Kirana Yudhoyono, aktris kelas bawah yang hampir kehilangan segalanya, tak sengaja menyelamatkan seorang anak trauma bernama Kael dari insiden berbahaya di sebuah gudang bar. Tindakannya menarik perhatian ayah Kael—Bryan Santoso, CEO SantoPrime yang dingin dan berkuasa. Terpesona oleh kedekatan Kirana dengan putranya, Bryan menawarkan balas budi yang tak masuk akal: pernikahan kontrak.
"Aku menyelamatkan putramu bukan untuk menikahimu, Tuan Bryan!"
"Tapi Kael membutuhkanmu, dan aku... hanya menerima hubungan dengan pernikahan sebagai syaratnya."
*saya baru mencoba untuk menulis genre seperti ini, semoga anda sekalian menyukainya ☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demene156, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Ciuman Pembuktian
Yono condong ke depan, menatap mata Kirana dengan intens seolah ingin membedah isi kepalanya.
"Jujur saja padaku. Jangan-jangan kau memang punya keinginan gila untuk bisa tidur dengannya selama ini?" tuntutnya.
Kirana terdiam sejenak.
Tatapannya sulit ditebak. Lalu, sedetik kemudian, senyum tipis kembali muncul di bibirnya.
Ia jelas memilih untuk menggoda, bukan menenangkan.
"Siapa juga wanita di negara ini yang bisa menolak tidur dengan Bryan Santoso?" balasnya santai, seolah itu fakta universal yang tak perlu diperdebatkan.
"Yah, begitu juga! Hampir semua wanita di negara ini ingin tidur denganku! Tapi kau sendiri malah tidak mau!" seru Yono kesal sekaligus bangga dengan cara yang agak konyol.
Kirana tetap tenang.
"Bagaimana kau tahu aku tidak mau?" tanyanya lembut—misterius.
Yono langsung membeku.
Matanya melebar. Telinganya memerah.
Namun—
"Pfft."
Kirana tiba-tiba tertawa sampai bahunya bergetar.
Kesadaran menghantam Yono telak.
Ia baru saja dipermainkan.
"Kirana Yudhoyono! Kau benar-benar mempermainkanku!" bentaknya.
Kirana cepat mengangkat tangan tanda damai sambil berdiri.
Ia tahu batas. Kalau tidak kabur sekarang, Yono bisa benar-benar meledak.
"Kirana! Berhenti di situ! Aku belum selesai bicara!" teriak Yono hendak mengejar.
Langkahnya langsung terhenti karena kru produksi lewat di antara mereka.
Kalau saja bukan tempat umum, kemungkinan besar Yono sudah menyeretnya kembali hanya untuk menuntut klarifikasi.
"Dia benar-benar seperti orang habis minum terlalu banyak," gumam Kirana pelan sambil berjalan santai menuju lorong.
Meski sering mengeluh soal Yono, sebenarnya ia sangat menikmati menggoda orang—terutama kalau targetnya Yono yang gampang terpancing.
Setelah selesai dari kamar mandi, Kirana mencuci tangan lalu merapikan riasannya di depan cermin besar.
Ia keluar, berniat kembali ke ruang privat tempat tim film The World makan malam.
Namun lorong hotel tampak seragam dan remang.
"Tadi nomor berapa ya… enam atau sembilan?" gumamnya.
Ia meraba saku blazer.
Kosong.
Baru sadar ponselnya tertinggal di tas.
"Haaah… aku yakin aku tidak mabuk. Tapi kenapa bisa lupa nomor ruangan?" keluhnya pelan.
Daripada tersesat seperti NPC gagal navigasi, ia memutuskan mencoba satu pintu secara acak. Kalau salah, tinggal minta maaf lalu keluar.
Ia berhenti di depan pintu kayu jati kokoh.
Angka kuningan 9 berkilau di atasnya.
Tarik napas.
Klik.
Pintu terbuka.
Kirana langsung membeku.
