NovelToon NovelToon
Royal Route To Bukit Lawang

Royal Route To Bukit Lawang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / TimeTravel / Komedi / Cinta Murni / Mengubah Takdir
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ranu Kallanie Jingga

Enam tahun pengabdian dan cinta jarak jauh (LDR) berakhir sia-sia bagi Aurora. Ia didepak begitu saja lewat pesan singkat, diblokir dari seluruh aspek kehidupan sang mantan, dan digantikan oleh sosok "penjual kesedihan" yang ahli memanipulasi simpati. Luka itu dibawa pulang ke Medan, terkubur di balik kesuksesan yang ia bangun dalam diam.
​Tiga tahun berlalu, ego sang mantan akhirnya runtuh. Di bawah tekanan kebutuhan penelitian S3 ibunya di pedalaman Bukit Lawang yang keras dan rawan, ia terpaksa menelan ludah sendiri (mengubungi kembali nomor yg dulu ia blokir). Ia mengharapkan bantuan, mungkin sedikit rasa iba.
​Namun, yg ia temukan bukanlah mantan kekasih yg meratapi nasib.
​Aurora menerima permintaan itu dengan senyum paling tenang. Bukan dengan amarah, ia menyambut mereka dengan kemewahan yg tak pernah mereka bayangkan. Sebuah Hiace VVIP dengan kursi pijat elektrik menanti di bandara, dikawal oleh sahabat2 loyal dan seorang fotografer yg siap mengabadikan penyesalan sang mantan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Ke 1 di Hutan

Ayah Adrian menghela napas panjang, asap tipis keluar dari sela bibirnya saat ia menatap bara api yang memerah.

Suasana hutan yang sunyi, hanya diiringi suara jangkrik dan gemericik air jauh di bawah sana, membuat setiap kata yang terucap terasa jauh lebih berat.

"Adrian," panggil Ayahnya tanpa menoleh.

"Lihat api itu. Kalau kamu kasih kayu yang benar, dia kasih kehangatan. Tapi kalau kamu kasih sampah, dia cuma kasih asap yang bikin mata perih dan bau busuk yang nempel di baju."

Adrian hanya menunduk, memainkan ranting kayu di tangannya.

"Iya, Yah."

"Kamu itu pintar, Adrian. Dalam bisnis, kamu jago melihat peluang. Tapi dalam hidup, kamu buta," lanjut Ayahnya, kali ini menatap tajam ke arah anaknya.

"Ayah sudah diam selama ini, mencoba menghargai pilihanmu. Tapi kejadian hari ini... melihat ibumu sampai harus mengangkat tangan pada perempuan itu, dan melihat Aurora hampir kehilangan nyawa karena ulah pacarmu... itu membuktikan kalau kamu sudah melakukan kesalahan fatal."

Adrian menelan ludah, tenggorokannya terasa kering.

"Aku cuma mau bertanggung jawab, Yah. Sherly bilang dia nggak punya siapa-siapa lagi setelah..."

"Tanggung jawab bukan berarti mengorbankan martabat keluargamu, Adrian!"

potong Ayahnya dengan nada rendah namun penuh penekanan.

"Laki-laki itu dinilai dari siapa wanita di sampingnya. Aurora... dia itu seperti hutan ini. Megah, tenang, tapi punya kekuatan untuk menjaga kita semua. Sedangkan Sherly? Dia cuma benalu yang dibungkus kata-kata manis. Kamu lihat sendiri tadi, di saat kita butuh kekuatan, dia cuma kasih drama dan fitnah."

Ayah Adrian berhenti sejenak, lalu suaranya melunak.

"Ayah tidak melarangmu untuk tidak bersama Aurora lagi jika memang hatimu sudah mati. Tapi memilih Sherly sebagai penggantinya adalah penghinaan bagi seleramu sendiri. Kamu menukar berlian dengan kerikil yang dicat emas. Dan sekarang, emasnya luntur, yang tersisa cuma kerikil yang bikin kakimu sakit."

Adrian memejamkan mata, teringat bagaimana kejantannnya mati total saat bersama Sherly di kamar tadi—sebuah tanda biologis bahwa jiwanya sendiri sudah menolak wanita itu.

"Apa yang harus aku lakukan, Yah? Aku sudah sejauh ini sama Sherly," bisik Adrian lirish.

"Belum terlambat untuk membuang racun, Adrian. Masa depanmu masih panjang. Kamu mau memimpin perusahaan dengan wanita seperti itu di sampingmu? Yang hanya bisa mengadu domba dan menjual air mata palsu? Pikirkan lagi,"

Ayahnya menepuk pundak Adrian dengan keras.

"Tunjukkan kalau kamu punya darah ayahmu. Jangan jadi pengecut yang takut memutus rantai yang cuma bikin kamu karatan."

