NovelToon NovelToon
My Lovely Uncle

My Lovely Uncle

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

Deskripsi

Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diantara lampu mall

Motor sport Axel melaju mulus meninggalkan area kampus.

Lara duduk di belakang, tangannya berpegangan pada bagian jaket Axel—tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk menjaga keseimbangan. Helm yang ia kenakan terasa sedikit kebesaran, membuat kepalanya tampak makin kecil.

Pemandangan itu tidak luput dari perhatian sekitar.

Beberapa mahasiswa menoleh.

Beberapa berhenti berjalan.

Beberapa langsung sibuk dengan ponsel.

Axel Smith, idola kampus, berboncengan dengan mahasiswi baru yang belakangan ini sering terlihat bersamanya.

Sementara itu, Lara sama sekali tidak menyadari apa pun.

Ponselnya berada di dalam tas—mode senyap sejak pagi. Fokusnya hanya pada jalanan dan angin sore yang menerpa wajahnya.

Sampai di mall, Axel memarkir motor dan melepas helm. Lara ikut melepas helmnya, rambutnya sedikit berantakan, tapi senyumnya cerah.

“Makasih ya,” katanya.

“Sama-sama,” jawab Axel. “Langsung ke toko favoritmu?”

Lara mengangguk antusias.

Begitu masuk ke toko fancy langganannya, aura Lara berubah drastis. Matanya berbinar. Langkahnya ringan. Tangannya sibuk menyentuh benda-benda lucu yang tertata rapi.

“Axel, lihat ini!”

“Yang ini lucu banget!”

“Eh… kalau ini kayaknya cocok buat meja belajarku.”

Axel hanya tertawa kecil, berdiri di sampingnya dengan sabar. Ia tidak merasa bosan. Justru sebaliknya—melihat Lara sebahagia itu membuatnya ikut tersenyum.

“Kamu nggak capek?” tanya Lara akhirnya.

“Nggak,” jawab Axel jujur. “Kamu lucu.”

Lara berhenti melangkah. Menoleh. “Hah?”

Axel baru sadar ucapannya keluar terlalu spontan. “Maksudku… tingkah kamu.”

“Oh.” Lara terkekeh.

Mereka berpindah dari satu rak ke rak lain. Axel dengan sabar membawakan keranjang, Lara sibuk memilih. Tidak ada jaim-jaimnya  Lara tetap Lara—ceria, polos, dan apa adanya.

Di tengah memilih gantungan kunci, Lara tiba-tiba teringat sesuatu.

“Eh,” gumamnya. “Aku harus ngabarin Paman Arka”

Ia merogoh tas dan mengambil ponselnya.

Begitu layar menyala, wajahnya langsung berubah.

Satu pesan.

Terkirim satu jam lalu.

Arka:

Sudah pulang?

Darah Lara seakan berhenti mengalir.

Astaga… mati aku, batinnya panik.

Ia cepat-cepat mengetik balasan.

Lara:

Maaf Paman 😭 Lara baru lihat. Lara masih di luar, nanti pulang agak telat.

Pesan terkirim.

Di tempat lain—

Arka yang sejak tadi duduk kaku di ruang kerjanya, langsung melirik ponsel begitu layar menyala.

Akhirnya.

Ia membaca pesan itu pelan, rahangnya mengeras sedikit sebelum membalas.

Arka:

Kamu di mana?

Lara menelan ludah. Ia mengetik dengan hati-hati.

Lara:

Di mall. Sama teman.

Arka membaca balasan itu. Kata teman membuat dadanya terasa tidak nyaman—tanpa alasan yang jelas.

Arka:

Teman siapa?

Lara terdiam beberapa detik. Jarinya melayang di atas layar.

Ia tidak tahu kenapa, tapi menyebut nama Axel terasa… tidak tepat. Bukan bohong, tapi juga bukan sepenuhnya jujur.

Lara:

Teman kampus.

Arka tidak langsung membalas. Tak lama, ponselnya bergetar lagi.

Arka:

Jangan pulang malam. Kabari kalau sudah selesai.

Lara menghela napas lega.

Lara:

Iya, Paman.

Ia menyimpan ponselnya kembali ke tas.

Axel menoleh. “Ada apa?”

“Ngabarin orang rumah,” jawab Lara singkat.

Axel mengangguk, tidak bertanya lebih jauh.

Mereka melanjutkan waktu di mall—minum, tertawa, berbagi cerita ringan. Semakin lama, jarak di antara mereka terasa semakin dekat. Bukan karena sentuhan, tapi karena kenyamanan.

Setelah puas berkeliling dan tangan Lara mulai penuh dengan kantong belanja kecil, mereka memutuskan untuk pulang.

Lampu basement mall memantul di lantai semen yang dingin. Suara langkah kaki dan mesin mobil bersahutan. Axel berjalan sedikit di depan Lara, sesekali menoleh memastikan Lara mengikutinya.

Namun langkah Axel tiba-tiba melambat.

