NovelToon NovelToon
PENYESALAN SANG PENGUASA

PENYESALAN SANG PENGUASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Kaya Raya
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Sinopsis: Penyesalan Sang Penguasa

Aku terbangun di masa mudaku yang miskin tepat setelah Seeula pergi selamanya dalam penyesalan. Berbekal memori masa depan, aku bertekad membangun kembali kekaisaran bisnisku dari titik nol. Bukan sekadar harta, tujuanku adalah menjadi pria paling layak untuk melindungi istri yang dulu kusia-siakan. Sebelum menjemput cintaku, aku harus memenangkan perang bisnis yang kejam dan menghancurkan para musuh lama. Perjalanan penebusan dosaku dimulai sekarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Mahkota Baru di Atas Meja Jati

Matahari pagi ini tidak berani bersinar lebih terang daripada ambisi yang berkobar di dalam dadaku. Aku sudah berdiri di depan cermin besar kamar hotel sejak pukul enam, memastikan setelan jas hitamku tidak memiliki lipatan sekecil apa pun. Di atas ranjang, Seeula baru saja menggerakkan jemarinya, perlahan membuka mata yang selama ini menjadi kompas moral dalam hidupku yang penuh lumpur dosa.

"Kau sudah bangun?" tanyaku sambil merapikan jam tangan modifikasi di pergelangan kiriku.

Seeula mengerjapkan mata, tampak sedikit bingung melihat keberadaanku yang sudah sangat siap untuk bertempur di medan bisnis. "Yansya? Kau tidak tidur semalaman?"

"Tidur adalah kemewahan bagi mereka yang sudah menang, Seeula, dan kita baru saja memulai babak final pengambilalihan Widowati Group," jawabku dengan nada bicara yang penuh kepastian.

Aku mendekatinya, membantu gadis itu duduk dengan gerakan yang sangat sopan. Aku bisa melihat gurat kekaguman di matanya, sebuah pandangan yang dulu sangat jarang kudapatkan saat aku masih menjadi budak ego di masa laluku. Kali ini, setiap gerakanku adalah bagian dari skenario untuk membuatnya merasa menjadi wanita paling berkuasa di kota ini.

"Hari ini, kau tidak akan masuk ke gedung itu sebagai seorang putri yang terancam dijual, tapi sebagai pilar utama perusahaan," tegasku sambil menyerahkan sebuah map berwarna emas yang berisi dokumen pengangkatan direksi.

"Kau serius menjadikanku direktur operasional? Aku belum punya pengalaman, Yansya," sergah Seeula dengan nada suara yang bergetar karena ragu.

Aku memberikan senyum yang paling menenangkan yang pernah aku miliki. "Pengalaman bisa dibeli dengan waktu, tapi integritas tidak. Aku akan berada tepat di belakangmu untuk memastikan tidak ada satu pun direktur tua yang berani mengangkat suara di depanmu."

Kami berangkat menuju kantor pusat Widowati Group dengan pengawalan empat mobil hitam yang melaju dengan formasi yang sangat rapat. Aku sengaja menciptakan kesan visual yang sangat dominan agar semua orang di jalanan tahu bahwa penguasa baru telah tiba. Sesampainya di depan gedung pencakar langit itu, barisan karyawan sudah berdiri kaku di lobi, menanti kedatangan pemilik modal yang telah menghancurkan dominasi keluarga Widowati hanya dalam hitungan hari.

Aku menggandeng tangan Seeula saat keluar dari mobil. Aku bisa merasakan telapak tangannya sedikit berkeringat, namun aku memberikan remasan kecil untuk menyalurkan energi keberanian padanya. Kami melangkah masuk, membiarkan bunyi sepatu kami bergema di lantai marmer yang mengilap, menciptakan irama kekuasaan yang tidak bisa dibantah.

"Selamat pagi, Tuan Yansya, Nona Seeula. Ruang rapat utama sudah siap," sapa sekretaris perusahaan yang kini membungkuk sangat dalam.

"Bawa kami ke sana sekarang. Aku tidak suka menunggu lebih dari tiga menit," perintahku dengan suara yang sangat dingin namun berwibawa.

Di dalam ruang rapat, Madam Widowati sudah duduk di kursinya dengan wajah yang terlihat sepuluh tahun lebih tua. Matanya yang biasanya penuh dengan penghinaan kini redup, seolah cahaya hidupnya baru saja dipadamkan secara paksa oleh kenyataan pahit. Di sampingnya, beberapa pemegang saham minoritas menundukkan kepala, tidak berani menatap langsung ke arahku yang kini berdiri di ujung meja jati.

"Madam, silakan pindah dari kursi utama itu. Kursi itu sekarang milik Direktur Operasional kita yang baru," ucapku sambil menunjuk ke arah Seeula.

Madam Widowati tersentak, rahangnya mengeras karena merasa sangat terhina di depan koleganya sendiri. "Kau ingin putriku sendiri yang menyingkirkanku dari perusahaan yang kubangun dengan darah dan air mata?"

"Perusahaan ini tidak dibangun dengan air mata, Madam, tapi dengan tumpukan utang yang hampir menenggelamkan masa depan Seeula," balasku dengan nada bicara yang sangat tajam dan menusuk ulu hati.

Seeula menatap ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kesedihan, namun ada juga ketegasan yang baru saja tumbuh di dalam hatinya. Dia melangkah maju, meletakkan tasnya di atas meja dengan suara yang cukup keras untuk menghentikan semua bisikan di ruangan itu.

"Ibu, biarkan aku memperbaiki apa yang sudah rusak. Ini demi nama baik keluarga kita juga," ucap Seeula dengan suara yang mulai terdengar stabil.

