Di balik rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi, Genevieve Isolde Clara adalah cahaya yang tak pernah padam. Sebagai pustakawan, ia dikenal karena senyumnya yang merekah bagi siapa saja dan keramahannya yang membuat siapa pun merasa diterima. Namun, keceriaan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka batin yang sangat dalam. Genevieve adalah ahli dalam berpura-pura—ia membalut rasa sakitnya dengan tawa, memastikan dunia melihatnya sebagai gadis yang paling bahagia, meski hatinya perlahan hancur dalam kesunyian.
Kehidupan Genevieve yang penuh kepura-puraan terusik ketika Valerius Theodore Lucien muncul. Valerius adalah seorang pria dengan aura bangsawan kuno, pucat, dan memiliki tatapan yang seolah bisa menembus waktu—ia adalah seorang vampir yang telah hidup berabad-abad. Sejak pertama kali melihat Genevieve, Valerius merasakan sesuatu yang janggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Puncak Obsesi Sang Predator
Valerius sudah berada di titik di mana insting manusianya yang tersisa telah sepenuhnya kalah oleh gairah purba seorang predator. Ruangan itu terasa makin menyempit, hanya menyisakan ia, Genevieve, dan suara napas mereka yang saling memburu.
Valerius sangat menyukai keadaan ini—saat Genevieve berada di ambang antara sadar dan tidak, saat tubuh gadis itu memberikan kejujuran yang tidak bisa ia berikan ketika terjaga.
"Desahanmu... itu adalah melodi paling indah, Genevieve," bisik Valerius dengan suara yang serak dan dalam.
Dengan jemari yang sedikit gemetar karena lonjakan adrenalin, ia mulai membuka kancing-kancing gaun tidur sutra itu satu per satu.
Setiap kancing yang terlepas seolah membuka gerbang menuju surga dunia yang paling terlarang. Begitu kain itu tersibak, keindahan yang terpampang di depan matanya membuat mata merah Valerius semakin berkilat tajam.
Tanpa menunggu lebih lama, ia merunduk dan menyesap salah satu puting indah Genevieve.
Sensasi tekstur itu di lidahnya membuatnya semakin terangsang.
Ia menyesapnya dengan penuh perasaan, memberikan tekanan yang pas seolah sedang meminum sari bunga yang paling memabukkan.
Bersamaan dengan itu, sebelah tangannya yang lain tidak tinggal diam. Jemarinya merayap pada sisi lainnya, lalu dengan sangat hati-hati namun menggoda, ia mencubit pelan puting gadis itu.
"Ah... mmmh..." Genevieve melenguh lebih keras, tubuhnya tersentak kecil di atas kasur.
Reaksi tubuh Genevieve yang begitu responsif meski dalam keadaan tertidur membuat darah Valerius yang dingin terasa mendidih. Cubitan dan hisapan itu menciptakan sensasi listrik yang merambat ke seluruh saraf Genevieve,
membuatnya bergerak gelisah namun tidak terbangun sepenuhnya karena kelelahan yang luar biasa menyelimutinya.
Valerius merasa sangat berkuasa. Ia memiliki akses penuh atas tubuh ini, atas setiap desahan dan reaksi yang Genevieve keluarkan.
Valerius mengerang rendah, sebuah suara yang tertahan di balik tenggorokannya.
Rasa sesak yang membakar di bagian bawah tubuhnya semakin menjadi-jadi, memberikan tekanan yang menuntut pelampiasan.
Sebagai makhluk yang telah hidup berabad-abad, ia bisa saja mengambil apa pun yang ia inginkan saat ini; Genevieve sedang tidak berdaya, pasrah sepenuhnya di bawah kuasanya.
Namun, ego dan rasa posesif Valerius jauh lebih besar daripada sekadar nafsu primitif.
“Tidak sekarang, Sayang... Aku ingin matamu menatapku saat aku memilikimu,” batinnya dengan napas yang memburu. Ia tidak ingin bercinta dengan tubuh yang kosong; ia menginginkan kesadaran Genevieve, ia ingin melihat sorot ketakutan yang bercampur dengan gairah di mata cokelat itu ketika ia mengklaimnya nanti.
Maka, sebagai gantinya, Valerius menyalurkan seluruh energi panasnya melalui cumbuan yang jauh lebih intens.
Ia kembali naik, membenamkan wajahnya di ceruk leher Genevieve yang kini sudah penuh dengan jejak ungu karyanya. Ia menjilat kulit itu dengan sapuan lidah yang panjang dan basah, menyesapnya seolah-olah ia sedang mencoba meminum esensi kehidupan gadis itu melalui pori-porinya.
Kedua tangannya tetap bekerja, meremas dan memilin kedua buah dada indah yang kini terekspos sepenuhnya di bawah cahaya rembulan. Ia berpindah dari satu sisi ke sisi lain, memberikan jilatan-jilatan indah yang melingkar di sekitar puting Genevieve yang menegang, sebelum kembali menghisapnya dengan tekanan yang lebih kuat.
Genevieve terus mendesah dalam tidurnya, tubuhnya bereaksi secara liar terhadap simulasi panas yang diberikan Valerius. Keringat tipis mulai muncul di pelipis gadis itu, membuatnya terlihat semakin menggoda di mata sang predator.
Valerius benar-benar berada di ambang batas, namun ia tetap bertahan pada prinsipnya, mengubah malam itu menjadi sesi pemujaan yang panjang, panas, dan menyiksa bagi mereka berdua.
Valerius perlahan menarik dirinya dari dada Genevieve, meskipun napasnya masih terasa panas dan berat. Matanya yang merah berkilat menatap wajah gadis itu yang kini tampak merona hebat akibat stimulasi yang ia berikan.
Dengan penuh pengabdian, ia menatap paras yang begitu tenang namun terangsang secara bawah sadar tersebut.
Tangan pucatnya yang tadi meremas dengan menuntut, kini beralih menjadi belaian yang sangat lembut.
Ibu jarinya membelai rahang Genevieve, lalu naik menyapu pipinya yang terasa hangat di bawah telapak tangan dingin Valerius.
"Kau begitu sempurna saat kau tidak melawan, Genevieve," bisik Valerius dengan suara rendah yang menggetarkan udara.
Jari panjangnya kemudian berhenti di bibir cantik milik gadis itu.
Bibir yang tadi sore berbicara dengan Julian, kini tampak sedikit terbuka, mengeluarkan desahan-desahan kecil yang mengundang. Valerius mulai memainkannya—menekan lembut bibir bawah Genevieve dengan ibu jarinya, lalu menariknya sedikit hingga memperlihatkan deretan gigi putih yang rapi.
Ia tidak bisa menahan diri lagi. Valerius menunduk, tidak untuk menggigit, melainkan untuk menyesap bibir itu dengan ciuman yang lambat dan dalam.
Ia membiarkan lidahnya menyapu permukaan bibir Genevieve, seolah sedang mencicipi rasa manis yang tertinggal di sana.
Sentuhan pada bibir ini terasa jauh lebih intim.
keren
cerita nya manis