NovelToon NovelToon
Penjara Cinta

Penjara Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Dark Romance
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Patriciaaaa

​"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."

​Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.

​Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.

​Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?

​"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 - Pertengkaran Bima dan Aura

Sore itu, Aura pulang dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Semua keluh kesah, dari soal ujian matematika yang memuakkan sampai mimpinya tentang London yang terasa berat, sudah ia tumpahkan semua pada Arfan. Rasanya lega, seperti baru saja melepas beban berkilo-kilo dari pundaknya.

​Dulu, saat Arfan masih sekolah, cowok itulah yang selalu ada di perpustakaan, menemaninya belajar sampai penjaga sekolah berdeham memberi kode. Bahkan Aura ingat betul, suatu kali ia terbangun dari tidur singkat di atas meja perpus dan menemukan tugas matematikanya sudah selesai dikerjakan dengan tulisan tangan Arfan yang sangat rapi.

Setelah lulus Arfan yang mengantar jemput Aura pulang. Awalnya mereka hanya berkenalan namun sekarang Aura seperti bergantungan kepada Aura, Aura sudah menganggap Arfan sebagai Kakak nya sendiri tidak memiliki perasaan apapun kepadanya.

​Tapi beberapa hari kemarin, saat Arfan tiba-tiba menghilang dengan alasan sangat sibuk, dunia Aura rasanya mendadak sepi. Kehadiran Arfan hari ini benar-benar mengobati rasa kehilangan itu.

​Aura melangkah masuk ke rumah sambil bersenandung kecil. Senyumnya belum luntur sejak turun dari motor Arfan tadi.

​"Kenapa tuh senyum-senyum nggak jelas? Kesambet setan apa lo?"

​Langkah Aura terhenti. Bima sedang duduk di sofa ruang tamu sambil ngemil keripik, menatapnya dengan dahi berkerut heran. Maklum saja, beberapa hari ini pemandangan yang Bima lihat cuma Aura yang cemberut, membanting pintu kamar, dan mengurung diri.

​Aura memutar bola matanya, tapi kali ini tanpa emosi. "Dih, sirik aja. Orang lagi bahagia itu didoain, Kak, bukan dituduh kesambet."

​"Bahagia kenapa? Beasiswa lo tembus? Apa gara-gara tadi pulang bareng si cowok sok kalem itu lagi?" Bima melempar satu keping keripik ke mulutnya, matanya menyipit penuh selidik.

​Aura mendengus. "Namanya Kak Arfan, Kak! Dan dia nggak sok kalem, dia emang baik. Tadi dia malah ngasih aku catatan buat persiapan beasiswa. Emangnya Kakak? Bisanya cuma ngeledek doang."

​Aura pun berlalu menaiki tangga, meninggalkan Bima yang masih menatap punggung adiknya dengan tatapan yang sulit diartikan.

​"Gue nggak suka ya, Ra, lo deket-deket lagi sama dia," gumam Bima pelan, hampir tak terdengar. Namun, Aura sudah terlanjur masuk ke kamar dan menutup pintu dengan rapat.

Aura melempar tasnya ke atas kasur dengan perasaan kesal yang baru saja muncul karena ucapan Bima di bawah tadi. Padahal, dia baru saja merasa bahagia. Kenapa sih, Kak Bima selalu punya cara untuk merusak suasana hati?.

​Belum sempat Aura mengganti seragamnya, pintu kamarnya diketuk dengan kasar. Tanpa menunggu izin, Bima masuk dan bersandar di ambang pintu dengan tangan bersedekap.

​"Kita perlu ngomong," ucap Bima dingin.

​Aura menghela napas kasar, membalikkan badan. "Apalagi sih, Kak? Aku baru pulang, capek!"

​"Sejak kapan lo mulai deket lagi sama si Arfan-Arfan itu? Gue pikir sejak dia lulus, lo udah nggak urusan lagi sama dia."

​"Emangnya kenapa kalau aku deket lagi? Kak Arfan itu orang baik, Kak! Dia bantuin aku buat urusan London, nggak kayak Kakak yang bisanya cuma ngeledek!" teriak Aura, suaranya mulai meninggi.

​Bima mendengus remeh, langkahnya maju satu tindak ke dalam kamar. "Lo itu masih bocah, Ra. Gampang banget kena tipu sama tampang alim. Lo nggak liat gimana cara dia ngelihatin lo? Itu bukan tatapan kakak kelas ke adek kelasnya, bego!"

​"Maksud Kakak apa sih?!"

​"Dia itu aneh! Gue pernah liat dia diem di depan pager rumah kita jam dua malem cuma buat ngeliatin jendela kamar lo. Lo pikir itu normal? Itu sakit, Ra!"

