"Lima tahun lalu, aku hanyalah gadis desa yang dihargai murah dalam sebuah kontrak rahim. Zhang Liang membeliku untuk pewarisnya, lalu membuangku saat misinya selesai."
Alya menghilang membawa rahasia besar: sepasang anak kembar yang memiliki darah empat pria paling berpengaruh di Jakarta.
Kini, ia kembali bukan sebagai Alya yang lemah, melainkan Alana Wiratama—sang Ratu Mineral yang memegang kendali atas harta yang paling diinginkan dunia. Saat empat naga yang dulu menindasnya kini berlutut memohon pengampunan, Alana hanya punya satu aturan:
"Aku tidak butuh pelindung. Aku datang untuk mengambil kembali takhtaku."
Akankah cinta sang miliarder mampu melunakkan hati wanita yang sudah ia hancurkan? Ataukah ini akhir dari kekuasaan para Naga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJAMUAN PARA SERIGALA GLOBAL
Pagi di Jakarta biasanya dimulai dengan kebisingan mesin dan polusi, namun di kediaman Alana Wiratama—sebuah kompleks perumahan dengan keamanan tingkat tinggi yang kini dijuluki "Benteng Wiratama"—pagi dimulai dengan suara tawa anak-anak. Bintang dan Cahaya sedang berlari di taman luas yang dirancang khusus memiliki ekosistem mini seperti di Lawu.
Alya berdiri di balkon lantai dua, menyesap kopi hitam tanpa gula. Di tangannya terdapat sebuah dokumen intelijen yang dikirimkan oleh Han Zhihao beberapa jam yang lalu. Isinya tidak menyenangkan: Viktor Volkov tidak benar-benar menghilang. Pelarian Viktor dari tahanan sementara bukan sekadar keberuntungan. Ada "Tangan Tuhan" yang bermain—sebuah konsorsium gelap bernama The Obsidian Circle, perkumpulan para oligarki tambang global yang merasa terancam dengan kebijakan nasionalisasi mineral langka yang dipelopori Alya.
"Kau terlalu pagi untuk memikirkan perang, Alana."
Suara Wei Jun terdengar dari arah pintu balkon. Pria itu datang membawa tablet yang menampilkan pergerakan bursa saham.
"Dunia tidak menunggu aku selesai sarapan, Jun," jawab Alya tanpa menoleh. "Zhihao bilang Volkov terlihat di Singapura. Dia sedang menggalang kekuatan dengan musuh-musuh lama keluarga Zhang."
Wei Jun mendekat, berdiri di samping Alya namun tetap menjaga jarak yang menghormati. "Obsidian Circle bukan sekadar musuh bisnis. Mereka adalah kartel yang menggunakan kudeta dan pembunuhan sebagai strategi pemasaran. Masuknya kau ke pasar global dengan membawa narasi 'kesejahteraan petani' adalah penghinaan bagi model bisnis mereka."
Satu jam kemudian, ruang pertemuan di bawah tanah benteng tersebut telah penuh. Empat Naga Timur hadir dalam formasi lengkap. Suasananya bukan lagi seperti meja makan malam sebelumnya, melainkan seperti War Room.
"Volkov sudah membeli tiga perusahaan cangkang di bursa efek Jakarta," lapor Han Zhihao sambil memproyeksikan data digital ke dinding. "Mereka melakukan hostile takeover terhadap perusahaan-perusahaan logistik yang selama ini bekerja sama dengan Zhang Maritime. Mereka ingin memutus jalur distribusi mineralmu, Alya."
Luo Cheng menggebrak meja, namun kali ini bukan karena amarah buta, melainkan antusiasme tempur. "Aku sudah menyiapkan tim keamanan di pelabuhan. Setiap truk yang keluar dari Lawu akan dikawal oleh kontraktor militer swastaku. Jika mereka ingin bermain kasar, aku punya mainan yang lebih besar."
"Tidak, Cheng," potong Zhang Liang. Wajahnya tampak lebih tenang dan dewasa. "Jika kita membalas dengan kekerasan di depan publik, citra Wiratama Foundation akan hancur. Kita akan terlihat seperti kartel lain. Kita harus membalas mereka dengan hukum dan transparansi."
Alya mengamati perdebatan itu. Ia melihat bagaimana Liang kini lebih mementingkan etika daripada sekadar kekuatan—sebuah perubahan yang membuatnya sedikit tersentuh.
