NovelToon NovelToon
Idol Di Balik Pintu Kosan

Idol Di Balik Pintu Kosan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Amnesia / Idol / Komedi
Popularitas:431
Nilai: 5
Nama Author: PutriBia

Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAYEMBARA DASTER

Aruna menatap Javi dengan mulut menganga.

Wah, si Ujang kalau lagi kumat aura idol-nya serem juga ya...

Saat Javi sedang asyik menaklukkan kantin dengan pesona kloningannya, matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah TV besar di pojok kantin yang sedang menyiarkan berita hiburan.

"Hingga hari keempat, keberadaan Javier LUMINOUS masih misterius. Pihak manajemen membantah isu bahwa Javier melarikan diri untuk menjadi petani organik di desa..."

Javi menatap layar TV itu. Di sana, ditampilkan klip video Javi sedang menari di atas panggung dengan sangat energik.

Javi merasakan kepalanya berdenyut. Gerakan tarian itu... dia merasa mengenalnya. Otot kakinya tiba-tiba bergerak sendiri secara refleks, melakukan gerakan slide kecil di lantai kantin.

"Ujang! Jangan joget di sini!" bisik Aruna sambil menarik kaos Javi.

Tapi sudah terlambat. Para fans LUMINOUS di kantin mulai menyadari sesuatu.

"Eh... gerakan kakinya... itu kan koreografi lagu 'Supernova'!" seru seorang fans berat Javi.

"Dan lihat cara dia memegang botol itu! Itu kan gaya khas Javi kalau lagi haus pas konser!"

Situasi mulai tidak terkendali. Mahasiswi-mahasiswi itu mulai merangsek maju. Aruna menyadari bahaya besar sedang mengintai. Identitas "Ujang" terancam terbongkar gara-gara insting menari yang tidak tahu tempat.

"DARURAT! UJANG KESURUPAN!" teriak Aruna sekencang mungkin.

"Hah? Kesurupan?" Genta bingung.

"Iya! Ujang ini kalau liat TV suka kumat! Dia pikir dia itu kipas angin! Cepat minggir!"

Aruna menarik tangan Javi dan mulai berlari menembus kerumunan.

Javi, yang masih bingung dengan kakinya yang bergerak sendiri, berteriak,

"Aruna! Kenapa kaki saya ingin melompat?! Apakah kloning asli saya sedang mengendalikan saya melalui sinyal TV?!"

"DIAM KAMU, KLONINGAN GAGAL! LARI!"

Setelah berhasil lolos dari kepungan mahasiswi yang lapar akan visual, mereka bersembunyi di balik gerobak es mambo milik Bang Tejo di luar gerbang kampus.

Aruna bersandar di gerobak, napasnya naik-turun.

"Hampir saja... hampir saja kita jadi berita utama dengan judul Idol Hilang Ditemukan Jadi Penunggu Kantin."

Javi melepas topinya, rambut peraknya berantakan terkena angin. Dia menatap tangannya.

"Aruna... pria di TV itu... dia menari dengan sangat bagus. Kenapa saya merasa dada saya sesak saat melihatnya?"

Aruna terdiam. Dia melihat kesedihan di mata Javi. Dia tahu, cepat atau lambat, memori itu akan kembali. Dan saat itu terjadi, "Ujang" akan hilang selamanya, kembali menjadi Javier sang bintang yang tak tersentuh.

"Mungkin karena kamu iri sama dia,"

Aruna mencoba mencairkan suasana.

"Udah, jangan dipikirin. Nih, makan es mambo melon. Biar otak kloninganmu dingin lagi."

Javi menerima es mambo itu. Dia menggigit ujungnya dengan galau.

"Aruna... jika saya benar-benar kloningan, apakah saya akan ditarik kembali ke pabrik jika saya rusak?"

"Kalau kamu rusak, aku yang bakal benerin pake lem Korea," jawab Aruna asal.

"Udah, ayo balik ke kosan. Kamu harus lanjut nyuci daster Mbak Widya yang kamu kotorin tadi pagi."

Javi tersenyum kecil.

"Baik, Majikan. Tapi saya ingin daster yang warna biru besok. Saya merasa warna pink sudah terlalu mainstream untuk reputasi saya di kantin tadi."

Aruna tertawa, kali ini tulus. Di tengah ketakutannya akan rahasia yang terbongkar, dia merasa kehadiran "Ujang" membuat hidupnya yang membosankan jadi penuh warna. Meskipun warna itu seringkali berwarna pink bunga kamboja.

Sementara itu, di sebuah sudut gelap kantin, Genta sedang melihat hasil fotonya. Dia tidak melihat "Ujang" yang aneh. Dia melihat sebuah peluang emas.

"Aruna... asistenmu ini bukan sekadar orang kampung," gumam Genta sambil memperbesar foto tahi lalat di bawah mata Javi.

"Aku akan cari tahu siapa sebenarnya pria ini, meskipun aku harus membongkar seluruh kuburan kloningan di Jakarta!"