Ruangan itu penuh orang asing.
Dan jelas jauh lebih besar serta lebih mewah dibanding ruangan timnya tadi.
Desain interiornya bukan sekadar mewah—ini level kekayaan yang terasa seperti ingin menampar mata dengan emas dan perunggu sekaligus.
"Maaf, sepertinya saya salah ruangan," ucapnya cepat.
Ia hendak berbalik—
Sebuah tangan gemuk dan berminyak tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya.
Tubuh Kirana refleks menegang.
Seorang pria tambun berusia akhir empat puluhan mendekat. Napasnya bau alkohol menyengat.
"Hooh~ dari mana datangnya anak domba kecil tersesat ini?" katanya dengan suara menjijikkan.
"Takdir yang indah. Bagaimana kalau kau tinggal dan minum bersama kami?"
Pipinya merah. Matanya liar.
Tatapannya menjalar dari wajah Kirana… turun ke leher… lalu berhenti di dada tanpa malu sedikit pun.
Padahal pakaian Kirana sama sekali tidak terbuka.
Ia mengenakan setelan urban elegan berkelas: blazer krem fitted mengikuti garis pinggang rampingnya, inner satin gading berleher rendah namun sopan, serta rok pensil hitam selutut yang jatuh presisi di garis pinggul dan paha.
Bukan busana glamor mencolok.
Ini gaya selebritas kelas atas di acara santai profesional—rapi, mahal, elegan, tapi tidak norak.
Namun justru karena potongannya pas di tubuh, siluetnya terbentuk jelas secara alami.
Tidak vulgar.
Hanya… terlalu sempurna bagi pria mabuk bermoral rendah.
Rasa jijik menjalar di kulit Kirana.
Otot bahunya menegang.
Wajahnya tetap tenang.
Ia sudah terlalu lama hidup di bawah sorotan kamera untuk tahu cara menyembunyikan ketidaknyamanan.
Meski begitu—
Matanya kini sedingin es.
Udara di antara mereka terasa menegang seperti tali ditarik terlalu kencang.
Alih-alih menolong, ruangan justru dipenuhi tawa mengejek.
Refleks pertama Kirana sebenarnya ingin membanting pria itu ke lantai dengan teknik judo.
Namun matanya cepat menyapu ruangan.
Dan niat itu langsung berhenti di tenggorokan.
Wajah-wajah di meja bukan orang sembarangan.
Sebagian adalah tokoh yang sering muncul di sampul majalah bisnis dan portal finansial nasional.
'Astaga… setengah daftar konglomerat papan atas Jakarta ada di sini,' batinnya.
Ia langsung paham situasinya.
Tak ada satu pun orang di ruangan ini yang bisa ia sentuh tanpa konsekuensi panjang bagi kariernya.
Dengan sangat terpaksa, Kirana menelan emosinya mentah-mentah.
Ia menahan diri.
Untuk sekarang.
"Kemarilah, kemarilah… gadis cantik, cepat masuk!" seru pria gemuk itu sambil menyeret tubuh Kirana lebih dalam ke ruangan. Tangannya yang lain bahkan mulai berani meraba tubuhnya.
Dengan tenaga yang tetap terkontrol, Kirana akhirnya berhasil melepaskan diri dari cengkeraman lengket itu.
"Maaf sekali lagi, Pak. Saya benar-benar salah masuk ruangan. Teman-teman saya masih menunggu," ujarnya sopan, nada suaranya lembut namun tegas.
Penolakan itu justru membuat wajah pria gendut tersebut menggelap oleh amarah.
"Dasar jalang tidak tahu diri! Kau sengaja masuk ke sini buat cari perhatian kami, kan? Sekarang malah pura-pura polos? Harusnya kau bersyukur aku masih tertarik padamu!" hardiknya menghina.
'Apa-apaan ini? Dia pikir aku wanita bayaran hanya karena dia punya uang?' maki Kirana dalam hati.
Ingatan Kirana akhirnya mengenali identitas pria itu.
