NovelToon NovelToon
ERROR 404: BOSS IN LOVE

ERROR 404: BOSS IN LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / CEO / Office Romance
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Aira Aksara

💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️


"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"



Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:


"Humanity Coaching".


Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh,detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.



Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.


🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 — THE QUIET INVESTIGATION

Sudah jam lima pagi. Arsenio masih menatap layar, membongkar log komunikasi Volt-Tech selama enam bulan terakhir.Gerakannya berhenti pada satu baris data.Nama Alinea sudah disebut oleh Artha Group jauh sebelum rencana restrukturisasi ini muncul.

Arsenio menyandarkan punggungnya pelan.Berarti semuanya bukan kebetulan.

Draft sialan itu ternyata cuma babak terakhir dari permainan yang sudah dimulai jauh lebih lama.Seseorang sengaja membesarkan nama Alinea.Membuatnya terlihat seperti satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan proyek Artha.

Arsenio memperbesar tiga akses ilegal ke berkas rahasia itu.Dia tidak perlu menelusuri terlalu jauh.Tiga orang.Semuanya orang yang selama ini dia percaya.Arsenio menatap daftar manajer yang memiliki jalur komunikasi langsung dengan Artha.Dibalik grafik pertumbuhan yang terlihat rapi, ada tangan yang sedang menusuknya dari dalam.

Layar tablet meredup.Ruangan langsung terasa lebih dingin.Arsenio menekan gelas kristal di meja sampai buku jarinya memucat. Lalu dia berdiri, menyampirkan jas di lengannya, dan keluar tanpa menoleh ke meja kerjanya yang berantakan.

Pukul tujuh pagi.

Kemeja Arsenio kusut. Dua kancing teratas terbuka.Dia berdiri membelakangi pintu, sementara kopi hitam di meja dibiarkannya mendingin.Langkah kaki Raka berhenti di tengah ruangan.Arsenio tidak berbalik.

Sebuah map diletakkan di meja.Arsenio hanya mengikuti gerakan tangan asistennya itu dengan tatapan datar.

“Siapa lagi yang pegang kontak Artha?”

Pulpen perak berputar di antara jemarinya.

Raka menyebut beberapa nama manajer senior dan kepala divisi.Namun satu nama di akhir daftar membuat putaran pulpen itu berhenti.Bukan eksekutif.Hanya staf administrasi.Arsenio menarik selembar kertas dan menuliskan nama itu dengan tekanan keras sampai tinta tembus ke halaman di bawahnya.

“Staf administrasi?” suaranya rendah.

“Kenapa dia bisa masuk ke log klien?”

Raka berdehem pelan.

“Dia yang pegang akses unggah draft ke server Artha.”

Arsenio tersenyum. Memakai orang kecil selalu jadi cara paling aman untuk bersembunyi.

“Pantau ponselnya,” katanya singkat.

“Jangan sampai dia sadar.”

Pulpen itu kembali berputar di jarinya.

Staf rendahan tidak akan berani bermain sejauh ini tanpa seseorang yang melindungi dari belakang.

“Saya mau tahu siapa saja yang dia hubungi setiap malam.”

Arsenio akhirnya berbalik.

“Dan jangan sampai Legal dengar apa pun.”

Raka mengangguk lalu keluar tanpa suara.

Arsenio berdiri di depan jendela kaca besar. Kota mulai hidup di bawah sana, tapi tangannya di dalam saku celana sudah mengepal sejak tadi.

Alinea menatap layar monitor terlalu lama.Draft dari Artha sudah kembali.

Lengkap dengan tanda tangan persetujuan yang dia minta kemarin.Terlalu cepat.

Perusahaan sebesar Artha biasanya butuh waktu berbulan-bulan untuk memutuskan hal sekecil ini,Bukan semalam.

Alinea menyandarkan punggungnya di kursi.Jemarinya mengetuk meja pelan.Ada sesuatu yang tidak beres.Dia membuka beberapa berkas proyek lama. Matanya berhenti pada satu bagian.Metode yang digunakan di proyek sebelumnya sudah tercantum di draft itu,Ditulis rapi.

Seolah mereka sudah tahu apa yang akan dia minta.

Alinea menutup laptopnya pelan.

Seseorang sudah menjual namanya lebih dulu.Dia menatap pintu kantornya yang tertutup, lalu kaca di sampingnya yang menghadap lorong.Orang-orang masih lewat sambil tersenyum dan menyapa seperti biasa.Sekarang semuanya terasa mencurigakan.Alinea membuka buku catatan kecilnya. Beberapa nama direksi yang sering bersitegang dengan Arsenio dia coret satu per satu.

Tidak ada yang cocok.

Di Volt-Tech, tidak ada yang memberi dukungan tanpa alasan.Dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan ke kenalan lamanya di bursa.Dia harus tahu siapa yang pertama kali menyebut namanya ke Artha.

Kalau Arsenio sampai salah paham, semuanya bisa runtuh sebelum sempat dimulai.

Alinea berdiri.Dia butuh bantuan departemen IT.Tebakan tidak akan menyelamatkannya. Dia perlu bukti.

Kepala IT meletakkan laporan di meja Arsenio.

