NovelToon NovelToon
Membuang Tunangan Sampah, Ku Nikahi Pamannya

Membuang Tunangan Sampah, Ku Nikahi Pamannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

Di khianati tunangan sampah, eh malah dapat pamannya yang tampan perkasa!

Cerita berawal dari Mayra andini kusumo yang mengetahui jika calon suaminya Arman, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.

Di hari pernikahannya mayra mengajak Dev-- paman dari Arman untuk menikah dengan nya, yang kebetulan menjadi tamu di pernikahan keponakannya. Dan mayra juga membongkar perselingkuhan arman dan Zakia yang di lakukan di belakangnya selama ini.


Cerita tidak sampai di situ, setelah menikah dengan Dev, Mayra jadi tahu sisi lain dari pria dingin itu.

Dapatkan mayra meluluhkan hati Dev yang sekeras batu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika kontrak berubah menjadi nyata

Ciuman itu berlangsung lembut tapi penuh emosi, berbeda dari ciuman singkat di altar yang hanya untuk pamer. Ini adalah ciuman yang tulus, yang mengatakan semua yang tidak bisa mereka ungkapkan dengan kata-kata.

Saat akhirnya terpisah, keduanya bernapas sedikit terengah. Dev masih memegang wajah Mayra dengan kedua tangannya, dahinya menempel di dahi Mayra.

"Ya ampun," bisik Dev dengan suara serak. "Aku sudah berusaha keras untuk tidak merasakan ini. Tapi kamu... kamu membuat semuanya mustahil."

Mayra tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku juga. Setiap hari aku bilang ke diri sendiri 'ini cuma kontrak, jangan punya perasaan'. Tapi bagaimana bisa aku menolak nya, Dev? Kamu memperlakukanku dengan cara yang... yang tidak pernah ada yang lakukan sebelumnya."

Dev mencium kening Mayra dengan lembut. "Apa yang terjadi sekarang dengan kontrak kita?"

Mayra tertawa kecil, tawa yang gugup tapi juga lega. "Jujur? Aku tidak tahu. Tapi... aku tidak peduli. Aku tidak mau pura-pura lagi bahwa ini murni transaksional saat jelas sudah bukan."

Dev menatap mata Mayra dengan tatapan yang sangat lembut, tatapan yang tidak pernah Mayra lihat sebelumnya.

"Mayra Armando," kata Dev dengan senyum tipis. "Maukah kamu... benar-benar menjadi istriku? Bukan hanya di atas kertas, bukan hanya untuk setahun, tapi... sungguhan?"

Mayra merasakan air matanya jatuh, tapi ini air mata bahagia.

"Dev, kita secara teknis sudah menikah," kata Mayra sambil tertawa di tengah tangisannya.

"Aku tahu. Tapi aku mau melakukan ini dengan benar. Aku mau kamu tahu bahwa ini bukan tentang balas dendam lagi, bukan tentang kontrak, bukan tentang kenyamanan. Ini tentang aku jatuh cinta padamu dan ingin menghabiskan hidupku bersamamu," kata Dev dengan serius.

"Kamu... kamu mencintaiku?" bisik Mayra, tidak percaya dengan apa yang dia dengar.

"Aku sedang jatuh cinta padamu," koreksi Dev. "Belum sepenuhnya karena kita belum lama saling kenal. Tapi aku dalam perjalanan ke sana. Dan aku mau menjelajahi ini bersamamu. Dengan benar."

Mayra tidak bisa menahan senyumnya. "Kalau begitu ya. Aku mau jadi istrimu. Sungguhan."

Dev tersenyum, senyum tulus yang membuat wajahnya berubah dari CEO yang dingin menjadi... pria yang tampan dan hangat yang Mayra mulai kenal belakangan ini.

Lalu dia mencium Mayra lagi, kali ini lebih penuh gairah, lebih mendesak, seperti semua emosi yang mereka tahan selama ini akhirnya meledak.

Mayra membalas dengan intensitas yang sama, tangannya melingkar di leher Dev, jari-jarinya bermain di rambut Dev yang halus.

Dev mengangkat Mayra dengan mudah, yang membuat Mayra berteriak kaget lalu tertawa.

"Dev! Apa yang kamu lakukan?!"

"Membawa istriku ke tempat tidur," jawab Dev dengan senyum yang jenaka, sisi dari Dev yang baru pertama kali Mayra lihat.

"Dev, kita tidak perlu terburu-buru--" kata Mayra meskipun jantungnya berdetak kencang.

