Blurb:
Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.
Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.
Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.
"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."
Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.
"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."
Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Kucing Garong
Bau busuk menyengat langsung menusuk hidung begitu Elena menurunkan kaca jendela mobilnya. Di depannya, sebuah truk oranye besar milik Dinas Kebersihan DKI Jakarta sedang berhenti di lampu merah Mampang, meneteskan cairan lindi yang menjijikkan ke aspal panas.
Bagi Elena, truk bau itu adalah malaikat penyelamat.
"Target terkunci," gumamnya dengan senyum miring.
Elena membuntuti truk itu dengan sabar hingga sopirnya menepi di sebuah Tempat Pembuangan Sementara untuk memadatkan muatan. Elena memarkirkan Mini Cooper-nya tepat di belakang truk, tersembunyi dari pandangan jalan raya.
"Waktunya operasi," bisik Elena.
Tanpa mematikan mesin, Elena menyelinap keluar. Ia tiarap di atas aspal berdebu tanpa mempedulikan rok mahalnya, meraba sasis bawah mobilnya hingga menemukan benda kecil hitam bermagnet kuat.
Kletek! GPS tracker militer itu terlepas di tangannya, lampu indikatornya masih berkedip merah genit.
"Kau mau tahu aku di mana, Kairo? Aku akan mengajakmu ke tempat wisata paling wangi di Jakarta," bisik Elena pada alat itu.
Dengan gerakan cepat, ia merangkak ke belakang truk sampah dan menempelkan alat pelacak itu di antara lumpur dan karat pada besi penyangga truk. Trak. Menempel sempurna.
Elena kembali ke mobilnya, menyemprotkan hand sanitizer banyak-banyak, dan memutar balik arah menuju apartemennya di Kuningan.
"Dah, Sayang. Selamat menikmati tumpukan sampah."
Sementara itu, di lantai 50 Diwantara Tower, Kairo Diwantara mematung di kursinya. Matanya terkunci pada layar ponsel yang menampilkan titik merah berlabel ASSET 01.
"Kenapa dia ke arah timur?" gumam Kairo bingung, mengabaikan Reza yang sedang membacakan jadwal.
Titik merah itu seharusnya belok kiri ke Kuningan, tapi malah lurus masuk tol arah Cikampek. Kecurigaan Kairo liar. Apakah Elena kabur? Atau menemui seseorang di luar kota?
"Reza, cek jadwal penerbangan atau kereta atas nama Sora. Sekarang," perintah Kairo tajam.
"Nihil, Pak."
Mobil itu terus melaju di tol Bekasi, lalu keluar di Bekasi Barat menyusuri Jalan Raya Narogong yang rusak. Jantung Kairo berdegup kencang saat melihat titik itu berbelok masuk ke area berwarna abu-abu luas di peta.
TPA BANTARGEBANG.
Kairo melompat berdiri, wajahnya pucat pasi. "Bantargebang?! Istriku di tempat pembuangan sampah akhir!"
Otaknya memutar skenario terburuk: penculikan, perampokan, atau lebih mengerikan... pembuangan mayat. Siapa yang waras pergi ke gunung sampah naik Mini Cooper?
Titik merah itu berhenti tepat di tengah Zona 3 gunungan sampah.
"Siapkan mobil! Bawa tim keamanan! Kita ke Bekasi sekarang! Istriku dalam bahaya!" bentak Kairo panik.
Namun, sebelum berlari keluar, Kairo mencoba satu hal terakhir: menelepon Elena. Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol panggil.
Di Apartemen Kuningan lantai 35, suasana begitu damai. Elena duduk santai dengan bathrobe putih, menikmati kopi Arabica dan alunan musik jazz, sementara AC mendinginkan ruangan.
Ponselnya bergetar. Nama pemanggil: POSESIF FREAK (KAIRO).
Elena tersenyum geli, membiarkan dering berbunyi tiga kali sebelum mengangkatnya dengan loudspeaker.
"Halo?" sapa Elena dengan suara serak-serak basah, pura-pura baru bangun tidur.
"Sora?! Kamu di mana?!" Teriakan panik Kairo meledak.
"Ssshhh... jangan teriak, Kairo. Aku di mana? Ya menurutmu di mana?"
"Jawab jujur! Kamu baik-baik saja? Kamu terluka?"
Elena menahan tawa membayangkan wajah panik suaminya. "Terluka? Aku cuma lagi manicure, Kairo. Memangnya kenapa?"
"Manicure?!" suara Kairo meninggi. "Jangan bohong! Instingku bilang kamu ada di tempat yang... tidak wajar!"
Hampir saja Kairo keceplosan soal GPS.
"Instingmu perlu dikalibrasi, Sayang," jawab Elena santai sambil mengetik di komputernya. "Aku di salon langganan. Tempatnya privat, tenang, dan wangi aromaterapi."
Hening sejenak. Kairo bingung setengah mati. Di layarnya, titik merah itu diam di tengah lautan sampah busuk, tapi suara istrinya tenang dengan latar musik jazz. Apakah alat pelacaknya rusak? Atau istrinya punya ilmu teleportasi?
"Kamu... benar-benar di salon?" tanya Kairo lemah, logikanya error.
"Iya, Bapak CEO. Tolong jangan ganggu me-time aku dengan paranoia-mu. Kecuali kau mau ke sini memijat kakiku."
Kairo menyerah. "Oke... mungkin aku salah lihat. Jangan pulang malam."
Klik.
Elena tertawa lepas hingga perutnya sakit. "Rasakan itu. Pelajaran pertama, Suamiku: jangan pernah memasang kalung anjing pada serigala."
Di layar terpisah, Elena memantau pergerakan truk sampah yang baru saja menumpahkan muatannya. Alat pelacak mahal itu kini mungkin terkubur di bawah dua ton sampah pasar.
Babak pertama dimenangkan Elena. Namun, ia sadar Kairo bukan orang bodoh selamanya. Pria itu pasti akan curiga jika nanti malam melihat mobilnya bersih dan wangi, sementara pelacaknya masih aktif di Bekasi.
"Aku harus siap-siap," pikir Elena, matanya berkilat waspada. "Dia pasti akan memeriksa mobilku nanti malam."
msih nunggu dimna elena alias sora mengungkapkan jati dirinya ke kairo, dripd trus berbohong yg ada nnti kairo kecewa, gk buruk jg klo jujur kairo kan bucin psti bsa nerima apa adanya 💪
suka banget karakter utama ceweknya kuat, pinter,dominan,
sampe bab ini, kairo belum sedominan gavin di cerita sebelah ya Thor, kesannya msh lbh dominan sora/elena
ditunggu next nya, kairo-soraelena sm kuat
semangat Thor