Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022
Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.
Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.
Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?
Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Garis Dua Di Tengah Kesunyian
Satu bulan telah berlalu sejak deru mesin truk militer itu menjauh dari gerbang markas. Bagi Syafina, tiga puluh hari itu terasa seperti tiga puluh tahun. Rumah besar yang dulu terasa hangat dengan gelak tawa Erlaga, kini kembali menjadi bangunan sunyi yang hanya menyisakan gema langkah kakinya sendiri.
Syafina tidak ingin tenggelam dalam kesedihan. Gelar Sarjana Psikologi yang baru diraihnya tidak boleh sia-sia. Dengan semangat yang dipaksakan, ia mulai menyebar lamaran kerja. Tak butuh waktu lama bagi seseorang dengan nilai cumlaude sepertinya, Syafina diterima sebagai staf Human Resources Development (HRD) di sebuah perusahaan ekspor-impor multinasional di pusat kota Bandung.
Setiap pagi, ia menyibukkan diri. Berangkat pagi buta, berkutat dengan berkas karyawan, dan pulang saat matahari sudah terbenam. Ia sengaja membunuh waktu agar tidak punya celah untuk merindu dan terlalu larut dalam kesedihan.
Namun, malam hari selalu menjadi musuh terbesarnya.
Di kamar utama, Syafina duduk di tepi2 ranjang sambil memeluk ponselnya. Ia menekan nomor Erlaga untuk yang keseratus kalinya hari itu.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan...."
Suara operator itu terdengar seperti lonceng kematian bagi harapannya.
Di perbatasan Kalimantan Utara, sinyal adalah sebuah kemewahan. Erlaga pernah bilang, ia hanya bisa turun ke pos yang ada sinyalnya satu bulan sekali, atau jika ada tumpangan helikopter logistik.
Syafina merebahkan diri, menghirup aroma bantal Erlaga yang kian memudar. "Kak, Fina dapat kerja. Teman-teman kantor baik semua. Tapi Kakak di mana? Fina kangen...." bisiknya pada langit-langit kamar.
Memasuki bulan kedua, Syafina mulai merasa ada yang salah dengan tubuhnya. Awalnya ia mengira itu hanya karena stres pekerjaan baru atau karena pola makannya yang tidak teratur sejak Erlaga pergi. Ia sering merasa pening luar biasa saat bangun pagi, dan aroma parfum kantor yang biasanya ia sukai kini membuatnya mual bukan main.
Puncaknya adalah saat makan siang bersama rekan kantornya. Baru saja mencium aroma nasi goreng petai dari meja sebelah, Syafina langsung berlari ke toilet. Ia memuntahkan seluruh isi perutnya hingga badannya lemas dan wajahnya pucat pasi.
Sore itu, ia memutuskan mampir ke apotek sebelum pulang. Ada firasat kecil yang berbisik di hatinya, firasat yang berasal dari malam terakhir sebelum Erlaga berangkat. Malam ketika Erlaga begitu agresif, seolah ingin meninggalkan "jejak" yang tidak akan pernah bisa dihapus.
Di kamar mandi rumahnya, Syafina menunggu dengan jantung berdebar kencang. Dua menit terasa seperti selamanya. Begitu ia melihat benda kecil itu, tangisnya pecah seketika.
Dua garis merah.
Syafina terduduk di lantai kamar mandi yang dingin. Ia bahagia, tentu saja. Ada buah cinta mereka yang tumbuh di rahimnya. Namun, rasa bahagia itu segera tertutup oleh rasa sesak yang menghimpit dada. Ia sendirian. Tidak ada Erlaga yang akan memeluknya kegirangan, tidak ada Erlaga yang akan menggendongnya dan menciumi perutnya sambil berterima kasih.
Ia kembali mencoba menghubungi nomor Erlaga dengan tangan gemetar. Masih tidak aktif.
"Kak... anak kita sudah ada di sini," isak Syafina. "Kenapa Kakak susah sekali dihubungi?"
Malam itu, Syafina tidak kuat menanggung beban itu sendirian. Ia menelepon kedua orang tuanya, Dallas dan Syafana. Tidak butuh waktu lama, Syafana dan Dallas, langsung datang ke rumahnya. Kedua orang tua yang selalu mendukung dan menumpahkan kasih sayang yang sama, meskipun Syafina sudah menikah.
