"Aku tidak membelimu untuk dicintai. Aku membelimu untuk menghancurkan ayahmu."
Aria Vane hanyalah tumbal. Dijual oleh ayahnya sendiri untuk melunasi utang darah kepada Dante Moretti, pria paling kejam yang pernah memimpin sindikat Milan.
Dante tidak butuh istri. Dia butuh senjata.
Aria tidak butuh perlindungan. Dia butuh balas dendam.
Di atas ranjang yang sama, mereka saling mengincar nyawa. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Aria menyadari bahwa sang Iblis yang menikahinya adalah satu-satunya peluru yang ia miliki untuk bertahan hidup.
Satu pernikahan. Dua pengkhianatan. Ribuan peluru yang mengintai.
Di dunia Moretti, hanya ada satu aturan: Jangan jatuh cinta, atau kau akan menjadi orang pertama yang mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coldmaniac, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 : Sisa Amis di Jemari
MOBIL SUV hitam itu membelah jalanan berliku di pinggiran Danau Como dengan kecepatan yang stabil namun mencekam. Di dalam kabin, kesunyian terasa begitu padat, seolah-olah udara telah digantikan oleh timah cair yang berat. Aria Vane menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, menatap deretan pepohonan yang tampak seperti siluet monster di bawah temaram lampu jalan.
Ia masih bisa merasakan getaran di ujung jemarinya. Getaran itu bukan lagi sekadar reaksi dari rasa takut, melainkan sisa-sisa adrenalin yang menolak untuk surut. Mantel hitam yang ia kenakan—jas milik Dante—terasa sangat berat, membawa aroma maskulin yang kini bercampur dengan bau amis darah yang mulai mengering. Darah pria yang mencoba membunuhnya.
Di sampingnya, Dante Moretti duduk dengan postur tegak, seolah pertempuran di pelabuhan tadi hanyalah gangguan kecil dalam jadwal hariannya. Ia sedang membersihkan noda darah pada laras pistolnya dengan selembar kain sutra hitam. Gerakannya lambat, penuh perhatian, seolah ia sedang mengelus kulit seorang kekasih.
Aria menoleh perlahan, memperhatikan profil samping wajah suaminya. Rahang Dante yang tegas tampak mengeras dalam kegelapan. Ada goresan kecil di tulang pipinya, mungkin terkena serpihan beton saat baku tembak tadi.
"Berhenti menatapku seolah kau sedang melihat hantu, Aria," suara Dante memecah kesunyian, rendah dan bergetar di dalam kabin yang sempit. Ia tidak menoleh, matanya tetap tertuju pada senjatanya.
Aria menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya yang masih serak. "Aku hanya berpikir... berapa banyak orang yang sudah mati di tanganmu malam ini?"
Dante menghentikan gerakannya. Ia melirik Aria dengan tatapan abu-abu yang tajam, sepasang mata yang tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun. "Cukup banyak untuk memastikan kau masih bisa bernapas sekarang. Jika kau ingin menghitung nyawa, mulailah dengan nyawamu sendiri yang hampir melayang tadi. Sisanya tidak relevan."
"Relevan bagiku," sahut Aria cepat, suaranya sedikit meninggi. "Pria yang tadi... yang kau tembak di depanku. Dia punya nama. Dia mungkin punya keluarga. Dan aku... aku yang melukainya lebih dulu."
Dante mendengus, sebuah suara yang terdengar seperti tawa sinis yang tertahan. Ia memasukkan pistolnya kembali ke sarung di balik jasnya, lalu berbalik sepenuhnya menghadap Aria. Tekanan kehadirannya seketika memenuhi ruang di antara mereka.
"Selamat datang di dunia nyata, Nyonya Moretti," bisik Dante. "Di dunia ini, tidak ada ruang untuk moralitas hukum yang kau pelajari di universitas. Pria itu tidak melihatmu sebagai seorang wanita atau manusia. Dia melihatmu sebagai target. Jika kau tidak melukainya, dia akan merobek tenggorokanmu. Jadi, berhenti berpura-pura menjadi suci. Tanganmu sudah kotor sejak kau menandatangani akta pernikahan kita."
