NovelToon NovelToon
Terjerat Sumpah Tuan Muda

Terjerat Sumpah Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Murni
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hazard111

Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.

Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.

Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.

Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.

"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Tamu Tak Diundang dan Teh yang Pahit

​Tiga hari telah berlalu sejak Nala resmi menjadi penghuni Adhitama Estate.

​Rutinitas di mansion raksasa itu mulai terbentuk, meskipun terasa kaku dan dingin. Nala bangun pagi, sarapan dalam keheningan bersama Raga (yang lebih sering sibuk dengan tabletnya daripada bicara), lalu menghabiskan sisa harinya sendirian di perpustakaan atau taman, sementara Raga mengurung diri di ruang kerjanya atau pergi ke kantor pusat.

​Mereka seperti dua planet yang mengorbit di tata surya yang sama, namun tidak pernah benar-benar bersinggungan.

​Siang itu, cuaca di luar cukup cerah, kontras dengan suasana hati Nala yang mendung. Ia duduk di gazebo taman belakang, tempat favorit barunya dengan kanvas dan cat minyak yang baru dibelikan Pak Hadi.

​Nala sedang mencoba melukis potret taman itu. Namun, bukannya menggunakan warna-warna cerah, kuasnya justru menyapu warna abu-abu, biru tua, dan hitam. Ia melukis apa yang ia rasakan, bukan apa yang ia lihat.

​"Nyonya," suara Pak Hadi memecah konsentrasinya.

​Nala menoleh, kuas masih menggantung di udara. Wajah kepala pelayan tua itu tampak tegang, berbeda dari biasanya yang selalu tenang tanpa ekspresi. Ada butiran keringat kecil di pelipisnya.

​"Ada apa, Pak Hadi?"

​"Tamu datang, Nyonya," ucap Pak Hadi dengan nada mendesak. "Nyonya Besar Ratna, bibi dari Tuan Raga, baru saja tiba. Beliau memaksa masuk dan sekarang sedang menunggu di ruang tamu utama."

​Nala meletakkan palet catnya. Ia pernah mendengar nama itu dari desas-desus pelayan. Ratna Adhitama. Adik dari mendiang ayah Raga. Wanita yang kabarnya sangat ambisius dan selalu berusaha merebut kendali perusahaan sejak Raga mengalami kecelakaan.

​"Apakah Tuan Raga ada di rumah?" tanya Nala sambil membersihkan tangannya dengan lap kain.

​"Tuan Muda sedang video conference penting dengan klien dari Eropa di ruang kerjanya. Beliau melarang diganggu," jawab Pak Hadi cemas. "Itulah masalahnya. Nyonya Ratna bersikeras ingin bertemu 'Istri Baru' keponakannya. Saya khawatir jika Nyonya tidak menemuinya, beliau akan membuat keributan yang bisa didengar Tuan Raga."

​Nala mengerti situasi ini. Ini adalah ujian.

​Jika Ratna membuat keributan dan mengganggu kerja Raga, Raga akan marah. Dan kemarahan Raga adalah hal terakhir yang diinginkan Nala.

​Nala berdiri, merapikan gaun midi berwarna krem yang ia kenakan. Gaun itu sopan dan elegan, pilihan Elian sang desainer.

​"Baiklah, Pak Hadi. Saya akan menemuinya."

​"Hati-hati, Nyonya," bisik Pak Hadi saat mereka berjalan menuju rumah utama. "Lidah Nyonya Ratna... lebih tajam dari pisau dapur."

​Ruang tamu utama Adhitama Estate adalah ruangan yang intimidatif dengan langit-langit setinggi delapan meter dan pilar-pilar marmer. Di tengah ruangan, duduk seorang wanita paruh baya yang tampak mencolok.

​Nyonya Ratna berusia sekitar lima puluhan, namun riasan tebal dan operasi plastik membuatnya terlihat kencang secara tidak wajar. Ia mengenakan setelan blazer merah menyala, dipadu dengan perhiasan emas yang berlebihan di leher dan pergelangan tangannya. Aroma parfumnya yang menyengat sudah tercium bahkan dari jarak sepuluh meter.

​Wanita itu sedang memarahi seorang pelayan muda karena teh yang disajikan dianggap kurang panas.

​"Dasar tidak becus! Apa begini cara kalian melayani tamu?" bentak Ratna, mendorong cangkir teh itu menjauh hingga hampir tumpah.

​"Selamat siang, Tante Ratna," sapa Nala dengan suara tenang, berusaha meniru nada bicara Bella yang percaya diri.

​Ratna menoleh. Matanya yang tajam menyapu Nala dari atas ke bawah, seolah sedang menaksir harga barang di etalase toko.

