NovelToon NovelToon
Cinta Aluna

Cinta Aluna

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wiji Yani

Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 kecemburuan yang terpendam

Bara kembali ke sekolah saat jam pelajaran terakhir hampir usai. Wajahnya sembab, rambutnya berantakan karena angin jalanan, dan matanya terlihat kosong. Ia masuk ke kelas lewat pintu belakang dengan langkah yang sangat pelan, berharap tidak ada yang menyadari kehadirannya. Namun, hal pertama yang tertangkap oleh matanya adalah pemandangan yang membuat luka di hatinya kembali menganga.

Di barisan depan, Brian sedang duduk di kursi sebelah Aluna. Kelas sedang dalam jam kosong karena guru sedang rapat, dan Brian menggunakan kesempatan itu untuk memanjakan Aluna. Brian tampak sedang memijat pelan bahu Aluna, sementara Aluna menyandarkan kepalanya di meja sambil sesekali tertawa kecil mendengar bisikan Brian.

Bara duduk di bangkunya, mencoba fokus pada buku di depannya, namun telinganya justru menjadi sangat tajam menangkap setiap percakapan mereka.

"Capek ya? Makanya, semalam jangan begadang terus," ucap Brian lembut sambil mengusap kepala Aluna. "Nanti sore kita pulang, aku mampir beli martabak kesukaan kamu dulu, ya?".

"Iya, Brian. Makasih ya," sahut Aluna dengan suara yang begitu tenang.

Bara mengepalkan tangannya di bawah meja. Rasa cemburu itu membakar dadanya seperti api yang disiram bensin. Ia ingin berteriak bahwa dulu ia juga tahu martabak kesukaan Aluna. Ia ingin berteriak bahwa dulu ia yang selalu ada di posisi Brian. Tapi ia sadar, ia tidak punya hak lagi. Kecemburuannya adalah api yang hanya boleh membakar dirinya sendiri dalam diam.

Tiba-tiba, Brian menoleh ke belakang dan menyadari keberadaan Bara.

"Woy, Bar! Dari mana aja lo? Tadi dicariin guru piket pas istirahat," tanya Brian dengan nada curiga namun masih bersahabat.

Bara tersentak, ia mencoba mengatur ekspresi wajahnya. "Gue... tadi ke uks. Ketiduran karena pusing banget."

Brian bangkit dan berjalan menghampiri meja Bara. Ia duduk di pinggir meja, menatap Bara dengan intens. "Lo sakit lagi? Apa gara-gara luka di tangan lo itu? Eh, Bar, lo harus liat nih..." Brian menunjukkan layar ponsel Aluna yang kini dipasang foto mereka berdua sebagai wallpaper. "Luna sendiri yang pasang. Dia bilang, biar setiap buka HP, yang dia liat cuma muka ganteng gue."

Bara menelan ludah yang terasa pahit. Ia melirik ke arah Aluna. Gadis itu kini sudah duduk tegak, menatap Bara dengan tatapan yang sangat datar. Tidak ada lagi kekhawatiran di mata itu. Yang ada hanya pembuktian bahwa dia sudah benar-benar berpaling.

"Bagus, Bri. Cocok kok," ucap Bara pendek, suaranya terdengar sangat parau.

"Lo kenapa sih, Bar? Kok lemes banget?" Brian bertanya lagi, kali ini nadanya sedikit menyelidik. "Lo nggak cemburu kan liat gue sama Luna?"

Pertanyaan itu seperti petir di siang bolong. Bara membeku. Aluna pun tampak sedikit tegang di tempat duduknya.

"Nggaklah, Bri. Ngapain gue cemburu?" sahut Bara secepat mungkin, meski hatinya menjerit kesakitan. "Kan gue yang dukung lo dari awal."

Brian tertawa keras dan menepuk bahu Bara. "Haha, bener juga! Gue becanda doang, Bar. Habisnya muka lo kayak orang patah hati. Yuk, Lun, kita ke parkiran sekarang aja, mumpung udah bel!"

Brian menarik tangan Aluna, melewati meja Bara. Saat melewati Bara, tangan Aluna yang sedang digenggam Brian sempat menyenggol buku Bara hingga jatuh ke lantai. Aluna berhenti sejenak, menatap buku itu, lalu menatap Bara. Tapi ia tidak memungutnya. Ia hanya memalingkan wajah dan terus berjalan mengikuti tarikan tangan Brian.

