Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.
“Kamu harus jadi pengantinku.”
Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.
Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.
Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.
Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?
Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AWAL DARI BADAI.
Gedung lima lantai bertuliskan Citra Hospital berdiri megah di bawah matahari pagi. Aktivitas sudah sibuk walau jam belum benar-benar tinggi. Ambulans datang dan pergi, keluarga pasien lalu lalang, sementara para tenaga medis bergerak cepat seperti roda yang tak boleh berhenti.
Di kantin rumah sakit, seorang perempuan berjas putih duduk sendirian. Hijabnya tertata rapi, stetoskop menggantung di lehernya. Di depannya, secangkir teh hangat masih mengepul.
Arumi Devita Ningrum menghela napas pelan. "Akhirnya selesai juga jaga malam."Ia mengangkat cangkir itu, berniat meneguk sedikit sebelum pulang dan tidur panjang.
“Arumi? Benar ini Arumi?”
Suara bariton itu membuat tangannya membeku.
Arumi menoleh cepat ke arah sumber suara. Dan dalam satu detik, teh yang baru saja masuk ke mulutnya tersembur.
“Bisma?” serunya kaget.
Pria itu tertawa kecil sambil mengangkat kedua tangan. “Nah kan benar kamu. Maaf, aku bikin kamu kaget.”
Arumi buru-buru mengambil tisu. “Kamu muncul tiba-tiba. Bisa kena serangan jantung aku.”
“Dokter kok takut serangan jantung,” goda Bisma.
Arumi mendengus, tetapi bibirnya tersenyum tipis. “Duduklah.”
Bisma menarik kursi di hadapannya. Penampilannya masih sama seperti dulu. Santai, percaya diri, dengan mata yang selalu penuh rasa ingin tahu.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Arumi. “Bukannya kamu praktik di Bali?”
“Iya. Hari ini ada seminar dokter di Hotel ZX. Sekalian aku mau ketemu seseorang, jadi mampir dulu ke sini.”
“Ariya?” tanya Arumi tanpa berpikir.
Bisma tersenyum miring. “Nah, kamu masih hafal.”
Arumi pura-pura sibuk dengan tehnya. “Biasa saja.”
Bisma memesan minuman, lalu kembali menatapnya lekat. “Kemarin aku dapat undangan pernikahan dari dia.”
Arumi berhenti bergerak, tetapi wajahnya tetap datar. “Lalu?”
“Aku kira yang tertulis di sana bakal namamu.”
“Kamu salah.”
“Aku memang salah,” sahut Bisma cepat. “Yang bikin aku syok itu calon istrinya Lusi. Itu Adik tiri kamukan?”
Arumi menegakkan punggungnya. “Terus kenapa?”
“Rum, dulu kalian seperti perangko dan amplop. Nempel terus. Semua orang yakin kalian bakal menikah.”
“Itu cuma pikiran orang,” jawab Arumi pendek.
“Bahkan aku yakin.”
“Kamu terlalu banyak yakin.”
Bisma tertawa hambar. “Kenapa kalian jadi begini sih?”
Arumi menatapnya tajam. “Memangnya penting buat kamu?”
Bisma terdiam, lalu mengangkat bahu. “Aneh saja. Tadi malam aku tanya Ariya hal yang sama. Jawabannya mirip kamu.”
Arumi mendengus pelan. “Lalu aku harus tepuk tangan?”
“Kalian keras kepala,” gumam Bisma. “Padahal jelas masih saling peduli.”
“Tidak,” jawab Arumi tegas.
Sebelum Bisma sempat membalas, seorang perawat datang dengan napas terengah.
“Permisi, Dokter Arumi. Anda diminta ke UGD. Ada pasien kecelakaan.”
Arumi melirik jam tangannya. “Shift saya sudah selesai. Panggil dokter yang bertugas pagi.”
Perawat itu menelan ludah. “Sudah, Dok.”
“Lalu?”
Perawat itu menatapnya ragu. “Pasiennya Dokter Ariya.”
