Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏
Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!
Donasi ke aku:
Saweria: parleti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Pasangan
Cahaya matahari pagi masuk melewati sela-sela jendela, terkena wajah seorang gadis berumur delapan belas tahun yang terlelap dalam tidur.
Gadis itu membuka mata lalu duduk dengan perlahan, mengusap matanya dan melihat jam dinding.
"Sudah jam tujuh..." katanya dengan suara yang lesu.
"HAHHH?!!! Jam tujuhhh!" Gadis itu melompat dari atas kasurnya dan segera berlari menuju kamar mandi.
"Duh... Gawat gawat gawat, bisa-bisa dihukum nih gw."
Dia mandi secepat kilat lalu mengambil baju putih dan rok abu-abu dari dalam lemari. Memakainya dengan sangat cepat.
"Kamu kok tumben lambat bangunnya sih, Sha" heran seorang wanita setengah tua yang tengah memasak nasi goreng.
Gadis itu tidak menjawab apa-apa, dia hanya fokus menyisir rambut hitam panjangnya di depan lemari kaca.
Kringg... Hpnya tiba-tiba berdering.
Matanya melirik ke arah hpnya yang ditaruh di atas meja makan, tertulis nama kontak 'Sayangku' di layar hpnya.
Dia menghela nafas pelan. Sembari tangan kanannya masih terus menyisir rambut, tangan kirinya meraih ponsel itu.
"Ya, Arsa, pagi" sapa gadis itu dengan suara yang malas-malasan.
"Pagiiii sayangkuu cintakuu, kok tumben kamu belum turun. Kamu sakit ya?" tanya seorang laki-laki dengan suara yang terdengar begitu lembut, tetapi berisik untuk didengar di pagi hari.
Gadis itu terkejut karena ia lupa mengecilkan volume hpnya, hingga suara itu menarik perhatian ibunya.
"Enggak, lagi lambat bangun aja." Dia mengecilkan volume hpnya dengan perlahan. Masih fokus menyisir rambutnya.
"Idiihhh, gara-gara begadang itu semalam."
Gadis itu mendengus kesal hingga tak sengaja menyisir rambutnya dengan begitu kasar.
"Udah ya, Arsa. Kalo lo nelpon gw, kapan dong gw berangkatnya?" ucap gadis itu dengan nada suara yang dipaksa terdengar lembut.
"Iya-iya. Hati-hati ya di jalan, say-" Gadis itu mematikan hpnya lalu menaruhnya kembali ke atas meja.
Setelah merasa rambutnya sudah cukup rapi, ia duduk di kursi menghadapi meja makan yang telah ada sepiring nasi goreng. Ia lalu memakannya dengan lahap.
"Pacarmu?" tanya wanita setengah tua itu yang merupakan ibu dari si gadis. Gadis itu hanya berdehem saja.
Setelah menyantap sarapannya, ia salim kepada ibunya itu lalu segera berangkat ke sekolahnya menggunakan motor scoopy kesayangannya di kota Nusadipa.
Kota Nusadipa adalah kota yang terletak di Indonesia sehingga wajar jika pagi hari saja panasnya sudah cukup terik.
Meskipun begitu, kota Nusadipa adalah kota yang padat akan bangunan, luas, dan juga ramai.
Gadis itu memacu motornya dengan cepat, menyelip setiap mobil penuh akan keberanian.
Yang gadis itu pedulikan saat ini cuma satu, datang sebelum gerbang ditutup. Wajahnya terlihat begitu khawatir.
Sekitar lima menit kemudian, akhirnya sampailah dia di SMA Negeri 2 Nusadipa. SMA yang digadang-gadang sebagai SMA terbaik se-provinsi.
Gadis itu menghela nafas karena merasa lega gerbang sekolah belum ditutup, dia lalu memarkirkan motornya secepat mungkin, lalu berlari menuju kelasnya, 12-B.
Sesampainya di depan kelas, matanya segera menangkap seorang pemuda seumurannya yang berdiri di depan kelas dengan wajah khawatir.
Gadis itu menarik nafas pelan sembari memperbaiki posisi tasnya dan rambutnya yang sedikit acak-acakan karena terhempas angin.
"Eh, Arsa, ngapain lo di depan sini?" tanya gadis itu dengan suara yang disengaja nyaring untuk mengejutkan si pemuda bernama Arsa.
Arsa menatap mata gadis itu, wajah khawatirnya tadi kini berubah menjadi senyuman manis. Arsa mendekat ke arah gadis itu.
"Ya nungguin kamu lah!"
"Lagian 'lo' 'gw' apaan? Emangnya kita teman?" goda Arsa menatap wajah gadis itu dengan sangat dekat.