Di basecamp LUMINOUS, Rian sang maknae tiba-tiba bersin.

"Hyung! Aku merasa Javi-hyung baru saja melakukan pose ending fairy di suatu tempat! Aku bisa merasakannya melalui ikatan batin kaum rebana kita!"

"Sudahlah Rian, makan saja mi instanmu," sahut Kenji lelah.

"Javi-hyung mungkin sekarang lagi sibuk menyelamatkan dunia... atau mungkin lagi sibuk nyuci piring."

Malam itu, kosan Griya Widya tidak lagi tenang. Suasananya lebih mirip markas intelijen yang sedang mengalami kebocoran data nasional. Di ruang tengah, Mbak Widya berdiri di atas kursi kayu sambil memegang pengeras suara (megafon) warna merah.

"Perhatian seluruh warga kosan! Terutama kaum hawa yang hobi naruh jemuran sembarangan!"

suara Mbak Widya menggelegar melalui megafon, menciptakan feedback yang memekakkan telinga.

"Telah terjadi infiltrasi! Daster pink kamboja kesayangan saya telah dilecehkan oleh oknum tidak bertanggung jawab! Baunya sekarang bukan lagi bau bunga, tapi bau bakso urat dan keringat pria misterius!"

Di dalam kamar, Aruna dan Javi sedang melakukan rapat darurat. Aruna bersandar di pintu dengan wajah sepucat kertas HVS, sementara Javi sedang asyik mencoba menggunakan penggaris busur Aruna untuk mengukur kelengkungan alisnya di depan cermin.

"Aruna," bisik Javi dengan nada serius.

"Wanita di luar sana itu... apakah dia sedang memimpin pemberontakan? Suaranya mengingatkan saya pada suara naga dalam dongeng kloningan."

"Diam, Ujang! Ini semua gara-gara kamu!"

Aruna menjambak rambutnya sendiri.

"Gara-gara kamu pake daster itu buat gaya-gayaan kemarin, Mbak Widya sekarang ngadain sayembara. Siapa pun yang bisa nemuin Maling Daster Spesialis Tinggi bakal dapet gratis uang kos sebulan!"

Mata Javi berbinar.

"Gratis uang kos? Bukankah itu bagus? Bagaimana kalau saya menyerahkan diri saja, lalu kita bagi dua uangnya?"

Aruna menepuk dahi Javi dengan keras.

PLAK!

"Aduh! Majikan, itu aset kloningan berharga!" rintih Javi sambil memegangi jidatnya. Dia masih tidak ingat siapa dirinya, dan teori

kloning gagal masih tertanam kuat di otaknya.

"Bego! Kalau kamu nyerahin diri, kamu ditangkep! Terus pas difoto buat BAP, muka kamu viral, terus agensi 'kloningan' kamu dateng jemput kamu buat dimusnahkan! Logika kamu ditaruh di mana, Ujang?!"

Javi terdiam, lalu menunjuk ke arah perutnya.

"Di sini. Bersama ayam geprek tadi siang."

Aruna menarik Javi duduk di lantai, di antara tumpukan kabel dan kertas kalkir.

"Dengar ya, Ujang. Mulai besok, situasi bakal makin bahaya. Genta udah curiga, Mbak Widya lagi nyari maling daster, dan kamu... kamu terlalu ganteng buat jadi rakyat jelata! Kamu harus dandan lebih jelek lagi agar tidak mirip dengan pria di poster itu!"

Javi mengerutkan kening, merasa tersinggung secara profesional.

"Lebih jelek? Aruna, itu melanggar hukum alam. Bahkan jika saya dilumuri lumpur got, saya akan terlihat seperti model iklan perawatan kulit organik."

"Percaya diri banget ya kamu," cibir Aruna.

"Oke, mulai besok, kamu harus pake plester di hidung, rambut kamu harus dikasih bedak biar kelihatan ubanan, dan kacamata kamu... nih, aku kasih kacamata renang yang udah burem."

"Kacamata renang?"

Javi menatap benda plastik biru itu dengan ngeri.

"Aruna, saya ingin menyamar, bukan ingin mencari harta karun di kolam ikan lele."

"Pakai atau aku laporin kamu ke Mbak Widya?!"

Javi akhirnya mengalah, dia memakai kacamata renang itu. Wajahnya yang seperti dewa Yunani kini terlihat seperti alien yang baru turun dari piring terbang dan sedang menderita flu berat.

"Gimana?" tanya Javi datar.

Aruna menahan tawa sampai bahunya bergetar.

"Bagus... banget. Kamu kelihatan kayak penemu mesin pembuat cendol yang gagal eksperimen. Genta nggak bakal ngenalin kamu."

Keesokan harinya, Aruna terpaksa membawa Javi ke kampus lagi. Kenapa? Karena Genta mengirim pesan ancaman lagi,

“Bawa si Ujang ke kampus sore ini, atau foto daster itu naik ke akun lambe-lambean kampus jam 5 sore.”

1
Indhira Sinta
bagus
falea sezi
/Curse//Curse/ada aj
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!