​"Oh, jadi ini pengantin barunya," Ratna berdiri perlahan, senyum sinis terukir di bibir merahnya. "Bella Aristha, bukan? Putri sulung keluarga Aristha yang katanya lulusan Paris itu?"

​Nala menahan napas. Ia harus tetap berperan. "Benar, Tante. Maaf saya membuat Tante menunggu. Saya sedang di taman belakang."

​"Duduklah," perintah Ratna seolah ini adalah rumahnya sendiri.

​Nala duduk di sofa berhadapan dengan Ratna. Ia duduk tegak, kedua tangan di pangkuan, persis seperti yang diajarkan di buku etiket yang ia baca kemarin malam.

​"Aku datang ke sini karena penasaran," ujar Ratna tanpa basa-basi. Ia mengambil kipas lipat dari tasnya dan mulai mengipasi dirinya sendiri. "Aku dengar Raga akhirnya menikah. Jujur saja, aku kaget. Siapa wanita yang mau menikahi pria... rusak seperti dia?"

​Darah Nala berdesir panas. Kata "rusak" itu terdengar sangat kasar.

​"Tentu saja karena kau butuh uang, kan?" lanjut Ratna sambil tertawa kecil. "Kudengar perusahaan ayahmu sedang di ujung tanduk. Menjual anak demi melunasi hutang... ckckck, klasik sekali. Aristha memang keluarga yang menyedihkan."

​Nala mengepalkan tangannya yang tersembunyi di balik lipatan gaun. Ia sudah biasa dihina. Tapi mendengar orang asing menghina keluarganya seburuk apa pun keluarganya, tetap terasa menyakitkan.

​"Kami menikah bukan hanya karena bisnis, Tante," jawab Nala diplomatis. "Ada kesepakatan keluarga yang harus dihormati."

​"Halah, omong kosong," cibir Ratna. Ia memajukan tubuhnya. "Dengar, Nak. Aku kasihan padamu. Kau masih muda, cantik, tubuhmu bagus. Sayang sekali kau harus terjebak di kastil hantu ini mengurus pria cacat yang impotent."

​Mata Nala membelalak. "Tante, tolong jaga bicara Anda."

​"Kenapa? Aku bicara fakta!" Ratna meninggikan suaranya. "Raga itu sudah tamat. Kakinya lumpuh, wajahnya hancur, mentalnya tidak stabil. Dia tidak pantas memimpin Adhitama Group. Harusnya putraku, sepupumu, yang mengambil alih. Tapi kakek tua bangka itu malah mewariskan semuanya pada si Monster Topeng ini."

​Ratna mengambil cangkir tehnya lagi, menyesapnya sedikit, lalu meletakkannya dengan kasar.

​"Asal kau tahu saja, Bella. Jangan berharap kau bisa hidup enak selamanya. Sebentar lagi, dewan direksi akan mendepak Raga. Saat itu terjadi, kau hanya akan jadi janda miskin dari suami yang tidak berguna. Kalau kau pintar... sebaiknya kau mulai cari jalan keluar dari sekarang. Atau mungkin... kau bisa membantuku?"

​Ratna menatap Nala dengan tatapan licik.

​"Membantu?" ulang Nala.

​"Jadilah mata-mataku di rumah ini," bisik Ratna. "Laporkan apa saja yang Raga lakukan. Obat apa yang dia minum. Siapa yang dia temui. Kalau kau membantuku menjatuhkan dia, aku jamin masa depanmu aman setelah dia hancur."

​Nala terdiam.

​Tawaran itu menggiurkan bagi orang jahat. Mengkhianati suami yang menakutkan demi jaminan keamanan dari bibi yang kaya.

​Tapi Nala teringat malam pertama mereka. Ia teringat luka di wajah Raga. Ia teringat permainan piano yang menyedihkan di Sayap Barat.

​Raga mungkin dingin dan menakutkan, tapi dia jujur. Dia memberitahu Nala aturan mainnya di depan. Sedangkan wanita di hadapannya ini... dia adalah ular berbisa yang tersenyum manis.

​Dan yang lebih penting, Nala tahu rasanya dibuang oleh keluarga sendiri. Ia tahu rasanya dianggap tidak berguna. Mendengar Ratna merendahkan Raga membuat rasa solidaritas aneh muncul di dada Nala.

​Nala menarik napas panjang, lalu tersenyum. Senyum yang sangat manis, namun matanya dingin.

​"Maaf, Tante," ucap Nala lembut. "Tehnya sudah dingin. Biar saya minta pelayan ganti."

