NovelToon NovelToon
HEARTS & SCALPELS: The Silent Recipe

HEARTS & SCALPELS: The Silent Recipe

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Mafia / BTS
Popularitas:482
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

"Di balik presisi pisau bedah, ada rahasia yang tidak boleh terucap."
Sheril tidak pernah menyangka bahwa kariernya sebagai ahli forensik akan membawanya ke dalam lingkaran berbahaya antara cinta dan kebenaran. ia mempercayai sekaligus mencurigai kekasihnya Jungkook.
Beberapa rahasia memang lebih baik tetap membisu. Tapi, apakah detak jantung bisa berbohong di bawah tajamnya skalpel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Aroma Pagi yang Berbeda

Matahari baru saja merayap naik, menyisipkan garis-garis cahaya tipis melalui celah gorden apartemen yang belum sempat dibuka. Namun bagi Sheril, pagi ini tidak membawa kesegaran. Kepalanya terasa berat, seolah ribuan jarum kecil menusuk saraf-saraf di balik pelipisnya. Aroma formalin yang pekat seolah masih bersarang di paru-parunya, tidak peduli seberapa keras ia menggosok tubuhnya di bawah pancuran air hangat tadi malam.

Ia keluar dari kamar dengan langkah gontai, masih mengenakan jubah mandi tebal berwarna putih. Di ruang tengah, suasana tampak tenang. Suara desis mentega di atas wajan dan aroma harum bawang putih yang ditumis seketika menyambut indranya. Itu adalah aroma yang seharusnya menenangkan—aroma "rumah".

Jungkook ada di sana. Di balik konter dapur yang bersih, ia tampak sangat fokus. Ia mengenakan kaus oblong hitam yang pas di tubuhnya, memperlihatkan otot lengan yang bergerak ritmis saat ia bekerja. Rambutnya sedikit acak-acakan, khas orang yang baru bangun tidur tapi sudah sibuk dengan dunia kulinernya.

"Kamu sudah bangun sayang?" suara Jungkook memecah keheningan.

Ia tidak menoleh, matanya tetap tertuju pada talenan di depannya. "Aku membuatkanmu Omelet Soufflé dan salad dengan saus balsamic. Kamu butuh tenaga setelah lembur malam yang panjang di lab dan kembali subuh tadi"

Sheril tersenyum tipis, bersandar pada pilar kayu yang memisahkan ruang makan dan dapur.

"Baunya harum sekali, Kook. Terima kasih."

Namun, senyum Sheril memudar perlahan saat langkahnya mendekat ke meja makan.

 Matanya, yang sudah terlatih selama bertahun-tahun untuk mendeteksi detail sekecil apa pun di ruang otopsi, tanpa sengaja tertuju pada tangan Jungkook.

Jungkook sedang memotong peterseli dan beberapa hiasan sayuran untuk mempercantik piringnya. Gerakannya sangat cepat, presisi, dan tenang. Pisau chef yang sangat tajam itu seolah-olah merupakan perpanjangan dari jarinya sendiri.

Deg.

Jantung Sheril seolah berhenti berdetak sesaat. Ia teringat luka di leher mayat wanita muda yang ia bedah tiga jam lalu. Sayatan melintang yang bersih. Sudut masuknya pisau. Tekanan yang konsisten.

Di depan matanya sekarang, Jungkook melakukan hal yang sama. Ia memegang pisau dengan posisi jari telunjuk menekan bagian punggung pisau untuk memberikan kendali penuh—sebuah teknik yang memastikan sayatan tidak akan bergerigi. Jungkook menarik pisau itu dalam satu tarikan panjang yang halus saat membelah tomat ceri, persis seperti cara pelaku membelah jaringan kulit korban semalam.

"Kook..." suara Sheril tertahan di tenggorokan.

"Ya, Sayang?" Jungkook menoleh. Kali ini ia tersenyum, tapi sorot matanya terlihat sangat lelah, meskipun ia berusaha menutupinya dengan senyuman di wajahnya.

"Teknik memotongmu... kau belajar dari mana?" tanya Sheril berusaha terdengar biasa saja, meski tangannya mulai terasa dingin.

Jungkook terdiam sejenak, pisaunya berhenti di udara. Ia menunduk menatap peterseli yang sudah terpotong rapi.

 "Oh, ini? Ini teknik dasar Prancis. Kenapa? Apa terlihat aneh?" Ia menatap Sheril dengan tersenyum kemudian terkekeh kecil, lalu melanjutkan pekerjaannya.

