NovelToon NovelToon
CINTA DI ANTARA DUA SAF

CINTA DI ANTARA DUA SAF

Status: sedang berlangsung
Genre:Karir / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Velyqor

Pulang bukan berarti kalah, tapi cara semesta memintamu membenahi arah.
Bayu kembali ke desa dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur. Kegagalan bisnis di Jakarta tidak hanya merampas hartanya, tapi juga keyakinannya pada diri sendiri. Di tengah syahdu aroma Ramadan, ia bertemu kembali dengan Nayla, teman masa kecilnya yang kini menjadi jantung bagi sebuah panti asuhan sederhana.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali justru menjadi duri. Ada Fahmi, sahabat mereka yang kini sukses dan mapan, berdiri di barisan depan untuk melindungi Nayla. Di hadapan kebaikan Fahmi yang tanpa cela, Bayu merasa kerdil. Ia terjepit di antara rasa minder yang menyesakkan dan ambisi untuk bangkit kembali.
Ketika sebuah tragedi kebakaran melanda panti dan mengancam nyawa Nayla, Bayu dipaksa memilih, terus bersembunyi di balik bayang-bayang kegagalannya, atau berdiri tegak sebagai pelindung yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Langkah Menuju Dapur

Bayu menarik napas panjang, berusaha meredam gemuruh di dadanya setelah mendengar isak tangis Nayla yang begitu menyayat hati. Ia perlahan berdiri tegak setelah memastikan lantai keramik yang retak itu benar-benar bersih dan kering dari sisa tumpahan air.

Nampan kayu yang lembap itu ia angkat dengan hati-hati, sementara gelas-gelas kosong yang tadi terguling ia tata kembali di atasnya. Bayu tidak ingin membiarkan keheningan yang menyesakkan ini terus mencekik mereka di teras samping yang terbuka tersebut.

"Udah, Nay. Nggak apa-apa. Kamu jangan nangis lagi, nanti anak-anak di dalam dengar," ucap Bayu dengan nada suara yang diusahakan selembut mungkin untuk menenangkan.

Bayu mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur panti asuhan yang terletak di bagian belakang bangunan tua yang nampak semakin rapuh dimakan usia. Nayla tidak menjawab, ia hanya mengikuti dari belakang dengan langkah kaki yang sangat pelan, seolah seluruh tenaganya telah habis terkuras oleh tangisan tadi.

Suasana lorong menuju dapur terasa sangat sunyi, hanya diterangi oleh lampu bohlam kuning yang cahayanya mulai meredup dan berkedip-kedip di beberapa titik. Bayu bisa merasakan kehadiran Nayla di belakangnya, merasakan aura kesedihan yang masih begitu kental menyelimuti wanita yang dulu selalu nampak ceria itu.

"Aku bawa ini ke belakang ya, sekalian mau cari minum," ujar Bayu tanpa menoleh, mencoba memecah kesunyian yang kembali merayap di antara mereka.

Nayla hanya bergumam lirih, sebuah jawaban yang hampir tidak terdengar namun cukup untuk memberi tahu Bayu bahwa ia masih berada di sana. Sesampainya di dapur, Bayu segera meletakkan nampan kayu itu di atas meja makan yang permukaannya sudah mulai mengelupas di sana-sini.

Dapur panti itu nampak begitu sederhana, dengan perabotan yang sudah terlihat sangat tua namun tetap tertata dengan cukup rapi oleh tangan-tangan pengurus. Namun, pandangan Bayu segera tertuju pada tumpukan piring kotor yang menggunung di dalam bak cuci piring dari aluminium yang sudah kusam.

"Banyak banget cuciannya, Nay. Pengurus yang lain pada ke mana?" tanya Bayu sembari melangkah mendekati bak cuci piring tersebut.

Nayla berdiri di dekat meja makan kayu, ia kembali meremas jemarinya sendiri dengan gerakan yang gelisah dan tidak menentu. "Lagi pada nemenin Haikal di kamar perawatan darurat, Bay. Tadi sore memang belum sempat diberesin karena semua lagi panik."

Bayu terdiam sejenak, menatap tumpukan piring itu sebagai sebuah tugas kecil yang setidaknya bisa ia selesaikan untuk meringankan beban Nayla malam ini. Ia menyingsingkan lengan kemejanya yang lusuh, lalu menyalakan keran air yang segera mengeluarkan bunyi mendesis keras karena adanya udara yang menyumbat pipa.

Air keluar dengan debit yang sangat kecil dan berwarna sedikit keruh, pertanda bahwa pompa air panti ini mungkin sudah perlu diperbaiki atau diservis. Bayu tidak mengeluh, ia justru mulai mengambil piring satu per satu dan membasahinya dengan aliran air yang nampak enggan keluar tersebut.