​Ratna mengerutkan kening. "Aku tidak butuh teh! Aku butuh jawabanmu!"

​Nala berdiri perlahan. Posturnya anggun namun mengintimidasi. Gaun kremnya jatuh sempurna di tubuhnya.

​"Tante Ratna," suara Nala berubah, lebih tegas dan berwibawa. "Tante datang ke rumah saya, menghina suami saya, dan sekarang meminta saya mengkhianatinya?"

​"Rumahmu?" Ratna mendengus. "Ini rumah Adhitama!"

​"Dan saya adalah Nyonya Adhitama," potong Nala tajam. Tatapannya menajam, menusuk langsung ke mata Ratna. "Selama saya menjadi istri Raga, kehormatan dia adalah kehormatan saya. Tante bilang dia 'rusak'? Tante bilang dia 'cacat'?"

​Nala melangkah maju satu langkah.

​"Kaki yang lumpuh masih bisa dibantu dengan kursi roda, Tante. Wajah yang terluka bisa ditutup dengan topeng. Tapi hati yang busuk dan penuh dengki seperti milik Tante... tidak ada obatnya."

​Wajah Ratna memerah padam, kontras dengan bedaknya yang putih. Mulutnya ternganga. "K-kau... berani sekali kau bicara begitu padaku! Kau hanya anak ingusan yang dibeli!"

​"Benar, saya dibeli," aku Nala tanpa rasa malu. "Dan karena saya sudah dibeli mahal, saya akan memastikan pembeli saya mendapatkan loyalitas terbaik. Jadi, simpan tawaran busuk Tante itu."

​Nala menoleh ke arah Pak Hadi yang berdiri mematung di sudut ruangan.

​"Pak Hadi," panggil Nala tegas.

​"Y-ya, Nyonya?"

​"Tamu kita sudah selesai. Tolong antar Nyonya Ratna ke pintu depan. Dan pastikan di masa depan, tidak ada tamu tak diundang yang masuk sembarangan, tidak peduli siapa nama belakangnya."

​"Baik, Nyonya!" jawab Pak Hadi dengan semangat yang tidak bisa disembunyikan.

​Ratna bangkit berdiri dengan gemetar karena marah. Tangannya menunjuk wajah Nala. "Kau akan menyesal! Tunggu saja sampai Raga membuangmu! Kau akan merangkak minta tolong padaku!"

​"Silakan, Tante," Nala menunjuk pintu dengan gerakan tangan yang elegan.

​Ratna menghentakkan kakinya, menyambar tas mewahnya, dan berjalan keluar dengan langkah lebar yang penuh amarah. Suara hak sepatunya beradu keras dengan lantai marmer, seolah ingin menghancurkan ubin itu.

​Setelah bayangan wanita berbaju merah itu menghilang di balik pintu besar, kekuatan di kaki Nala mendadak hilang.

​Lututnya lemas. Nala terduduk kembali di sofa, napasnya memburu. Tangannya gemetar hebat. Jantungnya berdetak secepat drum.

​Dia baru saja mengusir bibi suaminya. Dia baru saja mencari masalah besar.

​"Ya Tuhan..." bisik Nala, menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Apa yang baru saja kulakukan?"

​Prok. Prok. Prok.

​Suara tepuk tangan pelan terdengar dari arah lantai dua.

​Nala tersentak kaget. Ia mendongak.

​Di balkon lantai dua yang menghadap ke ruang tamu, Raga duduk di kursi rodanya. Dia mengenakan kemeja hitam polos, tangannya bertumpu di pagar pembatas.

​Pria itu sudah di sana. Dia melihat semuanya.

​Wajah Nala pucat pasi. "Tu-Tuan..."

​Raga tidak turun. Dia hanya menatap Nala dari ketinggian. Ekspresinya sulit dibaca karena jarak dan bayangan, tapi Nala bisa merasakan intensitas tatapan itu.

​"Naik ke sini," perintah Raga singkat.

​Suaranya tidak terdengar marah. Tapi itu justru membuat Nala semakin takut.

​Dengan langkah berat, Nala menaiki tangga marmer menuju lantai dua. Ia masuk ke ruang kerja Raga, ruangan yang selama ini tertutup baginya.

​Ruang kerja itu luas, dingin, dan beraroma buku tua serta tembakau. Dindingnya dilapisi kayu gelap. Ada monitor-monitor besar di meja kerja yang menampilkan grafik saham.

​Raga duduk di balik meja besarnya. Kursi rodanya terlihat mendominasi ruangan itu.

​Nala berdiri di depan meja seperti murid yang dipanggil kepala sekolah. "Maafkan saya, Tuan. Saya... saya lancang mengusir bibi Anda. Saya tahu itu tidak sopan, tapi dia..."

