NovelToon NovelToon
Selamat, Dan Selamat Tinggal

Selamat, Dan Selamat Tinggal

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:542
Nilai: 5
Nama Author: Awanbulan

Rian telah menunggu jawaban atas cintanya selama dua bulan, hanya untuk disambut kabar bahwa Sari, teman masa kecil yang sangat ia cintai, telah resmi berpacaran dengan orang lain.
Alih-alih merasa bersalah,
Sari justru meminta jawaban cinta Rian "ditunda" agar hubungan mereka tetap nyaman.
Di saat itulah, Rian menyadari bahwa selama ini ia bukan orang spesial, melainkan hanya alat kenyamanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awanbulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1 Garis Batas Yang di langgar

Pukul tujuh pagi di awal Juni, hari kerja biasa.

Pada jam segitu, pemandangan yang biasa terlihat adalah orang dewasa berjalan setengah hati menuju kantor dan para siswa berjalan dengan langkah malas ke sekolah.

Bagi kedua siswa itu, seharusnya hari ini hanyalah hari biasa di sekolah... tapi kejadian tak terduga memang sering datang begitu saja.

“Aku memutuskan pacaran sama Andi dari kelas sebelah.”

“……apa?”

Mataku langsung membelalak mendengar pengakuan mendadak dari teman masa kecilku. Belum pernah seumur hidupku merasa seterkejut ini. Otakku yang masih mengantuk langsung melek seketika.

Aku, Rian, dan teman masa kecilku, Sari, sama-sama kelas dua SMA di kelas yang sama. Karena rumah kami berdekatan, kami sudah berteman sejak kecil bersama keluarga masing-masing.

Tapi sudah lama aku menganggap Sari sebagai perempuan, dan diam-diam aku menyimpan perasaan yang kuat padanya.

Dua bulan lalu, aku memberanikan diri mengungkapkan perasaanku padanya.

“Hmm… tunggu dulu ya, aku mau pikirkan sungguh-sungguh soal kamu, Ri.”

Itulah jawaban yang kudapat.

Aku tidak langsung dapat jawaban pasti, tapi itu tidak masalah.

Kalau dipikir sekarang, pengakuanku itu memang mendadak, di akhir tahun ajaran kelas satu SMA.

Yang terpenting, aku senang sekali dia bilang mau memikirkannya dengan serius.

Sejak saat itu, hubungan kami tetap seperti biasa. Aku juga tidak merasa canggung karena belum ada jawaban.

Tidak apa-apa kalau butuh waktu, asal nanti Sari beri jawaban saat dia sudah siap… begitulah yang kupikirkan—.

Tapi…

Aku tidak bisa diam saja, akhirnya kutanyakan langsung pada Sari.

“Baiklah, aku nggak keberatan dengan pacarmu, tapi bagaimana dengan pengakuan yang kukatakan di hari terakhir sekolah dulu? Aku masih belum dapat jawabannya.”

“Umm… soal itu…”

“Kamu lupa ya?”

“Bukan gitu!”

Sari buru-buru membantah, tapi justru itu membuatku semakin bingung. Kalau tidak lupa, kenapa dia memutuskan pacaran dengan Andi tanpa memberi jawaban padaku?

Sebelum aku sempat bertanya lebih lanjut, Sari mulai menjelaskan alasannya. Tapi semakin kudengar, semakin tidak enak hati.

“Yah… susah dijelaskan sih, tapi aku cuma bisa menganggap kamu sebagai keluarga… sebagai teman masa kecil. Aku nggak merasa deg-degan kalau bersama kamu.”

“…Jadi, kamu nggak bisa membalas perasaanku?”

“Bukan begitu!”

“…Terus maksudnya apa?”

“……”

Semakin dia bicara, semakin banyak tanda tanya di kepalaku, bukan jawaban. Kalau jawabannya tidak buruk, kenapa dia punya pacar sekarang? Sari tampak ragu-ragu, jadi aku tanya lebih dalam.

“Jadi, kamu merasa deg-degan kalau sama Andi? Makanya kamu setuju?”

“Yah… kurang lebih begitu—waktu kami sama-sama jadi panitia persiapan upacara kelulusan, terus waktu kerja bareng… aku merasa senang sekali… suasananya jadi menyenangkan… jadi—”

Sebelum upacara kelulusan… tepat setelah aku mengaku… berarti tidak lama setelah itu hatinya mulai tergoda.

Aku mengerti… meski sudah bersama lebih dari sepuluh tahun, bagi Sari aku hanyalah teman masa kecil yang bisa digantikan begitu saja tanpa perlu membalas pengakuanku.

Apa maksudnya “mau memikirkan sungguh-sungguh”? Kata-kata itu dulu membuatku sangat bahagia…

Tapi sekarang, apa yang baru saja kulihat benar-benar sulit diterima.

Aku tidak sanggup melihat Sari tersipu malu saat membicarakan cowok lain…

“Jadi, um… boleh nggak kita tunda dulu jawaban buat kamu? Apa boleh ya?”

