Di sebuah fasilitas penelitian bawah tanah yang terisolasi dari peradaban, seorang peneliti jenius bernama Esmeralda Aramoa terjebak dalam dilema moral dan ancaman nyawa. Demi bayaran besar untuk kelangsungan hidupnya, ia setuju memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh seorang pria bernama AL. Selama satu bulan, Esme menyaksikan transformasi mengerikan sekaligus memikat pada diri AL, yang kini bukan lagi manusia biasa, melainkan predator puncak dengan insting Enigma yang jauh lebih buas dari Alpha mana pun. Hubungan antara pencipta dan subjek ini menjadi permainan kucing dan tikus yang berbahaya, di mana batas antara benci, obsesi, dan insting liar mulai memudar saat AL mulai menunjukkan tanda-tanda perlawanan terhadap kurungan kacanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Pertemuan
Sinar matahari mulai meredup di balik cakrawala saat Esmeralda Aramoa sedang sibuk di dalam laboratorium kecilnya yang terletak di bagian belakang pondok kayunya yang asri. Kehidupan di lereng bukit ini memang jauh dari gemerlap teknologi Leb City yang pernah membesarkan namanya, namun di sinilah ia merasa benar-benar hidup sebagai manusia. Suasana sunyi hanya dipecah oleh suara denting kaca saat ia mencampurkan berbagai ekstrak tumbuhan hutan yang ia kumpulkan selama seminggu terakhir. Tiba-tiba, suara dering telepon tua di sudut ruangan mengejutkannya.
Esme mengangkat gagang telepon tersebut, menjepitnya di antara telinga dan bahunya sementara tangannya tetap sibuk mengaduk cairan berwarna hijau kebiruan di dalam beker kimia. "Halo, Esme di sini. Ada apa, Paman?" tanyanya dengan nada suara yang hangat namun tetap tenang.
"Esme, maaf mengganggu kesibukanmu di atas sana, Nak," suara Paman Silas, seorang penggembala biri-biri tua dan juga pemilik kebun terbesar yang tinggal di pemukiman bawah bukit, terdengar sedikit cemas. "Begini, ada sesuatu yang tidak beres di area hutan dekat tempat biasanya aku membawa biri-biriku merumput. Ada sebuah pohon besar yang tampak sakit parah. Daun-daunnya menghitam dalam semalam dan akarnya mengeluarkan aroma busuk yang sangat menyengat. Aku khawatir jika ini semacam wabah, pohon-pohon lain di sekitar bukitmu juga akan tertular."
Esme menghentikan gerakannya. Dahinya berkerut. "Menghitam dalam semalam? Itu terdengar seperti serangan jamur parasit yang sangat agresif, Paman. Baiklah, aku kebetulan baru saja menyelesaikan purwarupa cairan penyemprot nutrisi mikro yang aku kembangkan. Aku akan segera turun dan memeriksanya."
"Hati-hati, Esme. Hutan malam ini terasa agak berbeda. Biri-biriku sangat gelisah sejak tadi siang," pesan Paman Silas sebelum menutup telepon.
Esme segera menyiapkan peralatan lapangannya. Ia memasukkan botol-botol cairan penyemprot buatannya ke dalam tas kanvas yang kuat. Cairan ini adalah hasil eksperimennya selama berbulan-bulan, sebuah formula yang dirancang untuk menembus lapisan pelindung jamur dan langsung menutrisi inti akar pohon. Selain itu, sebagai mantan peneliti yang pernah berurusan dengan subjek berbahaya seperti AL, Esme tidak pernah benar-benar meninggalkan kewaspadaannya. Di sabuk pinggangnya, ia menyampirkan alat pelumpuh ultrasonik dan sebuah penyemprot pelumpuh hewan buas bertekanan tinggi yang berisi campuran alkaloid pekat.
Perjalanan turun dari pondoknya menuju hutan di kaki bukit memakan waktu sekitar satu jam. Esme berjalan dengan langkah mantap, melewati jalan setapak yang diapit oleh rimbunnya pepohonan pinus. Sesampainya di lokasi yang disebutkan Paman Silas, ia segera menemukan pohon yang dimaksud. Itu adalah sebuah pohon tua yang megah, namun kondisinya memprihatinkan. Batang bawahnya membusuk dan urat-urat hitam menjalar hingga ke akar yang menyembul dari tanah.