​Aura tertegun sejenak, tapi egonya yang sedang melambung karena perhatian Arfan langsung membantah. "Halah, Kakak pasti salah liat! Palingan Kakak cuma iri karena Kak Arfan lebih sukses, lebih pinter, dan lebih berpendidikan daripada Kakak yang cuma bisa luntang-lantung nggak jelas!"

​Plak!

​Bukan tamparan, tapi Bima memukul daun pintu kamar Aura dengan sangat keras sampai suaranya menggema. Wajah Bima merah padam.

​"Terserah!" bentak Bima. "Tapi inget omongan gue. Orang yang kelihatan paling suci itu biasanya yang paling pinter nyembunyiin busuknya. Jangan nangis ke gue kalau nanti lo sadar lo cuma jadi mainan di kandang yang dia buat!"

​Bima keluar dan membanting pintu kamar Aura dengan kencang.

Setelah bantingan pintu dari Bima mereda, yang tersisa hanya isak tangis Aura yang tertahan. Tak lama, pintu kamarnya kembali terbuka, kali ini pelan dan hati-hati. Bunda Syakirah masuk, membawa segelas air putih hangat dan duduk di samping Aura.

​"Minum dulu, Ra," ucap Bunda lembut sambil mengelus punggung Aura.

​Aura meminum air itu dengan tangan gemetar. "Kak Bima jahat, Bun. Dia nuduh Kak Arfan yang enggak-enggak. Dia bilang Kak Arfan itu sakit."

​Bunda menghela napas panjang, tatapannya sendu. "Kakakmu itu mungkin cuma terlalu protektif karena dia ngerasa sekarang dia laki-laki satu-satunya di keluarga ini setelah Ayah nggak ada. Tapi Bunda tahu, cara dia bicara tadi memang keterlaluan."

​Aura menatap Bundanya dengan mata sembab. "Bunda nggak percaya kan sama omongan Kak Bima?"

​Bunda tersenyum tipis, lalu menggeleng. "Bunda kenal Arfan sejak dia sering ke sini buat bantu kamu belajar dulu. Dia anak yang sopan, ibadahnya bagus, bicaranya santun. Bahkan beberapa kali Arfan mampir ke sini pas kamu sekolah cuma buat bawain Bunda makanan atau sekadar tanya kabar."

​Aura terkejut. "Hah? Kak Arfan sering ke sini pas aku nggak ada?"

​"Iya," Bunda mengangguk. "Dia bilang nggak mau ganggu fokus belajar kamu, jadi dia cuma titip salam ke Bunda. Anak sesholeh itu... rasanya nggak mungkin kayak yang dibilang Bima. Justru Bunda tenang kalau kamu deket sama dia. Setidaknya ada yang bisa nuntun kamu."

​Bunda mengusap air mata di pipi Aura. "Bunda malah mikir, kalau nanti kamu beneran ke London, Bunda nggak akan sekhawatir itu kalau kamu perginya sudah ada yang jagain. Kayak... sudah ada ikatan halal, misalnya."

​Deg. Jantung Aura berdegup kencang. Maksud Bunda... pernikahan?

​"Sudah, jangan dipikirin omongan Bima. Kamu fokus saja sama impian kamu. Arfan itu orang baik, Bunda restuin kalau memang kalian mau lebih serius."

​Bunda keluar kamar, meninggalkan Aura yang terpaku. Perasaan Aura campur aduk, ada rasa lega karena didukung Bunda, tapi ada rasa takut yang samar mendengar kata 'halal'.

​Ia meraih ponselnya. Jemarinya mengetik pesan singkat ke nomor Arfan.

​Aura: Kak, boleh telepon? Aku lagi butuh temen ngobrol.

​Nggak sampai satu menit, ponselnya bergetar. Arfan menelepon. Seolah-olah cowok itu memang sudah memegang ponselnya, menunggu kabar dari Aura.

Bersambung......

1
Mawar
😍
Mawar
up terusss
Cahaya_Mentari
akhirnya😍
Mawar
lah kenapa tiba tiba Arfan berubah, bukannya kemarin dukung Aura ke London?
Cahaya_Mentari
Next Chapter😍
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
falea sezi
mawar ma arfan uda nganu ya Thor hmm. tidur bareng gt
My Name Cia: emmm, engga yaa🤭
total 1 replies
Mawar
Kok kayaknya Bima cemburu ya
Cahaya_Mentari
Alah, Arfan caper itu sama Bunda
Cahaya_Mentari
jadi keinget hy adik berkerudung putih, gtu ga sih🤭
Mawar
lanjut terusss
Mawar
baru awal udah di bikin penasaran
Cahaya_Mentari
kayaknya ceritanya bagus nih
Cahaya_Mentari
kok gtu banget sih Bima
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!