"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."
Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.
Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.
Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.
"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Suamiku, Sahabatku, Rumahku
Mawar yang Tahu
Aku bukan bunga yang buta pada durinya sendiri
Aku tahu setiap tajam yang melukai
Bukan karena tak merasa perih
Tapi karena aku sedang menghitung hari
Biarkan mereka memetik kelopak
Mengira aku layu dan tak berdaya
Sementara akarku menjangkau bumi
Membangun kerajaan dari puing-puing mimpi
Karena mawar yang tahu cara bertahan
Takkan pernah mati hanya karena luka
Ia diam, ia tunggu, ia hitung
Sampai tiba saatnya mekar kembali—
Dengan duri yang lebih tajam dari sebelumnya.
---
Malam itu, Jakarta menangis.
Hujan turun sejak sore, mengguyur ibu kota dengan kemurkaan yang tak biasa. Alana mematikan wiper mobil, memarkirkan Lexus hitam—peninggalan ayahnya—tepat di bawah kanopi rumah megah di kawasan Pondok Indah. Lampu rumah masih menyala. Terlalu terang untuk ukuran pukul sebelas malam.
Ia keluar dari mobil, membuka payung hitam, dan berjalan perlahan menuju pintu depan. Tumit stiletto-nya beradu dengan lantai marmer basah, menciptakan irama yang hampir seperti detak jantung—lambat, berat, penuh perhitungan.
Pintu terbuka.
Dan di lorong masuk, di atas alas kaki marmer hitam putih, tergeletak sepasang sepatu hak tinggi merah muda. Christian Louboutin. Edisi terbatas. Ukuran 36.
Alana berhenti.
Ia tahu persis sepatu itu. Bukan karena ia pernah memilikinya—ia tidak. Tapi karena tiga minggu lalu, ia dan Viola sedang minum teh bersama, dan Viola bercerita dengan mata berbinar tentang pria yang memberinya hadiah sepatu itu. "Dia bilang, sepatu ini hanya untuk ratu," kata Viola waktu itu, memamerkan foto di ponselnya.
Alana ingat persis bagaimana ia tersenyum dan berkata, "Beruntungnya kamu."
Sekarang, sepatu itu ada di lorong rumahnya.
Hujan semakin deras. Suaranya memenuhi ruangan, bercampur dengan suara lain yang samar-samar terdengar dari lantai atas. Alana menutup payung, melipatnya perlahan, lalu meletakkannya di rak payung. Gerakannya begitu tenang, begitu terkontrol—seperti seorang aktris yang tahu kamera sedang merekam setiap detil ekspresinya.
Ia menatap sepatu itu lagi. Merah muda. Mencolok. Tidak cocok dengan warna cat tembok abu-abu yang ia pilih sendiri tiga tahun lalu, saat pertama kali pindah ke rumah ini sebagai pengantin baru.
"Kamu suka?" tanya Richard dulu, saat mereka berdiri di lorong yang sama, rumah masih kosong, bau cat masih menyengat.
"Aku suka abu-abu," jawab Alana. "Seperti langit sebelum hujan. Tenang."
Richard mengecup keningnya. "Kamu memang selalu suka hal-hal yang tenang."
Alana tersenyum kecil mengingat itu. Senyum yang sama—persis sama—dengan senyum yang ia berikan pada Viola saat melihat foto sepatu merah muda tiga minggu lalu.
Lalu ia melangkah. Bukan menuju tangga. Bukan menuju kamar utama di lantai dua, tempat suaminya dan sahabatnya sedang—apa pun yang mereka lakukan.
Ia berbelok ke kiri. Menuju ruang kerja ayahnya.
---
Ruang kerja itu adalah satu-satunya ruangan di rumah ini yang tidak pernah ia ubah sejak ayahnya meninggal. Masih sama: meja kayu jati tua, kursi kulit coklat yang sudah mulai retak, rak buku penuh dengan arsip perusahaan, dan satu foto hitam putih di dinding—foto pernikahan ayah dan ibunya.
Alana menutup pintu. Suara hujan meredup. Suara dari lantai atas juga hilang, tertelan oleh isolasi ruangan yang memang dirancang untuk konsentrasi bisnis.
Ia duduk di kursi ayahnya. Menarik napas panjang. Lalu membuka laci kiri meja.
Di dalamnya, tersimpan sebuah buku catatan hitam. Sampulnya sudah lusuh, sudut-sudutnya bengkok. Alana mengeluarkannya, membuka halaman pertama, dan mulai menulis.
Tanggal: 15 Maret 2024.
Di bawahnya, satu kalimat:
"Viola pakai sepatu merah muda. Louboutin. Ukuran 36."
