Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.
"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"
Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?
Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMNB 26
Arkan menggeliatkan tubuhnya, membuka matanya dan meregangkan otot-ototnya. Pria itu baru saja bangun, dia langsung tersenyum saat melihat Mutiara yang masih terlelap dalam tidurnya.
Arkan memiringkan tubuhnya, lalu menopang kepalanya dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya terulur untuk mengusap wajah istrinya.
Jika dilihat sedang tidur seperti ini, wajah Mutiara terlihat lebih cantik. Lebih tenang dan lebih damai, rasanya Arkan ingin tetap bersama wanita itu dan tidak akan melepasnya dalam seumur hidupnya.
"Kamu itu cantik dan muda, semoga saja kamu tetap berada di samping aku. Mau tetap memilihku dan tetap jadi istriku seutuhnya, kalau bisa melahirkan keturunan untuk aku."
Ibu jari Arkan mengusap pipi istrinya, lalu bibirnya dan leher wanita itu. Mutiara sepertinya terganggu, karena tidak lama kemudian dia membuka matanya.
"Sayang, kamu lagi ngapain?"tanya Mutiara dengan suaranya yang serak khas bangun tidur.
"Lagi nungguin kamu bangun, siapa tahu mau melakukan pengakuan dosa."
"Eh? Aku nggak melakukan dosa apa-apa kok!"
Mutiara yang takut langsung memeluk Arkan, karena dia teringat kalau tadi malam mengobrol dengan Fajar. Takutnya suaminya masih dendam, karena tadi malam tidak berbicara apa-apa setelah masuk kamar dan langsung memeluknya untuk tidur.
"Siapa tahu ada yang mau kamu ceritakan tentang Fajar, atau apa pun itu. Aku menunggu, karena kamu kalau memang ingin berumah tangga denganku, aku tidak mau ada rahasia."
Mutiara akhirnya mengajak suaminya untuk turun dari tempat tidur, lalu dia mengajak suaminya itu untuk duduk di atas sofa. Dia duduk sambil memeluk suaminya dan menyadarkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.
"Sebenarnya aku sama Fajar sempat pacaran selama 3 tahun, tapi aku putuskan dia setelah tahu kalau dia hanya memanfaatkan aku untuk mengembangkan perusahaannya."
"Jadi, malam itu kamu mabuk karena baru putus sama dia?"
"Iya," jawab Mutiara jujur.
"Kalau udah putus, kenapa tadi malam masih ngobrol? Udah gitu ngobrolnya dekat banget, udah kaya orang pacaran."
"Dia ngajakin balikan, katanya aku suruh cerai aja sama kamu. Biar nikah sama dia yang lebih muda."
"Terus, kamu maunya sama yang lebih muda atau sama yang lebih tua?"
Dulu dia memang begitu mencintai Fajar, tetapi setelah mengetahui kenyataannya, tentu saja rasa cinta itu langsung musnah tergantikan oleh sesuatu hal yang baru.
Awalnya ketika dia bertemu dengan Arkan rasanya tidak mungkin dia akan bahagia, tetapi setelah menjalaninya dengan Arkan, dia yakin kalau pria itu adalah yang terbaik untuk dirinya.
Pria yang mampu membahagiakannya, karena pria itu hanya terlihat dingin di luar, tetapi pada kenyataannya begitu sabar dan penyayang.
Tinggal Bagaimana cara Mutiara mengambil hati pria, itu karena kini Mutiara merasa kalau Arkan adalah berlian yang harus dia jaga.
"Kalau bisa mendapatkan pohonnya, kenapa harus memetik buahnya? Karena buahnya belum tentu bagus, bisa aja buahnya itu busuk."
"Pintar," ucap Arkan yang langsung mengeratkan pelukannya.
Arkan merasa tidak salah memilih istri, karena wanita itu begitu jujur. Dia juga yakin kalau wanita itu akan menjadi wanita terbaik di dalam hidupnya, jika Fajar kembali menggoda pun, pasti istrinya akan bisa menolaknya.
Setelah mengobrol, keduanya memutuskan untuk mandi dan segera pergi ke perusahaan. Keduanya kompak tak mau sarapan terlebih dahulu, karena tak mau bertemu dengan Fajar.
"Bi, kok yang sarapan aku doang? Ayah sama Mutiara ke mana?"
