NovelToon NovelToon
Best Part

Best Part

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Mantan / Romansa
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Kiadilkia

Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.

Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.

Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.

Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17 - Yang Pelan-Pelan Terbaca

...Cinta yang disembunyikan punya batas waktu. Bukan karena dunia terlalu kejam,...

...tapi karena hati terlalu ingin terlihat....

Happy Reading!

...----------------...

Rahasia tidak selalu bersembunyi dalam hal besar.

Kadang ia hidup di hal-hal kecil-cara seseorang menoleh terlalu cepat, cara dua orang tertawa di waktu yang sama, atau jarak duduk yang tidak pernah benar-benar jauh meski selalu berusaha terlihat biasa.

Dan hari itu, Shaira mulai sadar bahwa rahasia mereka sudah tidak setenang yang ia kira.

Pagi di kelas berjalan seperti biasa-terlalu biasa malah-sampai justru hal-hal kecil terasa mencurigakan.

Udara masih menyimpan sisa dingin pagi ketika suara kursi digeser satu per satu, tas dijatuhkan sembarangan, dan obrolan acak memenuhi ruangan seperti dengung yang tidak pernah benar-benar hening. Shaira duduk di tempatnya, buku sudah terbuka tapi matanya belum benar-benar membaca. Ia hanya menunggu.

Dan ia benci bahwa tubuhnya tahu ia sedang menunggu siapa.

Raven datang sedikit terlambat.

Pintu kelas terbuka dengan suara ringan, dan meski Shaira tidak menoleh, seluruh inderanya langsung siaga. Ada jeda kecil di dalam kelas-sepersekian detik ketika beberapa kepala menoleh-lalu suasana kembali normal.

Tapi tidak untuk Shaira.

Begitu masuk kelas, mata Raven refleks mencari satu titik, dan Shaira tahu persis titik itu adalah dirinya bahkan sebelum Raven benar-benar menemukannya.

Ada sesuatu yang aneh tentang bagaimana seseorang bisa merasakan tatapan tanpa melihat.

Seolah udara di sekitarnya berubah arah.

Tatapan mereka bertemu hanya sepersekian detik. Jantung Shaira berdesir, wajahnya panas, dan ia refleks menunduk sambil menahan napas. Napasnya terhenti, tangan gemetar sedikit di atas buku—meski wajahnya tetap mencoba terlihat netral.

Cukup untuk membuat Shaira langsung menunduk pura-pura sibuk membuka buku, sementara jantungnya berdetak lebih keras dari suara kursi yang digeser teman-teman. Halamannya bahkan tidak berganti, tapi tangannya terus bergerak agar terlihat meyakinkan.

Ia tidak melihat, tapi ia bisa merasakan Raven berjalan melewati bangkunya.

Pelan.

Sengaja pelan.

Langkahnya tidak terburu-buru seperti biasanya. Ada jeda kecil di tiap pijakan, seolah ia menikmati jarak yang semakin dekat. Dan Shaira membenci bahwa ia bisa mengenali ritme langkah itu tanpa perlu menoleh.

Saat Raven duduk di kursi belakangnya, ujung kursi Shaira sedikit terdorong—gesekan kayu tipis yang nyaris tak terdengar. Shaira merasakan ritme itu di ujung jari kakinya, seperti sapaan tanpa suara. Refleks, ia menatap sekilas, lalu menunduk lagi sambil menahan senyum.

Isyarat kecil.

Sapaan tanpa suara.

Sentuhan yang tidak akan diperhatikan orang lain-hanya gesekan ringan kayu dengan kayu-tapi bagi Shaira, itu terasa seperti kalimat lengkap yang hanya mereka berdua pahami.

Aku di sini.

Shaira menahan senyum.

Ia menggigit bagian dalam pipinya, menatap buku dengan terlalu serius, berharap wajahnya tidak mengkhianati apa pun. Tapi hangat itu sudah naik sampai ke telinga.

Dan di saat itulah-

Nara menoleh.

Matanya menyempit sedikit. "Lo kenapa senyum sendiri?"

Shaira refleks mengangkat kepala. "Hah?"

