"Aku bukan sekadar asistennya, aku adalah pelarian dari melodi sunyi yang ia ciptakan sendiri."
Ghava Dirgantara adalah produser musik jenius yang memiliki segalanya: kekayaan, bakat, dan visual menawan. Namun, di balik kesuksesannya, ia adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan sang mantan kekasih di panggung penghargaan tiga tahun lalu membuatnya berubah menjadi sosok dingin yang dijuluki "Kulkas Antartika". Baginya, cinta hanyalah sampah yang merusak frekuensi musiknya.
Hingga muncul Nadine, asisten baru yang ceroboh namun memiliki telinga musik yang tajam. Nadine datang bukan dengan cinta, melainkan dengan luka yang sama dalamnya—ditinggalkan oleh tunangannya tepat sehari sebelum pernikahan.
Awalnya, hubungan mereka hanya sebatas bos galak dan asisten yang tertindas. Mulai dari hukuman membersihkan studio hingga insiden "sambal maut" yang membuat Nadine harus dilarikan ke rumah sakit. Namun, suasana berubah saat masa lalu mereka kembali mengetuk pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA RUANG KOSONG YANG SALING MENGHUNI
Taksi yang membawa Nana berhenti tepat di depan gerbang perumahan elit tempat Ghava tinggal. Suasananya jauh berbeda dari kantor produksi; di sini lebih tenang, namun ketat. Beberapa motor yang dicurigai sebagai wartawan tampak terparkir di luar gerbang, mencoba mencari celah untuk masuk.
Seorang satpam dengan wajah siaga segera menghampiri jendela taksi Nana. "Maaf Mbak, untuk sementara tamu yang menuju blok C dilarang masuk kalau tidak ada izin pemilik rumah," ucap satpam itu tegas.
"Pak, saya mau menemui Mas Ghava. Saya asistennya, Nana," ucap Nana dengan nada mendesak, matanya menyiratkan kecemasan yang mendalam.
Mendengar nama "Nana", raut wajah satpam itu seketika melunak. Ia tampak teringat sesuatu. "Oh, Mbak Nana? Sebentar..." Satpam itu melihat catatannya. "Mas Ghava tadi pagi sempat telepon ke pos, katanya kalau ada perempuan bernama Nana datang, langsung disuruh masuk saja. Mari Mbak, silakan."
Nana tertegun. Di tengah kekacauan dan keputusasaan yang melanda dirinya, Ghava ternyata masih menyisakan satu celah kecil di barikade pertahanannya—hanya untuknya.
Setelah melewati gerbang, Nana segera turun di depan rumah bernomor C-12. Rumah itu tampak sunyi, semua gorden tertutup rapat. Nana menarik napas panjang, mengeluarkan kunci cadangan yang diberikan Mas Rian, dan membuka pintu utama dengan tangan yang bergetar.
"Mas... Mas Ghava?" panggil Nana pelan saat memasuki ruang tamu yang gelap gulita.
Tidak ada jawaban. Namun, dari arah lantai dua, terdengar suara benturan benda tumpul yang menghantam lantai, disusul suara napas yang memburu. Nana segera berlari menaiki tangga. Di ujung lorong, sebuah pintu kayu yang biasanya selalu terkunci rapat kini terbuka sedikit.
Nana mendorong pintu itu perlahan. Bau debu dan cat yang sudah lama mengering langsung menyergap indranya. Ruangan itu bernuansa biru langit yang lembut, dengan sebuah box bayi kayu yang masih terbungkus plastik tipis di sudut ruangan.
Di tengah ruangan, Ghava sedang duduk bersimpuh di lantai. Di tangannya ada sebuah bingkai foto yang pecah—mungkin itu adalah foto hasil USG tiga tahun lalu. Nafasnya pendek-pendek, dan bahunya yang tegap itu kini tampak berguncang hebat.
"Mas Ghava..." bisik Nana, air matanya jatuh melihat pemandangan yang begitu menghancurkan itu.
Ghava mendongak. Matanya merah, bukan hanya karena marah, tapi karena rasa sakit yang sudah mencapai puncaknya. "Saya sudah kunci pintunya, Na... kenapa kamu masih datang? Kamu mau liat betapa bodohnya saya karena pernah berharap punya keluarga sama perempuan itu?"
Nana melangkah mendekat, mengabaikan serpihan kaca yang berserakan di sekitar kaki Ghava. Ia tidak memeluknya, karena ia tahu Ghava sedang dalam mode defensif yang sangat kuat. Nana justru berlutut di hadapan pria itu, tepat di atas lantai marmer yang dingin, lalu mulai memunguti potongan foto yang hancur itu dengan tangan kosong.
"Mas bilang saya datang buat lihat kebodohan Mas?" ucap Nana lirih tanpa mendongak. "Bukan. Saya datang karena saya tahu rasanya punya 'ruang kosong' yang dipaksa hancur sebelum sempat diisi."
Gerakan tangan Ghava terhenti. Ia menatap Nana dengan tatapan kosong.
"Mas Ghava nggak bodoh karena pernah berharap. Mas cuma tulus, dan dunia memang kadang nggak adil buat orang tulus," lanjut Nana. Ia mengambil potongan foto USG yang dikirim Selya semalam dan merobeknya menjadi serpihan kecil di depan mata Ghava. "Kamar ini... bukan bukti kebodohan Mas. Ini bukti kalau Mas punya hati yang besar. Dan Selya nggak pantas dapat sedikit pun dari hati itu lagi."
Nana menatap Ghava lurus-lurus, matanya basah namun suaranya tegas. "Di bawah sana ada wartawan yang mau hancurin karier Mas pakai fitnah ini. Mbak Yane, Reka, Mas Rian... mereka semua nunggu Mas. Tapi yang paling penting, saya di sini, Mas. Saya nggak akan percaya satu kata pun yang keluar dari mulut perempuan itu."
