Dunia telah berubah menjadi permainan maut.
Gerbang dimensi terbuka, monster meluap ke bumi, dan manusia terpilih membangkitkan kekuatan luar biasa yang disebut "Hunter". Namun, Kenzo tidak seberuntung itu. Dia hanyalah seorang Cleaner—pemulung mayat monster kelas rendah yang direndahkan dan dianggap sampah masyarakat.
Nasibnya berubah saat ia dikhianati dan dibiarkan mati di dalam Dungeon level tinggi oleh timnya sendiri. Di ambang maut, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem God Level Extraction Diaktifkan!]
[Target: Black Shadow Wolf (Grade A). Ekstraksi Berhasil!]
[Anda Mendapatkan Skill: Kecepatan Bayangan!]
Siapa sangka, pemulung yang dulunya diinjak-injak kini bisa mencuri bakat, kekuatan, hingga ingatan dari makhluk apa pun yang ia sentuh.
Satu per satu Hunter pengkhianat ia jatuhkan. Satu per satu monster penguasa ia jadikan batu loncatan. Dari pembersih sisa pertempuran, Kenzo bangkit menjadi predator puncak yang akan mengekstrak seluruh dunia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MISTERI MAKAM PARA DEWA
Motor hitam itu meraung keras, megebut dalam kabut tebal di perbukitan Jawa Barat sebelum akhirnya berhenti tepat di bibir sebuah kawah tua. Elara turun dengan kaki gemetar, helmnya nyaris terlepas dari tangan saat dia melihat apa yang ada di depan mereka.
Sebuah lubang raksasa, seperti bumi pernah dipukul oleh tinju dewa, menganga lebar dengan pendar ungu tipis yang melayang keluar dari kedalamannya.
"Kenzo, lo sinting emang ya," desis Elara sambil membetulkan kacamatanya yang berembun. "Gue udah cek datanya tiga kali. Ini The Forgotten Tombs. Tempat ini bukan cuma uncharted, tapi dikubur hidup hidup sama Asosiasi. Tim terakhir yang ke sini balik balik cuma sisa potongan tangan, itu pun udah jadi batu."
Kenzo tidak menyahut. Dia berdiri di tepi jurang, hoodie hitamnya berkibar kasar ditiup angin yang membawa bau belerang dan besi karat. Di matanya, kawah itu tidak terlalu gelap. Predator’s Eye menunjukkan sesuatu yang jauh lebih ngeri ribuan energi Mana berwarna hitam pekat berputar putar di dasar sana, membentuk pusaran yang menghisap oksigen di sekitarnya.
"Distorsi Mana ya? Ok lah." Kenzo menyeringai, memperlihatkan deretan giginya yang putih berbalik dengan kegelapan di sekelilingnya. "Buat orang lain ini racun, El. Tapi buat gue? Ini prasmanan cuy hahaha."
Elara mendengus, mencoba menutupi rasa ngerinya. "Terserah lo deh ken, dasar monster. Tapi denger ya, jangan coba coba nyari mati. Inti Shadow Wolf lo belom laku ok, dan gue juga kaga mau rugi bandar gara gara klien gue jadi mayat di lubang ini."
Dia menyodorkan sebuah anting kecil ke arah Kenzo. "Pakai ini ken. Pemancar frekuensi rendah. Selama lo masih napas, gue bisa lacak koordinat lo meski di zona distorsi sekalipun. Dan satu lagi..." Elara menunjuk dadanya sendiri yang sedikit terekspos karena jaketnya terbuka. "Berhenti liatin gue kayak gitu, mesum! Gue tau gue cakep, tapi fokus ke kerjaan lo!"
Kenzo terkekeh, menangkap anting itu lalu memasangnya di telinga kiri. "Gue kaga bisa janji soal nggak ngeliat, El. Refleks mata cowok itu susah dikontrol."
Tanpa ancang-ancang, Kenzo melompat.
"KENZO! BAJINGAN LO!" teriakan Elara tenggelam oleh suara angin.
