"Menikah tentulah merupakan hal yang sangat didambakan seseorang. Apalagi menikah dengan orang yang kita inginkan dan kita cintai."
" Namun, bagaimana jika kamu menikah atas dasar keterpaksaan? Disisi lain, kamu ingin melihat orang tua mu bahagia, tapi disisi lain kamu masih terjebak dimasa lalu. Seolah cintamu sudah habis dimasa itu."
"Menjalani semuanya tanpa perasaan cinta. Akankah berakhir bahagia? Atau justru malah menambah masalah baru untuk aku... dan juga dia..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kue Tart
"Apa kabar, Sar?" Tanya Angga. Pria itu tampak cengengesan.
"Baik, Nga. Lu juga kaya nya baik. Lu masih sama kaya dulu gua perhatiin. Kocak."
Angga tertawa.
"Lu mah makin cantik aja. Makin badas!" Angga memperhatikan Sarah dari atas sampai bawah.
"Ah! Itu mah dari dulu." Canda Sarah di sertai tawa.
"Pantes aja si Dimas susah move on. Wong mantannya secakep ini." Ucapan Angga membuat Sarah kebingungan.
"Emang iya?" Sarah memastikan.
"Iya. Mungkin sampai hari ini."
Sarah hening.
Kenangan masa SMA kembali terlintas. Yang paling membekas kenangan saat dirinya dan Dimas untuk terakhir kali bersama. Ditaman, waktu itu. Saat mereka berjanji untuk tidak saling meninggalkan.
*****
Dimas berdiri di hadapan Naina. Naina yang mendapati Dimas sudah kembali sangat senang. Ia lantas memeluk pria itu. Tak perduli pada keramaian, rasa takutnya kini hilang sudah.
"Mas? Mas dari mana saja? Aku mencari Mas."
Dimas membalas pelukan Naina dengan satu tangannya. Ia dapat merasakan ketakutan pada diri Naina.
"Maaf, Nai." Hanya kalimat singkat yang keluar dari mulut Dimas. Wajahnya terlihat datar, dengan pikiran yang berkecamuk.
Sedangkan, dari kejauhan ada Sarah yang sedang memperhatikan. Wanita itu menyunggingkan senyum kecil, sembari menenggak minuman yang sedang ia pegang.
*
Naina tampak menikmati kue tart dengan topping stroberi dan blueberry di atasnya. Suapannya terhenti saat memperhatikan Dimas yang sedari tadi hanya diam dan tampak gelisah. Berbeda saat pertama kali mereka datang kesini.
"Mas kenapa?" Tanya Naina membuat Dimas gelagapan.
"Ti--tidak apa-apa."
"Apa Mas tidak nyaman?"
Dimas hanya tersenyum, seolah sengaja menyembunyikan perasaannya dan kemudian juga mengambil kue tart dan memakannya.
Naina yang perasa mengerti akan perbedaan sikap Dimas. Tapi ia pura-pura tidak tau, dan kembali menikmati kue tart yang kini terasa hambar di lidah.
*
Kali ini pandangan Naina tertuju pada seorang wanita yang asik menari dengan lincah. Gerakannya teratur seolah sudah biasa. Luwes, sangat enak di pandang. Tidak hanya Naina, semua orang berkerumun melihat wanita itu. Wajahnya yang cantik serta gerakan yang seirama dangan musik seperti menghipnotis semua orang yang ada di sana untuk melihatnya. Ia adalah Sarah.
Tepuk tangan bergemuruh dan teriakan kagum mengisi ruangan. Naina yang tadinya duduk ikut dalam barisan kerumunan orang-orang. Ia sangat kagum melihat Sarah. Wajah cantik, hidung mancung, rambut yang indah, bulu mata lentik, kulit putih, kesempurnaan terpampang disana.
"Cantik sekali." Ucap Naina terpaku.
Naina menarik tangan Dimas untuk ikut menyaksikan. Pria itu semakin gelagapan dan kemudian ikut bertepuk tangan seperti orang-orang tanpa melihat ke arah Sarah.
Pandangan mata Sarah dan Dimas bertemu. Pria itu semakin salah tingkah kala Sarah memberikan senyum kecil dan tatapan mata yang sama seperti waktu itu. Waktu mereka masih bersama.
Dimas lantas menarik tangan Naina meninggalkan kerumunan itu.
"Mas? Ada apa?" Tanya Naina heran.
Dimas tak menjawab. Ia masih menarik tangan Naina, agak kasar sampai menuju ke parkiran.
"Sakit, Mas!" Teriak Naina yang membuat Dimas seolah tersadar.
Dimas menatap Naina yang meniup tangannya. Tampak merah.
Ada perasaan bersalah. Tapi Dimas lebih memilih Diam.
"Ayo kita pulang." Ucap Dimas kemudian.
Naina menatap Dimas. Ia masih bingung dengan sikap pria itu yang sangat sulit dimengerti. Tidak ingin berdebat dan menjadi pertengkaran, Naina hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Kemudian mereka meninggalkan kediaman Fahri.
Sepanjang perjalanan Dimas hanya Diam begitu juga Naina yang lebih memilih mengamati setiap lampu-lampu di jalan dari pada harus membiarkan pikirannya dipenuhi dengan berjuta pertanyaan.
***