Suara benda pecah menggema.
Cangkir di tangan Arumi jatuh menghantam lantai.
“Apa?” bisiknya.
Bisma langsung berdiri. “Ariya?”
“Keadaannya cukup parah, Dok,” lanjut perawat itu.
Arumi sudah berjalan lebih dulu bahkan sebelum kalimatnya selesai.
“Rum, tunggu!” Bisma menyusul.
Mereka berlari menuju ruang UGD. Sepatu menghentak lantai, napas memburu, jantung Arumi berdetak keras seperti ingin melompat keluar.
“Tidak. Jangan dia.”
Begitu mereka sampai, diruangan UGD seorang perawat lain menahan Bisma.
“Maaf, Anda tidak boleh masuk.”
“Dia dokter,” potong Arumi cepat.
Perawat itu langsung mundur. “Maaf, Dok.”
Akhirnya Mereka masuk bersama.
Dan dunia Arumi seperti berhenti.
Di atas brankar, seorang pria terbaring tak berdaya. Wajahnya penuh darah, Jasnya yang berwarna putih robek di sana sini. Mesin monitor berbunyi cepat.
Bisma menutup mulutnya. “Ya Tuhan, Ariya?”
Arumi terdiam mematung.
Itu Ariya Raditya.
Anak laki-laki yang dulu memintanya berjanji menjadi pengantinnya. Anak laki-laki yang marah setiap ada pria lain mendekatinya. Pria yang sekarang akan menikahi adik tirinya.
“Rum,” panggil Bisma pelan. “Kalau kamu tidak kuat, biar aku saja.”
Arumi langsung tersentak. Kesadarannya kembali seperti ditarik paksa.
“Aku kuat,” katanya. Ia mengambil sarung tangan, memasang masker, lalu berdiri di sisi tempat tidur.
“Apa saja lukanya?” tanyanya profesional.
“Benturan keras di kepala. Banyak perdarahan,” jawab perawat.
Arumi mengangguk. Tangannya bergerak otomatis. Membersihkan darah. Memeriksa pupil. Menahan gemetar yang ingin muncul.
“Fokus Arumi. Kamu dokter.” batinnya
Namun ketika jarinya hampir menyentuh wajah Ariya, suara perempuan menjerit dari pintu.
“Berhenti!”
Semua orang yang ada diruangan tersebut menoleh. Terlihatlah seorang wanita berdiri di sana dengan gaun mahal dan wajah penuh kepanikan.
“Jangan sentuh calon suamiku!”
Ruangan mendadak sunyi. Arumi mengenali wajah itu. Dia adalah Lusi, Adik tirinya.
Bisma memandang Arumi, khawatir. “Rum…”
Arumi menegakkan tubuh. “Saya dokter yang bertugas menanganinya.”
“Aku tidak mau kamu menyentuh dia,” bentak Lusi.
“Kalau begitu kamu saja yang operasi,” balas Arumi dingin.
Wajah Lusi memucat.
“Keluar kalau hanya mau mengganggu,” lanjut Arumi.
Untuk beberapa detik, mereka saling menatap. Api permusuhan yang sudah lama terpendam kini menyala terang. Akhirnya Lusi mundur perlahan.
Arumi kembali menoleh ke pasien di depannya. Ke Ariya. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, saling menjauh kini jarak mereka begitu dekat.
“Bertahanlah,” bisiknya tanpa sadar.
Apakah ia berbicara sebagai dokter?
Atau sebagai gadis kecil yang dulu pernah dijanjikan masa depan?
Monitor jantung Ariya terus berbunyi.
Dan tak satu pun dari mereka tahu, kecelakaan ini baru awal dari badai yang akan mengubah segalanya.
___
Bismillah, semoga karya Author yang baru ini disukai oleh para readers fillahku semuanya. Jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih.
semoga ingatanmu kembali tak lama setelah Ariya mampu berjalan & terbang ke Sumatra