NovelToon NovelToon
Dipaksa CEO Dingin

Dipaksa CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Showbiz / Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Demene156

Kirana Yudhoyono, aktris kelas bawah yang hampir kehilangan segalanya, tak sengaja menyelamatkan seorang anak trauma bernama Kael dari insiden berbahaya di sebuah gudang bar. Tindakannya menarik perhatian ayah Kael—Bryan Santoso, CEO SantoPrime yang dingin dan berkuasa. Terpesona oleh kedekatan Kirana dengan putranya, Bryan menawarkan balas budi yang tak masuk akal: pernikahan kontrak.

"Aku menyelamatkan putramu bukan untuk menikahimu, Tuan Bryan!"

"Tapi Kael membutuhkanmu, dan aku... hanya menerima hubungan dengan pernikahan sebagai syaratnya."

*saya baru mencoba untuk menulis genre seperti ini, semoga anda sekalian menyukainya ☺️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demene156, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Semua Percaya Korban, Pelaku Diabaikan”

​Sebagian besar adegan Kirana hari ini dijadwalkan dilakukan bersama Qiana.

Suasana lokasi syuting terasa lebih berat dari biasanya karena rumor panas tentang Kirana masih beredar luas di media sosial.

Meski begitu, profesionalisme tetap harus dijunjung tinggi.

Di bawah naungan pohon rindang, Kirana duduk tenang sambil mempelajari naskah. Lembar demi lembar ia baca saksama, menandai bagian penting yang perlu ia dalami.

Ketenangannya pecah ketika suara cempreng terdengar tepat di samping telinganya.

"Hei, bukankah ini bintang besar kita? Kirana, kau benar-benar terkenal sekarang. Semua orang mengenalmu!"

Kirana hanya menghela napas pendek.

Ia tahu persis pemilik suara itu tanpa perlu menoleh. Dengan kesabaran luar biasa, ia memilih tetap fokus pada naskah.

Baginya, meladeni provokasi murahan hanyalah pemborosan energi.

Namun suara itu jelas belum puas.

Qiana berdiri di sana dengan tangan bersedekap. Tatapannya tajam, dipenuhi rasa tidak suka yang tak disembunyikan sedikit pun di balik riasan tebalnya.

"Hehe, aku tahu kau melakukan semua hal memalukan itu. Kau benar-benar tidak tahu malu masih berani datang ke sini!"

Bagi Qiana, situasi yang menimpa Kirana adalah berkah.

Ia sudah lama iri pada perhatian yang Kirana dapatkan dari Sutradara Galang dan Yono. Dalam pikirannya, jika Kirana tersingkir dari produksi, ia bisa menggantikan posisi pemeran wanita kedua dan mendapat lebih banyak adegan dengan Yono.

Kirana tetap diam.

Ia hanya menggigit bibir pelan. Tubuhnya tampak sedikit gemetar, seolah menahan tekanan besar di bawah tatapan orang-orang sekitar.

Di mata penonton, ia terlihat seperti korban yang tertekan.

Qiana semakin puas.

Ia merasa berada di atas angin.

Dengan langkah dibuat anggun, ia mendekati Yono yang sedang duduk beristirahat di kursi lipat tak jauh dari sana.

"Bang Yono, sebaiknya Anda menjauhi perempuan seperti itu. Kalau tidak, dia bisa merusak reputasimu," ujarnya genit.

"Dia sudah membuatmu kehilangan penggemar karena terus dikaitkan dengannya."

Saat ia mendekat, aroma parfum bunga yang terlalu pekat langsung menyerang indra penciuman Yono.

Ia hampir mual.

Urat di dahinya menegang menahan emosi.

Yono sebenarnya sudah di ambang meledak dan ingin memaki perempuan itu habis-habisan.

Namun ia teringat instruksi Kirana pagi tadi.

Ia menarik napas panjang dan menahan diri.

Melihat ia tidak merespons, Qiana salah paham.

Ia mengira suasana hati Yono sedang buruk karena skandal Kirana, sehingga ia mencoba menghiburnya.

"Bang Yono, jangan khawatir. Cepat atau lambat tim produksi pasti akan menyerah pada tekanan publik dan mengganti Kirana dengan artis lain yang lebih pantas."

Alih-alih mendapat respons hangat, ia justru menerima jawaban dingin.

"Kau sangat berisik."