Gunawan Halim.
CEO Halim Properti Grup.
Peringkat paling bawah dalam daftar sepuluh besar orang terkaya.
Ia terkenal di kalangan terbatas sebagai pria mesum yang hobi skandal.
Halim kembali mengulurkan tangan, mencoba menarik Kirana menuju sofa panjang di sudut ruangan.
Melihat gelagatnya semakin memaksa, otak Kirana berputar cepat mencari cara kabur tanpa merusak citra publiknya.
Tepat saat situasi memuncak—
Sebuah beban hangat tiba-tiba jatuh di pundaknya dari belakang.
Aura dingin yang sangat familiar langsung menyelimuti tubuhnya. Kuat. Protektif. Menenangkan.
Tubuh Kirana ditarik mundur satu langkah dengan kekuatan besar namun terasa lembut.
Detik berikutnya, ia sudah berada dalam pelukan kokoh.
"Eh— B-Bos Santoso…" suara Halim langsung berubah gemetar.
Pria yang tadi kasar itu kini pucat. Ekspresinya berubah menjilat dalam sekejap.
"Apakah Bos juga tertarik pada gadis ini? Kalau begitu tentu Anda duluan yang dipersilakan menikmatinya," katanya sambil tertawa kaku.
Seluruh ruangan langsung sunyi penuh tanda tanya.
Semua orang tahu reputasi Bryan Santoso—dingin, tak tersentuh wanita, nyaris seperti mesin bisnis hidup.
Lalu kenapa sekarang ia justru memeluk seorang wanita asing?
Bryan sama sekali tak peduli pada tatapan mereka.
Perhatiannya hanya tertuju pada Kirana.
"Apa yang terjadi di sini?" tanyanya dalam suara rendah berwibawa.
"B—" Kirana hampir memanggil namanya, namun cepat menahan diri.
"Aku… salah masuk kamar," gumamnya pelan.
Pencahayaan ruangan yang redup membuatnya tadi tidak menyadari Bryan juga ada di sana.
Namun baginya, kemunculan pria itu barusan terasa seperti angin penyelamat.
Ia tahu, kalau Bryan tidak muncul, kemungkinan besar ia sudah membanting Halim dengan teknik judo—dan itu berarti skandal besar yang bisa menghancurkan kariernya.
Singkatnya, Bryan baru saja menyelamatkan masa depannya.
"Kau di ruang mana? Aku antar," ujar Bryan datar.
Tanpa memedulikan tatapan orang-orang penting di belakangnya, ia langsung membimbing Kirana keluar.
Sejak awal acara sebenarnya Bryan hanya duduk bersandar di sudut ruangan dengan mata terpejam.
Ia samar mendengar tawa riuh, tapi tak peduli.
Sampai ia mendengar suara Kirana.
Saat membuka mata, ia melihat sendiri Halim hendak menyeret gadis itu.
Dorongan untuk mematahkan tangan pria itu nyaris tak tertahan.
Namun ia menahan diri.
Ia tidak ingin Kirana melihat sisi gelapnya.
Jadi ia memilih berpura-pura sebagai orang asing saat menolongnya.
Begitu keluar ke lorong sunyi, Kirana menghela napas panjang.
"Bryan, terima kasih. Kalau kau tidak datang tadi, aku pasti sudah bikin keributan besar," katanya tulus.
Bryan menatapnya serius.
"Kalau kau memang membuat masalah, aku yang akan membereskannya."
Kirana tertawa kecil.
"Enak juga ya rasanya tahu ada seseorang yang selalu siap mendukung kita."
Namun senyumnya perlahan memudar.
'Kalau nanti aku sudah tak tinggal di rumah Bryan… kalau aku tak lagi dibutuhkan sebagai pengasuh Kael… apa hubungan kami juga selesai?' batinnya.
Hanya membayangkannya saja sudah membuat dadanya terasa kosong.
Seolah tahu pikirannya, Bryan mengelus lembut puncak kepala Kirana.