Matanya terpaku pada satu sosok yang baru saja turun dari sebuah mobil hitam mengilap di ujung lorong parkir.

Axel langsung mengenalinya.

Papa.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Ia tahu betul, kalau sampai berpapasan—apalagi melihat Axel bersama seorang gadis—interogasi panjang akan terjadi. Axel tidak punya energi untuk itu. Tidak sekarang. Dan tidak di sini.

Tanpa sempat berpikir panjang—

Axel meraih lengan Lara.

“Hah—?”

Belum sempat Lara bereaksi, Axel sudah menariknya ke sisi lain, merapatkan mereka ke sudut di antara dua mobil yang terparkir.

Gerakannya cepat. Terlalu refleks.

Dan baru setelah itu Axel sadar—

Mereka terlalu dekat. Sangat dekat.

Lara membeku. Punggungnya menyentuh badan mobil, Axel berdiri tepat di depannya. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Ia bisa merasakan napas Axel. Bisa mencium aroma parfumnya yang samar bercampur bau khas basement.

Axel menelan ludah. Ini… terlalu dekat.

Wajah Lara memanas. Jantungnya berdegup keras sampai rasanya bisa terdengar.

“Axel…” suaranya nyaris berbisik. “Ada apa?”

Axel menoleh sedikit, memastikan ayahnya tidak melihat ke arah mereka. Setelah yakin sosok itu menjauh, ia baru kembali menatap Lara—dan baru sadar betapa dekat wajah mereka.

“Oh—” Axel langsung mundur selangkah. “Maaf. Refleks.”

Lara ikut menjauh, merapikan tasnya dengan gerakan canggung. “Kenapa tiba-tiba?”

Axel mengusap tengkuknya. “Itu… papa aku.”

“Oh,” Lara mengangguk pelan. “Terus?”

“Aku nggak pengin ketemu dia sekarang,” jawab Axel singkat. “Panjang urusannya.”

Nada suaranya terdengar jujur, tapi jelas menahan sesuatu.

Lara tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk, meski pipinya masih terasa hangat.

“Oh… iya. Paham.”

Sunyi kecil tercipta di antara mereka—sunyi yang aneh, tapi tidak sepenuhnya tidak nyaman.

“Maaf ya,” ujar Axel lagi. “Aku kaget.”

“Gapapa,” jawab Lara cepat. “Aku juga.”

Mereka saling melirik, lalu sama-sama tertawa kecil—tawa canggung yang berusaha mencairkan suasana.

“Yuk,” kata Axel akhirnya. “Ke motor.”

“Yuk.”

Mereka berjalan berdampingan lagi, jaraknya sedikit lebih renggang dari sebelumnya—tapi perasaan di antara mereka justru terasa lebih dekat.

Dan tanpa disadari Lara, detik itu akan menjadi salah satu momen yang sulit terlupakan.Terutama bagi Axel.

Motor Axel berhenti tepat di depan gedung apartemen.

Lampu-lampu kota mulai menyala, menandakan sore yang beranjak malam. Lara melepas helmnya, menarik napas pelan sebelum menoleh pada Axel.

“Sampai sini aja ya, Axel,” ucapnya.

Axel mengernyit ringan. “Kenapa? Aku bisa anterin sampai depan pintu.”

Lara menggeleng cepat. “Nggak usah. Aku dah telat, Kalau kelihatan dianter cowok, bisa panjang ceritanya.”

Dan aku belum siap mental, tambahnya dalam hati.

Axel tersenyum tipis, seolah paham. “Oke. Hati-hati ya.”

“Iya. Makasih buat hari ini.”

Axel mengangguk, lalu memutar motornya dan pergi, meninggalkan Lara yang berdiri sejenak menatap punggungnya menjauh.

Lara menarik napas panjang.

Oke, Lara. Hadapi kenyataan.

Begitu pintu apartemen terbuka, hawa dingin langsung menyambutnya.

Arka berdiri di ruang tengah, kemeja kerjanya masih rapi, jam tangan masih melingkar di pergelangan. Tangannya terlipat di dada. Wajahnya datar—terlalu datar untuk ukuran orang yang jelas sedang menahan sesuatu.

“Kamu pulang jam berapa seharusnya?” tanya Arka.

Nada suaranya tenang. Terlalu tenang.

Lara menelan ludah. “Nggak tau… sore?”

Arka menatap jam di pergelangannya. “Sekarang hampir jam 7.”

Lara menghela napas. “Aku kan sudah bilang mau ke mall.”

“Dengan siapa?”

Nah. Itu dia.

Lara mengangkat dagunya sedikit, refleks defensif yang bahkan tidak ia sadari. “Teman.”

“Teman siapa?”

“Teman kampus.”

Arka diam sejenak. Tatapannya menajam. “Cowok?”

Lara mengernyit. “Paman, memangnya kenapa kalau aku berteman sama anak cowok?”

Nada suaranya spontan. Jujur. Sedikit kesal.