Lalu ia berhenti. Memandangi halaman itu. Pikirannya melayang ke tiga tahun lalu, saat pertama kali Viola datang ke rumah ini.
"Alana, kamu beruntung punya temen kayak gue," kata Viola waktu itu, tertawa sambil menjatuhkan diri di sofa. "Lo mau gue jagain suami lo pas lo sibuk? Siap. Gue kan emang jago jagain barang berharga."
Alana tertawa. "Dia bukan barang, Viol."
"Iya, iya, cowok lo. Tapi lo tahu kan, gue bisa dipercaya."
Alana menutup buku catatan. Ia menyandarkan punggung di kursi, menatap langit-langit. Lalu ia mendengar suara—kali ini lebih jelas. Suara tawa perempuan. Suara Richard yang menggumam sesuatu. Suara benda jatuh di lantai atas.
Ia bisa membayangkannya. Kamar utama. Ranjang yang ia pilih sendiri, sprei putih yang ia beli di Paris saat bulan madu. Vas bunga di nakas yang masih berisi mawar merah—ia beli kemarin, untuk menyambut Richard pulang dari perjalanan bisnis.
Richard pulang hari ini. Tapi tidak untuknya.
Alana menatap foto ayahnya di dinding. Pria itu tersenyum padanya, seperti biasa. Senyum yang sama yang ia lihat setiap kali duduk di kursi ini.
"Ayah," bisiknya. "Apa Ayah tahu?"
Foto itu diam. Tapi Alana tahu apa yang akan dikatakan ayahnya. Pria yang membangun kerajaan dari nol, yang jatuh bangun puluhan kali, yang selalu berkata: "Dalam bisnis, Nak, musuh terbesar bukanlah kompetitor. Tapi keyakinanmu sendiri bahwa kau sudah kalah."
Alana tersenyum. Lalu ia membuka laci kanan.
Di dalamnya, tersimpan dokumen-dokumen yang bahkan Richard tidak tahu keberadaannya. Akta perusahaan yang sudah ia pindahkan secara diam-diam ke nama yayasan. Rekaman CCTV yang ia pasang sendiri di seluruh ruangan—termasuk kamar utama—dengan bantuan Lucas. Dan satu flashdisk kecil berisi data transaksi perusahaan yang ia curi dari laptop Richard saat suaminya tidur.
Ia mengeluarkan flashdisk itu, memutarnya di antara jari-jarinya. Kilatan petir menyambar di luar jendela, menerangi ruangan selama sepersekian detik.
Di lantai atas, suara itu berhenti.
Alana memasukkan kembali flashdisk ke laci. Menutupnya pelan-pelan. Lalu ia berdiri, merapikan roknya, dan berjalan menuju pintu.
Saat tangannya menyentuh kenop, ia berhenti. Menoleh ke belakang, ke arah foto ayahnya.
"Nanti malam," bisiknya. "Aku akan tidur di sini."
Ia membuka pintu. Lorong masih sama—sepatu merah muda masih di tempatnya. Tapi kini ada suara langkah kaki di tangga. Suara berat Richard, dan suara tinggi Viola yang berusaha ditahan.
Alana berdiri di ambang pintu ruang kerja, menatap lorong panjang yang menuju tangga. Lampu lorong mati—mungkin Viola lupa menyalakannya. Jadi yang terlihat hanya siluet dua orang yang turun perlahan.
Richard turun lebih dulu. Kemejanya tidak rapi, dua kancing terbuka. Ia mengucek mata, lalu melihat Alana. Tubuhnya membeku.
"Al- Alana?" Suaranya bergetar. "Kamu... pulang?"
Alana tersenyum. Persis senyum yang sama seperti saat ia melihat foto sepatu tiga minggu lalu. Persis senyum yang sama seperti saat Richard pertama kali mengajaknya kencang.
"Iya," katanya lembut. "Hujan deras banget. Aku putusin pulang aja." Ia melangkah mendekat. "Kok kamu belum tidur?"
Richard menelan ludah. "Aku... tadi turun mau minum."
Dari belakangnya, Viola muncul. Rambutnya basah—mungkin baru keramas, pikir Alana. Atau mungkin basah karena hal lain. Viola memakai daster sutra—daster Alana—yang ia beli saat berbelanja di Singapura bulan lalu.
"Alana!" suara Viola terlalu tinggi, terlalu ceria. "Kirain kamu nginep di kantor! Gue... gue tadi main ke sini, soalnya ban mobil gue bocor, trus Richard bilang boleh numpang mandi. Hujan banget kan?"
Alana menatap Viola. Matanya turun ke daster sutra itu. Lalu naik lagi ke wajah Viola yang memerah.
"Boleh," kata Alana. Suaranya sama lembutnya. "Kamu mau minum dulu? Aku buatin teh."