Adrian terdiam membisu. Kata-kata Ayahnya meruntuhkan sisa-sisa pembelaannya terhadap Sherly.

Di bawah langit Bukit Lawang yang bertabur bintang, Adrian mulai menyadari bahwa ia tidak hanya kehilangan Aurora, tapi ia hampir kehilangan dirinya sendiri karena wanita yang ia pikir adalah pelabuhan, padahal sebenarnya adalah badai.

Di sudut lain hutan rombongan kecil itu bergerak menembus kegelapan hutan yang kini terasa seperti galeri seni alam yang luar biasa.

Di bawah cahaya senter yang temaram, Rian memandu mereka dengan langkah yang sangat hati-hati, memastikan tak ada satu pun akar atau dahan yang rusak akibat langkah kaki mereka.

"Lihat itu, bu!" bisik Aurora sambil menunjuk ke arah sebuah batang pohon besar yang tumbang dan ditumbuhi lumut tebal.

Di sana, di antara sela-sela kayu yang membusuk, tumbuh beberapa kuntum anggrek hutan langka yang perlahan mulai membuka kelopaknya.

Warnanya putih susu dengan corak ungu gelap di tengahnya, mengeluarkan aroma harum yang sangat kuat—seperti perpaduan vanila dan kayu cendana yang menenangkan.

Ibu Adrian sampai menutup mulutnya karena takjub.

"Ya Tuhan... ini Dendrobium yang sangat langka! Saya hanya pernah melihatnya di buku referensi tua, dan sekarang saya melihatnya mekar tepat di depan mata saya."

Dengan sangat cermat, Ibu Adrian mengeluarkan buku catatan kecilnya. Beliau menghitung ritme mekarnya kelopak bunga itu, mencatat setiap detail perubahan warna dan aroma.

Tangannya bergetar karena antusias, seolah semua rasa lelah perjalanan tadi terbayar lunas dalam satu jam ini.

Sementara itu, Rico sedang dalam dunianya sendiri.

"Aduh, ini estetik banget! Siska, pegang senternya agak ke kiri dikit, ya, biar lighting-nya dapet!"

Rico tak henti-hentinya mengabadikan momen itu, baik lewat foto makro yang detail maupun video sinematik.

Ia bahkan sempat melakukan selfie dengan latar belakang bunga itu sambil tetap menjaga jarak agar tidak merusaknya.

"Sstt... semuanya, diam di tempat," bisik Rian tiba-tiba sambil mematikan senternya.

Semuanya mematung.

Tak lama kemudian, dari balik rimbunnya semak belukar, muncul sepasang mata yang memantulkan cahaya.

Seekor induk kukang perlahan merayap di dahan pohon, menggendong anaknya yang masih kecil di punggung. Sang anak memeluk erat bulu ibunya, sementara sang induk dengan sangat teliti memetik buah hutan untuk dimakan.

Siska meneteskan air mata melihat pemandangan itu.

"Indah banget, Kak Aurora... rasanya seperti melihat sisi lain dunia yang sangat damai."

Aurora tersenyum, merangkul pundak Siska.

"Inilah alasan kenapa saya memilih tinggal di sini, Sis. Di sini, alam nggak pernah bohong soal kasih sayang."

Ibu Adrian menatap Aurora dari samping. Ia melihat bagaimana Aurora menjelaskan setiap detail satwa itu kepada Siska dengan penuh cinta.

Dalam hati, Ibu Adrian membatin, Betapa bodohnya kami dulu yang menganggap wanita secerdas dan selembut ini tidak cukup baik untuk keluarga kami.

Satu jam berlalu seolah hanya beberapa menit.

Meskipun sangat enggan untuk pergi, mereka harus menepati janji kepada Ayah Adrian.

Dengan hati yang penuh dengan rasa syukur dan kekaguman, rombongan itu perlahan mulai berbalik arah menuju perkemahan, membawa memori dan data penelitian yang tak ternilai harganya.

Rombongan kecil itu kembali ke area perkemahan dengan wajah-wajah yang berseri. Cahaya senter mereka menari-nari di antara pepohonan sebelum akhirnya menyorot ke arah api unggun yang masih terjaga. Di sana, Adrian dan Ayahnya duduk berdampingan dalam keheningan yang terasa sangat berbeda dari sebelumnya.

Begitu sampai, Ibu Adrian tidak bisa lagi menahan ledakan antusiasmenya. Beliau langsung menghampiri suaminya dengan langkah cepat.

"Pa! Kamu tidak akan percaya apa yang baru saja kami lihat!" seru Ibu Adrian dengan mata yang berbinar-binar seperti anak kecil.

"Anggrek yang selama ini hanya jadi mitos di jurnal saya, benar-benar mekar tepat di depan mata! Dan kukang, Pa... seekor induk kukang yang menggendong anaknya. Itu sangat mengharukan!"