"Mas Liang benar," ucap Alya, membuat semua mata tertuju padanya. "Kita akan menggunakan 'pintu depan'. Besok akan ada konferensi tingkat tinggi mineral di Bali. Volkov dan para petinggi Obsidian Circle akan hadir di sana. Mereka mengira aku akan bersembunyi di benteng ini. Tapi sebaliknya, aku akan datang membawa tawaran yang tidak bisa mereka tolak... atau yang akan menghancurkan mereka jika mereka tolak."
Tiga hari kemudian, Pulau Dewata kembali menjadi saksi sejarah. Namun kali ini, bukan vila pribadi yang menjadi latar belakang, melainkan sebuah resor mewah yang telah disulap menjadi area dengan zona keamanan militer.
Konferensi Mineral Dunia dihadiri oleh perwakilan dari 50 negara. Viktor Volkov hadir mengenakan setelan jas putih, tampak seperti pengusaha terhormat, meski di balik matanya tersimpan dendam yang membara.
Saat Alya naik ke panggung utama, suasana menjadi sunyi. Namun, sebelum ia sempat berbicara, layar raksasa di belakangnya tiba-tiba berkedip dan menampilkan sebuah video yang mengguncang ruangan.
Itu adalah video manipulasi AI (Deepfake) yang menunjukkan Alya sedang melakukan transaksi gelap dengan sebuah kelompok pemberontak untuk mengamankan lahan tambang. Video itu tampak sangat nyata, lengkap dengan suara Alya yang terdistorsi namun meyakinkan.
"Inikah Ratu Mineral kalian?" teriak Viktor dari kursi penonton, berdiri dengan angkuh. "Seorang wanita yang membangun citra suci di atas kesepakatan berdarah?"
Bisik-bisik ketakutan dan penghinaan mulai memenuhi ruangan. Para delegasi internasional mulai berdiri, merasa tertipu.
Alya tetap berdiri di podium. Ia tidak tampak panik. Ia menatap ke arah Han Zhihao yang duduk di barisan belakang. Zhihao memberikan kode jempol ke bawah—artinya serangan siber sudah terdeteksi.
Alya mendekati mikrofon. "Tuan Volkov, terima kasih atas pertunjukannya. Namun, Anda lupa satu hal. Saya tidak datang ke sini sendirian."
Tiba-tiba, video di layar berubah. Zhihao telah berhasil melakukan override. Video manipulasi itu menghilang, digantikan oleh log aktivitas server asli milik Global Core Resources—perusahaan Volkov. Di sana terlihat jelas proses pembuatan video Deepfake tersebut, lengkap dengan bukti transfer pembayaran kepada teknisi gelap di Rusia.
Tidak berhenti di situ, layar menampilkan rekaman suara Volkov yang sedang memerintahkan penculikan Bintang dan Cahaya malam itu di Jakarta.
"Dalam dunia digital, Tuan Volkov, setiap kebohongan memiliki sidik jari," ucap Alya dingin. "Dan Anda baru saja meninggalkan sidik jari Anda di seluruh dunia."
Namun, Volkov bukan orang yang mudah menyerah. Saat keamanan mulai mendekatinya, ia menekan sebuah tombol di jam tangannya.
"Jika aku jatuh, maka masa depanmu juga jatuh!" teriak Volkov.
Sebuah ledakan kecil terdengar dari arah tempat penitipan anak di lantai bawah resor—tempat Bintang dan Cahaya berada di bawah penjagaan pengawal.
"ANAK-ANAK!" jerit Alya.
Tanpa menunggu perintah, Zhang Liang dan Luo Cheng melompati pagar pembatas dan berlari menuju lokasi ledakan. Wei Jun segera mengamankan Alya, sementara Zhihao bekerja cepat melacak detak jantung dari sensor yang tertanam di pakaian anak-anak.
Di area penitipan anak yang kini dipenuhi asap, Bintang berdiri di depan adiknya. Ia memegang sebuah pemadam api kecil, mencoba menyemprotkan gas ke arah pintu yang terbakar agar Cahaya tidak sesak napas. Pengawal mereka telah dilumpuhkan oleh gas syaraf, namun Bintang, yang sering diajari Luo Cheng cara bertahan hidup, tetap tenang.
"Jangan takut, Cahaya. Om Liang pasti datang," bisik Bintang sambil terbatuk.
