Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14: sarang serigala di balik gerbang sekolah
Markas Besar World Hunter Association (WHA), Jenewa – Pukul 10.00 Waktu Setempat.
Ruang sidang utama WHA yang biasanya dipenuhi oleh debat diplomatik kini sunyi senyap, seolah oksigen di dalamnya telah dihisap habis oleh rasa takut. Di layar proyektor raksasa, rekaman satelit yang telah dibersihkan dari gangguan mana menampilkan momen yang meruntuhkan harga diri umat manusia: Arthur Pendragon, Hunter Kelas SSS yang tak terkalahkan, bersujud di tanah dengan pedang legendarisnya yang patah menjadi serpihan kristal di depan kaki Bastian.
"Ini bukan lagi masalah keamanan nasional Korea," ucap Sekretaris Jenderal WHA, seorang pria tua dengan mata yang haus akan kontrol. "Ini adalah ancaman eksistensial. Kelompok Crimson Eclipse ini memiliki kekuatan yang tidak berasal dari inti mana. Mereka memanipulasi darah, frekuensi saraf, dan ruang dimensi dengan cara yang menghina hukum sihir kita."
"Kita harus menyerang balik!" teriak perwakilan dari Amerika. "Kirim seluruh armada Hunter Kelas S! Jika perlu, gunakan senjata nuklir mana di koordinat mereka!"
"Bodoh!" sela Choi Ha-neul yang hadir melalui transmisi holografik dari Seoul. "Kalian tidak melihat rekaman itu? Mereka tidak memiliki markas tetap. Mereka muncul dan menghilang dalam portal darah yang tidak bisa dilacak oleh radar spasial manapun. Dan yang paling menakutkan... mereka menyebut diri mereka 'bayangan dari satu penguasa'. Kita bahkan belum melihat wajah pemimpin mereka yang sebenarnya."
Keputusan akhirnya diambil Operasi 'Shadow Hunt'. Seluruh agen rahasia Hunter dari berbagai negara akan dikirim ke Seoul dengan menyamar sebagai warga sipil, jurnalis, bahkan siswa pindahan. Fokus mereka satu: SMA Gwangyang. Karena setiap kemunculan Crimson Eclipse selalu memiliki benang merah yang mengarah ke radius sepuluh kilometer dari sekolah tersebut.
SMA Gwangyang, Seoul – Pukul 08.00 Pagi.
Pagi itu, Arkan berjalan memasuki gerbang sekolah dengan langkah yang sengaja dibuat sedikit bungkuk dan lesu. Di matanya, kacamata tebal itu terasa seperti perisai yang semakin berat. Melalui Sanguine Vision yang ia aktifkan dalam mode pasif, Arkan menyadari bahwa sekolahnya telah berubah menjadi medan perang intelijen.
Ada 'petugas kebersihan' baru di koridor yang memegang sapu dengan posisi tangan seorang ahli beladiri. Ada 'siswa pindahan' di kelas 2-B yang memiliki denyut jantung stabil Kelas A meskipun ia berpura-pura gugup. Bahkan penjual roti di kantin kini memiliki tato kecil di pergelangan tangannya—simbol dari agen intelijen Inggris, MI-6 bagian supranatural.
'Julian,' panggil Arkan dalam benaknya saat ia duduk di bangkunya.
'Saya tahu, Ayah,' suara Julian terdengar tenang namun waspada. 'Total ada empat belas agen dari berbagai negara yang menyusup ke sekolah dalam dua jam terakhir. Mereka memasang sensor mana mikro di bawah setiap meja, termasuk mejamu. Seer telah menandai mereka semua. Haruskah kita memutus aliran darah mereka sekarang?'
'Jangan,' balas Arkan, sambil pura-pura sibuk mengeluarkan buku matematika. 'Jika mereka mati di sini, sekolah ini akan ditutup dan aku akan kehilangan tempat persembunyianku. Biarkan mereka mengintai. Berikan mereka data palsu. Buat seolah-olah mana di sekolah ini hanya berasal dari Liora yang sedang berkembang.'
'Dimengerti, Sovereign. Oh, satu hal lagi... Arthur Pendragon tidak kembali ke Jenewa. Dia menghilang dari rumah sakit militer dua jam yang lalu. Seer mendeteksi frekuensi kemarahannya bergerak menuju pinggiran Seoul. Dia tampaknya terobsesi untuk mencari Bastian kembali.'
Arkan menghela napas. Kebanggaan manusia terkadang lebih merepotkan daripada monster Abyss.
Di bangku depan, Liora terus menoleh ke arah Arkan. Wajahnya tampak pucat dan matanya dipenuhi kecurigaan yang tidak bisa ia sembunyikan lagi. Setiap kali ia melihat Arkan mencatat pelajaran, ia teringat bau besi dan darah di apartemen pemuda itu semalam.
Saat jam istirahat tiba, Liora tidak pergi ke kantin. Ia menarik tangan Arkan menuju gudang peralatan olahraga yang sepi—tempat yang sama di mana Arkan pernah menyelamatkannya secara rahasia.