"Kamu duduk aja dulu, istirahat, Nay" kata Bayu sembari meraih spons cuci piring yang sudah mulai menipis permukaannya.

Nayla nampak ragu, ia melangkah maju sedikit seolah ingin mengambil alih pekerjaan tersebut dari tangan Bayu yang kini sudah mulai berbusa. "Eh, jangan, Bay. Kamu itu tamu, masa malah cuci piring panti. Sini biar aku aja yang terusin."

Bayu menggelengkan kepalanya dengan tegas, ia terus menyabuni piring dengan gerakan yang sangat teratur dan telaten, seolah sedang melakukan ritual meditasi. "Aku bukan tamu, Nay. Kita kan temen. Udah, kamu tenang aja di situ."

"Tapi tangan kamu ... kamu kan biasa pegang laptop mahal di Jakarta, masa sekarang pegang sabun cuci piring reot begini," suara Nayla terdengar sedikit bergetar, antara sungkan dan haru.

Bayu tertawa kecil, sebuah tawa getir yang lebih menyerupai sebuah keluhan atas masa lalunya yang kini nampak begitu jauh dan tidak nyata. "Nay, aku di rumah, meski jarang, juga suka bantu ibuku cuci piring, kok."

Nayla akhirnya mengalah, ia duduk di kursi kayu dekat meja makan, namun pandangannya tetap tertuju pada punggung Bayu yang nampak kokoh di depan bak cuci piring. Bayu fokus pada busa sabun yang menutupi tangannya dan suara gesekan spons yang berirama pada permukaan piring-piring plastik dan keramik.

“Nay, mungkin aku nggak bisa bantu banyak. Tapi, aku akan usaha sebisaku buat bantuin kamu sama panti,” kata Bayu tiba-tiba sambil fokus terhadap tumpukan piring kotor.

Nayla yang tertunduk, mengangkat wajah, dia menatap Bayu tidak percaya. Ada binar kelegaan, meski belum terealisasi, mendengar kalimat Bayu. Seolah beban di pundaknya terangkat setengah hingga ia bisa sedikit bernapas.

Bayu kembali melanjutkan aktivitas mencucinya, ia menggosok sebuah gelas kaca dengan teliti agar tidak ada noda lemak yang tertinggal di permukaannya. "Gugatan lahan kayak gini biasanya nggak cuma soal pajak, Nay. Pasti ada pihak yang pengen ambil untung dari tanah panti ini karena lokasinya yang strategis dekat jalan desa."

Nayla terdiam, ia nampak mencerna kata-kata Bayu yang baru saja membuka sebuah sudut pandang baru yang belum pernah terpikirkan olehnya selama ini. "Selama ini aku cuma mikir gimana caranya dapet uang pelunasan, aku nggak pernah mikir kalau ada orang yang sengaja nyari gara-gara."

"Itulah masalahnya. Orang tulus kayak kamu sama Fahmi seringnya cuma liat masalah di permukaan, nggak liat ular yang lagi sembunyi di balik semak," ujar Bayu dengan nada yang sedikit tajam.

Bayu teringat kembali pada pesan Rian di ponselnya, sebuah panggilan dari dunia gelap yang baru saja ia tolak mentah-mentah demi sebuah prinsip yang masih ia pegang teguh. Ia menyadari bahwa kekuatannya bukan pada uang, melainkan pada kemampuannya membaca situasi dan data, sesuatu yang selama ini ia gunakan untuk keserakahan, kini harus ia gunakan untuk kebenaran.

"Aku bakal cari tahu siapa yang tanda tangan di surat peringatan itu, aku bakal lacak siapa yang sebenernya punya kepentingan atas tanah ini," janji Bayu sembari membilas piring yang sudah bersih.

Nayla menatap Bayu dengan tatapan yang nampak penuh dengan harapan baru, seolah-olah beban yang tadinya terasa mustahil dipikul kini mulai terasa sedikit lebih ringan. "Makasih, Bay. Aku bener-bener nggak tahu harus gimana kalau nggak ada kamu yang kebetulan lewat malam ini."

‘Mungkin ini emang alasan kenapa aku harus bangkrut dan balik ke sini, Nay. Mungkin buat jadi tameng buat kalian di saat aku sendiri lagi hancur,’ batin Bayu sembari menaruh piring ke rak pengering.

Suasana dapur kembali menjadi sedikit lebih hangat, meski udara malam tetap merembes masuk melalui celah-celah jendela kayu yang tidak tertutup dengan rapat.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..

‎🥰🥰🥰
Hary Nengsih
baru baca kayanya bagus nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!