“Aku bukan anak kecil lagi. Aku sudah dewasa. Aku bisa nentuin aku berteman sama siapa.”

Kalimat itu jatuh seperti percikan api.

Arka menarik napas dalam-dalam. Rahangnya mengeras.

“Kamu tinggal di bawah pengawasanku, Lara,” ucapnya rendah. “Kamu tanggung jawabku.”

“Aku nggak minta diawasi kayak tahanan,” balas Lara cepat.

“Aku cuma mau tahu kamu dengan siapa.”

“Kenapa harus tau semuanya?”

Karena aku khawatir. Tapi Arka tidak mengucapkan itu.

“Karena aku pamanmu,” katanya akhirnya. Tegas.Dan dingin.

Dan entah kenapa, itu justru membuat Lara semakin kesal.

“Aku nggak ngapa-ngapain yang aneh,” ujarnya. “Aku cuma berteman.”

Hening menggantung di antara mereka.

Arka memalingkan wajah, menekan pelipisnya sebentar. Ada konflik jelas di sana—antara logika, rasa tanggung jawab, dan sesuatu yang bahkan ia sendiri belum sepenuhnya pahami.

“Lain kali kabari,” katanya akhirnya. “Aku bukan marah karena kamu berteman. Aku marah karena aku nggak tahu kamu di mana dan ngapain."

Lara terdiam.

“Oh.”

Satu kata. Tapi cukup untuk sedikit meredakan panas di dadanya.

“Aku lelah,” lanjut Arka. “Kamu Istirahatlah.”

Arka berjalan menuju kamarnya tanpa menoleh lagi.

Lara berdiri sendiri di ruang tengah, menggigit bibir. Kenapa rasanya… ribet banget ya?

Ia tidak tahu mana yang lebih mengganggunya—nada dingin Arka, atau kenyataan bahwa pamannya itu jelas peduli lebih dari yang ingin ia akui.

Dan di kamar lain, Arka menutup pintunya dengan pelan, menyandarkan punggungnya ke sana.

Arka hanya ingin memastikan keamanan Lara. Tapi entah sejak kapan, itu terasa lebih rumit dari sekadar tanggung jawab seorang paman.

Lara masuk ke kamarnya dan menutup pintu pelan, lalu bersandar di sana.

Dadanya naik turun.

Entah kenapa kalimat Arka tadi terus berputar di kepalanya.

“Karena aku pamanmu” Lara mendengus kecil. Kenapa sih harus diulang-ulang?

Ia melangkah ke kasur, menjatuhkan tubuhnya, menatap langit-langit dengan kesal. Ada rasa tidak nyaman yang menjalar pelan di dadanya—bukan karena dimarahi, tapi karena cara Arka menempatkan dirinya.

Sebagai paman. Sebagai pengawas. Sebagai pengganti ayah.

Dan Lara… membencinya.

Ia tidak butuh figur ayah baru.

Ia tidak ingin dikurung oleh perhatian yang terlalu ketat, terlalu dingin, terlalu terasa seperti kewajiban.

Aku cuma ingin diperlakukan normal, gumamnya dalam hati.

Bukan sebagai ponakan kecil yang harus dilindungi dari dunia.

Justru itu yang membuatnya kesal.

Perhatian Arka terasa berat. Mengikat. Seolah setiap langkahnya harus punya izin.

Padahal Lara sudah tumbuh.

Sudah bisa memilih.

Sudah bisa jatuh, bangkit, dan belajar sendiri.

Dan anehnya—yang paling membuatnya kesal—bukan marahnya Arka. Melainkan kenyataan bahwa ia peduli.

Di sisi lain apartemen, Arka berdiri di depan jendela ruang kerjanya.

Lampu kota Jakarta berpendar di kejauhan, tapi pikirannya jauh lebih gelap dari malam di luar sana.

Ia memijat tengkuknya, menarik napas panjang.

Kenapa reaksi Lara barusan menusuknya lebih dalam dari yang ia duga?

Ia mencoba menenangkan diri, mengingatkan logika.

Aku pamannya.

Aku cuma khawatir.

Tapi pikirannya membantahnya sendiri.

Kalau memang hanya khawatir, kenapa dadanya terasa sesak saat Lara berkata ia sudah dewasa?

Kenapa ada rasa panas aneh ketika membayangkan Lara dekat dengan pria lain?

Arka menutup mata. Ia tidak tahu pasti jawabannya.

Apakah kepeduliannya pada Lara benar-benar murni—sekadar paman yang takut keponakannya salah langkah?

Atau…

ia hanya tidak siap jika Lara menemukan dunia barunya sendiri.

Dunia tempat Arka tidak lagi dibutuhkan.

Tidak lagi ditunggu.

Tidak lagi jadi pusat perhatiannya.

Dan pikiran itu—

entah kenapa—terasa jauh lebih menakutkan.

1
Sia Zara
Thank you🙏
Retno ataramel
vote berhasil mendarat untuk kakak author
anggita
lewat ng👍like aja. iklan☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!