"Arkan, berhenti bersandiwara!" Liora membanting pintu gudang dan menguncinya. Suaranya bergetar antara marah dan takut. "Aku bukan orang bodoh! Agen-agen itu... orang-orang yang berpura-pura jadi tukang kebun dan siswa baru... mereka mencarimu, kan? Atau mereka mencari Crimson Eclipse yang kamu sembunyikan?"
Arkan menatap Liora dengan tenang. Ia bisa merasakan detak jantung gadis itu yang tidak stabil. Di luar gudang, Arkan merasakan ada dua agen CIA yang sedang mendekat, mencoba mendengarkan percakapan mereka menggunakan alat penyadap frekuensi tinggi.
'Hana, urus dua orang di luar pintu. Buat mereka berhalusinasi mendengarkan suara kucing kawin,' perintah Arkan.
Seketika, di luar gudang, kedua agen itu tampak bingung dan mencabut perangkat telinga mereka dengan wajah kesal, lalu pergi menjauh.
Arkan kemudian melepas kacamatanya perlahan. "Liora, sudah kukatakan padamu di atap waktu itu. Rahasia ini adalah beban yang sangat berat. Kau seharusnya tetap menjadi gadis yang hanya memikirkan ujian dan festival budaya."
"Bagaimana aku bisa tenang?!" Liora mendekat, mencengkeram kerah seragam Arkan. "Dunia sedang menyatakan perang pada kelompokmu! Mereka akan menghancurkan sekolah ini jika mereka tahu kamu ada di sini! Jika kamu benar-benar Sovereign yang mereka bicarakan... kenapa kamu diam saja saat mereka menginjak-injak privasimu?"
Arkan memegang tangan Liora, melepaskan cengkeramannya dengan lembut namun tak terbantahkan. "Karena jika aku bergerak, tidak akan ada lagi sekolah yang tersisa untukmu belajar, Liora. Aku menahan diri bukan karena aku takut pada mereka. Aku menahan diri agar kau tetap memiliki dunia yang normal."
Liora terdiam. Air mata menetes di pipinya. "Duniaku sudah tidak normal sejak aku mengenalmu, Arkan. Aku melihatmu membantai monster dalam senyap. Aku melihatmu memerintah dewa-dewa perang. Dan sekarang... aku melihatmu dikepung oleh serigala, tapi kamu masih memikirkan nilaiku?"
Arkan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kesedihan ribuan tahun. "Itu karena bagiku, senyummu saat lulus nanti lebih berharga daripada seluruh pengakuan dari WHA."
Tiba-tiba, suara ledakan besar terdengar dari arah gerbang sekolah. Seluruh gedung bergetar hebat.
BOOOMMM!!!!
'Julian! Apa itu?!' tanya Arkan tajam.
'Ayah! Arthur Pendragon! Dia benar-benar gila! Dia menyerang gerbang depan sekolah dengan pedang barunya yang ditempa dari kristal mana gelap! Dia berteriak menantang Vanguard untuk keluar!'
Arkan mengencangkan rahangnya. Matanya berubah menjadi merah murni yang sangat pekat hingga udara di gudang olahraga itu mendadak menjadi sangat panas.
"Sepertinya aku tidak bisa memberimu dunia yang normal lebih lama lagi, Liora," ucap Arkan.
Ia menjentikkan jarinya, dan seketika Liora jatuh pingsan ke pelukannya. Arkan membaringkan Liora dengan lembut di atas matras olahraga. Ia mengenakan jubah Sovereign-nya yang muncul dari dalam pori-pori kulitnya, membungkus tubuhnya dengan megah.
"Vanguard, Phantom, Plague, Seer... kalian mendengarku?" suara Arkan bergema di jaringan Blood-Link dengan nada yang bisa membuat gunung runtuh.
"KAMI MENDENGAR, SOVEREIGN!" jawab kelimanya.
"Bawa Arthur Pendragon menjauh dari sekolah ini. Bawa dia ke gurun Gobi di Mongolia. Aku akan menyusul dalam satu detik. Dan untuk para agen di sekolah ini... Julian, hapus memori mereka tentang hari ini. Pastikan mereka bangun di tengah hutan tanpa tahu siapa nama mereka sendiri."
Arkan melangkah keluar dari gudang olahraga. Ia tidak lagi berjalan; ia melayang di udara, menembus atap gedung sekolah. Di bawah sana, para agen yang menyamar menatap ke atas dengan mata terbelalak, melihat sosok dewa merah yang selama ini mereka cari sedang menatap mereka dengan tatapan maut.
"Kalian ingin mencari Sovereign?" suara Arkan menggelegar di seluruh Seoul, mematikan seluruh siaran televisi dan radio secara paksa. "Sekarang kalian telah menemukannya. Dan ini adalah hari terakhir kalian memiliki keberanian untuk menatap langit."
Dalam satu kilatan cahaya merah yang menyilaukan, Arkan dan seluruh pengikutnya menghilang, meninggalkan SMA Gwangyang yang sunyi dan membeku dalam waktu.