Nada Yono rendah, tapi mengintimidasi.

Ia harus mengerahkan seluruh kendali diri untuk menelan rentetan makian yang sebenarnya sudah di ujung lidah.

Ia tidak mau merusak rencana Kirana.

"Maaf... aku tidak akan mengganggu lagi," ucap Qiana kaku, tersinggung karena ditegur di depan banyak orang.

Ia pun pergi menjauh.

Meski kesal, pikirannya segera menenangkan dirinya sendiri.

'Kalau aku nanti dapat peran wanita kedua menggantikan jalang itu, aku bisa lebih sering dekat Bang Yono,' batinnya.

Membayangkan adegan romantis dalam naskah jika ia yang memerankan Laura, senyum licik pun merekah di bibirnya yang merah menyala.

"Meskipun begitu, kenapa sutradara masih membiarkan dia syuting hari ini? Buang-buang waktu," gumamnya kesal saat melihat Kirana masih duduk membaca naskah.

Namun di sisi lain, ia justru sangat menantikan adegan hari ini.

Ada bagian di mana karakternya harus menampar karakter Kirana.

"Hmph. Kalau begitu aku akan menunjukkan akting nyata padanya," bisiknya penuh niat jahat.

Ia lalu berjalan mendekati Sutradara Galang yang sedang mengatur posisi kamera.

"Sutradara, menurutku adegan ini akan terasa jauh lebih nyata kalau aku benar-benar menamparnya. Bagaimana menurutmu?"

Selama ini ia nyaris tak pernah menunjukkan minat pada akting.

Kini tiba-tiba ia berdiskusi serius—hanya demi adegan tamparan.

Galang bukan orang baru di industri.

Ia langsung tahu maksud tersembunyi itu.

Dengan helaan napas lelah, ia menjawab, "Sebagian besar akan kita lakukan dengan teknik tipuan, bantuan suara, dan sudut kamera."

"Paling banter kau hanya perlu menyentuh wajahnya sedikit untuk memberi kesan benturan. Tidak lebih."

"Baiklah," jawab Qiana manis.

Namun di dalam hatinya, ia sama sekali tidak berniat mengikuti arahan itu.

Ia sudah memutuskan akan menampar sungguhan dengan seluruh tenaga—bahkan mengulanginya kalau perlu.

'Kali ini aku akan membuat perempuan itu menderita di depan semua orang,' batinnya.

Ini bukan pertama kalinya ia melakukan sabotase lewat akting.

Dan selama ini ia selalu lolos dengan alasan yang sama—

terlalu mendalami peran.

​Setelah semua tim produksi dinyatakan siap—mulai dari kamera, pencahayaan, hingga audio—proses syuting pun dimulai.

Seluruh pemeran segera memasuki set yang telah ditata menyerupai kamar istana: megah, namun terasa dingin.

"Action!" seru Sutradara Galang.

Adegan pun berjalan.

Dalam skenario, Laura Pitaloka baru saja menginjakkan kaki di lingkungan keraton dengan nama samaran Diah.

Di mata semua orang, ia hanyalah abdi dalem biasa—rendah, nyaris tak berarti. Namun paras menawannya dan aura anggun yang alami perlahan menarik perhatian Sang Prabu.

Perhatian itu tak luput dari pengamatan Putri Maheswari.

Rasa iri yang membara membuat sang putri memanggil Diah ke kediamannya. Bukan untuk berbincang, melainkan untuk mempermalukannya di hadapan para dayang.

"Perempuan tak tahu diri!" bentak Qiana yang memerankan Putri Maheswari, suaranya tajam bagai bilah keris. "Berani-beraninya kau menebar pesona di hadapan Prabu, seolah istana ini tak punya tata krama!"

Tatapan para dayang langsung tertuju pada Diah. Sebagian iba, sebagian lain menunggu tontonan berikutnya.

Begitu dialognya selesai, Qiana langsung mengayunkan tangan dengan keras, berniat mendaratkan tamparan nyata di wajah Kirana.

Namun tepat saat tangannya meluncur turun, mata Kirana sedikit menyipit.

Dengan perhitungan presisi dan refleks seorang aktris papan atas, ia memiringkan kepala pada detik terakhir.

Gerakan itu begitu cerdik sehingga kontak fisik berhasil dihindari, tetapi dari sudut kamera wajahnya tetap tampak seolah tertampar.