"Selama kau mengizinkan, aku akan selalu mendukungmu seumur hidupmu."
Kirana tersentak.
Ia segera menepis pikiran melankolisnya.
"Aku sudah benar-benar tidak apa-apa. Aku bisa kembali sendiri."
Bryan menatap lorong sepi itu.
"Kau yakin?"
"Yakin! Cepat kembali ke acaramu!" ujar Kirana sambil melambaikan tangan dan mulai berjalan mundur.
Bryan tahu seluruh tim film makan malam di hotel ini malam ini. Itu alasan ia mau datang ke pesta membosankan tadi.
Dan dengan sumber dayanya, ia jelas tahu nomor ruangan Kirana.
Jadi saat melihat Kirana berjalan percaya diri ke arah yang salah—
Ia hanya bisa menghela napas panjang.
Bryan segera menyusul dengan langkah lebar.
"Lupakan kembali sendiri. Aku antar saja. Nomornya berapa?"
"Kalau tidak salah… enam!" jawab Kirana yakin.
"Nomor enam bukan arah sana."
Bryan langsung meraih tangan Kirana dan menuntunnya ke arah benar.
Ia baru berhenti saat mereka tiba di depan pintu.
"Masuk. Jangan berkeliaran sendirian lagi. Kalau ke toilet, ajak teman. Kalau tak ada, minta Yono menemani," katanya tegas.
'Hah? Minta Yono temani ke kamar mandi? Kenapa dia?' pikir Kirana.
Lalu ia baru ingat.
'Oh iya… Yono itu keponakannya.'
"Oke! Terima kasih ya, Bos Besar Bryan!" Kirana membuat gestur hati dengan jari.
Sudut bibir Bryan langsung terangkat tipis.
Sisa amarah gelapnya lenyap begitu saja.
"Hubungi aku setelah selesai. Kita pulang bersama."
Setelah Kirana kembali ke ruangan, Yono yang sejak tadi menunggu dengan gelisah langsung menghela napas panjang.
"Kenapa lama sekali di toilet? Kukira kau diare di sana!" candanya, jelas menutupi kekhawatiran.
"Situasinya bahkan lebih buruk dari diare. Aku hampir jatuh ke sarang serigala," jawab Kirana sambil terduduk lemas di sofa. Wajahnya masih pucat.
"Sarang serigala?" Yono mengernyit.
"Aku salah masuk ruangan. Kau tahu siapa saja di sana? Hampir semua konglomerat besar ibu kota kumpul di satu tempat."
Ia mengusap pergelangan tangannya dengan ekspresi jijik.
"Ada pria gendut berminyak yang menolak melepas tanganku dan memaksaku minum."
'Aku bahkan ingin mencuci tangan pakai tanah tujuh kali,' gerutunya dalam hati.
"Apa?!" wajah Yono langsung menegang.
Ia memeriksa Kirana dari ujung kepala sampai kaki, memastikan tak ada luka.
"Lalu kau bisa lolos bagaimana?"
Kirana mendengus kecil.
"Mungkin karena aku sedang sangat beruntung malam ini. Aku bertemu Bos terbesar di sana."
Ekspresi Yono langsung menggelap.
"Jangan bilang… Paman Bryan?"
Kirana menjentikkan jari.
"Tepat! Bos Besar Bryan muncul tepat waktu. Keren sekali. Dia bahkan mengantarku sampai depan pintu ruangan ini."
"..."
Yono membeku.
'Itu benar-benar Paman Bryan yang sama?' batinnya.
'Sejak kapan dia jadi pria penolong wanita seperti tokoh drama romantis?'
Acara makan malam tim produksi akhirnya selesai. Satu per satu orang pamit pulang.
"Kirana, kau pulang bagaimana? Mau aku antar?" tanya Penulis Larasati ramah.
"Terima kasih Mbak Laras, tapi tidak usah. Temanku sudah kuhubungi. Dia sebentar lagi datang menjemput."