Viola dan Richard bertukar pandang. Richard membuka mulut, tapi Alana sudah berjalan menuju dapur.
"Aku buatin jahe hangat," katanya tanpa menoleh. "Biar masuk anginnya ilang."
Ia berjalan melewati mereka, tumit stiletto-nya beradu dengan lantai marmer—tik, tik, tik—irama yang sama seperti sebelumnya. Lambat. Tenang. Penuh perhitungan.
Di dapur, ia menyalakan kompor, merebus air, dan mengeluarkan tiga cangkir kesayangannya. Cangkir porselen putih dengan lukisan mawar merah di pinggirnya. Hadiah pernikahan dari tantenya.
Ia menuang air panas, mencelupkan kantong teh jahe, dan menatap uap yang mengepul.
Richard muncul di ambang pintu dapur. Wajahnya pucat.
"Al," panggilnya pelan. "Aku... aku bisa jelasin."
Alana menoleh, tersenyum. "Jelasin apa, Sayang?" Ia mengambil satu cangkir, menghampiri Richard, dan menyodorkannya. "Minum dulu. Kamar mandi tamu bocor ya? Makanya Viola mandi di atas?"
Richard menatapnya. Mencari sesuatu di mata Alana—takut, marah, sedih. Tapi yang ia lihat hanya kehangatan yang sama seperti tiga tahun lalu.
"Iya," katanya akhirnya, suara serak. "Kamar mandi tamu bocor."
"Udah lama?" Alana bertanya sambil kembali ke meja dapur, mengambil dua cangkir lainnya.
"Udah... seminggu."
Alana mengangguk. "Besok aku panggilin tukang. Kok nggak ngomong?"
Richard tidak menjawab. Alana membawa nampan berisi tiga cangkir teh menuju ruang tengah. Viola sudah duduk di sofa, masih memakai daster sutra itu. Kaki disilang, paha terbuka.
Alana meletakkan nampan di meja. Memberi satu cangkir pada Viola dengan senyum paling ramah yang ia punya.
"Minum, Viol. Nanti masuk angin." Ia duduk di sofa satunya. "Makasih ya udah temenin Richard. Aku tadi mikir dia sendirian di rumah."
Viola tertawa canggung. "Ah, biasa aja. Gue kan sahabat lo."
"Iya," Alana setuju. Ia menyesap tehnya. "Sahabat terbaik."
Hujan masih turun di luar. Angin berhembus kencang, menggoyang pohon-pohon di halaman. Tapi di dalam ruang tengah yang hangat, tiga orang duduk bersama—suami, istri, dan sahabat—dengan secangkir teh di tangan masing-masing.
Dan di kepala Alana, satu kalimat terus berputar:
"Hitung mundur dimulai malam ini."
Pukul satu dini hari, Viola akhirnya pamit. Richard mengantarnya ke mobil—mobil yang katanya "bocor ban"—tapi Alana tahu itu hanya alasan. Ia melihat dari jendela kamar, bagaimana Richard membuka pintu mobil untuk Viola, bagaimana tangan mereka bersentuhan terlalu lama, bagaimana Viola mencium pipi Richard sebelum masuk.
Alana menarik tirai.
Ia masuk ke kamar mandi, menyalakan air panas, dan berdiri di bawah pancuran cukup lama sampai kulitnya memerah. Air mengalir membasahi tubuhnya, membawa serta bayangan-bayangan yang tidak diundang.
Wajah Richard saat menatap Viola.
Daster sutranya yang basah.
Sepatu merah muda di lorong.
Ia memejamkan mata.
Dan untuk pertama kalinya malam itu—untuk pertama kalinya dalam tiga tahun—ia mengizinkan dirinya menangis.
Air mata bercampur air pancuran. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang perlu tahu.
Karena besok, ia akan bangun dengan senyum yang sama. Besok, ia akan membuat sarapan untuk Richard. Besok, ia akan berkirim pesan manis dengan Viola. Besok, semuanya akan terlihat biasa saja.
Tapi malam ini, di bawah pancuran air panas, Alana Wijaya mengubur sisa-sisa cinta yang masih tersisa di hatinya.
Dan saat ia keluar dari kamar mandi, matanya sudah kering.
Richard sudah tidur saat ia masuk kamar. Atau pura-pura tidur. Alana tidak peduli. Ia berbaring di sisi ranjang yang biasa, memunggungi suaminya, dan menatap dinding.
Di luar, hujan reda.
Di dalam, badai baru saja dimulai.
---
Bersambung...(ノ゚0゚)ノ→
terlalu enak klo cuma dimiskin kan
selingkuh di rumah sendiri selama 3th, istrinya dikira tdk tau 😄