Meski tak terkena, tubuh Kirana bereaksi seakan dihantam kekuatan besar.

Ia terjatuh dramatis—namun alami—hingga tersungkur di lantai tanah yang keras.

Wajahnya meringis kesakitan.

"Ptui!"

Ia memuntahkan seteguk cairan merah pekat—darah buatan yang sudah ia siapkan di mulut.

"Kirana—!" Galang terlonjak dari kursinya.

Para staf di balik monitor ikut tercengang melihat betapa kerasnya "tamparan" itu sampai membuat Kirana memuntahkan darah.

Mereka segera berkerumun mengelilinginya dengan wajah panik.

"Qiana! Apa ini hari pertamamu berakting?! Kau bahkan tak bisa mengendalikan kekuatan tanganmu sendiri?!" bentak Galang.

Suaranya menggelegar memenuhi lokasi syuting.

Ia mungkin tak ikut campur dalam skandal pribadi para aktor. Namun jika seseorang melakukan tindakan murahan dan berbahaya di tengah produksinya, ia tak akan mentolerirnya.

Baginya, itu penghinaan langsung terhadap otoritasnya sebagai sutradara.

"Aku…" Qiana sendiri tampak kaget.

Ia memang sengaja menambah sedikit tenaga, tetapi ia yakin tangannya tadi sama sekali tak menyentuh pipi Kirana.

Rasanya seperti menampar udara kosong.

Itu jelas tak masuk akal jika sampai membuat Kirana jatuh dan muntah darah sedramatis itu.

Selain itu, ia yakin barusan Kirana menghindar.

Panik mulai merayap.

"Aku cuma menamparnya pelan! Aku sama sekali tidak pakai tenaga berlebihan! Dia pura-pura! Dia akting!" teriak Qiana melengking.

Sayangnya, reputasi Qiana di industri sudah telanjur buruk.

Banyak kru tahu ia kerap melakukan trik licik seperti ini pada artis baru.

Ditambah lagi, semua orang tadi melihat sendiri bagaimana ia menyindir Kirana sejak pagi. Tak satu pun percaya pembelaannya.

Di mata mereka, Qiana hanya berusaha lari dari tanggung jawab.

"Sutradara, saya baik-baik saja, sungguh. Saya hanya terluka sedikit di bagian dalam mulut… mungkin karena tanpa sengaja menggigit pipi saat jatuh tadi," ucap Kirana lirih.

"Akan membaik setelah dikompres es sebentar."

Suaranya sengaja dibuat lemah dan bergetar, seolah ia menahan sakit hebat demi kelancaran syuting.

"Saudari Qiana mungkin hanya terlalu mendalami peran dan ingin adegannya terlihat nyata. Jadi Bapak tidak perlu marah padanya…"

Tatapannya pada Galang tampak memelas.

Ekspresinya menunjukkan ia diperlakukan tak adil—namun tetap memilih bersabar seperti profesional sejati.

Kontras itu langsung menimbulkan simpati.

Dalam hitungan detik, seluruh kru memandang Kirana sebagai korban tabah… dan Qiana sebagai pelaku kejam.

Yono yang menyaksikan dari dekat hanya diam, sudut bibirnya sedikit berkedut.

'Orang ini… dia benar-benar bisa berpura-pura jadi gadis polos yang teraniaya dengan sempurna,' batinnya.

Ia kagum sekaligus ngeri pada kemampuan manipulasi Kirana.

Melihat dirinya justru jadi pusat kebencian, emosi Qiana meledak.

"Kirana, dasar penipu! Kau sengaja menjebakku! Kaulah yang menggigit bibirmu sendiri sampai berdarah!"

"Atau… kau menyembunyikan kapsul darah di mulut sejak tadi?!"

"Qiana, cukup! Jaga bicaramu!" bentak Galang tajam.

Di sampingnya, sang manajer mulai panik.

Ia tahu jika keributan ini sampai ke telinga petinggi perusahaan, posisi Qiana bisa hancur.

"Kak Qiana, tolong lupakan dulu. Jangan membuat sutradara makin marah. Dalam situasi ini, kita yang terlihat bersalah…" bisiknya cepat.

Ia sendiri yakin Qiana memang sengaja melakukannya.

Ia sudah terlalu sering melihat kejadian serupa selama bertahun-tahun bekerja dengannya.