"Aku tahu. Aku tidak akan melakukan apapun yang kamu belum siap," kata Dev sambil membawa Mayra ke arah kamar. "Tapi aku mau tidur dengan kamu dalam pelukanku malam ini. Dengan benar. Tidak lagi di kamar terpisah. Kecuali kamu tidak mau?"

Mayra menatap mata Dev yang penuh harapan dan... kerentanan.

"Aku mau," bisik Mayra.

Dev membawa Mayra ke kamarnya, kamar yang Mayra belum pernah masuki sebelumnya.

Ternyata kamar Dev sangat... dia banget. Minimalis, didominasi warna hitam dan abu-abu, tempat tidur king size dengan seprai hitam, jendela besar dengan gorden gelap, dan mengejutkan tidak ada kekacauan apapun. Semuanya pada tempatnya.

Dev meletakkan Mayra dengan lembut di tempat tidur, lalu berbaring di sampingnya, menarik Mayra ke dalam pelukannya.

"Ini oke?" tanya Dev sambil mencium puncak kepala Mayra.

"Lebih dari oke," jawab Mayra sambil bersandar di dada Dev, mendengar detak jantungnya yang stabil dan menenangkan.

Mereka berbaring dalam keheningan yang nyaman, hanya menikmati kedekatan satu sama lain.

"Dev," panggil Mayra pelan.

"Hmm?"

"Bagaimana dengan kontrak kita? Lima ratus juta, durasinya, semua itu?"

Dev terdiam sebentar. "Jujur? Aku tidak peduli dengan kontrak lagi. Tapi kalau kamu mau tetap memegangnya untuk keamanan, kita bisa. Atau kita bisa merundingkan ulang. Atau kita bisa membuangnya sepenuhnya. Terserah kamu."

"Aku tidak butuh lima ratus juta," kata Mayra dengan tegas. "Aku tidak menikah denganmu demi uang. Aku menikah denganmu untuk... melarikan diri dari Arman, ya. Tapi aku bertahan karena aku mulai peduli padamu."

Dev memeluk Mayra lebih erat. "Kalau begitu kita buang kontrak itu. Ini pernikahan yang sesungguhnya sekarang. Dengan segala yang menyertainya."

"Segala?" tanya Mayra dengan sedikit gugup.

"Segala," konfirmasi Dev. "Yang baik, yang buruk, yang rumit. Tidak ada lagi yang transaksional. Hanya... kita. Membangun sesuatu yang nyata."

Mayra tersenyum dan mencium dada Dev, tepat di tempat jantungnya.

"Aku suka itu," bisiknya.

Mereka tertidur dalam pelukan satu sama lain. Untuk pertama kalinya sejak menikah, sebagai pasangan yang sesungguhnya.

***

Pagi berikutnya, Mayra terbangun dengan sensasi yang tidak familiar, ada lengan yang memeluknya dari belakang, napas hangat di lehernya, dan tubuh yang kokoh di belakangnya.

Butuh beberapa detik untuk Mayra ingat. Oh. Dia tidur di kamar Dev. Dalam pelukan Dev.

Mayra berbalik dengan hati-hati untuk tidak membangunkan Dev, dan menemukan pria itu masih tertidur dengan wajah yang sangat tenang. Rambut berantakan, jenggot mulai tumbuh di rahangnya, tapi terlihat sangat... tampan? Entahlah. Terlihat sempurna.

Mayra tidak bisa menahan diri. Dia mengangkat tangannya dan menyentuh wajah Dev dengan lembut, menelusuri garis rahangnya dengan jari.

Mata Dev perlahan terbuka, dan yang pertama dia lihat adalah Mayra yang tersenyum padanya.

"Selamat pagi," bisik Mayra.

"Pagi terbaik yang pernah kualami dalam bertahun-tahun," jawab Dev dengan suara yang serak karena baru bangun. Lalu dia menarik Mayra lebih dekat dan mencium keningnya. "Kamu tidur nyenyak?"

"Sangat. Kamu?"

"Tidur terbaik yang pernah kualami dalam... aku bahkan tidak ingat kapan," kata Dev dengan jujur.

Mereka berbaring dalam pelukan satu sama lain, tidak ada terburu-buru untuk bangun, hanya menikmati momen ini.

"Aku harus kerja hari ini," kata Mayra dengan enggan.

"Telepon saja bilang sakit," gumam Dev sambil membenamkan wajahnya di leher Mayra.

Mayra tertawa. "Dev, aku tidak bisa. Ada pertemuan klien penting."

"Baiklah," kata Dev dengan desahan dramatis. "Tapi malam ini, makan malam kencan. Kencan yang benar. Aku jemput kamu dari kantor."