"Kasihan sekali kau. Mari kita lihat apakah ramuanku bisa membantumu bernapas kembali," bisik Esme pelan sambil berlutut di depan akar pohon tersebut.
Ia mulai menyemprotkan cairan hijau kebiruan itu dengan teliti. Ia harus memastikan setiap celah yang terinfeksi terkena cairan tersebut. Setelah selesai, Esme memutuskan untuk melanjutkan sedikit lebih dalam ke arah hutan untuk memeriksa sebuah pohon raksasa yang katanya telah hidup selama puluhan tahun di sana. Dia ingin memastikan bahwa pohon legendaris itu tidak ikut tertular oleh parasit misterius ini.
Tanpa ia sadari, waktu berlalu dengan cepat saat ia melakukan observasi biologis pada batang pohon tua itu. Langit telah berubah menjadi beludru hitam pekat saat ia mulai melangkah pulang. Untungnya, malam itu adalah malam bulan purnama pertama di bulan ini. Cahaya rembulan begitu terang, menyapu lantai hutan dengan warna perak yang pucat, memberikan pencahayaan yang cukup bagi Esme untuk melihat jalan setapak.
Namun, suasana damai itu tiba-tiba berubah.
Suara gemerisik semak belukar mulai terdengar dari berbagai arah. Bukan hanya satu atau dua binatang, melainkan seperti ada pergerakan massal hewan-hewan kecil yang melarikan diri dari sesuatu. Burung-burung malam terbang liar di atas kepala, berkicau dengan nada panik. Esme menghentikan langkahnya, tangannya reflex memegang gagang penyemprot pelumpuh di pinggangnya.
"Ada yang tidak beres," gumamnya, matanya menyapu kegelapan di balik pepohonan.
Tiba-tiba, sebuah aroma yang sangat ia kenal—namun telah lama ia coba lupakan—tertiup oleh angin malam. Aroma besi darah yang bercampur dengan bau musk yang sangat tajam dan liar. Jantung Esme berdegup kencang, sebuah firasat buruk mulai merayap di tengkuknya. Itu bukan bau serigala biasa. Itu adalah bau predator puncak yang pernah ia ciptakan di laboratorium bawah tanah itu.
Dari balik bayang-bayang pohon besar di depannya, sesosok makhluk melangkah keluar perlahan ke bawah cahaya purnama.
Esme terkesiap, langkahnya goyah hingga ia hampir terjatuh. "Tidak mungkin..." bisiknya dengan bibir gemetar.
Di hadapannya berdiri AL. Namun, dia bukan lagi subjek eksperimen yang pernah menatapnya dari balik kaca. Makhluk di depannya ini adalah manifestasi murni dari kengerian gen Enigma yang telah mencapai tahap akhir. AL berdiri tegak dengan tinggi yang luar biasa, mungkin mencapai dua ratus sentimeter, jauh melampaui tinggi terakhirnya yang diingat Esme yaitu seratus delapan puluh lima sentimeter.
Tubuh bagian atasnya bertelanjang dada, memamerkan otot-otot yang sangat padat dan urat-urat yang menonjol seperti akar pohon yang kuat. Kulitnya yang pucat berkilat di bawah cahaya bulan, kontras dengan sisa-sisa darah merah segar yang melumuri mulut dan dagunya. Di tangannya, ia memegang bangkai seekor kelinci yang telah tercabik-cabik.
"AL?" panggil Esme dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Makhluk itu mendongak. Mata kuning keemasannya berkilat liar di tengah kegelapan, pupilnya menyempit menjadi garis vertikal yang tajam. Tidak ada pengenalan di mata itu. Tidak ada sisa-sisa pria yang pernah memanggil namanya dengan nada sarkastik. Yang ada hanyalah insting predator yang lapar dan teritorial.
AL menjatuhkan bangkai kelincinya dan mengeluarkan suara geraman rendah yang menggetarkan udara di sekitar mereka. Ia merendahkan tubuhnya, bersiap untuk menerjang.