"Mereka sudah berangkat, Den."
"Eh? Kok pagi-pagi sekali? Apa mereka menghindari aku?"
"Sepertinya ada klien penting," jawab Bi Lastri cari aman.
Fajar terlihat begitu kecewa karena pagi ini tidak bisa sarapan bersama dengan Mutiara, padahal dia berencana akan tinggal di sana dan memberikan perhatian lebih kepada Mutiara.
Tentunya agar wanita itu mau kembali kepada dirinya, mau sarapan pun jadi tidak berselera. Setelah menghabiskan selembar roti, akhirnya dia pergi ke perusahaan miliknya.
Saat tiba di sana, dia begitu kaget karena ternyata di dalam ruangannya sudah ada Kuncoro dan juga Rena. Fajar menghela napas berat, lalu duduk tepat di hadapan ayah dari Rena.
"Ada apa, Om. Kok tumben pagi-pagi sudah datang ke perusahaan saya?"
"Saya mau nagih janji, kamu itu udah janji loh bulan depan itu mau mengadakan pernikahan yang megah untuk putri saya. Lalu, kenapa kata putri saya kamu malah menghindarinya?"
Dalam hati dia merasa kesal terhadap Rena, karena wanita itu ternyata pengaduan. Tidak mandiri dan selalu mengandalkan keluarga.
"Bukan menghindari Om, tapi masalahnya Rena itu terlalu menempel. Bahkan saat saya pergi ke luar koya, dia menyusul dan mengajak saya untuk melakukan itu sebelum nikah."
"Apa? Rena meminta kamu untuk---"
"Ya, saya memang lelaki normal. Tapi, bukan berarti harus begitu juga untuk mengikat sebuah hubungan. Saya bukan menuduh, tapi dengan cara putri anda yang seperti itu, saya malah mikir kalau putri anda begitu juga terhadap pria lain."
Wajah Kuncoro merah padam, dia menatap putrinya dengan tatapan mengintimidasi. Rena hanya bisa menundukkan kepalanya melihat tatapan dari ayahnya.
"Apa benar apa yang dikatakan oleh Nak Fajar?"
"Iya, Yah. Maaf, abis aku takut dia akan berpaling kepada wanita lain."
"Tapi tidak dengan merendahkan diri juga," ujar Kuncoro kecewa.
Setelah menegur Rena, Kuncoro kembali berbicara dengan Fajar. Dia meminta agar pria itu tidak membatalkan pernikahannya dengan Rena, dia sudah kepalang basah membicarakan hal itu kepada rekan bisnis lainnya.
Jika pernikahan Rena dan juga Fajar batal, pasti dia akan sangat malu. Fajar berkata tidak bisa langsung memutuskan, dia harus memikirkannya terlebih dahulu.
Kalau sikap Rena berubah menjadi lebih baik, Fajar akan mempertimbangkan Rena untuk menjadi istrinya.
"Terima kasih karena sudah mau mengobrol dengan Om, Om akan berusaha mendidik putri Om ini agar menjadi wanita yang lebih baik."
"Siap, Om. Kalau begitu silakan!"
Kuncoro pergi dari perusahaan Fajar, sedangkan Rena masih berada di ruangan pria itu. Wanita itu bahkan bersiap untuk bekerja, tetapi Fajar dengan cepat berbicara.
"Sebaiknya kamu tidak usah bekerja saja, toh selama kamu bekerja di sini juga kamu tidak pernah bisa mengerjakan apa pun. Biarkan aku dan juga Andre tenang dalam bekerja."
"Tapi, kalau misalkan aku tidak bekerja dengan kamu, waktu kita untuk bertemu akan semakin jarang."
Fajar menghela napas berat, kemudian dia menatap Rena dengan tatapan yang begitu lelah sekali ketika melihat wanita itu terus berada di sampingnya.
"Sekarang aku tanya sama kamu, bisa membantu aku bekerja atau tidak? Kalau misalkan bisa, aku akan membiarkan kamu bekerja. Tapi, kalau misalkan hanya akan merepotkan, lebih baik kamu pulang saja."
Rena tidak mengatakan apa-apa, dia malah menghentakkan kedua kakinya dan segera pergi dari sana.
"Ck! Kenapa dulu aku begitu bodoh?" ujar Fajar lagi-lagi dengan penuh penyesalan.