Mayra menaikkan alisnya. "Kita akan terbuka ke publik?"

"Kita sudah menikah. Orang-orang sudah tahu. Lebih baik kita nikmati dengan benar," kata Dev dengan senyum. "Kecuali kamu tidak mau?"

"Aku mau," jawab Mayra dengan cepat. "Sangat mau."

"Bagus. Jadi itu kencan," kata Dev sambil mencium bibir Mayra dengan lembut.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Hari itu di kantor, Mayra tampak sangat sumringah.

Dina langsung menyadarinya. "Oke, cerita. Ada apa? Kamu benar-benar bersinar."

Mayra tidak bisa menahan senyumnya. "Dev dan aku... kami bicara. Dan kami memutuskan untuk membuat ini nyata."

"APA?!" Dina hampir berteriak di tengah kantor, membuat beberapa orang menoleh. Dia menarik Mayra ke ruang rapat yang kosong. "Nyata seperti...?"

"Nyata seperti bukan lagi kontrak. Nyata seperti kami benar-benar punya perasaan satu sama lain dan mau menjelajahi ini dengan benar," jelas Mayra dengan senyum yang tidak bisa hilang dari wajahnya.

"YA AMPUN!" Dina memeluk Mayra dengan erat. "Mayra! Ini luar biasa! Aku sangat senang untukmu!"

"Terima kasih, Din," kata Mayra sambil membalas pelukan. "Jujur aku masih memproses. Semua ini terjadi sangat cepat."

"Tapi kamu bahagia kan?" tanya Dina sambil melepaskan pelukan.

"Sangat bahagia," jawab Mayra dengan jujur. "Lebih bahagia dari yang pernah kualami dalam waktu yang lama."

"Kamu pantas mendapat ini, May. Setelah semua masalah dengan Arman, kamu pantas mendapat seseorang yang memperlakukanmu dengan baik," kata Dina dengan serius. "Dan Dev jelas melakukannya."

Mayra mengangguk, matanya sedikit berkaca-kaca. "Ya. Dia melakukannya."

Sisa hari kerja Mayra berlalu dengan sangat produktif. Entah kenapa, kebahagiaan membuatnya lebih fokus dan berenergi. Pertemuan klien berjalan sangat baik, proposal disetujui, dan dia bahkan sempat menyelesaikan kontrak vendor untuk dua pernikahan sekaligus.

Jam 6 sore, ponselnya berbunyi. Pesan dari Dev:

"Aku di lobi kantormu. Santai saja, tidak perlu terburu-buru."

Mayra tersenyum dan bergegas mengemas. Dia pamit ke Dina dengan kedipan mata, yang dibalas dengan jempol dan seringai lebar dari sahabatnya.

Di lobi, Dev berdiri dekat pintu masuk mengenakan kemeja putih yang digulung sampai siku dan celana bahan hitam, santai tapi tetap sangat berkesan CEO. Beberapa wanita di lobi jelas sedang mengaguminya.

Saat melihat Mayra, wajah Dev langsung cerah.

"Hei," sapa Dev sambil mengulurkan tangannya.

"Hei," jawab Mayra sambil meraih tangan itu dan membiarkan Dev menariknya lebih dekat.

Lalu Dev mencium keningnya, tepat di sana di tengah lobi dengan banyak orang yang menonton.

Mayra mendengar beberapa terkesiap dan bisikan. Jelas rekan-rekan kerjanya terkejut melihat ini.

"Dev, semua orang menonton," bisik Mayra.

"Bagus. Biar mereka melihat nya," jawab Dev dengan senyum jenaka. "Kamu istriku. Aku boleh mencium istriku sendiri kan?"

Mayra tertawa dan membiarkan Dev membimbingnya keluar ke mobil.

***

Dev membawa Mayra ke restoran atap yang sangat romantis: pemandangan matahari terbenam Jakarta, lampu-lampu hias, musik akustik langsung, dan suasana yang intim.

Mereka duduk di meja pojok dengan pemandangan terbaik. Dev memesan wine dan beberapa hidangan untuk berbagi.

"Ini tempat favoritku," kata Dev sambil menuang wine untuk Mayra. "Aku jarang ke sini karena biasanya datang ke restoran untuk pertemuan bisnis. Tapi ini salah satu tempat yang benar-benar terasa... pribadi."

"Terima kasih sudah membawaku ke sini," kata Mayra sambil menyesap wine-nya. "Ini indah."

"Kamu yang indah," kata Dev, dan Mayra hampir tersedak wine-nya.