Sheril berjalan lebih dekat, matanya kini tertuju pada setumpuk peterseli yang sudah disisihkan Jungkook di pinggir piring. Bentuknya kecil, melengkung sempurna, dan segar. Ingatan Sheril kembali ke ruang forensik yang dingin—ke momen saat V menggunakan pinset untuk mengambil peterseli yang identik dari bawah lidah korban.

Tidak, itu tidak mungkin, batin Sheril berteriak. Jungkook adalah pria yang menyelamatkanku dari depresi. Dia pria yang menangis saat jariku teriris kertas. Dia tidak mungkin...

"Sheril? Sayang, Kamu melamun?"

Tiba-tiba tangan Jungkook sudah berada di pipinya. Hangat. Namun, Sheril tidak bisa tidak memperhatikan bekas kemerahan kecil di sela kuku ibu jari Jungkook. Itu bukan noda saus. Itu warna dari bekas luka yang sangat ia kenal. Darah yang sudah mengering.

"Tanganmu kenapa?" Sheril meraih tangan Jungkook, memeriksanya dengan insting seorang dokter.

Jungkook dengan lembut namun cepat menarik tangannya kembali.

 Ia memasukkannya ke dalam saku apron hitamnya.

"Hanya kecelakaan kecil saat memotong daging di restoran tadi malam. Stok daging datang terlambat, dan aku sedikit terburu-buru. Jangan khawatirkan luka kecil ini"

"Yang harus dipikirkan itu kamu, setiap malam selalu lembur dan kurang tidur." kata Jungkook menatap kekasihnya dengan wajah cemberut.

Sheril hanya menarik nafas panjang, ia kemudian mengecup bibir Jungkook pelan.

"Aku baik-baik saja. Ini resiko pekerjaan sayang" kata Sheril.

Jungkook hanya menarik nafasnya dalam, ia sangat paham bagaimana Sheril mencintai pekerjaannya.

Jungkook lalu menyajikan piring itu di depan Sheril di atas meja makan, Sebuah hidangan yang indah. Estetik. Sempurna. Namun di mata Sheril, hidangan itu kini tampak seperti replika dari TKP yang ia kunjungi semalam. Aroma saus merah yang tadi terasa menggugah selera, kini mulai tercium amis di hidungnya.

"Makanlah, mumpung masih hangat," desak Jungkook. Ia duduk di kursi seberang Sheril, menopang dagu dengan kedua tangannya, memperhatikannya dengan tatapan intens.

Sheril mengambil garpu dengan tangan yang sedikit gemetar. Setiap kunyahan terasa membuat ia mual. Pikirannya berkecamuk. Ia ingin bertanya lebih banyak, tapi ia takut pada jawaban yang mungkin akan ia dapatkan.

Tiba-tiba, ponsel Sheril di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari Suga.

Suga: "Sheril, jangan makan apa pun yang mencurigakan pagi ini. Aku baru saja menemukan sesuatu di log pengiriman restoran Jungkook. Kita perlu bicara di kantor. Sekarang."

Sheril menelan ludahnya dengan susah payah. Ia mendongak dan mendapati Jungkook masih menatapnya. Senyum kelinci pria itu tidak berubah, tapi entah mengapa, di bawah cahaya pagi yang cerah ini, bayangan Jungkook di dinding tampak lebih besar dan lebih gelap dari biasanya.

"Ada apa? Dari siapa?" tanya Jungkook lembut, namun nadanya menuntut.

"Hanya... hanya Jin Oppa," bohong Sheril, jantungnya berpacu cepat. "Dia bilang ada berkas yang tertinggal. Aku harus segera kembali ke lab."

Jungkook berdiri, berjalan memutar meja, lalu mengecup puncak kepala Sheril. "Hati-hati di jalan. Jangan terlalu lelah. Ingat, dunia ini penuh dengan orang jahat, Sheril. Hanya di sini, bersamaku, kamu benar-benar aman."

Kata-kata itu seharusnya terdengar seperti janji cinta, namun di telinga Sheril, itu terdengar seperti sebuah peringatan.

Saat Sheril melangkah keluar pintu, ia sempat menoleh ke belakang. Ia melihat Jungkook kembali ke dapur, mengambil pisau besarnya, dan mulai mengasahnya. Suara gesekan logam itu menggema di lorong apartemen yang sepi. Srek. Srek. Srek.

Dunia Sheril yang berwarna merah muda kini mulai memudar, menyisakan warna kelabu yang dingin—sama seperti warna meja otopsi yang menantinya di rumah sakit.

...****************...

1
Lilyyanaa
ternyata member bts lengkapp🤭
sabana: iyah, semoga suka🙏
total 1 replies
sabana
Ini Fanfic idol lagi ya, minjam nama-nama personil BTS ya, semoga suka
李慧艳
mampir...semangatk kak
李慧艳: tolong AP???
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!