Siska menimpali dengan heboh, tangannya bergerak-gerak memperagakan ukuran bunga tadi.

"Iya, yah! Wanginya itu lho, sampai sekarang masih nempel di hidung Siska. Kak Aurora hebat banget, dia tahu persis di mana mereka sembunyi. Rasanya kayak masuk ke dunia National Geographic secara live!"

Ayah Adrian tertawa melihat kegembiraan istri dan anak angkatnya.

"Pelan-pelan ceritanya, nanti kalian sesak napas lagi. Ayo duduk, minum teh hangat dulu."

Di tengah hiruk-pikuk cerita itu, mata Adrian terus tertuju pada Aurora. Ia melihat Aurora yang sedang membantu Rian merapikan perlengkapan, gerakannya tenang dan sangat menyatu dengan alam.

Percakapannya dengan sang Ayah tadi telah mencabut akar keraguan di hatinya. Adrian kini tampak jauh lebih tenang, namun ada ketegasan yang baru di sorot matanya.

Tidak ada lagi gurat kecemasan saat memikirkan Sherly; yang ada hanyalah tekad untuk mengakhiri kekacauan yang ia buat sendiri.

Saat Aurora berjalan melewati Adrian untuk menaruh senter, Adrian berdiri dan menatapnya. Kali ini, ia tidak menunduk.

"Ra," panggil Adrian lembut.

"Terima kasih ya, sudah menjaga Ibu dan Siska di dalam tadi."

Aurora sempat tertegun sejenak. Ia menangkap sesuatu yang berbeda dari nada bicara Adrian—tidak ada lagi nada memohon yang menyedihkan, melainkan sebuah pengakuan yang tulus.

"Sudah tugas saya, Dri. Ibu sangat bahagia malam ini, itu yang terpenting."

Ibu Adrian kemudian duduk di samping Adrian, menunjukkan beberapa foto di kamera Rico.

"Lihat ini, Adrian. Alam ini begitu suci. Ibu baru sadar, selama ini kita terlalu sibuk dengan kebisingan di kota sampai lupa bagaimana rasanya melihat keindahan yang jujur seperti ini."

Ibu Adrian lalu menggenggam tangan anaknya.

"Ibu harap, setelah perjalanan ini, kamu juga bisa menemukan 'kejujuran' itu di hidupmu sendiri, Nak. Jangan biarkan hal-hal yang palsu merusak kedamaianmu."

Adrian mengangguk mantap, sebuah jawaban tanpa kata yang dipahami oleh Ayah dan Ibunya.

Malam itu, di bawah langit Deli yang sunyi, keluarga itu merasa lebih dekat dari sebelumnya.

Adrian telah mengambil keputusan besar: begitu ia menginjakkan kaki kembali di vila, ia akan memutus seluruh rantai hubungannya dengan Sherly, tanpa peduli seberapa keras wanita itu akan menjerit.

Ia ingin membersihkan hidupnya, demi menghormati diri sendiri, dan demi martabat wanita yang kini sedang duduk tak jauh darinya, menatap bintang-bintang dengan damai.

Malam di puncak bukit semakin larut, suhu udara menurun drastis menyentuh kulit, namun kehangatan terasa di dalam tenda-tenda canggih milik Bram.

Tenda tersebut dilengkapi dengan sensor ultrasonik dan pagar elektrik portabel yang menjamin tidak akan ada hewan buas yang berani mendekat dalam radius sepuluh meter.

Ibu, Aurora, dan Siska tertidur lelap dalam satu tenda, sementara para pria mendengkur halus di tenda sebelah.

Namun, di tengah kesunyian itu, Aurora terbangun. Jantungnya berdegup tidak tenang, ada perasaan gelisah yang menggelitik batinnya.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan membuka ritsleting tenda agar tidak membangunkan Ibu dan Siska.

Begitu keluar, udara dingin menyergapnya. Di dekat sisa-sisa api unggun yang masih mengeluarkan bara kemerahan, ia melihat sesosok pria duduk sendirian. Punggung itu tegap namun tampak sangat rapuh, bahunya berguncang pelan. Itu Adrian.

Aurora berjalan tanpa suara di atas tanah berumput, lalu berdiri tepat di belakangnya. Ia bisa mendengar isak tangis yang tertahan—tangisan yang sangat pilu, seolah-olah semua beban dunia sedang menghimpit dada pria itu.

Dengan gerakan lembut, Aurora mengulurkan tangan dan menepuk pundak Adrian.

Adrian tersentak, ia menoleh dengan mata yang sembab dan wajah yang basah oleh air mata. Begitu melihat Aurora, pertahanannya runtuh total.

Tanpa kata, ia langsung merangkul pinggang Aurora, menyembunyikan wajahnya di perut wanita itu sambil terisak hebat.

