"Jangan sentuh apa pun. Jangan duduk di sofa sebelum mandi. Dan singkirkan remah kerupuk itu dari jangkauan radar saya!" — Calvin Harvey Weinstein.
Nirbita Luminara Rein mengira hidupnya sudah berakhir saat orang tuanya pergi dan kakaknya, Varro, menyatakan mereka bangkrut. Tapi ternyata, penderitaan yang sesungguhnya baru dimulai saat ia "digadaikan" oleh kakaknya sendiri kepada Calvin—CEO jenius yang punya alergi akut pada segala sesuatu yang tidak rapi.
Bagi Calvin, Nirbi adalah sumber kuman berjalan. Bagi Nirbi, Calvin adalah kulkas dua pintu yang cerewetnya minta ampun. Namun, di balik semprotan disinfektan dan aturan ketatnya, Calvin menyimpan rahasia: Ia sudah jatuh cinta pada "si kuman kecil" ini sejak insiden pelukan salah sasaran di kampus dulu.
Bisakah rumah super steril Calvin bertahan dari badai keberantakan Nirbi? Atau justru hati Calvin yang akhirnya "terkontaminasi" cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Malam Pertama dan Operasi Sterilisasi
Kamar Presidential Suite itu sudah didekorasi dengan sangat romantis. Taburan kelopak mawar merah membentuk hati di atas ranjang, aroma lilin terapi yang menenangkan, dan cahaya lampu temaram yang seharusnya memicu suasana syahdu.
Namun, bagi Calvin Harvey Weinstein, kamar itu adalah medan perang kuman.
"Nirbita, jangan duduk di sofa itu dulu! Saya belum tahu kapan terakhir kali dry cleaning hotel ini dilakukan," seru Calvin sambil membuka koper besarnya.
Tidak ada jawaban. Calvin menoleh dan mendapati Nirbi sudah tidak ada di ruang tengah. Ia menghela napas, mengira istrinya sedang membersihkan diri.
Calvin kemudian mulai beraksi. Ia mengeluarkan sepasang sarung tangan latex dan botol semprotan disinfektan ukuran industri. Dengan gerakan cekatan, ia menyingkirkan semua kelopak mawar merah dari tempat tidur.
"Mawar ini... siapa yang tahu berapa banyak serangga yang hinggap saat di perkebunan? Dan serbuk sarinya bisa memicu alergi," gumam Calvin sambil membuang kelopak-kelopak malang itu ke tempat sampah plastik yang ia bawa sendiri.
Setelah ranjang bersih, Calvin mengeluarkan "senjata" utamanya: sprei sutra miliknya yang sudah didekontaminasi di laboratorium pribadinya dan divakum kedap udara. Ia mulai memasang sprei itu dengan presisi militer. Sudut-sudutnya harus 90 derajat sempurna. Tidak boleh ada lipatan. Tidak boleh ada debu.
Tiga puluh menit berlalu. Calvin sudah selesai menyulap ranjang hotel menjadi zona aman kuman. Ia bahkan sudah menyemprot gagang pintu, sakelar lampu, hingga remote TV dengan alkohol 70 persen.
"Nirbita? Kamu lama sekali di kamar mandi?" Calvin mengetuk pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
Hening.
"Nirbi? Kamu tidak pingsan karena aroma pembersih lantai hotel ini, kan?" Calvin mulai panik. Ia memutar knop pintu yang untungnya tidak dikunci.
Begitu pintu terbuka, Calvin membelalakkan matanya. Uap hangat masih tersisa di ruangan itu, memenuhi kaca rias. Dan di sana, di dalam bathtub mewah yang belum sempat diisi air, Nirbi tergeletak pasrah.
Nirbi masih memakai gaun pengantinnya yang mekar, namun bagian bahunya sudah melorot. Kepalanya bersandar nyaman di tepian porselen bathtub, dan sebuah dengkur halus keluar dari bibirnya yang sedikit terbuka.