Namun bukannya tenang, Qiana malah berbalik—

Plak!

Tamparannya mendarat di wajah manajernya sendiri.

"Pergi sana! Kau pikir kau berhak mengatur tindakanku?!" teriaknya kalut.

Manajer malang itu terjatuh ke tanah, sama seperti Kirana tadi. Sedikit darah mengalir dari sudut bibirnya.

Kejadian itu disaksikan langsung oleh banyak orang di lokasi syuting.

Para staf di sekitar, terutama mereka yang berstatus manajer atau asisten, segera membantu manajer Qiana berdiri. Tatapan yang mereka arahkan pada Qiana dipenuhi jijik dan kebencian. Bagi mereka, sikap wanita itu sudah melampaui batas kemanusiaan.

Dari tempatnya, Kirana hanya tersenyum tipis—senyum yang nyaris tak terlihat kecuali oleh orang yang benar-benar jeli.

Meski kehidupan pribadinya sedang dihantam fitnah, ia tak pernah membiarkan urusan pribadi melukai orang lain di sekitarnya. Komitmennya pada dunia akting tetap utuh.

'Tapi Qiana ini… singkatnya, dia wanita yang terlalu banyak bicara dan tak tahu tempat,' batinnya.

'Sepertinya aku memang harus memberinya pelajaran hari ini, supaya dia paham aku bukan orang yang bisa ditindas seenaknya,' lanjutnya, merasakan kepuasan tipis mengalir di dada.

Ini pertama kalinya Qiana dituduh atas sesuatu yang sebenarnya tidak ia lakukan.

Saat melihat tak seorang pun mempercayainya, wajahnya memerah padam—antara marah dan malu—seolah tekanan darahnya bisa meledak kapan saja.

Ketika ia hampir kehilangan kendali dan hendak menerjang Kirana, tiba-tiba seseorang melangkah cepat dan meraih pergelangan tangannya dengan kuat.

"Qiana, aku tahu kamu aktris yang bersemangat dan ingin tampil maksimal agar sutradara melihatmu dengan sudut pandang baru. Tapi kamu tak perlu sampai terlalu serius hingga membahayakan rekan kerja sendiri," ujar suara perempuan lembut namun penuh wibawa.

"Orang yang sudah lama mengenalmu mungkin paham bahwa kamu hanya terlalu menjiwai peran. Tapi bagaimana dengan orang baru di sini? Mereka bisa salah paham," lanjutnya, terdengar seolah membela—padahal menegur.

Orang itu adalah Aruna, yang baru tiba dengan penampilan sempurna seperti biasa.

Hari ini sebenarnya ia tidak memiliki jadwal syuting. Ia tak perlu datang ke lokasi terpencil ini. Namun ia tetap muncul, tentu dengan tujuan tersembunyi: melihat sendiri keadaan Kirana di tengah badai fitnah yang ia ciptakan.

Tak disangka, ia justru datang tepat di tengah adegan memalukan.

'Apa sebenarnya yang dilakukan si bodoh Qiana ini?' batin Aruna kesal.

Ia sudah memberi kartu bagus untuk menghancurkan Kirana.

'Bagaimana mungkin wanita tolol ini malah membiarkan keadaan dibalikkan dan dipermainkan seperti ini?'

Melihat simpati orang-orang mulai mengarah pada Kirana, Aruna langsung sadar ia harus turun tangan sebelum citra kelompok mereka ikut tercoreng.

Begitu melihat Aruna, Qiana seolah menemukan penyelamat. Ia langsung menggenggam tangan wanita itu erat-erat sambil menangis sesenggukan.

"Kak Aruna, kau harus percaya padaku! Perempuan itu benar-benar memfitnahku di depan semua orang!"

Tak ingin mulut Qiana yang tak terkontrol membocorkan sesuatu atau memperkeruh suasana, Aruna segera menariknya ke sudut sepi.

"Kenapa kau sampai kehilangan kendali seperti itu di depan umum?" tanyanya pelan, menahan frustrasi karena tindakan ceroboh Qiana bisa merusak rencananya.

"Kirana akan diusir cepat atau lambat karena skandal itu. Jadi kenapa kau harus memprovokasinya sekarang dan membuat dirimu sendiri terlihat buruk?"

Qiana menjawab dengan napas tersengal, emosinya masih meluap.