Ghava terdiam lama, matanya terpaku pada tangan Nana yang sedikit tergores ujung kaca bingkai. Keheningan di dalam rumah mewah itu terasa mencekam sampai akhirnya Ghava bersuara, suaranya sangat serak.
"Tangan kamu berdarah, Na," bisiknya. Ia meraih tangan Nana, mencengkeramnya pelan seolah takut gadis itu juga akan menghilang seperti harapannya yang dulu. "Kenapa kamu sejauh ini buat saya? Saya ini cuma 'ruang kosong' yang berantakan."
"Karena saya juga ruang kosong, Mas. Dan mungkin... dua ruang kosong bisa saling menemani supaya nggak terlalu sunyi," jawab Nana lembut
Melihat pria setegar Ghava hancur berkeping-keping di depannya, pertahanan Nana runtuh sepenuhnya. Suasana di dalam kamar bayi yang tak pernah terisi itu terasa begitu menyesakkan.
"Saya sayang bayinya, Na..." suara Ghava pecah, tersedak oleh tangis yang selama tiga tahun ini ia pendam sendirian. "Bahkan dia bilang ke media kalau dia aborsi karena saya paksa. Padahal saya sudah siapkan semuanya... saya sudah sayang sekali sama calon bayi itu, bahkan sebelum saya tahu siapa ayahnya."
Ghava menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya, bahunya berguncang hebat. Ini bukan lagi soal reputasi atau karier yang terancam di Jakarta, ini adalah tentang seorang pria yang kehilangan haknya untuk berduka hanya karena ia dikhianati secara keji.
"Saya sedih karena itu bukan anak saya, Na... tapi saya lebih sedih lagi karena dia pakai nyawa bayi itu buat menghancurkan saya lagi sekarang," isaknya parau.
Nana tidak bisa lagi menahan dirinya. Ia mendekat, duduk di lantai yang dingin itu dan membawa kepala Ghava ke dalam dekapannya. Ia mengusap punggung Ghava dengan lembut, membiarkan pria itu menumpahkan seluruh rasa sakit yang selama ini ia bungkus dengan sikap dingin dan perfeksionis.
"Nangis saja, Mas... keluarkan semuanya," bisik Nana sambil ikut menangis. "Mas Ghava bukan orang jahat. Mas itu orang yang terlalu baik sampai-sampai nggak tega buat membenci bayi yang bahkan bukan darah daging Mas sendiri. Itu bukan kelemahan, Mas... itu kemuliaan hati Mas."
Di kamar bernuansa biru langit itu, di tengah perumahan elit yang megah namun terasa sepi, dua orang yang sama-sama memiliki "ruang kosong" itu saling menguatkan. Nana menyadari bahwa luka Ghava jauh lebih dalam dari sekadar masalah asmara; itu adalah luka tentang kehilangan harapan dan kasih sayang yang tulus.
"Mas nggak sendirian lagi sekarang," ucap Nana tegas di tengah isak tangisnya. "Selya boleh ambil semua lagu Mas, dia boleh ambil nama baik Mas di depan publik, tapi dia nggak akan pernah bisa ambil kebenaran kalau Mas adalah pria paling bertanggung jawab yang pernah saya kenal."
Ghava perlahan mulai tenang, meski napasnya masih tersengal. Kehadiran Nana yang begitu hangat di sisinya membuat udara yang tadinya terasa mencekam perlahan-lahan mulai bisa ia hirup kembali.
Nana mengambil kotak P3K yang terletak di sudut ruangan, lalu kembali duduk bersimpuh di samping Ghava. Dengan gerakan yang sangat lembut, ia meraih tangan Ghava yang lecet karena menghantam bingkai foto tadi.
"Aku bakal tunggu sampai Mas siap," ucap Nana pelan namun penuh penekanan. Ia mulai membersihkan luka di tangan Ghava dengan kapas alkohol. "Bukan cuma siap buat ngadepin Selya atau media, tapi siap buat percaya kalau Mas berhak bahagia lagi."
Ghava hanya terdiam, matanya yang sembap menatap lekat-lekat wajah Nana yang begitu fokus mengobati tangannya. Di tengah kekacauan hidupnya yang sedang diacak-acak oleh fitnah keji di seluruh Jakarta, sentuhan tangan Nana terasa seperti satu-satunya hal yang nyata dan tulus.
"Kenapa kamu nggak takut sama saya, Na?" tanya Ghava pelan, suaranya masih sangat serak. "Di luar sana, orang-orang mungkin sudah mulai bikin headline kalau saya ini monster."
Nana menghentikan kegiatannya sejenak, menatap mata Ghava. "Karena monster nggak akan nangis di kamar bayi yang dia siapkan dengan kasih sayang, Mas. Monster nggak akan punya hati yang hancur karena peduli pada nyawa yang bukan darah dagingnya."
Nana menempelkan plester pada luka terakhir di buku jari Ghava. Setelah selesai, ia tidak langsung melepas tangan pria itu. Ia menggenggamnya erat, seolah menyalurkan seluruh keberanian yang ia miliki.
"Mas istirahat dulu sebentar. Biar aku yang telepon Mbak Yane dan Mas Rian. Kita nggak akan biarkan Selya menang kali ini," tegas Nana.
Ghava menarik napas panjang, lalu perlahan ia menyandarkan kepalanya di bahu Nana. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, beban yang ia pikul di pundaknya terasa sedikit lebih ringan. Di rumah mewah yang selama ini ia anggap sebagai penjara kenangan pahit, kehadiran Nana membawa cahaya baru yang mulai mengusir kegelapan.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