NovelToon NovelToon
Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Pengganti / Cinta setelah menikah
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

Vania berjalan keluar area pemakaman. Tak sangaja matanya tertuju pada seorang ibu dan anak perempuan dengan pakaian yang compang-camping. Tampaknya mereka sedang menahan lapar, terlihat dari tangan mereka yang sedari tadi memegang perut. Anak perempuan itu merengek, berharap sang ibu memberikan makanan, namun sanga ibu terlihat kebingungan hendak mencari makan dimana. Akhirnya Vania berinisiatif untuk menghampiri mereka.

" Permisi ibu, dek."

Kedua perempuan itu mengangguk, mereka terheran-heran melihat Vania yang menghampiri." Iya, ada apa ya,mbak?"

Vania menggelengkan kepalanya." Ibu sama adiknya lapar ya? Kebetulan saya mau makan, ibu sama adik mau ikut?"

Ibu itu tercengang seolah tidak percaya, tak lama matanya berkaca-kaca." Ya Allah, mbak. Terima kasih, saya gak sangka mba mau tolong saya dan anak saya. Saya diusir dari kontrakan beberapa hari yang lalu karena tidak bisa membayar kontrakan. Kamu luntang-lantung gak jelas dan hari ini uang saya punya benar-benar habis."

Vania tersenyum tipis." Iya buk, kalau begitu mari ikut saya naik mobil."

"Iya mbak."

Ibu dan anak perempuan itu bergegas mengikuti Vania dari belakang. Vania membukakan pintu untuk ibu dan anak itu, setelah menutup kembali pintu mobilnya, ia beralih ke arah kursi kemudi dan mulai melajukan mobilnya.

Mobil Vania berhenti di salah satu tempat makan yang cukup terkenal, ia mengajak ibu dan anak itu untuk masuk. Setelah mencari meja kosong meteka duduk di sana, Vania memanggil pramusaji dan memesan beberapa menu makanan untuk dihidangkan. Tak lama hidangan datang, Vania pun mempersilahkan keduanya untuk menikmati makanan yang telah ia pesan.

Meskipun Vania tidak suka dengan anak-anak, tapi saat melihat anak perempuan itu makan dengan lahapnya, ia menitikkan air mata. Ia merasa senang karena bisa berbagi rezeki dengan orang yang membutuhkan. Begitu pun dengan ibu dan anak itu yang terlihat senang karena bisa mengisi perutnya dengan makanan yang layak. Melihat mereka yang bahagia membuat Vania ikut merasa bahagia, Vania juga jadi ikut berselera untuk makan.

Vania kemudian memandang wajah ibu dan anak perempuan itu. "Maaf Bu sebelumnya, kalau boleh tau suami ibu kemana?" tanya Vania.

"Suami saya susah meninggal beberapa bulan yang lalu karena penyakit yang di deritanya," jawab ibu itu.

"Ibu sendiri gak bekerja?"

Ibu itu menggeleng." Dulunya saya jualan, tapi saya kehabisan modal sehingga saya tidak melanjutkan jualan lagi. Jadi saya coba kerja serabutan, utamanya saya ngerjain pekerjaan rumah tangga. Tapi karena memang penghasilan saya tidak seberapa jadi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kami."

Vania mengangguk." Kebetulan sekali saya butuh asisten rumah tangga yang baru, salah satu asisten rumah tangga saya mengundurkan diri karena ada masalah di kampungnya. Kalau mau ibu kerja sama saya aja. Untuk malam ini saya ajak ibu ke swalayan untuk beli perlengkapan ibu. Dan untuk sementara kita tidur di hotel dulu ya."

Ibu itu dengan antusias menggenggam tangan Vania. Matanya berkaca-kaca karena mendapatkan rezeki yang tidak terduga. " Gusti, terimakasih banyak, mba. Semoga Gusti Allah membalas kebaikan mbak. Saya janji akan bekerja dengan baik untuk mbak."

"Sama-sama, Bu. Sekarang gak perlu ada lagi yang harus dikhawatirkan."

Vania meneguk minuman miliknya, kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi notaris papanya. Tak lama, sambungan telepon itu pun diangkat.

"Selamat malam, mbak Vania. Ada yang bisa saya bantu?" ucap notaris papahnya dari sebrang sana.

