Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elisa-4
Cahaya matahari pagi mulai merayap masuk melalui celah gorden kamar 1001, menyinari lantai marmer yang dingin. Dan sudut ruangan, Elisa terbangun dengan tubuh yang kaku. Ia tidak tidur di atas ranjang empuk itu, ia menghabiskan sisa malamnya dengan duduk meringkuk di lantai, bersandar pada dinding, dan memeluk lututnya sendiri.
Rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan rasa sakit dan hancur di hatinya. Ia melihat ke arah ranjang. Pria itu, Kalandra. masih terlelap dengan posisi telungkup. Wajahnya yang tenang saat tidur terlihat sangat kontras dengan sosok beringas yang semalam merenggut segalanya dari Elisa.
Dengan tangan gemetar, Elisa merapikan pakaiannya yang sudah tidak karuan. Kancing kemeja seragam kerjanya lepas dua buah. Ia menemukan jaket ojek online-nya tergeletak di lantai, kotor dan lecek. Ia memakainya dengan cepat, seolah jaket itu bisa melindunginya dari kenyataan pahit ini.
"Aku harus pergi... aku harus pulang, sebelum dia bangun.” bisiknya dengan suara yang nyaris hilang.
Elisa berdiri, namun rasa nyeri di bagian bawah tubuhnya membuatnya hampir tersungkur kembali. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan erangan. Di atas sprei putih yang mewah itu, ia melihat noda merah yang kontras. Air matanya kembali jatuh. Itu adalah bukti bahwa kehormatannya telah dirampas secara paksa oleh orang asing yang bahkan tidak ia ketahui namanya.
Ia melihat tas kertas sushi yang ia bawa semalam. Isinya sudah berantakan di lantai. Dengan langkah tertatih, ia berjalan menuju pintu. Ia tidak berani menoleh lagi ke arah tempat tidur. Baginya, pria di sana adalah monster yang telah menghancurkan masa depannya.
Klik.
Pintu kamar terbuka pelan. Koridor hotel masih sangat sepi. Elisa berjalan menunduk, menyembunyikan wajah sembabnya di balik tudung jaket. Ia beruntung tidak berpapasan dengan siapa pun hingga sampai di parkiran motor.
Sementara itu, di lounge, Gery baru saja terbangun karena lehernya pegal setelah tidur sambil duduk. Bimo, di sisi lain, sudah terlihat rapi dan sedang menyesap kopi hitam pesanan layanan kamar.
"Jam berapa ini, Bim?" tanya Gery sambil menguap lebar.
"Jam tujuh pagi. Bangun lo, muka lo bantal banget," sahut Bimo datar.
"Gila, pegel semua badan gue. Si Kalandra bener-bener ya, bikin sahabatnya jadi gelandangan di hotel bintang lima." Gery berdiri, meregangkan otot-ototnya. "Ayo, samperin dia lagi. Kalau dia belum bangun juga, gue dobrak beneran tu pintunya."
Mereka berdua berjalan menuju kamar 1001. Kali ini, saat Gery ingin mengetuk pintu, terdengar suara geraman dari dalam.
"Lan! Buka woi! Lo nggak mati kan di dalem?" teriak Gery.
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Kalandra berdiri di sana hanya dengan mengenakan celana kainnya yang sudah kusut. Rambutnya berantakan, dan matanya merah karena pusing yang luar biasa hebat.
"Berisik banget sih lo pada," gumam Kalandra serak. Ia memegang kepalanya yang terasa seperti dipukul palu godam.
Gery langsung menerobos masuk tanpa permisi. "Gila! Lo tau nggak kita nungguin lo semaleman di luar kayak penjaga sekolah? Lo…
Ucapan Gery terhenti saat ia melihat kondisi kamar. Baju-baju berserakan, kotak makanan yang hancur, dan yang paling membuat mata Gery melotot adalah noda di atas tempat tidur.
"Buset... Lan," Gery menoleh ke arah Kalandra dengan tatapan tak percaya. "Lo... semalem... beneran ada cewek di sini?"