Suaranya terlalu cepat. Terlalu defensif.

Ia langsung merapikan wajah, memaksa ekspresinya netral. "Nggak."

Nara masih menatapnya beberapa detik lebih lama, seperti seseorang yang yakin baru saja menangkap sesuatu tapi belum bisa membuktikannya.

"Keliatan banget," gumam Nara akhirnya.

"Keliatan apaan sih," balas Shaira pelan sambil pura-pura kesal, meski jari-jarinya mulai dingin.

Dari belakang, ia bisa merasakan keberadaan Raven seperti bayangan yang terlalu dekat. Tidak menyentuh. Tidak bicara. Tapi ada. Dan justru itu yang membuat semuanya terasa lebih berbahaya.

Guru masuk sebelum Nara sempat memperpanjang interogasi kecilnya. Suara salam memotong ketegangan, semua orang berdiri, kursi kembali berisik.

Shaira menarik napas pelan.

Selamat.

Untuk sekarang.

Tapi sepanjang pelajaran, fokusnya pecah menjadi dua arah: papan tulis di depan dan kesadaran konstan bahwa Raven ada tepat di belakangnya. Sesekali ia bisa mendengar suara pulpen Raven jatuh, dengusan kecil ketika membaca soal, atau gerakan kursi yang terlalu familiar.

Dan setiap hal kecil itu terasa pribadi.

Seolah dunia mengecil hanya sejauh satu bangku.

Sekali, tanpa sengaja, tangan mereka hampir bersentuhan saat Raven menjatuhkan penghapus ke depan. Shaira refleks mengambilnya. Jarinya berhenti setengah detik sebelum menyerahkan benda itu ke belakang.

Tidak menyentuh. Tapi cukup dekat untuk membuat napasnya tersangkut.

"Makasih," kata Raven pelan.

Suaranya rendah. Hanya untuk dia.

Shaira tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, tapi jantungnya sudah berisik lagi.

Di sampingnya, Nara melirik.

Sekali. Lalu kembali ke buku.

Tapi sudut bibirnya bergerak seperti seseorang yang baru mencatat sesuatu di kepala.

Dan sejak detik itu Shaira tahu satu hal:

Hari ini tidak akan tenang.

Bukan karena ada yang terjadi—melainkan karena terlalu banyak yang hampir terjadi.

Dan rahasia paling rapuh bukan yang diucapkan keras-keras, melainkan yang hidup di antara dua orang yang terlalu sadar satu sama lain.

...----------------...

Jam istirahat justru memperparah segalanya.

Mereka duduk seperti biasa di meja kantin-circle yang sudah terbentuk sejak lama, posisi yang hampir tidak pernah berubah. Keno di ujung, Arkan dan Fadly ribut soal game, Nafiz sibuk makan tanpa peduli dunia, Nara di samping Shaira.

Dan Raven... duduk di seberang Shaira.

Kesalahan pertama.

Karena dari jarak itu, setiap ekspresi jadi terlalu jelas. Setiap senyum jadi terlalu personal.

Shaira awalnya berusaha fokus ke makanan di depannya, menusuk mie goreng terlalu lama sampai mie itu hampir putus. Ia tahu persis kalau ia mengangkat kepala, tatapan mereka akan bertemu. Dan ia tidak yakin dirinya cukup kuat untuk terlihat normal setelah itu.

Raven mendorong botol minum ke arah Shaira, jari mereka bersentuhan sebentar. Gesekan ringan itu membuat Shaira menahan napas, sedangkan mata Raven hanya menoleh sedikit, seolah menantinya bereaksi.

Keno sedang bercerita panjang, tangannya bergerak dramatis seperti presenter berita gagal. Semua orang tertawa, termasuk Shaira.

Dan di tengah tawa itu, Raven menatapnya.

Bukan menatap lucu ceritanya. Menatap Shaira. Tatapan yang terlalu lama untuk ukuran teman biasa.

Bukan tatapan kosong. Bukan tatapan lewat.

Tapi tatapan yang berhenti. Menetap.

Seolah seluruh keributan di meja itu hanyalah latar belakang yang kabur.