"Malam pak, saya mau bicara sama bapak. Kira-kira bapak ada waktu kapan ya?" tanya Vania.

"Besok bisa, Mbak. Kalau boleh tau kenapa mbak Vania gak pulang ke rumah? Kan lagi ada acara tujuh hari ini dan bapak. Para kerabat mbak juga nyariin mbak tadi."

"Eum itu, saya lagi gak mau pulang, pak. Saya malas kalau pulang, pasti yang mereka bahas soal warisan. Bapak tolong jangan bilang ke mereka yang kalau saya hubungi bapak."

" Baik, mbak Vania. Besok kabari saya lagi kalau mbak mau ketemu."

"Baik, pak."

Setelah menelepon notaris papahnya, ada panggilan masuk dari Laras. Vania sudah menduga mereka menyuruh asistennya supaya apa dia pulang ke rumah. Malam ini memang merupakan acara pengajian tujuh hari meninggal kedua orang tuanya, tapi Vania enggan pulang karena tidak suka dengan kehadiran keluarga besarnya.

"Halo, mbak Vania dimana? Ayok pulang mbak, om sama Tante mbak nunggu di rumah. Acaranya gak akan mulai kalau mbak belum pulang ke sini,"ujar Laras.

"Halo, Ras. Maaf aku gak mau pulang ke rumah. Aku tau Ras, meteka menyuruh aku pulang cuma untuk membahas soal warisan. Kalau aku die uang, aku gak bisa keluar lagi. Jangan nunggu aku pulang, aku gak akan pulang ke sana," jelas Vania.

"Loh mbak? Terus mbak tidur dimana?"

"Kamu gak usah mikirin aku tidur dimana. Aku bisa jaga diri kok. Aku buruh ketenangan aja. Masih dalam suasana suka seperti ini, mereka malah ngebet ngomongin soal warisan. Giliran mamah sama papah sukses aja mereka ngedeket. Perhatian dan rasa iba mereka cuma gimmick."

"Iya sama mbak, aku dan mbak Rika juga mumet di sini, masa mbak tega sama kita?"

"Maka dari itu, aku butuh ketenangan supaya bisa berpikir gimana caranya kita leluasa tanpa di ganggu mereka. Yang pasti aku gak mau kembali ke rumah itu."

"Mbok juga besok mau pamitan pulang kampung, travelnya datang besok, terus gimana mbak?"

"Eum, aku minta tolong kamu dan mbak Rika buat beres-beres barang kita. Pastikan kita bis keluar dari sana."

"Oke siap, mbak."

Vania menekan tombol akhir pada ponselnya, kemudian dengan gerak lambat, dia meletakkannya kembali. Nafasnya tersengal, tangannya gemetar. Rasa duka dan amarah merayapi hatinya saat dia kembali menyendokkan nasi ke mulutnya, seolah setiap suapan mampu menghilangkan rasa sesak yang menyesakkan jiwanya. Semua bermula sejak kedua orang tuanya meninggal. Keluarga besar yang seharusnya menjadi pelabuhan, kini justru bagai ombak yang siap menerkamnya kapan saja. Mereka bertindak seolah-olah Vania hanyalah tamu tidak diundang di rumahnya sendiri—mendikte dan mengatur segala aspek kehidupannya.

"Sudah cukup!" gumam Vania dalam hati, kemudian dengan tegas ia melahap hidangan pedas di depannya. Setiap gigitan sambal yang terasa membakar lambungnya, bagai perwujudan rasa sakit yang ia pendam. Ia memilih makanan ini, makanan yang dapat membuatnya menangis di hadapan orang lain tanpa mereka menyadari bahwa setiap tetesan air matanya adalah kristalisasi dari rasa lelah dan kecewa yang ia alami. Dengan setiap helaan pedas yang ia rasakan di tenggorakan, Vania semakin merasa bahwa ini adalah saatnya mengambil langkah tegas—tidak hanya untuk warisan, tetapi untuk hidupnya, kebebasannya. Hari ini, di tengah kerumunan orang yang tak peduli, ia bertekad akan merebut kembali hidupnya, meski harus melawan arus keluarganya sendiri.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
falea sezi
bodoh kn ada tuh fto dio. up aja lah bego
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!