"AL, ini aku, Esme! Berhenti!" teriak Esme, mencoba menggunakan otoritas suaranya yang dulu sering ia gunakan di lab.
Namun, AL tidak peduli. Dengan kecepatan yang mustahil bagi manusia biasa, ia melesat ke arah Esme. Esme segera berbalik dan berlari sekuat tenaga menanjak menuju pondoknya. Suara langkah kaki AL yang berat dan cepat terdengar tepat di belakangnya, menghancurkan ranting-ranting kering dengan kekuatan yang menakutkan.
"Jangan mendekat!" teriak Esme sambil melemparkan alat pelumpuh ultrasonik ke arah belakang tanpa menoleh. Alat itu meledak dengan suara frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga, namun AL hanya terhuyung sejenak sebelum kembali mengejarnya dengan kemarahan yang lebih besar.
Esme merasa paru-parunya mulai terbakar karena oksigen yang menipis. Langkahnya mulai melambat di jalan yang menanjak tajam. Tiba-tiba, sebuah tangan besar dengan kuku tajam menyambar tas kanvasnya, merobek kain itu hingga isinya berhamburan. Esme terjatuh tersungkur di tanah yang lembap.
Ia berbalik dengan cepat, melihat AL sudah berdiri tepat di atasnya, menghalangi cahaya bulan hingga tubuhnya yang raksasa menciptakan bayangan gelap yang menelan Esme. AL menggeram, taringnya yang panjang dan tajam kini terlihat jelas di balik bibirnya yang bersimbah darah. Ia mengangkat tangannya, siap untuk merobek apa pun yang ada di depannya.
"Tunggu! Maafkan aku, AL!" teriak Esme dalam keputusasaan.
Tepat saat AL menerjang ke arah lehernya, tangan Esme meraih botol penyemprot cairan nutrisi tumbuhan yang masih ia genggam erat. Tanpa berpikir panjang, ia menekan pemicunya dan menyemprotkan cairan pekat itu tepat ke arah wajah dan mata kuning AL yang terbuka lebar.
AL memekik, sebuah suara yang terdengar seperti perpaduan antara geraman serigala dan jeritan manusia yang kesakitan. Ia mundur beberapa langkah, menutupi wajahnya dengan tangannya yang besar. Tubuhnya yang raksasa itu mulai meracau, bergerak tidak stabil saat cairan kimia tumbuhan itu bereaksi dengan sel-sel Enigma yang sensitif di permukaan matanya.
"Arrgh... baunya... bau ini..." AL mengerang dengan suara yang dalam dan serak, seolah-olah ingatannya yang tertimbun mencoba untuk muncul kembali ke permukaan.
Ia menghirup aroma cairan itu dalam-dalam sebelum kesadarannya mulai meredup. Formula yang diciptakan Esme untuk menyembuhkan tumbuhan ternyata mengandung konsentrasi alkaloid yang bertindak sebagai obat penenang saraf yang sangat kuat bagi organisme dengan metabolisme Enigma yang tidak stabil. Tubuh AL yang tadinya penuh dengan tenaga liar tiba-tiba menjadi lemas.
Makhluk raksasa itu terhuyung, lalu jatuh berlutut tepat di depan Esme. Ia menatap Esme sekali lagi dengan mata yang mulai sayu, seolah-olah untuk sesaat, ia melihat sesuatu yang familiar sebelum akhirnya jatuh pingsan sepenuhnya di atas tanah hutan yang dingin.
Esme terengah-engah, tubuhnya gemetar hebat karena adrenalin dan rasa takut yang luar biasa. Ia menatap tubuh AL yang tergeletak tidak berdaya di hadapannya. Predator yang paling berbahaya di dunia, yang selama tiga tahun ini ia pikir telah mati, kini berada tepat di depannya.
"Kau kembali," bisik Esme dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya. "Apa yang harus aku lakukan padamu sekarang, AL?"
Cahaya bulan purnama terus menyinari mereka berdua, menyinari sebuah takdir yang kembali bersilangan di tengah hutan yang sunyi, jauh dari laboratorium yang pernah menjadi penjara bagi mereka berdua.