"Aku memang cuma mau memberinya pelajaran lewat adegan tamparan tadi. Tapi aku bersumpah, aku bahkan tidak menyentuh pipinya sama sekali!"

"Dialah yang menghindar sendiri, lalu berakting seolah aku memukulnya sampai muntah darah! Dia menjebakku, Kak Aruna!"

Melihat sutradara dan kru terus menghibur Kirana yang masih memasang ekspresi tabah, Aruna langsung mengerti rencana kakak tirinya itu.

"Qiana, percuma aku percaya padamu seribu kali. Masalahnya sekarang tak ada orang di set ini yang mau percaya," ucap Aruna dingin.

"Kau tak punya bukti. Kau tak bisa menjelaskan situasinya. Jadi satu-satunya jalan adalah pergi dan meminta maaf dengan tulus pada Kirana di depan semua orang."

Emosi Qiana langsung meledak.

"Apa?! Aku harus minta maaf padanya?! Tidak mau! Kak Aruna, bagaimana mungkin kau malah membelanya sekarang?!"

Ia merasa dikhianati. Selama ini ia yakin Aruna selalu berada di pihaknya untuk menjatuhkan Kirana.

Kesabaran Aruna nyaris habis. Rasanya seperti berbicara pada tembok.

"Tidak bisakah kau melihat fakta? Karena kejadian tadi, semua orang bersimpati padanya dan memandangnya sebagai korban!" tegasnya.

"Atau kau memang ingin membiarkannya terus berada di posisi itu… dan tetap berpasangan dengan idolamu, Mas Yono?"

Nama itu membuat Qiana ragu sejenak. Namun egonya masih terlalu tinggi.

"Aku tidak akan melakukan hal memalukan itu! Kalau kau mau aku minta maaf pada perempuan itu, lebih baik kau suruh aku mati saja!" katanya keras kepala.

Dalam hatinya ia berpikir, insiden kecil seperti ini tak mungkin berdampak besar bagi artis berkoneksi sepertinya.

'Aku tinggal menyuruh asistennya membeli hadiah mahal untuk membungkam kru. Beres,' batinnya yakin.

Melihat Qiana tak bisa diajak berpikir logis, Aruna akhirnya menyerah dan menarik diri. Ia hanya berharap wanita itu tak membuat kesalahan fatal lain yang ikut menyeret namanya.

Meski kejadian tadi sedikit menguntungkan Kirana di lokasi, Aruna tetap tenang. Ia yakin reputasi Kirana di mata publik sudah hancur akibat unggahan semalam.

Apa pun langkah balasan Kirana sekarang, baginya itu hanya trik kecil yang tak berarti.

'Begitu skandal ini makin besar, sponsor anonimnya pasti meninggalkannya karena malu,' pikir Aruna.

'Pria mana yang mau punya kekasih dengan reputasi wanita murahan yang suka selingkuh?'

Senyum kemenangan tipis tersembunyi di balik wajah cantiknya.

Memikirkan kemungkinan itu, hatinya akhirnya sedikit lebih tenang. Ia yakin kemenangan akhir tetap berada di tangannya.

​Pada akhirnya, setelah suasana kembali kondusif, Sutradara Galang memutuskan menghindari konflik lanjutan dan memilih tidak mengulang adegan tamparan dari awal.

Baginya, cuplikan saat Kirana terjatuh dan memuntahkan darah sudah memberikan efek dramatis luar biasa—bahkan melampaui ekspektasi. Mereka sepakat menggunakan potongan adegan itu sebagai hasil akhir.

Adegan kedua hari ini merupakan salah satu bagian paling krusial: saat tokoh Laura Pitaloka resmi diangkat menjadi Garwa Selir Agung oleh Baginda Prabu.

Di sisi lain, Putri Maheswari yang kehilangan seluruh kasih sayang Baginda dijatuhi hukuman pengasingan ke Puri Tirta Sepi—paviliun sunyi yang dikenal angker dan terputus dari kehidupan keraton.

Dalam adegan ini, Laura yang kini berada di puncak kekuasaan datang mengunjungi Putri Maheswari untuk pertama kalinya di tempat pengasingan—bukan untuk menghibur, melainkan membuka tabir jati diri yang selama ini ia sembunyikan.

Untungnya bagi kru, adegan kali ini jauh lebih aman karena tidak melibatkan kontak fisik. Fokusnya sepenuhnya pada tatapan, emosi, dan duel dialog.