​"Diam," potong Raga.

​Nala langsung menutup mulutnya.

​Raga menjalankan kursi rodanya memutari meja, mendekati Nala.

​"Kenapa kau membelaku?" tanya Raga. Suaranya rendah, penuh rasa ingin tahu yang tulus. "Tawaran Ratna itu masuk akal. Jika kau bekerja sama dengannya, kau bisa mendapatkan uang dan jaminan masa depan. Kenapa kau malah menghinanya?"

​Nala menunduk, menatap sepatu barunya. "Karena dia salah."

​"Salah?"

​"Dia bilang Tuan tidak berguna. Dia bilang Tuan rusak," Nala mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap topeng perak Raga. "Itu tidak benar. Tuan mungkin terluka, tapi Tuan tidak rusak. Orang yang rusak adalah orang yang tega menjatuhkan keluarganya sendiri demi harta."

​Raga terdiam lama. Dia menatap mata cokelat Nala yang jernih. Mata itu... lagi-lagi melihat terlalu dalam.

​Selama lima tahun terakhir, Raga terbiasa mendengar orang membelanya hanya karena takut atau karena ingin menjilat. Tapi pembelaan Nala tadi terdengar berbeda. Ada kemarahan yang tulus di sana. Nala marah untuknya, bukan karenanya.

​"Kau bodoh," ucap Raga akhirnya, tapi nada suaranya tidak tajam. Malah terdengar sedikit... lembut? "Ratna adalah wanita pendendam. Sekarang kau punya musuh baru."

​"Saya sudah punya banyak musuh sejak lahir, Tuan," jawab Nala dengan senyum tipis yang pahit. "Satu lagi tidak akan membuat perbedaan."

​Raga mendengus pelan, hampir menyerupai tawa kecil.

​"Pak Hadi!" teriak Raga tiba-tiba.

​Pintu ruang kerja terbuka. Pak Hadi masuk dengan senyum lebar yang jarang terlihat. "Ya, Tuan Muda?"

​"Siapkan makan malam spesial malam ini. Steak, medium rare. Dan buka botol wine tahun 1990."

​"Untuk tamu siapa, Tuan?" tanya Pak Hadi bingung.

​Raga menatap Nala. "Untuk Istriku. Dia baru saja memenangkan perang pertamanya."

​Pipi Nala merona merah.

​Raga memutar kursi rodanya kembali ke belakang meja. "Sekarang keluar. Aku harus menyelesaikan pekerjaan yang tertunda gara-gara drama picisan bibiku tadi."

​Nala membungkuk hormat. "Baik, Tuan. Terima kasih."

​Saat Nala berbalik hendak keluar, Raga berbicara lagi tanpa melihatnya.

​"Nala."

​"Ya, Tuan?"

​"Terima kasih."

​Dua kata itu diucapkan sangat cepat, sangat pelan, seolah Raga kesulitan mengeluarkannya dari tenggorokan.

​Nala tersenyum lebar, senyum yang mencapai matanya. "Sama-sama, Tuan."

​Nala keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Hatinya membuncah. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa keberadaannya diakui. Dia bukan lagi hantu. Dia bukan lagi anak haram yang tidak diinginkan.

​Dia adalah Nyonya Adhitama, pelindung Tuan Muda yang terluka. Dan anehnya, peran itu mulai terasa nyaman baginya.

​Di dalam ruang kerja, Raga menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia menyentuh dadanya. Ada perasaan aneh yang berdesir di sana. Perasaan hangat yang sudah lama ia lupakan.

​"Gadis bodoh," gumam Raga sambil menatap pintu yang tertutup. Namun di balik topeng peraknya, bibirnya menyunggingkan senyum tulus pertamanya dalam lima tahun.

1
ren_iren
bagus ceritanya 🤗
Almahara Ara
keren bgt cerita nya... ga bertele tele... best thor
Risma Hye Chan
kalimatnya sngat indah perpaduan mkna kiasan dan sesungguhnya ak suka baca novel yg sprti ini kalimat ny tidak membosankan mksih kak
Bunga
lanjut Thor
ceritanya bagu😍
Hazard: bagus mbak bunga🤭
total 1 replies
Ayu Rahayu
lajuttt kak .Hem suka bgettt crityaa😢
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjut thor
𝐈𝐬𝐭𝐲
Luar biasa
Bunga
semangat Thor
Bunga
salam kenal thor😍
Hazard: salam kenal🙏
total 1 replies
moon
karyanya menarik, suka dengan cerita yang taak bertele-tele
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!