"Dev!" protesnya sambil tertawa, pipinya memerah.

"Apa? Itu fakta," kata Dev dengan wajah datar tapi ada sinar di matanya.

Mereka makan sambil berbincang tentang berbagai hal: kerja, hobi, mimpi-mimpi, hal-hal acak yang mereka tidak pernah punya waktu untuk diskusikan sebelumnya karena terlalu sibuk berpura-pura ini hanya transaksional.

"Kalau kamu bukan CEO, kamu mau jadi apa?" tanya Mayra.

Dev berpikir sebentar. "Mungkin... arsitek. Aku selalu terpesona dengan bangunan, struktur, desain. Tapi bisnis lebih... praktis."

"Kamu masih bisa mengejarnya sebagai hobi," kata Mayra.

"Mungkin," Dev tersenyum. "Bagaimana denganmu? Kalau bukan perencana acara?"

"Hmm... fotografer, mungkin? Aku suka menangkap momen, kebahagiaan orang," jawab Mayra. "Tapi aku suka pekerjaanku sekarang, jadi tidak ada keluhan."

"Kamu bagus dalam hal itu," kata Dev. "Aku lihat portofoliomu. Acara yang kamu atur selalu indah dan dilaksanakan dengan baik."

Mayra terkejut. "Kamu lihat portofolioku?"

"Tentu saja. Aku riset tentangmu sebelum setuju dengan kontrak dulu," kata Dev dengan santai. "Aku mau tahu siapa yang akan kunikahi."

"Dan? Apa kesimpulanmu?"

"Bahwa kamu mengesankan, bersemangat, berbakat, dan punya selera yang sangat baik," jawab Dev. "Dan aku tidak salah."

Mayra merasakan pipinya memanas lagi. "Berhenti membuatku tersipu."

"Kenapa? Kamu manis kalau tersipu," goda Dev.

"Dev Armando, apakah kamu sedang menggoda istrimu sendiri?" tanya Mayra dengan lelucon.

"Tentu saja," jawab Dev dengan seringai. "Aku punya 10 tahun tidak menggoda yang harus kukompensasi."

Mayra tertawa, tawa yang tulus dan bahagia yang membuat beberapa orang di meja sebelah ikut tersenyum melihat pasangan yang jelas sangat jatuh cinta itu.

Setelah makan malam, mereka berjalan-jalan di taman atap yang terhubung dengan restoran, dengan lampu-lampu malam Jakarta sebagai latar belakang, musik akustik yang lembut di kejauhan.

Dev meraih tangan Mayra dan mengaitkan jari-jari mereka, gerakan sederhana tapi membuat jantung Mayra berdetak lebih cepat.

"Mayra," panggil Dev sambil berhenti di tempat dengan pemandangan paling bagus.

"Ya?"

Dev berbalik menghadap Mayra, kedua tangannya memegang tangan Mayra.

"Aku tahu kita baru beberapa minggu menikah. Aku tahu ini cepat. Tapi aku mau kamu tahu sesuatu," kata Dev dengan serius.

Mayra menatapnya dengan penuh perhatian.

"Menikahimu adalah keputusan terbaik yang pernah kubuat. Bahkan saat dimulai sebagai perjanjian gila untuk balas dendam, entah bagaimana itu membawaku padamu. Dan aku tidak akan mengubah apapun," kata Dev dengan suara yang penuh emosi.

Mayra merasakan matanya berkaca-kaca. "Dev..."

"Aku tidak pandai dengan kata-kata. Aku bukan pria romantis di film. Tapi aku berjanji padamu ini: aku akan melakukan yang terbaik untuk membuatmu bahagia. Untuk menjadi suami yang kamu pantas dapatkan. Untuk membangun kehidupan nyata bersamamu," lanjut Dev.

"Kamu sudah membuatku bahagia," bisik Mayra dengan air mata yang mulai jatuh. "Lebih dari yang kamu tahu."

Dev menyeka air mata Mayra dengan lembut, lalu mencium keningnya, lalu hidungnya, lalu akhirnya bibirnya, ciuman lembut yang penuh dengan janji dan kasih sayang.

Saat terpisah, Dev berbisik, "Ayo pulang."

"Pulang," ulang Mayra dengan senyum. "Aku suka kata itu sekarang."

Karena rumah bukan lagi hanya penthouse mewah.

Rumah adalah di mana pun Dev berada.

***

Malam itu, mereka kembali ke penthouse dengan hati yang penuh.

Mayra mandi dan berganti dengan pakaian tidur yang nyaman, dan kali ini, alih-alih pergi ke kamarnya, dia langsung pergi ke kamar Dev.