Liang mendobrak pintu yang terbakar, mengabaikan api yang menyambar lengan jasnya. Ia melihat putranya sedang berusaha menjadi pelindung. Hati Liang hancur sekaligus bangga. Ia menyambar kedua anak itu ke dalam pelukannya.
"Ayah di sini, Bintang. Ayah di sini," ucap Liang, untuk pertama kalinya menyebut dirinya "Ayah" secara langsung di depan Bintang.
Bintang menatap Liang dengan mata yang pedih karena asap, lalu ia memeluk leher Liang erat-erat. "Aku tahu Ayah akan datang."
Di atas, di ruang konferensi, Alya berdiri menatap Viktor Volkov yang kini sudah dikelilingi oleh pasukan Interpol yang dibawa oleh Wei Jun.
"Kau kalah, Viktor. Bukan karena aku lebih kaya darimu, tapi karena kau meremehkan apa yang seorang ibu sanggup lakukan untuk melindungi dunianya," ucap Alya.
Volkov diseret keluar, namun ia sempat meludah ke arah kaki Alya. "Ini belum berakhir. Obsidian Circle memiliki seribu kepala."
"Dan aku akan memenggal seribu-seribunya jika perlu," balas Alya tanpa ragu.
Malam harinya, di pesisir pantai Bali yang tenang, kesunyian akhirnya kembali. Liang duduk di pasir dengan lengan yang dibalut perban. Bintang dan Cahaya sudah tertidur di dalam vila, kelelahan setelah kejadian traumatis tersebut.
Alya mendekati Liang, membawakannya segelas air. Ia duduk di samping pria itu.
"Bintang memanggilmu 'Ayah' tadi," ucap Alya pelan.
Liang menunduk, menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. "Aku tidak pantas mendapatkannya, Al. Dia jauh lebih berani dariku. Dia melindungi adiknya sementara aku... aku baru datang saat semuanya sudah terbakar."
"Kau datang, Liang. Itu yang penting bagi mereka," Alya menatap ombak. "Aku sadar satu hal hari ini. Aku bisa membangun benteng setinggi apa pun, aku bisa punya uang sebanyak apa pun, tapi aku tidak bisa memberikan mereka sosok ayah sendirian."
Liang menoleh, menatap Alya dengan penuh harap. "Apakah itu berarti...?"
"Itu berarti aku memberimu izin untuk menjadi bagian dari hidup mereka secara penuh. Bukan sebagai tamu, bukan sebagai penasihat bisnis. Tapi sebagai ayah mereka."
Alya mengeluarkan cincin perak bunga melati yang diberikan Liang di Jakarta. Ia meletakkannya kembali ke telapak tangan Liang.
"Simpan ini dulu," ucap Alya dengan senyum tipis yang tulus. "Jangan lamar aku karena kau merasa bersalah atau karena kau ingin melindungiku. Lamar aku saat kau sudah yakin bahwa kau mencintai Alana sang Ratu Mineral, bukan Alya sang Gadis Kontrak."
Liang menggenggam cincin itu erat. "Aku akan melakukannya. Aku akan memenangkan hatimu kembali, Alana. Bukan dengan uang, tapi dengan setiap napasku."
Di kejauhan, Wei Jun, Luo Cheng, dan Zhihao berdiri di balkon vila, melihat pemandangan itu.
"Sepertinya kita kalah, kawan-kawan," gumam Luo Cheng sambil menenggak minumannya.
"Tidak ada yang kalah," sahut Wei Jun, membetulkan letak kacamatanya. "Kita semua adalah bagian dari kerajaan yang dibangun Alya. Dan selama dia bahagia, naga-naga ini akan tetap memiliki tempat untuk pulang."
Zhihao hanya diam, menatap layar tabletnya yang kini bersih dari ancaman. Untuk pertama kalinya, ia mematikan sistem pelacakan GPS di ponsel Alya. Ia memilih untuk percaya.
Alya menyandarkan kepalanya di bahu Liang sebentar, menikmati angin laut. Perang mungkin belum benar-benar berakhir. Obsidian Circle mungkin masih mengintai di kegelapan global. Namun malam ini, di bawah bintang-bintang Bali, sang Ratu Mineral tahu bahwa ia tidak lagi berjalan sendirian. Ia memiliki cintanya, anak-anaknya, dan empat naga yang kini benar-benar telah menjadi pelindungnya.
TAMAT