"Nirbita!" Calvin menghampirinya. "Kenapa tidur di sini? Ini bukan tempat tidur, ini porselen dingin!"
Nirbi hanya menggeliat kecil, matanya tertutup rapat. "Nggh... bentar Ma... satu menit lagi... kasurnya dingin, enak..." gumamnya ngigo.
Calvin memijat pelipisnya. Ia sudah membayangkan malam pertama yang elegan, penuh percakapan mendalam, dan mungkin sedikit kontak fisik yang higienis. Tapi kenyataannya? Istrinya malah memilih jadi penghuni bak mandi.
"Nirbi, bangun. Saya sudah mengganti spreinya dengan yang sutra. Ayo pindah," Calvin mencoba mengangkat bahu Nirbi.
Nirbi justru menarik leher Calvin, membuat pria itu nyaris terjatuh ke dalam bathtub. "Kak Calvin... jangan berisik... aku capek banget... tamu Kakak banyak banget kayak kuman..."
Calvin terdiam. Ia menatap wajah lelah istrinya. Ia teringat betapa hebatnya Nirbi tadi, menyalami ratusan tamu tanpa mengeluh, menghadapi ayahnya yang galak dengan senyum, dan menenangkan Varro yang menangis bombay.
Perlahan, ego "steril" Calvin luruh. Ia melepas jasnya, lalu dengan hati-hati ia menggendong Nirbi keluar dari kamar mandi. Persetan dengan gaun Nirbi yang mungkin membawa debu dari aula pesta tadi. Calvin merebahkan Nirbi di atas sprei sutra mahalnya yang baru saja ia pasang dengan susah payah.
Nirbi langsung meringkuk nyaman di balik selimut. Calvin duduk di tepi ranjang, menatap istrinya dengan senyum tipis. Ia mengambil tisu basah antiseptik dan dengan sangat lembut menyeka sisa riasan di wajah Nirbi.
"Selamat tidur, kuman kecil saya," bisik Calvin. Ia kemudian mengecup kening Nirbi, lalu ikut berbaring di sampingnya—membiarkan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidur tanpa mandi terlebih dahulu karena tidak ingin mengganggu mimpi indah sang istri.
Pagi yang Mengejutkan
Keesokan paginya, Nirbi terbangun dan mendapati dirinya sudah di atas ranjang. Ia menoleh dan melihat Calvin sedang duduk di sampingnya sambil membaca koran, sudah rapi dan wangi.
"Eh? Aku kok di sini? Bukannya tadi malam aku lagi di kamar mandi ya?" Nirbi mengucek matanya.
Calvin melirik dari balik korannya. "Kamu tidur di bathtub seperti putri duyung yang terdampar. Dan karena kamu, sprei steril saya sekarang sudah terkontaminasi debu gaun pengantinmu."
Nirbi nyengir lebar, lalu menarik tangan Calvin dan mengecupnya. "Maaf ya, Pak Bos. Habisnya bathtub-nya adem sih. Terus... malam pertama kita gimana?"
Calvin menutup korannya, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Nirbi. "Malam pertamanya gagal total. Jadi, saya memutuskan untuk memperpanjang bulan madu kita di Amazon menjadi satu bulan. Tidak ada kamar mandi, tidak ada bathtub. Hanya ada saya, kamu, dan hutan."
"HAAH?! KAK CALVIN JANGAN BERCANDA!"
Tawa Calvin pecah, mengisi ruangan suite yang mewah itu. Ternyata, kebahagiaan sejati tidak butuh tempat yang steril, hanya butuh orang yang tepat untuk diajak berantakan bersama.
udah ngasih beban nitipin NOBITA eehh.. maksudku Nirbita...
nglunjak lagi..🤣🤣🤣🤣🤣
dari sahabat jadi musuh ini kah... bukan musuh dari awal.
Nirbita lucu banget ... ini bukan kembaran nya Nobita kan ??? /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
udah ini mah lucu lucu romantis gemes dan lebbayyy tapi aku suka