“…Hah?”

“……”

Aku terkejut dengan kata-katanya, sampai-sampai balasku terdengar dingin. Sari juga tampak kaget.

Tapi dia sama sekali tidak merasa bersalah telah mengejutkanku. Lagipula, kata-kata yang baru saja diucapkannya sungguh sulit dipercaya…

Ditunda…? Kamu sudah punya pacar, tapi masih mau menunda jawaban buatku…? Itu masuk akal?

Apakah Sari ingin mempertahankanku sebagai cadangan? Atau dia cuma menganggapku sebagai teman serba bisa?

Padahal kebiasaan itu memang sudah ada sejak dulu.

Diajak nonton film yang sebenarnya nggak kuinginkan di hari itu, tiba-tiba diajak ke toko es krim karena acara dengan temannya batal, disuruh nemenin pilih baju padahal aku lagi tidur siang di hari libur… dan masih banyak lagi.

Ku pikir Dia sengaja melakukan semua itu karena dia sayang padaku, tapi kenyataannya tidak begitu.

Itu cuma memanfaatkanku secara praktis…

“Ri… kamu marah ya?”

Sari bertanya dengan nada malu-malu.

Apa kamu benar-benar berpikir aku nggak akan marah setelah diperlakukan begini?

…Tidak, mungkin dia serius.

Kalau dipikir-pikir, aku memang belum pernah marah besar sama Sari. Ada beberapa kali hampir bertengkar, tapi aku selalu mengalah… Mungkin Sari salah paham, mengira aku orang yang susah marah.

Ya, aku kesal, tapi aku tidak akan mengatakannya langsung. Meski begitu, mungkin sikapku sudah memperlihatkannya tanpa sadar.

“Aku nggak marah.”

“Ya… syukurlah!”

“Tapi, tahu nggak, lebih baik kita selesaikan sekarang. Kamu sudah punya pacar, jangan ditunda lagi pengakuan itu. Beri aku jawaban yang jelas—aku juga ingin move on dan melanjutkan hidup.”

“Eh, tapi… itu… um…”

“Aku nggak akan marah kok.”

“Hmm… tapi…”

Ah… aku tahu karena sudah bertahun-tahun bersama.

Cara bicara yang berbelit-belit itu memang ciri khas Sari kalau sedang terpojok… Pada titik ini, susah sekali membujuknya untuk kasih jawaban pasti.

Lagipula, kalau terus begini, aku bakal terlambat ke sekolah. Meski sebenarnya ogah sekali, sepertinya aku nggak punya pilihan selain mengalah lagi.

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita pura-pura saja pengakuan itu nggak pernah ada?”

“…Eh?… Ah, iya betul! Lebih baik begitu! Aku ingin hubungan kita tetap seperti sekarang.”

Aku yakin begitu melihat Sari tersenyum lega.

Saat Aku mengaku padanya dulu, jauh di dalam hatinya dia mungkin merasa terganggu. Kata-kata “mau memikirkan sungguh-sungguh” itu hanyalah alasan supaya situasinya cepat selesai.

Bukan berarti dia tidak menyukaiku sama sekali, tapi dia cuma tidak ingin persahabatan masa kecil kami rusak… tapi meski sulit diucapkan, aku berharap dia bilang jujur dari dulu… hubungan kami ternyata tidak sedalam itu…

Tidak apa-apa kalau jawabannya tidak… Kalau dia bilang tegas dari awal, aku bisa saja mengucapkan selamat saat dia punya pacar.

Sifat Sari memang suka menghindar dan mengabaikan perasaan orang lain… Dia sudah berada di sisiku selama ini, tapi aku baru sadar sekarang. Sungguh disayangkan. Sayang sekali.

“Ya sudah.”

Aku merasakan perasaan cintaku pada Sari hancur berkeping-keping. Ini bukan perasaan semu. Dingin yang kurasakan benar-benar nyata.

Saat ini, aku tidak lagi menyukai Sari.

“…? Ri?”

“Selamat ya, sudah punya pacar.”

Aku mengucapkan selamat dengan tulus.

Aku tidak memperhatikan ekspresi Sari saat mendengar itu.

“Ya, tapi… kamu benar-benar nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa, jangan khawatir.”

“…Eh, ya.”

Meski Sari merasa ada yang aneh dengan sikapku yang terlalu tenang, dia tidak bertanya lebih jauh. Atau lebih tepatnya, dia merasa tidak enak dan tidak sanggup menyelidikinya.

Meskipun ada yang terasa janggal, setelah beberapa waktu berlalu, Aku kembali seperti biasa, dan Sari masih berpikir positif.

Justru dengan cara inilah dia menghindar… dengan pola pikir manja seperti itu.

Sari, teman masa kecil yang pernah kucintai, sudah tidak lagi ada di hatiku.

Tanpa disadarinya, Sari berjalan ke sekolah berdampingan denganku.

1
Awanbulan
bintang 5
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!