Shaira berhenti tertawa lebih cepat dari yang lain.

Refleks.

Senyumnya jatuh setengah jalan. Napasnya tersangkut karena ia sadar ia sedang diperhatikan, bukan sebagai bagian dari lingkaran, tapi sebagai pusat perhatian satu orang.

Dan justru itu membuat Nara menoleh.

Lalu Arkan.

Lalu Fadly ikut berhenti ngomong.

Sunyi kecil jatuh.

Bukan sunyi total-kantin tetap ramai-tapi di meja mereka ada ruang kosong yang aneh, seperti seseorang baru saja menekan tombol pause.

Keno mengerjap. "Kenapa kalian?"

"Kenapa apaan?" Raven santai sambil minum.

Nada suaranya terlalu normal. Terlatih normal.

Keno menyipit. "Aneh."

"Aneh dari sananya," jawab Raven enteng.

Tawa pecah lagi. Tegangan retak.

Shaira ikut tertawa, tapi suaranya lebih pelan sekarang, lebih hati-hati, seperti seseorang yang baru sadar setiap gerakannya sedang diamati.

Tapi kali ini Nara tidak ikut tertawa.

Matanya berpindah pelan antara Shaira dan Raven seperti seseorang yang sedang menyusun puzzle di kepala. Tidak buru-buru. Tidak mencolok. Tapi teliti.

Dan Shaira merasakan itu.

Rasanya seperti berdiri di bawah lampu sorot tanpa tahu harus bergerak ke mana.

Ia meraih gelas minumnya hanya untuk punya sesuatu yang dilakukan. Tangannya sedikit gemetar. Raven melihat itu.

Tanpa berkata apa-apa, ia mendorong saus sambal ke arah Shaira-kebiasaan lama, gerakan otomatis karena ia tahu Shaira selalu menambahkan sambal di akhir.

Kesalahan kedua.

Shaira menatap saus itu sepersekian detik terlalu lama sebelum mengambilnya.

Dan meja langsung sunyi lagi.

"Lo..." Fadly menunjuk pelan. "Hafal banget ya kebiasaan orang."

Raven mengangkat bahu. "Dia selalu makan pedes."

"Gue juga makan pedes," protes Arkan.

"Iya," jawab Raven santai. "Tapi lo nggak pernah lupa pesan pedas."

Keno menutup mulut menahan tawa. "Anjir."

Shaira ingin menghilang.

Ia menuang sambal terlalu banyak hanya supaya tidak perlu bicara. Wajahnya panas, dan ia tidak tahu apakah itu karena cabai atau karena semua mata di meja sekarang terasa terlalu sadar.

Nafiz yang dari tadi diam akhirnya ikut nimbrung tanpa mengangkat kepala dari piringnya. "Kalian berdua sinkron banget deh."

Kalimat itu ringan. Tapi jatuhnya berat.

Nara bersandar, menyilangkan tangan. "Nah. Itu dia."

"Itu apaan?" tanya Shaira terlalu cepat.

"Sinkron," ulang Nara pelan. "Kayak... udah latihan."

Keno langsung menepuk meja. "IYA! Gue mau ngomong itu dari tadi!"

Raven tertawa kecil. "Kalian kebanyakan mikir."

"Bukan mikir," kata Fadly. "Ngeliat."

Dan untuk pertama kalinya sejak duduk, Raven tidak langsung menjawab.

Hanya sepersekian detik. Tapi cukup untuk membuat dada Shaira mengencang.

Karena dalam jeda itu, ia tahu Raven juga sadar—mereka sedang berdiri di tepi sesuatu.

Kecurigaan itu akhirnya meledak bukan karena hal besar, tapi karena kebiasaan.

Karena cinta jarang terlihat dari pengakuan keras. Ia terlihat dari refleks. Dari hal-hal kecil yang dilakukan tanpa sadar. Dan orang-orang yang cukup dekat selalu lebih jeli dari yang kita kira.

...----------------...