Bimo masuk dan langsung menutup pintu rapat-rapat. Ia melihat noda merah itu dan langsung mengerutkan kening. "Lan, apa yang terjadi semalam? Lo inget sesuatu?"
Kalandra mengerutkan dahi, mencoba memutar kembali memorinya. "Gue... gue ngerasa panas banget semalam. Abis minum minuman dari Pak Danu, kepala gue kayak mau pecah. Gue ke kamar, terus..."
Kalandra terdiam. Ingatannya kabur, tapi ia samar-samar mengingat seorang gadis yang menangis. Suara isakan yang pilu. Aroma sabun bayi yang lembut. Dan perlawanan yang perlahan melemah.
"Sial!" Kalandra menendang meja kecil di sampingnya hingga vas bunga di atasnya berguncang. "Gue... gue dijebak. Gue ngerusak seseorang semalam."
Gery mendekat, ekspresinya yang biasanya penuh canda kini berubah serius. "Lan, serius lo nggak tau itu siapa? Apa cewek itu Pak Danu yang kirim?"
"Nggak mungkin Pak Danu kirim kurir makanan kalau mau ngejebak pake cewek," ucap Bimo sambil memungut struk pembayaran yang tergeletak di dekat pintu. "Ini... pesanan makanan dari aplikasi. Nama kurirnya... Elisa."
Kalandra merampas struk itu. "Elisa?"
"Tunggu, jadi maksud lo... semalem lo makan kurir makanan?" Gery bertanya dengan nada antara kaget dan tidak percaya. "Lan, lo sadar nggak sih? Ini urusannya bisa panjang. Itu bukan cewek yang disediakan Pak Danu, tapi orang biasa yang cuma lagi kerja!"
Wajah Kalandra memucat. Ia terduduk di tepi ranjang, menatap bercak merah di sprei itu dengan rasa bersalah yang menghujam jantungnya. Sepanjang hidupnya, ia selalu menjaga integritasnya. Ia membenci pria yang kasar pada wanita, dan sekarang, ia justru menjadi pria itu.
"Gue…gue nggak sadar, Ger... tapi obat itu bikin gue nggak bisa kontrol diri gue sendiri," suara Kalandra bergetar.
"Gue tau itu bukan salah lo sepenuhnya, Lan. Karena lo dijebak," Bimo mencoba menenangkan. "Tapi fakta bahwa gadis itu pergi sebelum lo bangun, itu artinya dia nggak mau uang atau imbalan. Dia ketakutan."
"Cari dia!" perintah Kalandra tiba-tiba. Ia menatap Bimo dan Gery dengan tatapan tajam yang kembali muncul. "Cari kurir bernama Elisa ini. Gue mau tau dia di mana."
Gery menggaruk kepalanya. "Lan, Jakarta itu luas. Dan kalau dia beneran trauma, dia pasti bakal sembunyi. Lagian, kalau ketemu, lo mau ngapain? Mau lo kasih duit? Orang yang pergi gitu aja biasanya nggak butuh duit, mereka cuma pengen lupain kejadiannya."
"Gue nggak peduli!" bentak Kalandra. "Gue harus tanggung jawab. Gue nggak bisa tidur tenang kalau gue tau gue udah ngerusak hidup orang."
Bimo menghela napas. "Gue bakal coba lacak lewat aplikasi makanannya. Tapi Lan, saran gue, lo tenang dulu. Mandi, beresin badan lo. Kita harus ke kantor sekarang karena Pak Danu pasti lagi nungguin berita kehancuran lo."
Kalandra berdiri, ia menatap bercak merah itu sekali lagi. "Gery, lo urus pihak hotel. Jangan sampe ada satu orang pun yang masuk ke kamar ini dan liat ini semua. Tutup mulut mereka pake duit atau apa pun. Gue nggak mau berita ini bocor ke Papa."