Kenzo meluncur jatuh ke kegelapan sedalam ratusan meter. Saat gravitasi nyaris meremukkan jantungnya, dia membisikkan satu kata: "Shadow Movement." Bayangannya di udara mendadak saja jadi padat, menahan laju jatuhnya seolah-olah udara berubah menjadi air yang begitu kental. Dia mendarat di dasar kawah dengan suara tap yang nyaris tak terdengar.
Dasar kawah itu adalah sebuah pelataran luas dari batu obsidian hitam. Di depannya, berdiri sebuah gerbang raksasa yang diukir dengan simbol simbol kuno yang seperti sedang menjerit. Dua patung prajurit batu setinggi lima meter berdiri sangat kaku di sisi gerbang, memegang tombak yang ukurannya sebesar tiang listrik.
Saat kaki Kenzo menginjak ubin utama, mata patung itu menyala biru pekat.
BOOM!
Satu tombak menghantam lantai, hanya meleset beberapa senti dari kepala Kenzo. Serpihan batu terbang seperti peluru, menggores pipi Kenzo hingga berdarah.
"Gitu cara lo nyambut tamu? suguhin gue kopi sama keripik singkong ancrit ini malah disambut sama tombak hadehh" gumam Kenzo.
Dia berlari, bukan untuk menjauh, tapi justru menerjang ke arah patung pertama. Patung itu bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk di akal untuk ukurannya yang gede. Tombak kedua menyapu secara lurus, membelah udara dengan suara menderu tajam. Kenzo melompat, kakinya menjejak gagang tombak yang sedang bergerak, lalu berlari di atasnya seperti itu adalah jembatan biasa.
Dia sampai di depan dada patung itu. Tangannya bersinar hitam. "Extraction!"
Gagal. Sebuah peringatan panas muncul di benaknya. Patung ini tidak punya nyawa. Ini cuma bongkahan batu yang digerakkan oleh sihir kuno yang sangat tebal.
"Oh, jadi harus dikupas dulu? ribet amat njir lah" Kenzo mengepalkan tinjunya. Seluruh energi di tubuhnya dipompa ke lengan kanan. "Heavy Strike!"
Pukulan itu menghantam dada obsidian sang penjaga. Bunyinya seperti ledakan dinamit di dalam gua. Retakan besar merambat di tubuh patung itu, dan sebelum ia sempat membalas, Kenzo melayangkan pukulan kedua tepat di retakan yang sama.
PRANG!
Pelindung batu itu hancur, memperlihatkan kristal biru yang berdenyut di dalamnya. Tanpa membuang waktu, Kenzo mencengkeram kristal itu. Kali ini, sensasi "penghisapan" itu terasa luar biasa nikmat sekali.
[Inti Energi Kuno siap Diekstrak bos.]
[Mendapatkan Skill: Stone Skin (Rank B).]
Patung itu kehilangan cahayanya, ambruk menjadi tumpukan kerikil juga debu dalam sekejap. Penjaga kedua menyusul tak lama kemudian setelah Kenzo menghancurkan kepalanya dengan tendangan yang dibalut Mana.
Kenzo mendorong gerbang utama. Di dalamnya bukan lagi gua, tapi sebuah aula megah yang luasnya setara lapangan bola. Di tengah ruangan, di atas altar yang dikelilingi tengkorak raksasa, sebuah pedang berkarat tertancap diam.
"Luar biasa," sebuah suara tepuk tangan menggema dari kegelapan pilar. "Gue nggak pernah nyangka bakal liat Hunter liar bisa ngebantai dua Golems of Mourning cuma pake tangan kosong."
Lima orang melangkah keluar dari bayangan. Mereka memakai seragam putih yang sangat bersih terlalu bersih untuk tempat sekotor ini. Di dada mereka, ada lambang Naga Perak yang mengkilap cerah.
Pemimpinnya adalah seorang cowok dengan rambut panjang yang diikat rapi, wajahnya tipikal anak orang kaya yang nggak pernah kena debu seumur hidupnya. "Gue Yudha. Pewaris ketiga Naga Perak. Lo pasti tau siapa gue, kan ya?"
Kenzo tidak menoleh. Dia masih menatap pedang di altar. "Naga Perak? Nama klan lo mirip nama toko emas di pasar loak bhahahaha."