"Baiklah, aku duluan ya."
"Hati-hati di jalan!"
Sutradara Galang ikut mendekat.
"Mas Yono pulangnya bagaimana?"
"Menunggu manajer saya datang."
"Kalau cuaca bagus besok, kita lanjut syuting adegan yang tertunda. Hujan es tadi benar-benar aneh," gumam Galang sebelum pergi.
Tak lama, tinggal Yono dan Kirana di depan pintu utama restoran hotel.
Kirana semakin mengantuk. Tubuhnya nyaris tak kuat menopang diri. Ia bersandar pada pilar emas di belakangnya, mata menyipit seperti bunga layu.
Yono melirik.
"Bang Fahri sebentar lagi sampai. Kau pulang saja denganku."
Ia menatap curiga.
"Ngomong-ngomong… teman yang kau tunggu itu siapa? Jangan bilang kau sebenarnya menunggu—"
Langkah sepatu kulit terdengar dari arah lobi.
Seorang pria bersetelan jas muncul di bawah cahaya bulan redup. Langkahnya tenang. Auranya dingin sekaligus elegan.
"Kirana," panggilnya lembut.
Kirana berusaha membuka mata.
"Bryan…?"
Begitu melihat wajah itu, seluruh sisa tenaga Kirana seolah lenyap. Tubuhnya langsung limbung.
Bagi Kirana, kehadiran Bryan kini identik dengan rasa aman mutlak.
Yono refleks ingin menopang, tetapi seseorang bergerak lebih cepat.
Bryan sudah lebih dulu menangkapnya.
Tatapan matanya melembut saat merapikan rambut Kirana yang berantakan. Tanpa ragu, ia mengangkat tubuh gadis itu dengan bridal carry.
Detik berikutnya, Rolls-Royce hitam berhenti senyap di depan pintu. Pak Arman turun cepat membuka pintu belakang.
Melihat pamannya bertindak seolah dirinya tidak ada di sana, kesabaran Yono habis.
Ia menyalakan perekam suara di ponsel.
"Paman!"
Bryan melambat dan menoleh sedikit. Tatapannya dingin, menunggu.
Yono menggertakkan gigi.
"Apa sebenarnya niatmu terhadap Kirana?"
Bryan tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah gadis yang tertidur di pelukannya.
"Kirana…" gumamnya pelan.
"Ya! Sikap Anda terlalu berbeda. Terlalu akrab. Itu tidak wajar untuk orang yang baru kenal!" desak Yono.
Di bawah tekanan aura Bryan, tangannya mencengkeram ponsel makin erat.
Bryan akhirnya menatapnya datar.
"Kukira selama ini aku sudah cukup jelas. Tapi karena kau masih belum mengerti…"
Pupil Yono menyempit.
Tanpa berkata apa pun, Bryan menunduk—
dan mencium bibir Kirana dengan lembut.
Tiga detik.
Saat ia mengangkat kepala, ekspresi hangat itu lenyap. Tatapannya kembali sedingin es.
...
Larut malam di perumahan mewah elit, Bintaro Jakarta Selatan, kediaman Istana Platinum No. 6.
Di atas karpet ruang keluarga, seekor 'kucing oyen'—alias Yono Barsa—sedang berguling ke sana kemari seperti gasing rusak yang tak punya tombol berhenti.
"Fuck! Fuck! Fuck! Fuck! ..." makinya tanpa jeda.
Di sofa seberang, manajernya, Fahri, menahan kantuk sambil menatap pasrah.
"Kau sudah mengucapkan makian itu 258 kali sejak di mobil sampai sekarang. Sebenarnya apa yang terjadi malam ini sampai kau jadi seperti orang kerasukan?" tanyanya.
Mata Yono menyala. Taring kecilnya tampak berkilat di bawah lampu.