Begitu pintu dibuka, Syafina langsung menghambur ke pelukan Dallas, papanya. Ia menangis sejadi-jadinya di dada pria yang paling mencintainya itu.
Dallas, yang biasanya bersikap tegas namun penuh kasih, kini tampak sangat iba melihat putri pertamanya tergugu. Ia merangkul bahu Syafina dengan erat, memberikan perlindungan yang selama ini Syafina dapatkan dari Erlaga.
"Sshh... tenang, Sayang. Ada Papa dan Mama," bisik Dallas menenangkan. "Erlaga pasti sangat bangga kalau dia tahu. Dia di sana sedang berjuang untuk negara, dan kamu di sini sedang berjuang menjaga titipan-Nya. Kamu harus kuat, anak Papa tidak boleh lemah."
"Tapi Papa... sembilan bulan itu lama. Gimana kalau Fina periksa ke dokter sendirian? Gimana kalau nanti bayinya lahir Kak Laga belum pulang?" Syafina meracau dalam kesedihannya, wajahnya basah oleh air mata.
Syafana mengusap air mata sang putri dengan lembut. "Kamu nggak sendirian, Sayang. Besok Mama temani ke dokter. Kita jaga sama-sama cucu Mama ini. Keluarga besar Erlaga, Mama Zahira dan Papa Erkana, Mbak Pala, serta Bang Arka, mereka semua pasti akan menjagamu."
Keesokan harinya, berita kehamilan Syafina sampai ke telinga keluarga besar Erlaga. Syapala datang dengan membawa berbagai macam buah dan suplemen. Ia memeluk Syafina lama sekali, memberikan kekuatan sesama istri prajurit.
"Fina, dengerin Mbak. Meskipun kehamilan kamu ini jauh dari suamimu, tapi kamu harus yakin dan kuat kalau kamu pasti bisa melewati ini semua. Mbak yakin, papa dari sang janin bakal bangga bila mendengar kabar bahagia ini," hibur Syapala mencoba menguatkan Syafina.
"Mbak yakin, bayi ini yang akan jadi penguatmu. Dia adalah Erlaga kecil yang dititipkan untuk menemanimu selama Papanya nggak ada. Percaya sama Mbak," lanjut Syapala.
Syapala membantu Syafina duduk di sofa. "Mbak sudah coba hubungi radio pangkalan di sana lewat jalur Bang Kala. Mereka bilang, tim Erlaga sedang masuk ke pedalaman hutan rimba untuk patroli patok batas negara. Mungkin dua minggu lagi mereka baru sampai di pos besar yang ada telepon satelitnya."
Syafina mengusap perutnya yang masih rata. Sejenak ia menarik napasnya. Ada lega sedikit di sana. "Dua minggu lagi, Mbak? Semoga Fina kuat."
Setiap malam setelah kepulangan keluarganya, Syafina kembali pada rutinitasnya. Ia ditemani Bi Imas yang kini ditugaskan jadi ART di rumah itu atas perintah Erlaga sebelum pergi. Meski demikian, kesepian itu belum ada obat sebelum dirinya bisa menghubungi Erlaga.
Tiap malam sebelum tidur, Syafina kini rajin menulis surat di sebuah buku diary khusus. Ia mencatat setiap perkembangan kecil sang jani, dari mulai rasa mualnya, foto USG pertamanya yang hanya memperlihatkan titik kecil, hingga kerinduannya yang tak bertepi.
"Kak Laga, hari ini anak kita sebesar biji jeruk. Dia bikin Fina nggak suka makan nasi, maunya buah malaka terus. Kakak sehat kan di hutan sana? Kakak harus pulang, ya. Ada nyawa kecil yang sekarang menunggumu, selain istrimu yang sudah hampir gila karena rindu."
Syafina melipat surat itu, memasukkannya ke dalam kotak bersama kalung peluru perak. Di tengah kesunyian kota Bandung yang dingin, Syafina belajar untuk teguh. Ia adalah istri seorang prajurit, dan sekarang ia adalah ibu dari anak seorang pejuang.
Meski nyesek luar biasa melihat kursi di sampingnya kosong saat makan, Syafina berjanji akan tetap berdiri tegak hingga sang singa pulang ke kandangnya.
Hari ini segitu dulu ya. Lumayan otak mumet... 🥰🥰🥰🥰
gmana kabar dista ma keponakan itu.udh berubah belum
semoga sukses,,dan trimaksih udh menghadirkan karya apik
Terima kasih thor