Dev sudah di tempat tidur, tanpa baju, hanya memakai celana olahraga, dengan laptop di pangkuan. Jelas masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.

"Hei," sapa Dev sambil menutup laptopnya saat Mayra masuk. "Ke sini."

Mayra mendekati tempat tidur dan merayap masuk, langsung bersandar di dada Dev yang hangat.

"Aku bisa terbiasa dengan ini," gumam Mayra.

"Bagus. Karena ini kebiasaan baru kita," kata Dev sambil menyalakan TV untuk memberi suara latar belakang, Netflix dengan serial acak.

Mereka berbaring dalam keheningan yang nyaman, dengan Dev sesekali mencium puncak kepala Mayra atau mengusap lengannya dengan lembut.

"Dev," panggil Mayra pelan.

"Hmm?"

"Aku takut," akui Mayra dengan jujur.

Dev langsung lebih waspada. "Takut akan apa?"

"Takut bahwa ini terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Takut bahwa sesuatu akan salah. Takut bahwa--" suara Mayra mulai bergetar.

Dev memutar Mayra sehingga mereka berhadapan, tangannya menggenggam wajah Mayra dengan lembut.

"Hei, hei. Lihat aku," kata Dev dengan tegas tapi lembut. "Tidak ada yang akan salah. Kita akan membuat ini berhasil. Ya, mungkin akan ada tantangan. Ya, mungkin ada masanya kita akan bertengkar atau tidak sejalan. Tapi kita akan mengatasinya. Bersama."

"Janji?" bisik Mayra.

"Janji," jawab Dev dengan tegas. "Aku tidak akan pergi kemana-mana. Dan aku tidak akan membiarkanmu pergi kemana-mana juga."

Mayra tersenyum dan mencium Dev, ciuman lembut yang perlahan semakin dalam.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak menikah, mereka benar-benar menjadi suami istri.

Bukan hanya di atas kertas.

Bukan hanya transaksional.

Tapi nyata.

Dalam segala hal.

***

Pagi berikutnya, Mayra terbangun dengan tubuh yang pegal tapi hati yang sangat penuh.

Dev masih tidur di sampingnya, lengan memeluknya dengan posesif bahkan dalam tidur.

Mayra tersenyum dan hati-hati keluar dari pelukan Dev untuk ke kamar mandi.

Saat melihat bayangannya di cermin, dia hampir tidak mengenali dirinya sendiri.

Wanita yang menatap balik terlihat... bahagia. Bersinar. Dicintai.

Ini berbeda dari Mayra dua minggu lalu yang patah hati dan putus asa untuk balas dendam.

Ini adalah Mayra yang pulih. Yang menemukan cinta di tempat yang paling tidak terduga.

Mayra mendengar suara dari kamar. Dev sudah bangun.

Dia kembali ke kamar dan menemukan Dev duduk di tepi tempat tidur dengan rambut berantakan, terlihat menggemaskan dalam keadaan mengantuk.

"Selamat pagi, suami," kata Mayra dengan main-main.

Dev tersenyum, senyum mengantuk yang membuat hati Mayra meleleh.

"Selamat pagi, istri," jawab Dev dengan suara serak. "Ke sini."

Mayra menghampiri dan Dev menariknya ke pangkuannya, memeluknya dari belakang, dagu bertumpu di bahu Mayra.

"Aku bisa bangun seperti ini setiap hari," gumam Dev.

"Kalau begitu lakukanlah," kata Mayra sambil bersandar ke pelukan Dev.

"Setuju."

Dan di momen itu, Mayra menyadari--

Dari pernikahan balas dendam yang gila, entah bagaimana dia menemukan cinta sejati.

Dengan pria yang awalnya seharusnya hanya rekan transaksional.

Tapi sekarang adalah suaminya.

Suami yang sesungguhnya.

Yang dia cintai.

Dan yang mencintainya juga.

Hidup bekerja dengan cara yang misterius.

Dan Mayra bersyukur untuk setiap liku dan tikungan yang membawanya pada Dev.

***

BERSAMBUNG

1
arniya
mampir kak
Siti Maryati
enak alur ceritanya
Siti Maryati
👏👏👏👏
Ryn
lanjut thourr
Siti Maryati
aku juga siap .....
menunggu mu update lagi
Siti Maryati
Doble triple ya up nya
olyv
lanjut....
Siti Maryati
seru
Siti Maryati
ditunggu up nya ya
astr.id_est 🌻
😄😄 wahh karya baru lagi thor semangat terus ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!