"Tiga, dua, satu… mulai!" seru Galang.

Pengambilan gambar dimulai.

Di dalam set Puri Tirta Sepi yang remang dan berdebu, Putri Laura Diah duduk anggun di kursi singgasana berukir emas. Tatapannya dingin dan sarat jijik saat memandang perempuan malang yang tersungkur di kakinya—Putri Maheswari—yang pucat dan kosong, seolah jiwanya telah lama mati.

"Putri Maheswari," ucap Putri Laura lirih namun tajam, "tahukah engkau mengapa aku membencimu? Mengapa aku merajut semua ini hanya demi menyaksikan kehancuranmu perlahan?"

"Perempuan hina!" balas Putri Maheswari serak penuh racun. "Kau iri padaku! Iri karena dulu Baginda begitu memuliakanku! Iri karena aku pernah menerima seluruh restu dan anugerahnya!"

Putri Laura tertawa pelan. Suaranya merdu, namun menusuk seperti bilah tipis.

"Aku? Iri padamu?" katanya meremehkan. "Kau kira aku akan cemburu hanya karena kau pernah mendapat remah perhatian dari penguasa tua rakus kuasa itu?"

"Putri Laura! Kau sudah hilang akal?! Aku akan melapor kepada Baginda! Aku akan katakan bahwa kau menghina beliau di hadapanku—"

Tiba-tiba Putri Laura menunduk sedikit.

Matanya terangkat perlahan.

Tatapan itu gelap, dalam, dan menyesakkan—seperti jurang tanpa dasar.

Kata-kata Putri Maheswari langsung tercekik. Tubuhnya membeku.

Dengan suara sangat pelan, seolah dentang lonceng kematian, Putri Laura berkata, "Putri Maheswari… apakah engkau sungguh tahu siapa aku sebenarnya? Apakah engkau masih ingat… sebuah nama yang seharusnya telah terkubur dalam sejarah keraton ini… Laura Pitaloka?"

"Kau… kau…" Qiana yang memerankan Putri Maheswari tak mampu melanjutkan. Pikirannya kosong saat menatap mata Kirana yang terasa menelan kesadarannya.

"Berhenti! Ulang!" seru Galang. "Bagian pengungkapan tadi belum dapat."

Ia merasa reaksi kejut Putri Maheswari masih kurang tajam. Ia menginginkan ledakan emosi yang lebih kuat.

Pengambilan kedua dimulai.

"Putri Maheswari… apakah engkau tahu siapa aku? Apakah engkau masih ingat nama Laura Pitaloka?"

Tatapan Kirana kali ini jauh lebih menusuk. Tekanan emosinya terasa seperti jerat algojo yang perlahan mengencang di leher lawan.

Qiana merasakan bulu kuduknya berdiri. Seolah ia benar-benar berhadapan dengan arwah masa lalu yang datang menagih nyawa.

"Kamu… kamu adalah…" Ia kembali terbata.

"Berhenti! Ulang lagi! Fokus, Qiana!"

Pengambilan ketiga dimulai.

"Putri Maheswari… apakah engkau tahu siapa aku? Apakah engkau masih ingat… nama Laura Pitaloka?"

Setiap pengucapan kalimat itu—meski bernada berbeda—membuat perasaan Qiana makin kacau.

Ia merasa harga dirinya diinjak oleh kualitas akting Kirana yang jelas jauh di atasnya.

Kali ini Kirana mengucapkannya dengan emosi dendam yang terasa mengendap bertahun-tahun. Bahkan kru di balik monitor ikut merasakan gelombang amarah karakter Laura yang meluap seperti bendungan pecah.

"Kau… kau adalah Laura Diah? Eh—maksudku—Laura Pitaloka? Bagaimana mungkin kau… kau…"

Qiana kembali macet seperti gamelan sumbang.

Ia lupa dialog lanjutannya lagi.

"Berhenti!"

Nada Galang kini benar-benar meledak. Ia membanting naskah ke meja hingga berdebam keras.

"Qiana! Apa yang sebenarnya terjadi padamu hari ini?! Kalimat sesederhana itu saja tak bisa kau ucapkan dengan benar! Kau benar-benar membaca naskahmu semalam atau tidak?!"

Kemarahannya bukan tanpa alasan.

