Julius Randle Seorang Laki-laki yang Memiliki aura yang mampu membekukan ruangan, namun seketika mencair hanya oleh senyum satu wanita.
Jane Mommartre, Seorang Gadis Yang menganggap dirinya Hanya Figuran Dan Hanya Debu yang tidak Terlihat Dimata Julius Randle, Dengan segala kekaguman dari jarak Tiga Meter, Dia Sudah menyukai Julius Randle Sejak Lama.
Dibalik Layar seorang Mr A dan Ms J sebagai pelengkap, yang ternyata Mr A adalan Julius Yang Tak tersentuh, Dan Ms J adalah Jane Si gadis Tekstil.
Cinta mereka tumbuh di antara jalinan Kerja sama Tekstil. Julius yang kaku perlahan mencair oleh Jane si Ms J, menciptakan momen-momen manis yang puncaknya terjadi di malam penuh kenangan.
Kekuatan cinta mereka diuji oleh manipulasi kejam Victoria Randle, Yang merupakan ibu Dari Julius Randle . Fitnah mendorong ibu, pesan singkat palsu, hingga tuduhan perselingkuhan membuat Julius buta oleh amarah. Jane diusir dalam keadaan hancur, membawa rahasia besar di Rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang tak terlupakan
Malam terakhir di pesisir utara ditutup dengan api unggun besar di pinggir pantai. Suara deburan ombak bersahutan dengan petikan gitar Patrick yang asal-asalan namun membawa suasana jadi sangat santai.
Henry, sang provokator utama, berdiri di tengah lingkaran sambil memegang botol kaca kosong. "Oke, semuanya! Karena besok kita balik ke neraka bernama kampus, malam ini naskah formal kita bakar! Kita main Truth or Dare!"
"Gue jamin Henry cuma pengen tahu siapa gebetan baru Lucia," celetuk Clark yang disambut lemparan bantal oleh Lucia.
Botol diputar. Berputar cepat di atas pasir yang rata, lalu melambat, dan berhenti tepat ke arah... Julius.
"Mampus! Bos besar kena!" teriak Henry kegirangan. "Jules, Truth or Dare?"
Julius terdiam sejenak, menatap api unggun yang memantul di bola mata birunya. "Truth," jawabnya singkat.
"Oke," Henry menyeringai nakal. "Jules, jujur ya... selama di pantai ini, ada nggak satu momen yang bikin lo pengen ngerobek naskah Pewaris Randle lo dan jadi orang biasa aja selamanya?"
Suasana mendadak hening. Semua orang menunggu. Julius melirik sekilas ke arah Jane yang duduk di seberang api unggun.
"Ada," jawab Julius pelan. "Saat aku mengambil foto seseorang di matahari terbenam tadi sore. Untuk sesaat, aku merasa... aku tidak butuh saham atau takhta. Aku cuma butuh pemandangan itu."
"WUUUUUUU!" Geng somplak itu langsung heboh. Lucia menyenggol bahu Jane dengan kencang, membuat Jane hampir terjatuh ke pasir.
Permainan berlanjut menjadi semakin kacau. Henry kalah dan dipaksa menari balet di pinggir pantai, membuat Patrick tersedak minumannya karena tertawa terlalu keras.
Di sinilah momen ajaib itu terjadi. Jane, yang selama ini hanya melihat Julius sebagai patung es yang kaku, terpaku melihat pemandangan di depannya. Julius tertawa. Bukan hanya senyum tipis, tapi tawa lepas yang membuat bahunya terguncang. Ia menertawakan kekonyolan Henry yang terjatuh saat mencoba melakukan pirouette di atas pasir.
Wajahnya yang biasanya tegang kini terlihat sangat muda dan hidup. Jane merasa jantungnya berhenti berdetak. Ternyata dia manusia, batinnya.
"Liatin terus, Jane, ntar bolong lho mukanya," goda Lucia sambil merangkul Jane. "Eh, tapi tunggu dulu..."
Lucia tiba-tiba berdiri dan menarik Jane untuk berdiri di samping Julius yang masih tertawa. "Guys, coba liat! Kenapa baju mereka bisa matching begini sih?"
Jane menunduk, baru menyadari bahwa dress pantai biru pucatnya memiliki warna yang identik dengan kemeja linen biru muda yang dipakai Julius malam itu.
"Wah, couple-an nih! Kode alam atau kode keras?" seru Patrick sambil memetik gitarnya dengan irama pernikahan.
"Jane, sumpah deh, lo cantik banget kalau lagi senyum gini. Jangan ditekuk terus mukanya kayak laporan ekonomi," tambah Lucia sambil mencubit pipi Jane.
Jane hanya bisa menunduk malu, wajahnya mungkin sudah lebih merah dari bara api unggun. Namun, di tengah semua godaan itu, ia merasakan sebuah pandangan yang sangat berat tertuju padanya. Ia mendongak dan mendapati Julius sedang menatapnya. Tatapan itu tidak lagi dingin, tapi hangat dan... dalam. Julius sama sekali tidak membantah godaan teman-temannya. Ia justru membiarkan Lucia merangkul mereka berdua untuk foto bersama.
"Oke, satu... dua... tiga! Cheese!"
Cekrek!
Dalam foto itu, Henry berpose konyol di latar belakang, Clark dan Patrick tertawa, Lucia merangkul Jane, dan di tengah-tengah itu semua, Julius berdiri sangat dekat dengan Jane. Tangan Julius secara tidak sadar (atau mungkin sadar) berada tepat di belakang pinggang Jane, melindunginya agar tidak terkena percikan api unggun.
Malam itu berakhir dengan perasaan hangat yang luar biasa. Saat Jane kembali ke kamarnya, ia membuka ponselnya. Masih belum ada kabar dari Mr. A.
Ia kembali teringat tawa lepas Julius tadi. Mungkin, pikir Jane, aku tidak butuh peramalan Mr. A malam ini. Karena kenyataan di depanku baru saja memberikan kejutan yang jauh lebih indah.
Tanpa Jane tahu, Julius sedang duduk di balkon kamarnya, menatap foto bersama mereka tadi di layar ponselnya. Ia menggeser jarinya ke aplikasi chat Mr. A, namun ragu untuk mengetik.
"Kau sangat cantik saat tersenyum, Jane," gumamnya pada angin malam. "Dan aku berjanji, tawa tadi bukan bagian dari naskah siapapun. Itu murni karena aku bersamamu."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍😍😍