Madam Widowati akhirnya berdiri dengan sisa harga diri yang hancur, menyerahkan kursi utama itu kepada putrinya. Aku duduk tepat di sebelah Seeula, mengambil kendali penuh atas jalannya rapat. Aku memaparkan strategi restrukturisasi perusahaan yang sudah kurancang dengan bantuan Rian, termasuk pembatalan semua proyek ilegal yang dulu melibatkan Darwin dan Pak Hermawan.

"Mulai detik ini, setiap rupiah yang keluar dari perusahaan ini harus melalui persetujuan Nona Seeula dan firma investasiku," tegasku sambil menatap satu per satu wajah para direksi.

Rapat itu berakhir dengan kemenangan mutlak bagi kami. Seeula kini resmi menjadi wajah baru dari Widowati Group, sementara aku tetap menjadi arsitek di balik layar yang mengendalikan semua arus informasi dan modal. Setelah ruangan itu kosong, Seeula menyandarkan punggungnya di kursi besar itu, menarik napas panjang seolah baru saja menyelesaikan lari maraton yang sangat melelahkan.

"Aku tidak menyangka akan duduk di sini dalam keadaan seperti ini, Yansya," bisik Seeula sambil menatap papan nama di atas meja.

"Ini baru permulaan, Seeula. Mahkota ini memang berat, tapi aku akan memastikan kau tidak akan pernah merasakan beban itu sendirian," janjiku sambil menggenggam tangannya dengan penuh kasih sayang.

Ponselku bergetar hebat di saku jas. Sebuah pesan dari Rian masuk dengan label 'Prioritas Utama'. Aku segera membukanya, mengharapkan laporan tentang pergerakan saham, namun isinya justru membuat mentalku kembali ke mode waspada tingkat tinggi.

"Yansya, ada kiriman dokumen fisik ke apartemenmu dari orang yang mengaku sebagai sekretaris pribadi Tuan Gautama. Dia tidak meminta uang, dia hanya mengirimkan sebuah foto lama yang seharusnya sudah dimusnahkan dua puluh tahun lalu," lapor Rian lewat pesan terenkripsi.

Aku menyempitkan mata, merasakan firasat buruk mulai merayap di tengkukku. Gautama rupanya tidak hanya bermain dengan uang, dia mulai menggali sejarah yang bahkan belum sempat kucari tahu di kehidupan sekarang. Aku menoleh ke arah Seeula yang sedang tersenyum menatap jendela, tidak ingin merusak momen bahagianya dengan ancaman baru yang mulai membayang.

"Ada masalah, Yansya?" tanya Seeula yang menyadari perubahan ekspresi wajahku.

Aku segera menyimpan ponsel itu, memberikan senyum terbaikku agar dia tidak curiga sedikit pun. "Hanya urusan teknis kecil dengan Rian. Nikmatilah kantormu hari ini, aku harus pergi sebentar untuk memastikan perisai kita tetap kokoh."

Aku keluar dari ruangan itu dengan langkah yang sangat cepat. Aku harus tahu apa yang dikirimkan Gautama sebelum rahasia atau kelemahanku di masa lalu benar-benar menjadi senjata yang bisa memukul balik usahaku dalam melindungi Seeula. Di duniaku yang sekarang, tidak boleh ada satu pun celah yang tertinggal, terutama jika itu menyangkut sejarah yang belum aku kuasai sepenuhnya.

1
ZasNov
Semangat Yansya, kalahkan mereka semua.. 💪😎
ZasNov
Semoga kali ini Yansya bisa benar2 melindungi Seeula..
ZasNov
Ga bisa nolak tuh kalau udah diancam begitu..
ZasNov
Madam Widowati udah kayak dijatuhkan dari gedung tinggi.. 🤭
ZasNov
Wah keren Yansya, dia datang menyerang dengan senjata rahasia yang tidak terduga.. 😂👍
ZasNov
Madam Widowati salah target ternyata 😂
ZasNov
Ayo tunjukan siapa dirimu Yansya, beri Madam Widowati pelajaran & selamatkan Seeula..
ZasNov
Nah lho, keadaan beneran berbalik. Bukan Pak Hermawan & Adrian lagi yang mengancam Yansya, sekarang Yansya yang menekan Pak Hermawan.. 😎👍
ZasNov
Ga nyangka banget kan Pak Hermawan, kalau Yansya punya kartu As yang bisa membalikan keadaan.. 😆
ZasNov
Mantap Yansya.. bisa tetap tenang, malah makin bersemangat menunjukkan taringnya.. 😎👍
Pipit Jambu
iya
ZasNov
Tuh kan, mulai banyak orang memanfaatkan nama Seeula untuk menekan Yansya.. 😖
ZasNov
Aduh, bagusnya Seeula sllu dalam perlindungan Yansya. Karena Darwin udah tau kelemahan Yansya itu Seeula..
ZasNov
Nyesel kan.. Udah telat. Kalau dikasih kesempatan kedua, jangan disia2in lagi ya
ZasNov
Selain penasaran sama rencana Yansya selanjutnya, kepo juga sama cara dia deketin Seeula.. 😄
ZasNov
Tanpa basa-basi langsung ditolak.. 😆👍
ZasNov
Hadeuh, Yansya.. Kamu bisa sukses juga berkat doa & usaha istrimu juga. Giliran ga diurusin, kamu juga bakalan berantakan..
Seeula
dari rawrrr ke aongg aonggg aongg🤣
Seeula
tamu2 tak diundang 😏
Seeula
gak gak ini mh kaya preman minta2 uang buncit gini mh😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!