Gadis itu tersenyum tipis, akan tetapi ia membuang wajahnya karena tersipu malu. Dia hanya terdiam.
Arsa mengangkat tangan kanannya dan menyingkirkan sehelai rambut yang menutupi wajah gadis itu.
"Kenapa diem aja, hmm?"
Gadis itu malah semakin malu, wajahnya memerah tak karuan. Namun, Ia malah menangkap tangan Arsa dan membalas menatap Arsa dengan lebih dalam.
"Kita pacar kok, sayang" bisik gadis itu dengan senyuman yang lebar, membalas godaan Arsa hingga membuat pemuda itu memerah wajahnya.
Gadis itu bernama Sarah Ashalova, dia adalah seorang siswi di SMA Negeri 2 Nusadipa.
Orang-orang biasa memanggilnya Asha. Wajah putih ovalnya begitu manis, sesuai dengan rambut hitam panjangnya yang anggun.
Dan pemuda bernama Arsa itu, nama panjangnya adalah Kian Arsa. Dia berkulit sawo matang dan memiliki wajah tampan, dia pula pintar dan juga populer di antara siswa-siswi.
"Ekhemm, si duo bucin Asha-Arsa pagi-pagi udah ngebucin aja nih" celetuk seorang gadis dari dalam kelas.
Arsa dan Asha yang bertatapan dekat terkejut lalu saling menarik jarak satu sama lain.
Mereka malah merasa malu sendiri karena ada yang memperhatikan. Berbeda dengan Arsa, Asha malah membalikkan badannya.
"Gausah malu-malu, satu sekolah juga tau kok kalau kalian ini pacaran" goda perempuan itu dengan suara yang tengil.
"Kalau lo tau, kenapa segala pake ngeganggu, dih" cibir Asha.
"Iya nih, lo kan teman dekatnya Asha, harusnya bolehin gw dong ngebucin sama dia. Ya gak Asha?" gabung Arsa dengan sedikit nada godaan.
Asha berbalik dengan cepat, lalu menempatkan jari telunjuknya di depan bibir Arsa.
"LO DIEMM!!" perintah Asha dengan mata yang begitu tajam. Meskipun begitu, nadanya tidak terdengar membentak sama sekali.
Perempuan itu bernama Cinta Widyanta, dia adalah teman dekat dari Asha.
Cinta sangat suka sekali bergabung dalam hubungan Asha dan Arsa, bukan sebagai orang ketiga, tetapi sebagai penasehat cinta.
Tiba-tiba...
"Kenapa masih pada diluar ini?" tanya suara laki-laki yang berat dan penuh akan tekanan.
Asha, Arsa, dan Cinta begitu terkejut karena guru paling killer di sekolah itu tiba-tiba berada di antara mereka bertiga.
Arsa tersenyum canggung dan tak menyadari bahwa pacar dan temannya itu sudah meninggalkannya lari ke dalam kelas.
"Hehe, pagi pak" sapa Arsa dengan begitu polosnya.
Guru itu melihat Arsa dengan heran, bertanya-tanya mengapa anak ini begitu santai di hadapannya.
"Pagi.. pagi.. kau mau berapa putaran hah?"
Arsa masih dengan senyum polosnya, tidak cukup peka untuk menyadari guru itu ingin dia segera masuk.
"Jangan dong, Pak. Panas nih harinya" pintanya dengan nada memelas.
"YA MASUKLAH!" bentak guru itu yang rasa sabarnya sudah habis sedari tadi.
Arsa lalu berlari masuk ke dalam kelas diikuti tawa beberapa teman kelasnya.
Arsa selain dikenal sebagai murid berprestasi, juga dikenal sebagai murid yang humoris.
"Anak zaman sekarang otaknya pada rusak kayanya gara-gara pacaran" batin guru itu sembari melangkah masuk kelas.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Bel istirahat pun berbunyi. Arsa yang duduk di tengah paling depan berjalan menuju kursi kosong di depan meja Asha.
Arsa peka melihat wajah Asha yang sedikit murung daripada biasanya.
"Kamu lagi badmood?" tanya Arsa sembari melipat kedua tangannya di atas meja.
Asha tak menatap wajah Arsa, ia melihat ke sisi kanan. "Gapapa."
"Kalo gapapa artinya ada apa-apa," Tangan Arsa menyentuh dagu Asha, mengarahkan wajah Asha untuk melihat dirinya. "Coba sini cerita sama aku."
"Ish pegang-pegang!" ucap Asha dengan nada tinggi, padahal sebenarnya dia sangat menyukainya. Arsa hanya tertawa kecil.
