Seorang penguntit telah dua kali menyusup ke rumah Stella. Ia merasa membutuhkan bantuan profesional. Karena itu, Kayson Sheridan, musuh bebuyutannya semasa kecil sekaligus pendiri Sheridan Securities, pun hadir untuk membantunya.
Kayson berjanji akan melindunginya serta menugaskan penyelidik terbaik untuk menangani kasus tersebut.
Mungkin Kayson tidak seburuk yang selama ini ia kira. Semakin lama bersama pria itu, Stella menyadari bahwa perasaannya jauh menjadi lebih rumit daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Namun, di sisi lain, seseorang telah mengincar Stella dan bertekad bahwa jika tidak dapat memilikinya, maka ia akan menghancurkannya.
୨ৎ SHERIDAN SECURITIES SEASON I ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Malam yang Rumit
Sesuatu menindih Stella. Sesuatu yang hangat dan berat membentang di atas perutnya, dan ia sudah mengernyit bahkan sebelum membuka mata. Tangannya mendorong benda yang mengganggu itu.
Ia menyentuh sesuatu yang hangat.
Sedikit berbulu.
Lengan?
Matanya terbuka. Sebuah lengan melintang di atas perutnya. Lengan yang berotot dan kecokelatan.
Lengan yang, ketika ia menelusurinya dengan mata terbelalak, berujung pada Kayson. Kayson yang sedang tertidur. Karena Stella masih berada di ranjang pria itu. Mereka berdua masih telanjang. Hanya saja, ini bukan lagi malam.
Sinar matahari yang terang menyinari ranjang. Menyinari dirinya. Dan Stella langsung sadar sepenuhnya atas apa yang telah ia lakukan.
Ia tidur dengan kakak sahabatnya.
Musuh bebuyutannya.
Stella memejamkan mata erat-erat. Semalam, rencananya terasa masuk akal. Ia tahu Kayson tidak menginginkan hubungan apa pun bersamanya.
Kayson bukan tipe pria yang memikirkan perasaan. Berapa kali Riggs mengatakan bahwa kakaknya itu playboy yang tidak ingin setia dengan siapa pun?
Karena berkomitmen memang bukan agendanya, Stella sebenarnya tidak keberatan. Tapi ia takut.
Stella tidak pernah benar-benar menyukai perasaan itu.
Siapa juga yang suka?
Ia takut, dan Kayson yang begitu seksi ada di bawah sana. Ia sudah tahu sejak lama bahwa mereka memiliki ketertarikan yang luar biasa. Setiap kali mereka bersentuhan, seluruh tubuhnya bereaksi liar dan menegangkan.
Jadi, kenapa tidak menyerah saja pada keinginan yang mereka rasakan?
Stella hanya berniat tidur dengan Kayson satu kali.
Sekali saja.
Selesai.
Mereka bahkan sudah melakukannya tiga kali.
Mungkin empat?
Dan sekarang ia masih berada di ranjang pria itu. Lengan Kayson melingkar di atasnya, pria itu masih ingin mengurungnya di sisi tubuhnya.
Apa yang harus Stella lakukan sekarang?
Ia harus pergi.
Keluar sebelum Kayson membuka mata. Jika Riggs tahu ia tidur dengan kakaknya, Riggs pasti akan mengamuk. Riggs akan mengira Kayson yang merayunya. Riggs sering menyebut kakaknya sebagai playboy.
Padahal bukan hanya Kayson yang merayunya. Stella juga mendekati pria itu. Bahkan ia sendiri yang mengambil langkah pertama. Ia yang menawarkan diri.
Astaga, Stella bahkan datang kepadanya tanpa mengenakan celana dalam.
Dengan napas tertahan, ia dengan hati-hati mengangkat ujung jari Kayson dan menggeser lengan itu beberapa sentimeter.
Bagus.
Berhasil.
Begitu lengan itu terlepas darinya, ia meluncur turun dari ranjang dan berdiri dengan cepat. Ia menurunkan tangan Kayson hingga pria itu kini memeluk bantal.
Tatapannya terus tertuju pada wajah Kayson. Mata pria itu tetap terpejam. Napasnya teratur dan tenang.
Masih tidur.
Bagus.
Stella melihat kemeja yang dipakainya semalam, lalu segera meraihnya sambil melangkah cepat ke arah pintu. Kemeja itu disampirkannya ke bahu, lengannya masuk ke dalam lengan baju, dua kancing dipasang seadanya, lalu tangannya terulur ke gagang pintu kamar.
“Lumayan seru!” Suaranya yang rendah dan berat membuat Stella membeku di tempat.
Seru?
Pipi Stella terasa panas.
“Lo memang selalu kabur dari cowok-cowok lo, setelah Lo tidurin? Atau acara jalan jinjit ini khusus buat gue?”
Sial.
Kedengarannya Kayson kesal. Stella berbalik dan melihat Kayson sudah duduk di ranjang, tangan terlipat di dada, mata menyipit.
Jelas kesal.
“Khusus buat lo?” ucapnya seperti bertanya, padahal memang cuma dengan dia ia pernah melakukan hal seperti ini.
Rahang Kayson mengeras.
“Kenapa?”
Stella menarik daun telinganya. “Gue, eh, nggak mau bikin lo bangun.”
Tatapan Kayson sedikit melunak. “Gue ngerti. Tapi pipi lo merah dan lo tadi jelas mau kabur.” Ia terdiam sejenak. “Kenapa ... lo nyesel?”
Stella meremas kedua tangannya di depan tubuh. “Ini karena lo!”
Kayson turun dari ranjang. Telanjang. Stella langsung memejamkan mata. Lalu mengintip sebentar. Menutupnya lagi. Kayson sudah terangsang.
Secepat itu.
Memang begitu, kan, laki-laki selalu bangun pagi dalam keadaan horny?
Lantai berderit.
Ia mendekat.
“Pakai celana dulu!” Stella memekik tanpa membuka mata.
“Kenapa? Semalam aja lo nggak mau gue pakai celana.” Terdengar suara kain bergesek. Kayson benar-benar memakainya. “Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?”
Stella membuka satu mata. Lalu satu lagi. Kayson sudah mengenakan jeans yang jatuh rendah di pinggulnya. Rambutnya berantakan, rahangnya masih tegang, dadanya telanjang dan menggoda.
Ia melompat ke arah Stella. Kayson melangkah perlahan dan mendekat.
“Stella? Kenapa lo bersikap kayak habis melakukan sesuatu yang memalukan? Kita nggak ngelakuin hal yang salah. Lo malu?”
“Ya. Kita sama-sama udah dewasa." Stella berharap suaranya terdengar biasa saja. Santai. “Gue cuma perlu ganti baju. Banyak yang harus gue urus.”
Banyak hal yang tak ingin ia pikirkan. Buktinya semalam ia kabur dari semua masalah itu dengan melompat ke ranjang Kayson.
Sekarang Stella sadar, ia justru membuat semuanya menjadi jauh lebih rumit.