Bagi Freya Aurelia, mahasiswi seni yang hidupnya penuh warna dan kebebasan, Istana Welas adalah labirin kuno yang membosankan. Namun, sebuah insiden "salah masuk kamar" menyeretnya ke dalam pusaran protokol kerajaan yang kaku.
Di sana ada Kaisar Welas, sang putra mahkota yang perfeksionis, dingin, dan kaku layaknya robot. Dua dunia yang bertolak belakang ini dipaksa bersatu saat titah Buyut menjodohkan mereka demi sebuah stabilitas tradisi.
Satu bulan. Itulah waktu yang mereka miliki untuk membuktikan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan besar. Namun, di antara perang urat syaraf, noda saus sambal di kemeja mewah, dan pelarian ke warung mie ayam, garis-garis benci itu mulai memudar.
Dapatkah Freya mewarnai hidup Kaisar yang hitam-putih? Atau justru Freya yang akan terbelenggu dalam kaku-nya adab istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah gorden penginapan yang tipis, jatuh tepat di kelopak mata Freya. Gadis itu mengerang kecil, merasa tidurnya sangat nyenyak dan hangat—jauh lebih hangat daripada biasanya. Ia merasa seperti sedang memeluk guling raksasa yang sangat kokoh dan beraroma kayu cendana yang mahal.
Namun, saat kesadarannya pulih sepenuhnya, Freya menyadari sesuatu yang janggal. Guling ini bernapas. Guling ini memiliki detak jantung yang stabil. Dan guling ini... punya lengan yang melingkar erat di pinggangnya.
Freya membuka matanya lebar-lebar. Wajah Kaisar berada tepat di depannya, hanya berjarak beberapa sentimeter. Pria itu masih terlelap, napasnya yang teratur menyapu kening Freya. Posisi mereka benar-benar intim; kepala Freya bersandar di dada Kaisar, dan kaki mereka saling bertautan di bawah selimut tipis.
"AAAAAA!"
Jeritan melengking Freya membelah kesunyian kamar itu seperti alarm kebakaran. Ia langsung mendorong dada Kaisar dengan seluruh kekuatannya sampai pria itu tersentak bangun dan hampir terjatuh dari ranjang yang sempit.
"Kaisar! Lo... lo ngapain peluk-peluk gue?!" teriak Freya sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, matanya membelalak horor.
Kaisar mengerjapkan mata, masih mengumpulkan nyawanya. Rambutnya yang biasanya klimis kini berantakan, memberikan kesan "manusiawi" yang jarang terlihat. "Apa? Ada apa?"
"Apa, apa?! Lo nyari kesempatan dalam kesempitan ya?!" Freya buru-buru memeriksa bajunya—dress bunga-bunga dan cardigan ungu pastalnya masih melekat sempurna, meski sedikit kusut. "Tangan lo tadi di mana, hah?! Lo jangan mentang-mentang pangeran bisa seenaknya jadi gurita ya!"
Kaisar duduk tegak, berusaha memulihkan wibawanya meski ia sendiri merasa sangat canggung. "Freya, tenanglah. Kau sendiri yang semalam menggigil dan merapat ke arahku. Aku hanya berusaha memastikan tunanganku tidak mati kedinginan."
"Halah! Alasan! Bilang aja lo emang pengen meluk gue!" wajah Freya memerah padam, antara malu dan kesal.
"Jika aku ingin 'mencari kesempatan', aku tidak akan melakukannya di penginapan dengan kasur kapuk seperti ini," sahut Kaisar dingin, meski telinganya memerah. "Sekarang cepat mandi. Kita harus segera pergi."
Sinyal Kehidupan dan Pesan Beruntun
Kaisar mengambil ponselnya dari meja kayu. Begitu ia menyalakannya, sinyal bar muncul penuh. Detik itu juga, puluhan notifikasi masuk secara beruntun.
Tit... tit... tit... tit...
"Sinyalnya baru ada," gumam Kaisar. Ia membuka pesan-pesan itu.
Pangeran Ethan: Kak, lo di mana? Mobil lo ditemukan kosong di pinggir jalan. Tim keamanan sudah dalam perjalanan ke titik koordinat lo.
Buyut: Jangan buru-buru pulang, Kaisar. Nikmatilah waktu 'darurat'-mu bersama Freya.
Kaisar menghela napas. Sepertinya Buyut sudah tahu segalanya bahkan sebelum mereka melapor. Sementara itu, Freya keluar dari kamar mandi darurat dengan wajah yang sudah dicuci bersih namun tetap cemberut.