Aria memalingkan wajah, menatap kembali ke luar jendela. Ia tahu Dante benar, dan itulah yang paling menyakitkan. Ada bagian dari dirinya yang merasa puas saat melihat pria itu jatuh—sebuah insting purba untuk bertahan hidup yang belum pernah ia tahu ia miliki. Dan itu membuatnya takut pada dirinya sendiri.
Saat mereka sampai di vila, suasana di sana sudah berubah. Para pengawal berdiri lebih rapat, senjata otomatis mereka tidak lagi disembunyikan. Berita tentang serangan di pelabuhan telah sampai lebih dulu, dan seluruh kediaman Moretti kini berada dalam status siaga satu.
Dante turun dari mobil dan tanpa sepatah kata pun, ia menarik tangan Aria, membimbingnya masuk ke dalam rumah. Langkahnya cepat, memaksa Aria untuk hampir berlari mengejarnya. Mereka melewati aula besar, mengabaikan tatapan penasaran dari beberapa staf, dan langsung menuju lantai atas—ke kamar utama mereka.
Begitu pintu kamar tertutup dan terkunci, Dante melepaskan tangan Aria. Ia berjalan menuju bar kecil di sudut ruangan dan menuangkan dua gelas wiski tanpa es.
"Minum ini," perintahnya, menyodorkan salah satu gelas ke arah Aria.
Aria menggeleng. "Aku tidak butuh alkohol."
"Kau butuh," Dante melangkah maju, memaksa gelas itu ke tangan Aria. "Wajahmu pucat seperti mayat. Kau akan pingsan jika tidak segera menenangkan sarafmu. Minum, atau aku akan memaksamu meminumnya."
Aria menatap cairan amber di dalam gelas itu, lalu meneguknya dalam satu tarikan napas. Rasa panas yang membakar langsung menjalar dari tenggorokan ke dadanya, membuatnya terbatuk, namun perlahan-lahan, getaran di tangannya mulai mereda.
"Masuk ke kamar mandi," ucap Dante sambil membuka kancing kemejanya yang terciprat darah. "Bersihkan dirimu. Aku tidak suka bau amis menempel di tempat tidurku."
Aria tidak membantah. Ia berjalan menuju kamar mandi luas yang berlapis marmer hitam itu. Di sana, di bawah cahaya lampu yang terang, ia akhirnya melihat dirinya di cermin.
Ia terkesiap. Wajahnya dicoreng oleh noda darah kering. Rambutnya berantakan, dan mantel hitam Dante yang tersampir di bahunya membuatnya terlihat kecil dan rapuh. Ia segera melepas mantel itu, lalu melepaskan pakaiannya satu per satu dengan tangan yang masih sedikit kaku.
Ia melangkah ke bawah shower, memutar keran air panas hingga maksimal. Saat air mengguyur tubuhnya, ia memejamkan mata, membiarkan uap panas menyelimuti dirinya. Ia menyabuni kulitnya dengan kasar, seolah-olah ia bisa menghapus memori tentang kejadian di pelabuhan dengan sabun wangi itu.
Namun, setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat mata pria mati itu. Ia melihat ledakan api. Ia melihat Dante.
Tiba-tiba, pintu kaca shower terbuka.
Aria tersentak, menutupi tubuhnya dengan tangan secara refleks. Dante berdiri di sana. Ia sudah melepas kemejanya, menyisakan otot-otot perut yang keras dan tato-tato gelap yang menghiasi lengannya. Ia tidak melihat Aria dengan cara yang penuh nafsu; matanya tetap dingin, namun ada sesuatu yang berbeda di sana.
"Ada noda yang tidak bisa kau jangkau," ucap Dante datar.
Ia melangkah masuk ke dalam area shower, membiarkan air panas membasahi celana panjangnya yang masih ia kenakan. Aria terpaku, punggungnya menempel pada dinding marmer yang licin. Napasnya tercekat saat Dante mengambil spons mandi dari tangan Aria.
Dante bergerak mendekat, jarak mereka hanya tinggal beberapa inci. Aria bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh pria itu, lebih panas daripada air yang mengguyur mereka. Dante memutar tubuh Aria dengan lembut, memaksanya menghadap dinding.