"Ra... maaf... maafkan aku..." suaranya serak, nyaris tak terdengar. "Aku bodoh, aku menghancurkan semuanya. Aku menyesal, Ra. Aku sangat menyesal."

Aurora tidak melepaskan pelukan itu, namun ia juga tidak membalasnya secara berlebihan. Ia hanya membiarkan Adrian meluapkan segala sesaknya.

Setelah beberapa saat, ia mengajak Adrian duduk berdampingan di sebuah batang pohon tumbang, menghadap ke arah lembah yang diselimuti kabut.

"Kenapa belum tidur, Dri?" tanya Aurora lembut, suaranya setenang air sungai di bawah sana.

"Gimana aku bisa tidur, Ra? Setiap aku tutup mata, aku lihat wajahmu yang hampir kehilangan napas tadi sore. Aku lihat betapa jahatnya aku dulu," Adrian menyeka air matanya dengan kasar.

"Melihatmu tadi bersama Ayah dan Ibu... aku sadar, aku sudah kehilangan harta paling berharga dalam hidupku demi sesuatu yang sampah. Aku malu pada diriku sendiri, Ra. Aku nggak pantas bahkan untuk sekadar duduk di sampingmu."

Aurora menatap langit yang bertabur bintang, membiarkan angin malam menerpa wajahnya.

"Dulu, aku benci sekali sama kamu, Dri. Aku merasa dunia ini nggak adil. Tapi malam ini, melihat Ibu memanggilku dan Ayah menganggapku seperti anak mereka senriri, aku merasa luka itu mulai menutup."

"Aku akan putus sama Sherly begitu kita sampai di vila, Ra. Aku janji," tegas Adrian sambil menatap mata Aurora dalam-dalam.

"Aku nggak peduli apa yang akan dia lakukan. Aku lebih baik kehilangan segalanya daripada harus melihatmu terluka lagi karena dia."

Aurora tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh keikhlasan.

"Lakukan itu untuk dirimu sendiri, Dri. Untuk kehormatanmu sebagai laki-laki, bukan untukku. Aku sudah memaafkanmu, sudah lama sekali. Tapi untuk kembali... jalannya sudah terlalu jauh bercabang."

Malam itu menjadi momen deeptalk yang paling jujur bagi mereka. Adrian mencurahkan segala rasa bersalahnya, dan Aurora memberikan pengampunan yang selama ini dicari Adrian.

Tidak ada lagi dendam, yang tersisa hanyalah dua orang manusia yang sedang berdamai dengan masa lalu di tengah kesucian alam Deli.

1
Anonymous
tuhkan bener kalo authornya ranu pasti plotwisnya banyak banget😍😍
Anonymous
firaannnnn sing eling firaannn😭😭
R_Bell
atasnya wanita surgawi, bawahnya wanita binal juga 🤣🤭
Durrotun Nasihah
karyamu luar biasa kak..../Rose//Rose//Rose/
Ranu Kallanie Jingga: Waah Makasih kak🤭
Tetap pantengin kelanjutannya ya kak😍
total 1 replies
Durrotun Nasihah
luar biasa kak ......semngat....
Ranu Kallanie Jingga: Terima kasih kak🤭😍
total 1 replies
Anonymous
sherly kata gue mending lu beneran tobat deh...
aurora ni kepribadian ganda ato gimana sih kadang dingin kadang welcome😭
Anonymous
sherly jadi kalem malah bikin curiga🙄😬
Ranu Kallanie Jingga: hihi trust issue bgt ya sama sherly😄
total 1 replies
Anonymous
aurora udh jadi mantan aja masih royal ke kluarga nya adrian apalagi kalo belum jadi mantan gak kebawang semewah apa🤭
nyesel banget deh tu si adrian lebih milih ulet bulu kaya sherly
Sinta Harianto
Suka dengan alur cerita nya
Ranu Kallanie Jingga: terima kasih kak
jangan lupa pantengin terus kelanjutanya ya😍🤭
total 1 replies
Andriani
lah katanya orang beriman. dhuha gak pernah tinggal... wih drama x ni cewek🤭
Allea
jalang banget sih si serly😑
Andriani
lanjut kk... bagus ni ceritanya... anak medan kereenn😍
Ranu Kallanie Jingga: siap kakk..
pantengin terus ya kelanjutannya🤭🤭

Salam Anak Medan...
HORAASSSS😍
total 1 replies
Fita Lidya
ak suka sindiranx😄
Anonymous
ayoo buruan lanjut lagi thor😍😍
Anonymous
pasti selalu banyak plot twisnya...
semoga endingnya aurora gak usah balikan sama adrian deh...
Ranu Kallanie Jingga: balikan gak yaaa hihi🤭
total 1 replies
Allea
semoga endingnya Aurora ga balik ma andrian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!