Sepulang sekolah mereka masih duduk di kelas, menunggu hujan reda. Lingkaran kecil itu terbentuk lagi, lebih santai, lebih sepi. Meja-meja kosong, kursi setengah berantakan, dan suara hujan memukul jendela seperti ritme yang terlalu konsisten untuk diabaikan.

Udara dingin.

Terlalu dingin untuk ukuran sore biasa.

Raven melempar botol minum ke arah Shaira tanpa melihat. Shaira menangkapnya tanpa ragu.

Gerakan itu halus. Cepat. Seolah sudah dilakukan ratusan kali.

Terlalu otomatis. Terlalu terbiasa.

Dan justru karena itu—terlalu jelas.

Fadly langsung bersiul pelan. "Cakep."

Shaira membeku. "Apaan?"

"Refleksnya lo," kata Arkan sambil nyengir. "Kayak latihan."

"Orang cuma nangkep botol," balas Shaira defensif, suaranya sedikit lebih tinggi dari yang ia inginkan.

Keno menyender di kursi, matanya menyipit penuh arti. "Bukan botolnya."

Semua mata sekarang ke arah mereka.

Lingkaran kecil itu mengecil tanpa bergerak-fokusnya mengerucut, menekan, membuat ruang di tengah terasa sempit.

Raven tetap santai.

Tangannya terlipat di dada, ekspresinya datar seperti penonton yang menikmati film yang sudah ia hafal ending-nya.

Dan justru itu mencurigakan.

Nafiz menyeringai. "Kalian berdua ada sesuatu ya?"

"Hah?" Shaira tercekat.

Kata itu keluar terlalu cepat. Terlalu refleks.

"Dari kemarin," lanjut Fadly, "vibesnya beda."

Nara akhirnya angkat bicara. "Gue udah mau ngomong dari pagi."

Shaira ingin menghilang.

Ia bisa merasakan panas naik ke wajahnya, jantungnya berdetak sampai telinga terasa berdengung. Hujan di luar terdengar makin keras, atau mungkin itu hanya tubuhnya sendiri yang ribut.

Raven bersandar ke kursi, wajahnya tenang seperti seseorang yang menikmati pertunjukan. "Terus apa?"

"Vibes couple," kata Keno mantap.

Sunyi.

Kalimat itu jatuh seperti benda pecah. Tidak keras.

Tapi cukup untuk menghentikan napas semua orang sepersekian detik.

Lalu—semua orang ribut bersamaan.

Shaira tertawa terlalu keras. "Ngaco kalian."

Tapi suaranya naik setengah nada. Dan semua orang dengar itu.

Nara menatapnya lurus. "Santai dong lo ketawanya. Mencurigakan."

Raven akhirnya bicara, nada suaranya ringan. "Kalau kita jadian, emang kenapa?"

Kalimat itu jatuh begitu saja.

Santai. Seperti bercanda.

Tapi Shaira tahu Raven sedang menguji batas. Shaira menoleh cepat, matanya melebar kecil.

Jangan.

Circle langsung heboh.

"NAH KAN!" "GUE BILANG JUGA!" "ANJIR BENERAN?!"

Raven mengangkat bahu. "Becanda doang."

Keno menunjuk mereka bergantian. "Tapi masuk akal."

Nara menyipit. "Banget."

Detik itu terasa panjang. Terlalu panjang.

Shaira bisa merasakan semua mata menunggu reaksi, menunggu celah, menunggu satu kesalahan kecil yang bisa mengubah semua.

Satu kata salah—semuanya selesai.

Shaira menarik napas, memaksa bahunya turun, memaksa wajahnya kembali netral. Lalu menggeleng sambil mendengus. "Kalian kebanyakan nonton drama."

Hening.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga.

Lalu Fadly mengangkat tangan. "Iya sih. Tapi gue tetep nggak percaya."

Tawa pecah. Tegangnya retak sedikit.

Topik pindah. Game. PR. Guru killer.

Hal-hal biasa yang sengaja dibesar-besarkan untuk menutup sesuatu yang barusan hampir terbuka.

Tapi tatapan Nara belum. Dan Shaira tahu—beberapa orang tidak butuh bukti. Mereka hanya butuh waktu.

...----------------...