Asha menghela nafas pelan.
"Ini nih perutku dari tadi pagi tuh ya, gak enak banget, sakit" cerita Asha sembari memegang perutnya.
"Kok bisa?" Arsa menatap Asha dengan tatapan excited.
"Gak tau. Mungkin mau PMS aja kali."
Arsa meneguk salivanya, rasa gentar tiba di hatinya seperti guntur. Ia tau seberapa resenya pacarnya ini saat hari pertama PMS.
Mulai dari permintaan yang aneh, mood yang tidak karuan, hingga perbuatan nyeleneh.
Dulu Asha pernah meminta Arsa untuk dibuatkan miniatur Candi Borobudur, dan tau apa yang hebat? Arsa benar-benar membuatnya, kalau tidak, gadis itu tak akan pernah mau berbicara lagi dengannya.
Arsa menggeleng pelan. Ia mengeluarkan sekotak susu Ultramilk rasa stroberi dari kantongnya, menyodorkannya kepada Asha.
Wajah Asha yang awalnya seperti nenek lampir langsung berubah seperti tuan putri. Senyum lebar memenuhi wajahnya.
"Ihh ayang peka banget deh, maaciww" puji Asha melihat Arsa dengan tatapan yang bercahaya.
Kedua tangan Asha lalu mencubit-cubit pipi Arsa dengan pelan. "Tumben nih, biasanya harus aku ngamuk dulu baru dibeliin."
Arsa pasrah dengan pipinya yang dimainkan oleh Asha. Baginya melihat Asha bahagia, merupakan anugerah baginya.
"Iywa dwong, ewmwang kwiwta udwa pwacalan bwerwapa lwama."
Asha berhenti memainkan pipi Arsa, lalu justru menatap Arsa dengan tatapan seperti melihat keanehan.
"Dih, kalo ngomong yang jelas napa" cibirnya sembari menusuk sedotan ke minuman kesukaannya, lalu meminumnya.
"Iya dong sayangku Asha, kan kita udah pacaran dari lama" kata Arsa menegaskan ulang.
"Berapa lama?"
Arsa diam sejenak sembari berpura-pura memikirkannya dengan keras. "Setahun Dua bulan, bener gak?"
Asha menggeleng dengan senyuman tipis di wajahnya. Dia merasa sangat senang melihat Arsa masih ingat berapa lama mereka jadian.
Tapi...
"Salah. Yang bener itu setahun dua bulan empat belas hari tiga jam dua puluh menit tiga detik."
Arsa terbelalak keheranan mendengar jawaban Asha, dia tidak tau itu benar atau hanya sekedar candaan.
"Busett, sampai sedetail itu dong?!" kata Arsa dengan nada yang heboh.
"Engga."
Wajah Arsa mendatar, lalu tak lama tertawa sedikit kencang. Ia lalu membalas mencubit pipi Asha dengan lembut, dan Asha menikmatinya.
Asha dan Arsa memang sudah pacaran sejak mereka masih kelas sebelas.
Padahal waktu itu mereka begitu canggung satu sama lain, tetapi sekarang mereka bahkan tak ragu untuk bucin di kelas.
Arsa berhenti memainkan pipi Asha, lalu mengubah posisi tubuh menghadap ke arah jendela. Suasana romantis tiba-tiba berubah menjadi sedikit serius.
"Ya, anggap saja ini sebagai permintaan maafku soal masalah kemarin."
Wajah Asha yang awalnya penuh senyum langsung berubah menjadi sedikit canggung.
Meskipun mereka sangat bucin dan telah berpacaran lama, bukan berarti mereka tidak pernah dilanda oleh masalah.
Mereka juga sama seperti pasangan pada umumnya. Kadang bucin kadang pula dingin.
Arsa merasa bahwa jantungnya berdegup begitu kencang. Tiba-tiba Sekelebat firasat lewat di dalam hatinya.
"Asha, kalau nantinya ada masalah, kita lewati dengan sabar ya?" ajak Arsa sembari melihat Asha dengan senyuman yang ramah.
Asha menunduk terdiam sejenak, lalu mengangguk.
"Hmm...."
TO BE CONTINUED
🌷🌷🌷🌷
Duhh kira-kira bakalan ada masalah apa ya yang muncul di antara dua bucin ini? Author cekikikan wehh nulis bucinnya mereka ini 😭 firts time nulis romance dihadapkan sama pasangan butal (Bucin Brutal) Wkwkwk
Yuk tebak yuk masalah apa, kalo bener
💯.
Follow ig author ya!
@Jaaparr.sebutkan penggunasebutkan pengguna
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku