mas?" keluh Angel manja.
"Kamar di rumah ini yang ada AC-nya cuma kamar yang ditempati Laras. Dia pasti tidak mau tukar kamar sekarang, tapi besok aku akan bicara padanya supaya dia mau mengalah." ucap Arga sambil mengusap punggung Angel menenangkan.
"Awas saja kalau dia tidak mau. Aku ini sedang hamil, butuh kamar yang nyaman dan besar. Kalau dia mah terserah saja, toh dia juga tidak bisa hamil." cetus Angel, percaya pada hasutan Bu Ajeng bahwa Laras mandul. Padahal, Laras selama ini memang sengaja menunda kehamilan karena kesepakatan bersama yang dulu disetujui Arga.
Malam tiba. Waktunya makan malam. Angel dan Arga keluar dari kamar, disusul Bu Ajeng dan Tiara. Namun, langkah mereka terhenti saat melihat meja makan yang kosong melompong.
"Bu, kok tidak ada makanan? Mbak Laras tidak masak?" tanya Tiara yang sudah kelaparan.
"Laraaaaassss...!!!!" teriak Bu Ajeng dengan suara menggelegar.
Pintu kamar Laras tetap tertutup rapat.
"Bu, coba panggil dia. Aku sudah lapar, kasihan Angel dan bayinya kalau sampai telat makan." perintah Arga.
"Laras ini memang pemalas. Padahal tinggal masak saja, bahan makanan pemberian orang tuanya kan banyak. Lama-lama darah tinggiku naik gara-gara dia." omel Bu Ajeng sambil berjalan menuju kamar Laras.
BRAK! BRAK! BRAK!
"Laras. Jangan pura-pura tuli. Kenapa kamu tidak masak untuk makan malam???"
Pintu terbuka. Laras muncul dengan masih mengenakan mukena, sepertinya ia baru saja selesai salat Maghrib.
"Kenapa tidak memasak? Angel itu sedang hamil, dia harus makan tepat waktu. Jadi istri kok pemalas, dasar durhaka." maki Bu Ajeng.
"Bukannya di rumah ini sudah ada menantu baru? Kenapa tidak Ibu suruh dia saja yang masak? Lagian dia juga yang mau makan, kan? Aku ini bukan pembantu kalian yang bisa diperintah seenaknya." jawab Laras tenang namun menusuk.
"Angel itu beda denganmu. Dia anak orang kaya, tidak pernah menyentuh pekerjaan kasar. Sementara kamu? Kamu pantas di dapur." bentak Bu Ajeng lagi.
Laras tersenyum sinis. "Oh, jadi karena aku anak orang miskin menurut Ibu, aku harus jadi pembantu? Tapi orang miskin ini punya uang lho, Bu. Malah kemarin uang 15 juta milik ibuku ada yang mencuri. Ibu tahu siapa pelakunya?"
Wajah Bu Ajeng seketika pucat pasi. Ia merasa jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Ma-maksudmu apa? Uang siapa yang hilang?" tanya Bu Ajeng dengan suara bergetar.
"Uang orang tuaku, hasil dari kebun cengkeh. Masa iya uang Ibu? Memang Ibu punya uang sebanyak 15 juta?" sindir Laras tajam.
"Ini kenapa malah mengobrol di sini? Laras, cepat masak." sela Arga yang tiba-tiba muncul.
Bu Ajeng bernapas lega. Kedatangan Arga menyelamatkannya dari interogasi Laras. Ia segera menyelinap pergi sebelum keadaan semakin panas.
"Yang mau makan itu kalian, jadi usaha sendiri. Istri barumu itu suruh ke dapur. Kamu pikir aku masih sudi mengurus kalian? Mulai detik ini, aku tidak akan menyentuh pekerjaan rumah apa pun untuk kalian." tegas Laras.
BRAAAKKK!
Laras membanting pintu tepat di depan wajah Arga. Arga hanya bisa melongo. Mau tidak mau, ia harus meminta ibunya memasak karena uangnya sudah menipis untuk biaya pernikahan sirinya dengan Angel.
"Bu, Laras tidak mau masak. Ibu saja ya yang masak?" pinta Arga lemas.
"Sudah malam, Ga. Bahan makanan juga entah ke mana." sahut Bu Ajeng asal. Ia sengaja menyembunyikan bahan-bahan makanan mewah dari orang tua Laras agar bisa ia berikan kepada Ratih, istri Dimas.
"Besok cari ART sajalah, Mas. Aku tidak mau kelaparan. Lagian Laras sudah tidak berguna di rumah ini, usir saja dia!" usul Angel sombong.
"Yang bayar gajinya Mbak Angel, ya?" sahut Tiara cepat.
"Kok aku? Mas Arga dong. Dia kan kepala keluarga. Aku ini terbiasa dilayani." jawab Angel angkuh.
Akhirnya, mereka berempat pergi makan di luar, meninggalkan Laras sendirian di rumah.
**
Keesokan paginya, Laras merasa jauh lebih segar. Ia tidak perlu bangun pagi buta untuk menyiapkan sarapan bagi keluarga parasit itu.
"Mbak, mana jatah bulanan untukku? Ini sudah lewat seminggu dari tanggal gajian, Mbak belum transfer juga." tagih Tiara sambil menengadahkan tangan saat melihat Laras bersiap berangkat ke kantor.
"Memangnya kamu siapaku sampai aku harus memberimu uang?" tanya Laras santai.
"Mbak Laras, jangan cari masalah deh. Biasanya juga Mbak yang kasih. Cepat, aku mau ke kampus."
"Minta saja sama kakak ipar barumu yang katanya kaya raya itu. Aku kan miskin. Bye." Laras melenggang masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan pekarangan rumah.
Tiara menghentak-hentakkan kakinya kesal. Mobilnya kehabisan bensin dan ia tidak punya uang sepeser pun.
"Mana Laras?" tanya Bu Ajeng yang baru muncul.
"Sudah berangkat, Bu. Dia tidak mau kasih uang, malah suruh minta ke Mbak Angel. Mbak Angel mana sih? Jam segini belum bangun?"
"Masih tidur, maklum ibu hamil. Tapi kalau Laras tidak kasih uang, kita makan apa? Masa baru tiga hari jadi istri Arga kita sudah menodong Angel? Laras memang kurang ajar. Sudah tidak mau masak, sekarang uang pun diputus." gerutu Bu Ajeng.
Arga keluar dengan penampilan yang agak kusut. Ia masih berharap Laras hanya marah sesaat.
"Mas, tunggu. Bagi duit dong, mobilku mati bensin." cegat Tiara.
"Ini baru tanggal berapa, Tiara? Uang bulanan dari Laras sudah habis?" tanya Arga heran.
"Uang apa? Mbak Laras bilang dia tidak akan memberi aku dan Ibu uang bulanan lagi."
Arga menghela napas panjang. Ia membuka dompet dan mengeluarkan dua lembar uang seratus ribu.
"Kok cuma 200 ribu? Ini cuma cukup buat bensin, Mas. Uang sakuku mana?" protes Tiara.
"Hanya ada segini. Kalau tidak mau, kembalikan." ucap Arga ketus.
Tiara terpaksa menyambarnya. Arga berangkat kerja dengan perut kosong dan pikiran yang mulai ruwet, sementara di dalam rumah, Angel masih tertidur lelap tanpa tahu badai apa yang sedang disiapkan Laras untuk mereka semua.
itung itung kamu sambil PDKT sama damar.
dan aku sangat yakin damar mau membeli itu tanah
tolonglah arga.
jangan biarkan ibu mertuamu memanfaatkan harta ayahnya arga.