Aura emosional yang dibawakan Kirana kali ini begitu sempurna hingga Galang sendiri ikut terbawa semangat. Ia yakin bisa mendapatkan hasil pengambilan gambar ikonik hari ini.

Namun semua harapan itu runtuh karena kesalahan amatir yang terus dilakukan Qiana.

Para staf di pinggir set mulai berbisik-bisik sambil mencibir.

"Qiana itu sebenarnya idiot atau bagaimana? Kalimat yang sama saja diulang terus salah. Bahkan kru lampu pun sekarang pasti hafal!"

"Aku juga hafal! 'Kau Laura Pitaloka? Bagaimana mungkin kau masih hidup! Laura sudah meninggal!' Kalimat sesingkat itu, sesulit apa sih bagi aktris profesional buat menghafalnya?" sahut yang lain pedas.

"Rumor di internet bilang akting Kirana jelek dan cuma modal wajah. Mereka harusnya datang ke sini dan lihat sendiri akting Qiana."

"Baru tahu arti sebenarnya dari memalukan."

"Sebenarnya kalau dilihat objektif, Kirana itu aktris bagus."

"Serius. Hampir semua adegannya selalu one take sejak hari pertama. Tanpa kesalahan."

"Benar. Awalnya kupikir dia cuma beruntung. Tapi kemarin waktu dia memerankan Laura muda, aku benar-benar takjub."

"Meskipun di cerita dia menggoda Yono, anehnya saat lihat langsung justru tidak terasa risih. Malah jantungku ikut berdebar lihat chemistry mereka."

"Aku juga! Kalau dia diganti di tengah jalan, rasanya aku tak akan semangat kerja di film ini lagi. Di mataku, Kirana itu benar-benar Laura Pitaloka yang hidup."

Pujian untuk Kirana dan cibiran untuk Qiana terus mengalir di antara staf yang merasa waktu istirahat mereka terbuang percuma.

Aruna yang mendengar semua bisikan itu tak menyangka situasi yang jauh lebih memalukan justru kini menimpa sekutunya sendiri.

Ia langsung mengutuk kebodohan Qiana ratusan kali dalam batinnya.

Namun di permukaan, ia tetap menjaga citra.

Ia berjalan menghampiri Qiana yang duduk lemas dengan wajah pucat, lalu berkata dengan nada lembut yang dipaksakan,

"Qiana, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Apa kau sedang tidak enak badan hari ini? Kenapa konsentrasimu berantakan sekali?"

Qiana menggertakkan gigi. Amarah dan frustrasi menyesakkan dadanya.

"Aku... aku juga tidak tahu apa yang salah denganku hari ini! Rasanya aneh sekali. Setiap kali aku menatap mata Kirana saat dia mengucapkan dialog itu, pikiranku tiba-tiba kosong seperti terhapus. Seolah-olah aku sedang dikutuk sesuatu!"

"Bagaimana mungkin hal seperti itu terjadi? Itu tidak masuk akal," jawab Aruna.

'Tentu saja tidak masuk akal. Kau memang tidak siap, itu saja,' batinnya dingin.

Namun karena ia masih membutuhkan Qiana, ia tetap bersabar.

"Tenang. Tarik napas dulu. Pelan-pelan. Ayo, aku bantu kau latihan dialog itu sekali lagi di sini."

Aruna kemudian melatih adegan tersebut bersama Qiana di sudut set. Anehnya, saat berlatih dengannya, Qiana mampu melafalkan seluruh dialog dengan lancar tanpa satu kesalahan pun.

"Lihat? Kau sebenarnya bisa melakukannya dengan sangat baik. Tidak ada yang sulit," ujar Aruna sambil menepuk bahunya.

Dukungan itu sedikit mengembalikan rasa percaya diri Qiana yang sempat runtuh. Dengan semangat yang dipaksakan, ia bergegas mencari sutradara.

"Sutradara Galang, saya mohon maaf sekali lagi. Saya sudah siap sekarang!"

Selama jeda tadi, Galang memang sudah agak tenang setelah meneguk segelas air. Ekspresinya tidak setegang sebelumnya.

"Kalau begitu kita coba lagi. Jangan kecewakan aku kali ini," katanya sambil menghela napas panjang.

Namun kenyataan berkata lain.

Begitu kamera menyala dan ia kembali berhadapan langsung dengan Kirana di set yang gelap itu, pikiran Qiana kembali kosong seketika.