"Udah ada sinyal? Bagus! Hubungi siapa pun, suruh jemput sekarang! Gue nggak mau lama-lama di sini sama Pangeran Modus kayak lo," ujar Freya sambil menyambar tasnya.
"Tim keamanan sudah dalam perjalanan. Mereka akan sampai dalam sepuluh menit," jawab Kaisar tenang. Ia berdiri, merapikan kemejanya yang kini benar-benar kusut dan berbau bumbu nasi Padang dari kemarin.
Dua jam kemudian, sebuah konvoi mobil hitam mewah akhirnya memasuki gerbang Istana Welas. Freya turun dari mobil dengan wajah yang ditekuk seribu. Ia merasa harga dirinya sebagai gadis rebel jatuh karena ketahuan tidur berpelukan dengan sang "Pangeran Robot".
Di teras utama, Buyut sudah berdiri dengan anggun, memegang tongkat emasnya. Di sampingnya ada Permaisuri Ratna yang tampak lega, dan Pangeran Ethan yang memasang wajah paling jahil sejagat raya.
"Selamat datang kembali, anak-anakku," suara Buyut terdengar sangat renyah. Beliau menatap kemeja Kaisar yang kusut dan wajah Freya yang merah padam.
"Maaf kami baru kembali, Buyut. Ada kendala teknis," lapor Kaisar sambil membungkuk hormat.
Buyut tersenyum sangat lebar, jenis senyuman yang membuat Freya merasa sedang masuk ke dalam perangkap. "Kendala teknis kadang membawa berkah, bukan? Aku dengar penginapan di area itu sangat... romantis dengan kesederhanaannya."
"Romantis apanya, Buyut! Itu kasurnya bunyi krik-krik mulu, udah gitu Kai peluk-peluk saya!" adu Freya spontan tanpa filter.
Seluruh keluarga kerajaan terdiam. Permaisuri Ratna menutup mulutnya karena terkejut, sementara Ethan meledak dalam tawa.
"Wuih! Kak Kaisar main peluk aja nih? Progresnya cepet banget!" goda Ethan sambil menyenggol bahu kakaknya.
Kaisar memejamkan mata, menahan malu. "Freya, tolong jangan bicara yang tidak-tidak."
Buyut justru tertawa kecil. "Biarkan saja, Kaisar. Kejujuran Freya adalah hal yang paling berharga di istana ini." Beliau melangkah mendekati Freya, lalu menepuk pipi gadis itu dengan sayang. "Nona kecil, istirahatlah. Sepertinya satu malam di luar sana membuat kalian berdua jauh lebih dekat daripada satu bulan pertemuan formal."
Setelah Freya diantar pulang ke rumahnya oleh supir (Kaisar kali ini tidak ikut karena harus menghadap Raja), Buyut memanggil Kaisar ke ruang pribadinya.
"Kaisar," panggil Buyut.
"Iya, Buyut."
"Apa kau masih berpikir bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan?" tanya beliau sambil menatap lurus ke dalam mata Kaisar.
Kaisar terdiam cukup lama. Ia teringat bagaimana hangatnya tubuh Freya dalam dekapannya semalam, bagaimana gadis itu mengomel tanpa henti tapi tetap terlihat tulus, dan bagaimana ia merasa ingin melindungi gadis itu dari apa pun.
"Saya... masih butuh waktu untuk memastikannya, Buyut," jawab Kaisar diplomatis, meski hatinya sudah memberikan jawaban yang berbeda.
"Waktu akan memberikan jawabannya," sahut Buyut. "Tapi satu hal yang pasti, Kaisar. Semalam, kau tidak bertindak sebagai seorang Pangeran Mahkota. Kau bertindak sebagai seorang pria. Dan itulah yang Freya butuhkan."
Kaisar keluar dari ruangan Buyut dengan pikiran yang berkecamuk. Ia melewati lorong istana yang kaku, tapi kali ini ia merasa tidak terlalu asing lagi. Ia mengambil ponselnya, lalu dengan ragu mengetik sebuah pesan untuk Freya.
Kaisar: Jangan lupa cuci bajumu. Baunya masih tertinggal di kemejaku.
Beberapa detik kemudian, balasan masuk.
Freya: BAWEL LO KAI! Kemeja lo tuh yang bau bumbu rendang! Udah gue bakar! (Nggak deng, bohong).
Kaisar tersenyum tipis. Sangat tipis. Tapi itu adalah senyum yang paling nyata yang pernah ia miliki.