Dengan gerakan yang sangat pelan—hampir kontras dengan kekejaman yang ia tunjukkan di pelabuhan—Dante mulai mengusapkan spons itu ke punggung Aria. Di sana, di antara belikatnya, ada noda darah besar yang mulai mengeras.
Aria memejamkan mata, merasakah sentuhan Dante. Itu adalah momen yang sangat intim, namun terasa sangat berbahaya. Jemari Dante yang kasar sesekali menyentuh kulitnya, mengirimkan sengatan listrik yang aneh ke seluruh tubuhnya.
"Julian tidak akan berhenti," bisik Dante di dekat telinga Aria, suaranya hampir tenggelam oleh suara air. "Malam ini hanya pembukaan. Dia sudah tahu bahwa kau bukan lagi putrinya. Kau adalah aset yang hilang baginya."
Aria menggigit bibir bawahnya. "Dia akan mengirim lebih banyak orang, bukan?"
"Ya," Dante menghentikan gerakannya di punggung Aria, tangannya kini berada di bahu wanita itu. "Dia akan mencoba segala cara untuk menarikmu kembali atau menghancurkanmu. Dia tahu kau memegang kunci untuk jalur logistiknya. Dia panik."
Dante memutar tubuh Aria kembali menghadapnya. Air yang mengalir dari rambut Dante jatuh ke wajah Aria, membuat wanita itu harus sedikit mendongak. Di bawah guyuran air, mata abu-abu Dante tampak berkilau seperti perak murni.
"Kau punya dua pilihan, Aria," ucap Dante, suaranya kini lebih lembut, namun tetap penuh tekanan. "Kau bisa terus ketakutan dan menunggu ajalmu menjemput, atau kau bisa berdiri di sampingku dan belajar cara menjadi seorang Moretti. Tidak ada jalan tengah. Tidak ada lagi hukum yang bisa melindungimu selain hukumku."
Aria menatap mata itu, mencari sedikit saja keraguan, namun ia tidak menemukannya. Dante adalah pria yang telah berdamai dengan kegelapannya sendiri. Dan sekarang, dia menarik Aria masuk ke dalamnya.
"Kenapa kau membantuku?" tanya Aria, suaranya nyaris berbisik. "Kau bilang aku hanya umpan. Kau bisa saja membiarkan pria tadi membawaku kembali ke ayahku untuk melihat apa yang akan dia lakukan."
Sudut bibir Dante terangkat sedikit, membentuk seringai tipis yang misterius. Ia mengangkat tangannya, menyelipkan helaian rambut basah Aria ke belakang telinganya.
"Karena umpan tidak berguna jika sudah hancur sebelum ikan besarnya datang," jawab Dante. "Dan karena... aku ingin melihat seberapa jauh seorang pengacara yang idealis bisa berubah ketika dia memiliki kekuatan untuk membalas dendam."
Dante mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan. Aria bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang menggila.
"Kau milikku, Aria Vane. Dan tidak ada seorang pun, termasuk ayahmu, yang boleh menyentuh apa yang sudah menjadi milik Dante Moretti."
Tanpa peringatan, Dante menciumnya. Bukan ciuman yang menuntut seperti di altar, tapi ciuman yang dalam, gelap, dan penuh dengan janji-janji bahaya. Aria merasa dunianya berputar. Ia seharusnya mendorong pria ini menjauh. Ia seharusnya membenci pria ini karena telah menyeretnya ke dalam neraka ini.
Tapi sebaliknya, Aria justru menjangkau leher Dante, menarik pria itu lebih dekat. Ia membalas ciuman itu dengan rasa lapar yang putus asa, sebuah pelampiasan dari semua emosi yang ia tahan sepanjang malam. Di tengah uap air dan panasnya kamar mandi itu, batas antara benci dan kebutuhan mulai melebur.
Dante mengerang rendah di dalam tenggorokannya, cengkeramannya di pinggang Aria mengerat, menarik tubuh wanita itu hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Air terus mengguyur mereka, namun mereka tidak peduli. Untuk sesaat, tidak ada dunia luar, tidak ada pelabuhan yang terbakar, tidak ada ayah yang haus darah. Hanya ada mereka berdua, dua jiwa yang saling mengunci dalam tarian kehancuran yang memabukkan.
Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, Dante melepaskan tautan bibir mereka. Ia menempelkan keningnya pada kening Aria, napasnya memburu.