"Jangan panggil aku bodoh! Karena aku memang bodoh! Kirana tadi bilang 0,1 poin terakhir dari nilaiku dipotong karena IQ-ku bermasalah, dan ternyata itu benar! Sial! Sial! Sial!"
Ia mencengkram rambutnya sendiri.
"Aku benar-benar idiot! Apa gunanya aku menyalakan rekaman suara tadi? Kenapa aku tidak langsung merekam video diam-diam saja?! Kenapa?!"
Sudut bibir Fahri berkedut.
Ia tidak tahu detail masalahnya, tetapi satu hal pasti: setiap Yono berubah seperti ini, penyebabnya selalu satu orang.
Kirana Yudhoyono.
"Yono," ucap Fahri hati-hati, "jujur saja. Kau sebenarnya masih ingin balikan dengan Kirana, ya?"
Tubuh Yono langsung kaku seperti patung.
"Aku pasti sudah gila kalau mau kembali dengan gadis sialan itu! Gara-gara dia aku sampai sekarang masih sering mimpi buruk!"
Fahri diam.
Di matanya, ekspresi Yono sekarang lebih mirip orang patah hati daripada orang marah.
'Kalau tidak ada perasaan, dia tidak mungkin bereaksi separah ini,' pikirnya.
Ia bahkan sudah lama curiga sandiwara cinta Yono dulu perlahan berubah menjadi perasaan sungguhan.
Atau mungkin ini jenis perasaan paling klasik di dunia—cinta yang berubah bentuk menjadi kebencian karena terlalu dalam.
Tepat saat Yono kembali berguling di karpet, ponselnya di atas meja berdering nyaring.
Ia tidak bergerak.
Fahri yang akhirnya mengambilnya.
"Ini telepon dari ayahmu."
"Ayahku?" Yono langsung duduk tegak.
Hubungan mereka buruk. Pertengkaran terakhir mereka bahkan bisa masuk kategori perang saudara versi keluarga elite.
"Kenapa dia menelepon selarut ini..." gumam Yono.
Rasa tak enak tiba-tiba merambat di dadanya. Ia segera mengangkat.
"Perlu apa CEO Gavriel Adikara Barsa menelepon saya malam-malam begini?" ucapnya dingin tanpa basa-basi.
Di ujung sana terdengar desahan panjang.
"Yon… pulanglah sekarang. Perusahaan keluarga kita terancam bangkrut."
Ekspresi Yono langsung menegang.
"Apa maksud Ayah? Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Ada mata-mata musuh di dalam perusahaan. Dan kerja sama strategis kita dengan pihak HN bermasalah," jawab Adi lelah.
"Ayah sudah tidak bisa mempercayai siapa pun lagi sekarang. Satu-satunya orang yang bisa Ayah andalkan cuma kamu."
Suara pria itu merendah.
"Kau tidak akan tega membiarkan semua yang Ayah bangun seumur hidup hancur, kan?"
Genggaman Yono pada ponselnya mengeras.
"Aku sudah bilang berkali-kali. Aku tidak akan meninggalkan industri hiburan. Dan aku tidak tertarik mengambil alih perusahaan itu."
"Yah tidak memintamu meninggalkan kariermu," balas Adi lembut. "Dan keputusan soal suksesi tetap di tanganmu."
Ia menarik napas pelan.
"Ayah hanya minta kau pulang sebentar. Bantu Ayah membereskan kekacauan ini."
Yono dikenal keras kepala. Tetapi mendengar ayahnya—yang biasanya galak seperti dinosaurus prasejarah—berbicara memohon untuk pertama kalinya, hatinya goyah.
Ia tidak langsung setuju.
"Tapi jadwalku sangat padat sekarang… biarkan aku pikirkan dulu."
Panggilan berakhir.
Fahri langsung bertanya, nada suaranya cemas.
"Benarkah situasinya separah itu? Kau tahu sendiri urusan keluarga itu prioritas. Kalau kau perlu, aku bisa atur ulang semua jadwalmu supaya kau bisa pulang."
Bersambung...
semangat 💪💪