Seolah ada tembok besar muncul di otaknya setiap kali tatapannya bertemu mata Kirana.

Galang tidak puas. Ia memberi kesempatan lagi dan lagi, karena tidak ingin hari berakhir tanpa satu rekaman yang layak.

Tetapi hasilnya tetap sama.

Qiana terus gagal.

NG satu kali.

Dua kali.

Lima kali.

Sepuluh kali.

Hingga akhirnya—

Dua puluh delapan kali berturut-turut.

Saat jam makan siang tiba, adegan itu masih belum juga selesai.

Dengan wajah kesal dan frustrasi, Galang terpaksa menghentikan syuting sementara agar semua orang bisa makan dan beristirahat.

Keluhan pun mulai terdengar terang-terangan di belakang Qiana.

Mereka sedang memproduksi drama film serius, bukan acara komedi santai. Jadwal ketat harus dikejar. Terlalu banyak NG berarti pemborosan tenaga, waktu, dan uang produksi.

"Qiana, gunakan waktu istirahat ini untuk fokus pada bagianmu. Aku tidak mau mendengar alasan lagi nanti," kata Galang tegas.

"Setelah istirahat selesai, aku tidak ingin melihat kesalahan sekecil apa pun. Buktikan kalau kamu memang aktris profesional yang pantas berada di sini."

Ia lalu berjalan pergi menuju tenda sutradara tanpa menoleh.

Qiana hanya mengangguk lesu, menahan malu dan kesal. Dan seperti biasa, semua frustrasi itu ia arahkan pada satu orang—

Kirana.

Tanpa alasan logis, ia yakin Kirana adalah penyebab ia terus lupa dialog.

Beberapa menit kemudian, syuting dilanjutkan.

Namun hasilnya tetap sama.

Kesalahan.

NG.

Kesalahan lagi.

Seolah lidah Qiana menolak mengucapkan satu kalimat pun dengan benar setiap kali ia berhadapan dengan Kirana.

Saat pengambilan ke-33 dimulai—hari sudah mulai gelap dan udara makin dingin—Qiana tiba-tiba berdiri kaku di tengah set.

Matanya kosong.

Lalu tanpa peringatan—

Ia menjerit.

"Kirana, dasar jalang menjijikkan! Apa yang kau lakukan padaku?!"

"Kenapa aku tidak bisa mengingat dialogku setiap melihat wajahmu?! Kaulah pelakunya! Pasti kau melakukan sesuatu padaku!"

Teriakannya melengking tajam.

Para asisten dan petugas keamanan langsung berlari menariknya menjauh. Namun dalam kegilaannya, Qiana justru mendorong mereka dengan tenaga liar.

Ia bahkan sempat mencakar wajah Aruna yang mencoba menenangkannya.

Momen itu menjadi titik balik.

Sisa simpati orang-orang di lokasi langsung lenyap.

"Dia benar-benar bodoh, ya?"

"Masih berani menyalahkan orang lain padahal dia sendiri yang tidak becus menghafal dialog?"

"Apa dia pikir Kirana punya sihir untuk mencuri ingatannya?"

"Benar-benar egois. Kita semua harus lembur gara-gara dia."

"Kasihan Kirana. Sudah kerja keras malah diserang orang tidak stabil."

"Tapi tunggu... bukankah kejadian semalam di internet dan yang terjadi hari ini terasa aneh?"

"Maksudmu skandal hubungan Kirana dengan Yono Barsa itu?"

"Iya. Hal buruk mulai terjadi tepat setelah berita itu bocor ke lokasi syuting."

"Kalau Kirana sampai dikeluarkan dari produksi ini... siapa yang paling diuntungkan?"

Sunyi sesaat.

Tatapan mereka perlahan beralih ke arah yang sama.

Qiana.

Kini arah kecurigaan massa mulai berbalik.

Bersambung...

1
Ira Janah Zaenal
up up up 💪💪💪💪😍😍😍😍
Arini
Lanjutannya dong
falea sezi
lanjut
falea sezi
semangat kirana
falea sezi
yg tidur ma Kirana Brian y
falea sezi
lah anak yg di kandung Kirana mana keguguran apa gimana
falea sezi
kasian kirana
Ira Janah Zaenal
semangat Kiara atau putri Laura Pitaloka tunjukkan pesonamu💪😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!