"Pergilah tidur," ucapnya dengan suara serak. "Aku harus mengurus Marco dan memastikan tidak ada lagi pengkhianat di dalam barisanku."
Dante keluar dari shower tanpa menoleh lagi, membiarkan Aria berdiri sendirian di bawah kucuran air yang kini mulai mendingin. Aria menyentuh bibirnya yang bengkak, merasa bingung dengan dirinya sendiri.
Satu jam kemudian, Aria sudah berada di tempat tidur, mengenakan gaun tidur sutra berwarna hitam. Kamar itu sudah dibersihkan oleh para pelayan secara efisien saat ia berada di kamar mandi. Tidak ada lagi pecahan kaca, tidak ada lagi bau alkohol. Semuanya kembali sempurna, seolah kekacauan tadi tidak pernah terjadi.
Namun, Aria tidak bisa memejamkan mata. Ia terus menatap langit-langit kamar yang tinggi, memikirkan setiap kata yang diucapkan Dante.
Kau milikku.
Kalimat itu terus bergema di benaknya. Ia tahu itu bukan ungkapan cinta; itu adalah pernyataan kepemilikan. Dante Moretti tidak mencintai; dia menguasai. Dan entah mengapa, pemikiran itu tidak lagi membuatnya merasa terhina. Itu membuatnya merasa... penting.
Tiba-tiba, ponselnya yang diletakkan di meja rias bergetar.
Aria mengernyit. Ponselnya seharusnya sudah dihancurkan oleh Dante di pelabuhan tadi. Ia bangkit dari tempat tidur dan mendekati meja rias. Di sana tergeletak sebuah ponsel baru, model terbaru yang sangat tipis, dengan sebuah catatan kecil di bawahnya.
> Hanya untuk komunikasi denganku. Jangan coba-coba menghubungi siapa pun tanpa izinku.
> — D.
Aria mengambil ponsel itu. Ada satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Namun, saat ia membukanya, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Pesan itu bukan dari Dante.
Itu adalah sebuah foto. Foto yang diambil secara diam-diam dari arah luar jendela perpustakaan tadi malam. Di dalam foto itu, Aria tampak sedang memegang foto lama ibunya Dante yang ia temukan di balik buku.
Di bawah foto itu, ada teks singkat:
> "Aku tahu apa yang kau temukan, Aria. Rahasia Dante adalah kelemahan terbesarnya. Berikan foto itu kepadaku, atau kau akan melihat betapa cepat suamimu yang tercinta itu berubah menjadi monster yang akan mengulitimu hidup-hidup. Temui aku besok jam 10 malam di gereja tua dekat pelabuhan. Datanglah sendiri, atau Moretti akan menjadi jandamu sebelum minggu ini berakhir."
Aria terduduk lemas di kursi meja rias. Tangannya gemetar hebat.
Siapa yang mengirim pesan ini? Bagaimana mereka bisa tahu tentang foto itu? Dan apakah benar rahasia masa lalu Dante begitu mematikan hingga bisa menghancurkan pria itu?
Aria menoleh ke arah pintu kamar yang tertutup. Ia tahu Dante ada di lantai bawah, sedang merencanakan kematian bagi musuh-musuhnya. Haruskah ia memberitahu Dante? Ataukah ini adalah kesempatannya untuk memiliki sesuatu yang bisa ia gunakan untuk melindungi dirinya sendiri jika suatu saat Dante benar-benar berubah menjadi monster baginya?
Permainan catur ini baru saja mendapatkan bidak baru yang tidak terduga. Dan Aria menyadari, di dunia mafia, kejujuran adalah kemewahan yang tidak bisa dibeli oleh siapa pun.
Ia menyimpan ponsel itu di bawah bantalnya, mencoba memejamkan mata di tengah badai pikiran yang berkecamuk. Di luar, suara guntur mulai terdengar, menandakan badai yang sesungguhnya akan segera datang melanda Danau Como.
Malam itu, Aria Vane tidak bermimpi tentang kematian. Ia bermimpi tentang sebuah gereja tua yang gelap, dan seorang pria yang wajahnya tersembunyi di balik bayang-bayang, memegang kunci menuju neraka yang sebenarnya.