"Siap, Bos. Serahin sama gue. Urusan bungkem-membungkem itu spesialisasi gue," sahut Gery dengan nada sedikit lebih ringan untuk meredakan ketegangan.
Di kontrakan yang sempit Elisa baru saja sampai di rumah bertepatan saat Aris sedang bersiap berangkat sekolah. Elisa berusaha mengatur napasnya agar terlihat normal, meski matanya merah dan jalannya sedikit pincang.
"Kak? Kok baru pulang? Semalem lembur tapi kok Kakak nggak kabarin Aris?" Aris bertanya sambil menggendong tas sekolahnya yang sudah kusam.
Elisa memaksakan senyum, ia berjongkok di depan adiknya dan merapikan kerah baju Aris. "Maaf ya sayang. Handphone Kakak mati semalam. Kakak... Kakak nginep di rumah temen karena kemalaman."
Aris menatap kakaknya dengan dahi berkerut. "Kakak habis nangis?"
"Nggak, Kakak cuma kelilipan debu di jalan. Kan Kakak naik motor terus," bohong Elisa. Hatinya perih berbohong pada satu-satunya keluarga yang ia miliki. "Ini, Kakak bawain susu kotak. Diminum ya di sekolah."
"Makasih Kak! Aris berangkat dulu ya!" Aris mencium tangan Elisa dengan takzim lalu berlari keluar.
Begitu Aris hilang dari pandangan, pertahanan Elisa runtuh. Ia menutup pintu kontrakannya dan merosot ke lantai, menangis sejadi-jadinya. Ia merasa kotor. Ia merasa tidak pantas lagi mendampingi Aris.
"Ibu...Ayah…Hikss…aku gagal..." rintihnya di sela isak tangis.
Elisa tidak tahu bahwa di sebuah gedung pencakar langit, seseorang sedang menggerakkan seluruh kekuatannya untuk melacak keberadaannya. Ia juga tidak tahu bahwa benih yang tertanam di malam terkutuk itu akan segera mengubah hidupnya dari seorang gadis pekerja keras menjadi seorang ibu yang harus berjuang melawan gunjingan dunia.
Di Kantor Mahendra Group Kalandra duduk di kursi kebesarannya, namun pikirannya tidak ada pada dokumen yang asa di depannya. Gery masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu.
"Lan, dapet!" seru Gery.
Kalandra langsung berdiri. "Di mana?"
"Elisa, 18 tahun. Alamatnya di kawasan padat penduduk daerah Jakarta Barat. Dia yatim piatu, cuma tinggal sama adiknya yang masih SD," Gery membaca data di ponselnya. "Gila ya, masih kecil banget ternyata. Lo bener-bener pemangsa ya, Lan."
"Diem lo!" Kalandra menyambar kunci mobilnya. "Gue mau ke sana."
"Eh! Mau ngapain?!" cegat Bimo yang baru saja masuk. "Lo mau ke sana pake setelan jas harga ratusan juta ini? Lo mau bikin dia makin takut? Lo liat alamatnya, itu daerah gang sempit. Mobil lo aja nggak bakal masuk."
Kalandra terdiam. Benar kata Bimo. Ia terlalu emosional.
"Biar gue sama Gery yang ke sana dulu," tawar Bimo. "Kita pantau situasinya. Kalau lo yang dateng sekarang, yang ada dia makin trauma liat muka lo."
Kalandra menghela napas panjang dan duduk kembali. "Oke. Pergi sekarang. Jangan kasar sama dia. Cari tau apa yang dia butuhin."
"Oke, Bos! Serahin sama agen Gery yang paling tampan ini," ucap Gery sambil mengedipkan mata, berusaha menghibur Kalandra yang terlihat sangat tertekan.
Namun, di dalam hatinya, Kalandra tahu, permintaan maaf atau uang tidak akan pernah cukup untuk membayar apa yang telah ia ambil dari Elisa.
__________
Sampai sini dulu ya…
Jangan lupa like, comment, vote dan ratenya Manteman🙏🏻🙌🏾