Muka Yudha langsung berubah merah padam. Empat pengawalnya di belakang langsung menghunus senjata. "Lucu bangeeudd." desis Yudha. "Tapi mending lo taro dah semua yang lo dapet tadi di lantai, terus pergi selagi gue masih ngerasa kasihan Ama lo. Makam ini milik klan gue sekarang ye."
"Gue nggak liat ada sertifikat tanah di sini njir," sahut Kenzo santai. Dia berbalik, menatap Yudha dengan mata yang sudah mulai berkilat keemasan. "Klan gede emang selalu sama. Dateng belakangan, maunya dapet jatah paling banyak. Lo nggak diajarin sopan santun sama bokap lo?"
"Hajar dia!" perintah Yudha.
Satu pengawal bertubuh raksasa maju dengan kapak yang dialiri petir. "Mati lo, sampah!"
Kenzo menarik napas panjang. Dia tidak bergerak. Dia hanya melepaskan sesuatu yang selama ini dia tahan di dalam dadanya. "Mana Pressure."
BOOM!
Udara di aula itu mendadak jadi seberat timah. Lantai obsidian di bawah kaki Kenzo retak hebat. Pengawal yang tadi menerjang tiba tiba merasa seperti ada gunung yang jatuh menimpa pundaknya. Dia tersungkur, hidungnya mengeluarkan darah, dan kapaknya terlepas begitu saja.
"Apa... tekanan Mana macam apa ini cok?!" Yudha berteriak, dia sendiri harus berlutut untuk menahan agar paru parunya tidak kempis.
Kenzo melangkah maju, pelan dan berwibawa. Setiap langkahnya membuat ubin batu hancur. "Lo mau bicara soal hukum rimba, Yudha? Mari kita coba."
Yudha yang panik mengeluarkan belati perak. "Dragon's Breath!" Sebuah lidah api putih menyambar ke arah Kenzo. Suhu ruangan melonjak drastis. Tapi Kenzo hanya mengangkat tangan. Bayangan di lantai bangkit, membentuk dinding hitam yang menelan api itu bulat bulat.
"Shadow Movement."
Kenzo menghilang dan muncul tepat di depan wajah Yudha. Sebelum si anak orang kaya itu sempat berteriak, tangan Kenzo sudah mencengkeram lehernya.
"Lo punya banyak bakat bagus di dalem tubuh lo ternyata ye, Yudha. Sayang banget kalau cuma dipake buat sombong."
"Extraction!"
Yudha menjerit. Bukan jeritan sakit fisik, tapi jeritan jiwa yang sedang ditarik paksa. Kenzo merasakan energi Dragon’s Sense milik Yudha berpindah ke tubuhnya. Itu rasanya seperti meminum kopi paling pekat di dunia pahit, tapi bikin nagih.
Kenzo melempar Yudha yang sudah lemas ke lantai. Pengawal lainnya sudah pingsan karena tekanan Mana Kenzo yang terlalu kuat.
Kenzo berjalan ke altar, mencabut pedang tua itu dengan satu sentakan. Pedang itu bergetar di tangannya, seolah-olah mengenali tuan barunya.
[Pedang Karat Penguasa Langit (Rank: ???) Didapatkan.]
Kenzo menempelkan jarinya ke anting di telinga. "Elara, siap siap. Kita ada tamu di luar. Hapus semua jejak satelit di area ini dalam lima menit. Bisa kaga lu?"
"Siap, Bos! Tapi Kenzo... Mana si Yudha mendadak ilang dari radar gue njir. Lo nggak bunuh dia, kan? Urusannya bisa panjang sama klan Naga cok!" suara Elara terdengar panik lewat comms.
"Cuma gue 'bersihin' dikit doang si," jawab Kenzo sambil tersenyum tipis ke arah Yudha yang kini cuma bisa merangkak di lantai. "Biar dia tau rasanya jadi orang biasa hehe."
Kenzo melangkah keluar dari makam kuno itu. Di bawah langit malam yang dingin, dia tahu bahwa mulai malam ini, klan Naga Perak akan memburunya sampai ke ujung dunia. Tapi Kenzo tidak peduli. Dia lapar. Dan klan besar adalah mangsa yang paling bergizi.
"Permainan sebenernya baru dimulai, El. cepetan lah Cabut sekarang Cok!"