Saat hujan mulai reda dan mereka bubar satu per satu, lorong sekolah terasa lebih sunyi dari biasanya. Lantai masih basah, udara dingin menempel di kulit, dan langkah kaki mereka bergema pelan.

Nara sengaja berjalan lebih pelan di samping Shaira.

Tidak bicara dulu. Hanya diam. Dan diam Nara selalu berbahaya.

"Apa?" tanya Shaira akhirnya.

Nara meliriknya. "Lo mau jujur sekarang atau nanti?"

Jantungnya jatuh. Rasanya seperti tersandung di tempat datar.

"Jujur apaan?"

Nara tersenyum kecil. "Santai. Gue nggak bakal ngomong siapa-siapa."

Kalimat itu tidak membantu. Justru memperjelas semuanya.

Shaira menatap jalan. Hujan meninggalkan bau aspal basah yang anehnya menenangkan, seolah dunia di luar masih normal sementara kepalanya penuh gemuruh.

Beberapa detik ia mempertimbangkan kebohongan. Menyusun alasan. Mencari celah. Lalu menyerah.

"...baru," katanya pelan.

Satu kata. Hampir tidak terdengar. Tapi cukup.

Nara berhenti jalan.

"ANJIR," bisiknya keras. "GUE TAU."

Shaira langsung menutup wajah. "Pelan!"

Nara tertawa tanpa suara, bahunya gemetar. "Pantes."

"Pantes apanya?"

"Cara dia liat lo tuh nggak netral."

Shaira ingin protes.

Mencari pembelaan. Mengatakan itu berlebihan. Tapi kata-kata itu tidak pernah keluar.

Karena benar.

Dan kebenaran paling menyebalkan adalah yang tidak bisa dibantah.

Nara menyenggol lengannya. "Tenang. Rahasia aman."

Dadanya langsung ringan. Seolah beban yang tidak ia sadari ia bawa sejak pagi akhirnya diletakkan.

Tapi Nara menambahkan pelan, "Tapi circle kita nggak bego."

Langkah Shaira melambat. Kalimat itu menggantung di udara, lebih berat dari yang terdengar.

"Cepat atau lambat," lanjut Nara, "mereka bakal yakin sendiri."

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Shaira merasa waktu mereka diam-diam tidak sebanyak yang ia kira.

Bahwa cinta yang disembunyikan punya jam pasirnya sendiri. Dan setiap tawa kecil, setiap tatapan yang terlalu lama, setiap refleks yang terlalu sinkron—adalah butiran pasir yang terus jatuh tanpa bisa dihentikan.

Hujan sudah berhenti sepenuhnya. Langit sore pucat.

Dan di antara langkah kaki yang pelan, Shaira sadar satu hal yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya:

bukan pertanyaannya apakah mereka akan ketahuan, melainkan apakah ia siap saat hari itu akhirnya datang.

...----------------...

...“Raven – tatapan yang terlalu lama.”...

1
Nonà_syaa.
Lanjutt cntik❤
Chici👑👑
Nih visual cowok nya jaehyun bukan sih..
D: bener bgtt/Chuckle/
total 1 replies
Chici👑👑
Mampir nih kak.. mampir juga yuk kak di novelku judul Gadis Polos Untuk Dokter Kulkas
Nonà_syaa.
Nyesek bacanya/Sob/
D: ikutan galau ya😔
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Canteknyoo foto visual Aluna... Gue juga mau kek gitu cantek nya 😭❓
D: bahkan aku juga mau sih kak cantik begitu😂♥️
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Thor gue udah mampir nih 😅
Nonà_syaa.
Mampir nih ka,
Baca nya bikin nyesek diri ini ke inget someone/Cry/
Nonà_syaa.: Haha iyaa/Cry/
Sama" kk
total 2 replies
Eka Sari Agustina
👍
Ummu Shafira
mampir😍😍 sepertinya ceritanya menarik,mengenang masa² putih abu² 🤭🤭
D: semoga sukaa ya kakk😍
total 1 replies
D
rekomen bgt buat dibacaa!! ayo baca ceritaku hehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!