Lalu mundur.

Di dalamnya ada daftar dokumen yang dikirim keluar ke alamat asing secara rutin.Ukuran file-nya kecil.Tapi dikirim hampir setiap hari.

Arsenio membaca baris demi baris tanpa bicara.Log harian.Agenda rapat.Rencana ekspansi.Semua langkahnya bocor.

Seseorang di luar sana tahu rencananya bahkan sebelum dia sempat menjalankannya.

Arsenio menutup laporan itu pelan.

Ini bukan pencurian biasa.

Seseorang menjual isi kepalanya.

Dia langsung mengunci seluruh akses data dan mengganti sandi utama sistem.Sekarang dia hanya perlu menunggu.Sore nanti, jalur informasi itu akan mati.

Dan seseorang pasti panik.

Layar monitor menampilkan daftar terakhir pengirim data.Arsenio membeku.Nama di baris teratas bukan direksi. Bukan orang IT.

Seseorang yang selama ini bahkan tidak dianggap bagian dari konflik perusahaan.

Arsenio menatap nama itu lama sekali.Seolah berharap layar komputer sedang bercanda.

Ternyata selama ini dia salah mencari musuh.Arsenio memutus koneksi jaringan di ruangannya dan mengunci pintu.Kalau orang ini benar terlibat, maka urusan Artha dan Alinea bukan lagi sekadar permainan bisnis.Ini sudah masuk ke wilayah yang jauh lebih pribadi.

Dia menyalakan pemindai dan memasukkan seluruh berkas orang itu ke dalam sistem pelacakan.Mutasi bank.Riwayat perjalanan.

Semua.Tidak ada lagi ruang untuk belas kasihan.Arsenio menatap nama itu sampai matanya terasa perih, lalu dia mematikan lampu ruangannya.Kantor itu langsung tenggelam dalam gelap.

Beberapa menit kemudian dia sudah berada di parkiran.

Mesin mobilnya menderu halus saat keluar dari gedung Volt-Tech.Dia mengarah ke satu alamat yang bahkan tidak pernah tercatat di agenda perusahaan.Malam ini Arsenio tidak datang sebagai CEO.Dia datang sebagai seseorang yang ingin mendengar jawaban langsung.Dari orang yang selama ini paling dekat dengannya, lampu rumah itu masih menyala.Arsenio menghentikan mobilnya perlahan, sosok di balik tirai bergerak

Ponsel di dashboard tiba-tiba bergetar.

Satu pesan masuk.

“Kalau kamu masuk malam ini, semuanya selesai.”

Arsenio menatap pintu rumah itu lama, lalu dia keluar dari mobil.Langkahnya berhenti di depan pagar,Pintu rumah itu tiba-tiba terbuka sedikit, seseorang berdiri di dalam bayangan.

Arsenio mengenali siluet itu.Dan dadanya langsung terasa berat, orang itu seharusnya tidak berada di sana malam ini.

Namun siluet itu tidak bergerak menjauh, dia justru menunggu.Arsenio melangkah satu langkah lebih dekat, lampu ruang tamu menyala penuh sekarang.Wajah orang itu mulai terlihat jelas,Arsenio berhenti sementara dari dalam rumah, suara pintu lain terdengar terkunci.

Arsenio menahan nafas.

Sosok itu tersenyum tipis, seolah sudah menunggu momen ini sejak lama.

“Sudah lama sekali,” katanya pelan.

“Arsenio.”

Udara malam terasa lebih berat dari sebelumnya.

Arsenio berdiri kaku di depan pagar, mencoba memastikan apa yang sedang dia lihat benar-benar nyata.Lampu ruang tamu menyinari sebagian wajah sosok itu, cukup untuk membuat dada Arsenio menegang.

Semua potongan teka-teki yang dia kejar seharian mulai menyatu.

Dan untuk kali pertama malam ini, Arsenio sadar satu hal yang jauh lebih berbahaya.Dia datang sendirian ke tempat yang seharusnya tidak pernah dia datangi.

1
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
🙌
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
🙆✨🥰 👉👍👈
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
readers tekan jempolnya mana????

👍

🙆✨🔥
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
yang mau aku UP terosss 🫵 komen lanjut!!!
kalo gak aku gakan UP lagi loh🫸
🙌 eitss!! becanda yak readers 😹

terimakasih banyak buat pembaca setia 🫶✨✍️🔥
Aira Aksara|IG:@ntii_tan: oiyaaaa kalo Sukak novel ini, pencet jempol likenya yak 👍🙆🫰
total 1 replies
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Halo para silent readers! Aku tahu kalian ada di sana mengawasi perjalanan Si Boss, berasa dipantau CCTV tapi yang ini versi baik hati. 🕵️‍♂️💖


Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Bab ini judulnya SOROTAN, tapi kok kalian malah main petak umpet sih? Makasih ya yang sudah baca! Yuk, keluar dari persembunyian dan tunjukkan pesonamu lewat tombol Like & Komen! 🔦😎✨
Nur Halida
seru banget baca tiap kalimatnya
Aira Aksara|IG:@ntii_tan: 🥹🥹
makasih lohh🙌🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!