Bara menatap buku yang tergeletak di lantai itu—seperti dirinya yang kini tergeletak, diabaikan, dan diinjak-injak oleh kenyataan. Kecemburuan itu tetap ia pendam dalam-dalam, tertanam bersama rasa sakit yang kian hari kian membusuk di dalam dadanya.

Langkah kaki Bara terasa sangat berat saat ia berjalan menuju parkiran. Ia sengaja mengambil rute memutar, mencoba menunda pertemuan yang ia tahu akan kembali menyayat hatinya. Namun, parkiran sekolah yang luas itu seolah mengecil saat matanya menangkap siluet dua orang yang sangat ia kenal di dekat motor Brian.

Bara berhenti di balik pilar beton, tangannya mencengkeram erat tali tasnya. Dari kejauhan, ia melihat Brian sedang merogoh sesuatu dari dalam tas besar yang tergantung di motornya.

"Luna, tunggu sebentar," ucap Brian dengan nada yang terdengar sangat bersemangat.

Aluna berdiri mematung, menatap Brian dengan ekspresi penasaran. Detik berikutnya, Brian mengeluarkan sebuket bunga mawar merah yang masih tampak segar. Warna merahnya begitu kontras dengan seragam putih abu-abu yang mereka kenakan.

"Ini buat kamu. Tadi pagi aku sengaja mampir ke toko bunga sebelum jemput kamu," ujar Brian sambil menyodorkan buket itu. "Cuma mau bilang, makasih ya udah kasih aku kesempatan. Aku janji bakal jaga kamu lebih baik dari siapa pun."

Bara yang melihat dari kejauhan merasa dunianya seolah berhenti berdetak. Oksigen di sekitarnya terasa hilang. Bunga itu... mawar merah. Bara teringat suatu hari dulu, Aluna pernah berbisik padanya bahwa ia sangat menyukai mawar merah, tapi Bara hanya menertawakannya dan bilang kalau itu terlalu puitis dan berlebihan. Kini, Brian melakukannya dengan sangat sempurna—tanpa ragu, tanpa rasa malu.

Aluna menerima bunga itu. Ia menghirup aromanya, lalu sebuah senyuman merekah di wajahnya. Senyuman yang begitu tulus, yang belum pernah Bara lihat selama berbulan-bulan terakhir.

"Makasih, Brian. Bunganya cantik banget," ucap Aluna lembut.

Brian tidak berhenti di situ. Ia meraih tangan Aluna, mengecup punggung tangannya dengan lembut di depan umum, seolah sedang memberitahu pada dunia bahwa gadis itu adalah miliknya .

Bara memalingkan wajah, tidak sanggup lagi menonton adegan yang menghancurkan sisa-sisa kekuatannya. Kecemburuan itu kini sudah melampaui batas; itu bukan lagi sekadar rasa iri, melainkan rasa sakit fisik yang membuat perutnya mual. Ia merasa seperti seorang pecundang yang hanya bisa mengintip dari kegelapan, melihat kebahagiaan yang seharusnya bisa menjadi miliknya jika saja ia tidak terlalu sombong.

"Gue emang bener-bener telat," bisik Bara pada dirinya sendiri. Suaranya hilang ditelan deru mesin motor yang mulai meninggalkan parkiran.

Ia melihat Brian memakaikan helm ke kepala Aluna dengan sangat mesra, lalu mereka berdua naik ke atas motor. Aluna memeluk pinggang Brian dengan erat, dan bunga mawar itu didekapnya di dada. Saat motor mereka melewati pilar tempat Bara bersembunyi, Bara menundukkan kepala sedalam-dalamnya.

Ia tidak ingin Aluna melihat matanya yang memerah. Ia tidak ingin Brian tahu bahwa sahabat yang selalu mendukungnya ini sebenarnya sedang mati perlahan di tempatnya berdiri. Kecemburuan itu tetap terpendam, terkunci rapat di balik bibirnya yang membisu, sementara mawar merah di tangan Aluna menjadi nisan bagi harapan Bara yang sudah layu sebelum sempat mekar.

Bersambung........

1
Dian Fitriana
update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!